Nggak Mau Pacaran! (Cerbung #8)

Disclaimer:
Cerita ini ialah cerita fiksi yang dibuat bersambung sehingga untuk membacanya disarankan dari Cerbung #1.
Cerbung ini tidak menentu kapan rutin dilanjutkan, yang menantikan, 'Terima kasih!'.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

QS. Hud [11]: 114

•••

DELAPAN | 8

“Eh, Mbak Renata ya Allah baru kelihatan lagi. Akhirnya pulang lagi ya. Kangen ke sawah Mbak?”

Gue terkekeh. Pertanyaan salah satu warga kampung yang semua wajah-wajahnya masih sangat familier dan hangat.

Gue memandang hamparan sawah saat gue bersama Mbah Uti menghabiskan banyak waktu yang juga banyak mengubah keadaan gue sekarang.

HP gue berdering. Dari Mamah.

“Gimana Mbah Uti, Ren?” Deg. Jantung gue bereaksi terkejut. Gue masih diem.

“Mamah paham kamu ke sana. Iyaudah menginap dulu aja di sana. Tolong ada sisi barat sebelah rumah juga harus dibersihkan. Minta tolong ke Mbah Slamet pohon kelapa yang ndoyong itu ditebang aja, nanti takut ngerubuhin rumah bagian sisi barat itu. Ya, Ren?”

Gue cuma bisa jawab singkat, “Iya, Mah.” Dan setelah itu percakapan diakhiri.

Rumah Mbah Uti sekarang diurus sama Siwoh Nah, gue memanggilnya begitu. Di sini memang waktu terbaik mengenang dan menenangkan diri.

•••

Pertama kali gue dateng ke sini, kalau gue bercermin mungkin beraura suram. Perkataan Mbah Uti yang terucap saat melihat gue, “Ayu tenan…” Kalau itu diucap Janet, gue pasti langsung bales, “Halah, ngibul, gombal, bye! Ngaku deh elo ada udang di balik bakwan, kan?” Ya kali dibilang cantik darimana. Tapi, gue sopan menanggapi dengan senyum lemes dan memeluk Mbah Uti.

•••

Rasanya melegakan sekali, kenapa nggak dari dulu gue memberanikan diri mengambil keputusan ini. Gue menyadari ada hal-hal yang harus gue pilah dengan teliti dan hati-hati: apa, siapa, yang mana yang harus menjadi prioritas dan layak untuk diperjuangkan. Dan sekarang gue dengan berani memilih diri gue sendiri di urutan pertama. Gue berhak dan layak bahagia. Siapa yang bisa melakukannya? Bukan orang lain. Tapi, dari diri gue sendiri. Yang paling menyakitkan ialah bukan karena perlakuan, situasi dari orang lain yang menyakiti, tetapi ternyata ketika gue yang menyakiti diri gue sendiri, itulah bagian yang terburuk.

Jangan sampai diri sendiri tidak dibela. Orang lain, situasi dan keadaan bisa melakukan atau memengaruhi apa saja, tetapi gue tau, diri gue sendiri tetap ada, tidak meninggalkan, tetap mendukung, yang selalu dapat diandalkan. Itulah diri gue sendiri, yang mulai sekarang dan seterusnya nggak akan pernah gue sakiti.

Tidak ada lagi siapa pun, apa pun, yang mana pun, yang berhak menyakiti diri gue sendiri termasuk gue. Diri gue berharga, sehingga gue adalah yang nomor satu yang akan membela diri gue sendiri. Gue membangun batasan yang jelas dan tegas pada siapa pun, apa pun, yang mana pun, yang tidak menghargai diri gue. Sekali lagi gue berhak bahagia. Jadi, gue nggak akan membiarkan ketika siapa pun, apa pun, yang mana pun situasi dan kondisi yang berniat atau bermaksud menyakiti, memanfaatkan dan hal-hal negatif lainnya kepada diri gue.

Gue berhak bahagia, sehingga diri gue berhak untuk dijauhkan dari apa pun, siapa pun, yang mana pun yang menganggap biasa atau hanya diam dan membiarkan diri gue tersakiti dan/atau tidak dihargai. Diri gue berhak untuk dikelilingi oleh siapa pun, apa pun, yang mana pun yang benar-benar tulus, pemberani, penuh kasih yang menghargai, menghormati walau pun yang tersisa hanya gue.

Gue tau bahwa diri gue tidak membutuhkan apa pun, siapa pun, yang mana pun yang tidak benar-benar tulus, pemberani, penuh kasih yang menghargai, menghormati diri gue, sehingga gue harus benar-benar jadi sosok yang paling kuat yang harus mampu membela diri gue sendiri ketika tidak ada siapa pun, apa pun, yang mana pun yang sanggup melakukannya kecuali gue.

Gue tau ini tidak mudah, tetapi tidak ada yang lebih pasti yang betul-betul memperjuangkan diri gue sendiri selain gue. Oleh karena itu, gue harus siap, gue harus semakin kuat. Yang pasti dan yang tidak bisa diganggu gugat untuk mampu melakukannya adalah gue untuk diri gue sendiri.

•••

Kalau gue inget lagi pertanyaan Mbah Uti dalam Bahasa Indonesia seperti ini, “Jadi, kamu itu sanggup sendiri?” Dan gue tau itu pertanyaan usil tapi serius Mbah Uti. Jawaban diplomatis gue untuk pertanyaan Mbah Uti itu, “Aku itu tidak mudah ditemukan dan dicari Mbah Uti. Memang harus seperti itu menunggu dan menanti, betul Mbah Uti? Selama itu yang terbaik, yang datang adalah yang berhasil dan terpilih. Itu sangat sepadan seperti Mbah Uti dan Mbah Kung. Ups, maksudku… .” Mendengar jawaban gue, maka keesokan harinya dan hari-hari seterusnya selama gue di sini Mbah Uti mempekerjakan gue dengan sungguh kerasnya menggarap sawah yang hanya dengan memandang luasnya udah bikin pusing mau pingsan.

“Ampun Mbah Uti, cuaaapeeekk poool aku Mbah Uti oalaaah …”

•••

Bersambung | Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply