Terms of Use:
Konten ini milik Karin Sari Saputra Official.
Anda boleh mempublikasikan sebagian atau seluruh konten ini dengan syarat:
Cukup dengan menyertakan link pada tulisan tersebut dan/atau mengutip alamat konten ini.
Copyright ยฉ 2026 Karin Sari Saputra. All rights reserved.
Tidak menemukan topik belajar Bahasa Inggris yang Anda cari? Ketikkan yang Anda cari di kolom pencarian untuk mencari konten di karinsarisaputra.com
Dapatkan konten terbaru belajar Bahasa Inggris yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.
Padaย 25 Agustus 2025, saya mengikuti sebuah workshop kepemimpinan bertajukย Leading in the University Settingย yang disampaikan olehย Vasti Torres, profesor dari Indiana University, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI. Berbeda dari banyak pelatihan kepemimpinan yang langsung membahas strategi atau model, sesi ini dibuka dengan sebuah pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi justru sangat mendasar:
โWhat is leadership?โ
Spontanitas, saya menjawab:
โLeadership is empowerment.โ
Prof. Torres kemudian menindaklanjuti:
โIn what kind, specifically?โ
Saya berhenti sejenak, lalu menjawab:
โEmpowerment in community.โ
Saat itu, jawaban tersebut terasa spontan. Namun kini, ketika saya bersiap menjalani peran sebagaiย Kepala Program Studi English Language and Culture di Universitas Sugeng Hartono, saya menyadari bahwa jawaban itu merepresentasikan cara pandang yang sangat personal sekaligus struktural:ย kepemimpinan di universitas bukan tentang otoritas individu, melainkan tentang menciptakan kondisi agar komunitas akademik dapat bekerja, bertumbuh, dan berkontribusi dengan jelas serta bermartabat.
Kepemimpinan Dimulai dari Kemampuan Melihat Masalah
Salah satu gagasan kunci yang sangat membekas dari sesi Prof. Torres adalah bahwaย kepemimpinan tidak dimulai dari solusi, melainkan dari kemampuan mendefinisikan masalah secara tepat.
Di lingkungan universitas, masalah jarang bersifat tunggal atau sederhana. Ia sering kali berlapisโterkait kebijakan lama, budaya institusi, prosedur administratif, bahkan relasi kuasa yang tidak selalu terlihat. Dalam konteks seperti ini, pemimpin yang terburu-buru menawarkan solusi justru berisiko menyelesaikan gejala, bukan akar persoalan.
Refleksi ini terasa sangat relevan bagi saya yang akan memimpin sebuah program studi yangย benar-benar baru dibuka untuk pertama kalinya. Dalam situasi seperti ini, godaan terbesar adalah segera berbicara tentang visi besar, inovasi, dan diferensiasi program. Padahal, kepemimpinan justru diuji pada tahap paling awal:ย apakah kita mampu mengenali apa saja yang belum ada, belum jelas, dan berpotensi menghambat kerja orang lain.
Kepemimpinan Ditentukan oleh Peran, Bukan Kepribadian
Prof. Torres juga menekankan sebuah hal yang sering terabaikan:
kepemimpinan tidak ditentukan oleh kepribadian, tetapi oleh bagaimana seseorang menjalankan perannya.
Dalam dunia akademik, kepemimpinan kerap dilekatkan pada sosok tertentuโmereka yang terlihat percaya diri, vokal, atau karismatik. Padahal, universitas tidak dijalankan oleh karisma semata, melainkan oleh peran-peran struktural yang menuntut tanggung jawab, konsistensi, dan ketepatan pengambilan keputusan.
Pemahaman ini sangat membebaskan. Ia memindahkan fokus kepemimpinan dari siapa kita menjadi apa yang kita lakukan dalam peran yang kita emban. Sebagai calon Kaprodi, saya tidak sedang diminta menjadi figur yang sempurna, tetapi menjalankan fungsi kepemimpinan secara bertanggung jawab di dalam sistem akademik.


Diam Tidak Selalu Berarti Setuju
Salah satu pernyataan Prof. Torres yang terasa โmenggangguโ namun penting adalah:
silence does not mean agreement.
Dalam konteks universitas, diam sering kali merupakan bentuk ketidaknyamanan, kebingungan, atau bahkan penolakan yang tidak terucap. Budaya hierarkis, rasa sungkan, atau ketakutan akan konflik membuat banyak hal tidak disampaikan secara terbuka.
Bagi pemimpin akademik, mengartikan diam sebagai persetujuan adalah kesalahan serius. Kepemimpinan justru menuntut kepekaan untuk membaca apa yang tidak dikatakan, serta menciptakan ruang aman agar perbedaan pandangan dapat muncul tanpa konsekuensi personal.

Kepemimpinan, Gender, dan Kerentanan yang Diinternalisasi
Prof. Torres juga membahas kepemimpinan dari perspektif gender. Ia menyoroti bagaimana perempuan dalam posisi kepemimpinan sering kali menginternalisasi kerentanan melalui pertanyaan-pertanyaan seperti:
โDo they like me?โ
โWas my decision right?โ
Pertanyaan-pertanyaan ini sering dianggap sebagai tanda kelemahan, padahal sejatinya mencerminkanย beban emosional tambahanย yang kerap ditanggung perempuan pemimpin. Dalam struktur akademik yang masih sarat dengan ekspektasi implisit, perempuan sering kali harus memikirkan tidak hanya keputusan, tetapi juga dampak relasional dari keputusan tersebut.
Bagi saya, pengakuan ini penting. Ia menegaskan bahwa keraguan dan refleksi bukanlah antitesis dari kepemimpinan, melainkan bagian dari proses menjadi pemimpin yang sadar dan bertanggung jawab.

Kepemimpinan sebagai Proses Konstruksi Pengetahuan
Salah satu kerangka paling intelektual dari sesi tersebut adalah pandangan bahwa kepemimpinan merupakan proses konstruksi pengetahuan. Prof. Torres menjelaskan bahwa perkembangan kepemimpinan bergerak dari:
- menerima informasi,
- menerapkan dan mereproduksinya secara prosedural,
- hingga akhirnya membangun dan memiliki pengetahuan baru secara mandiri.
Dengan kata lain, kepemimpinan tidak bersifat statis. Ia berkembang seiring pengalaman, refleksi, dan kemampuan seseorang untuk memahami sistem yang dijalaninya. Perspektif ini sangat selaras dengan dunia akademik, di mana pembelajaran tidak pernah benar-benar selesai.
Mengapa Kepemimpinan di Universitas Berbeda
Dalam workshop tersebut, Prof. Torres juga menyoroti perbedaan mendasar antara kepemimpinan di dunia bisnis dan di universitas. Jika dalam bisnis kepemimpinan sering berfokus pada penyatuan tim menuju tujuan bersama, maka universitas justru terdiri atas individu-individu dengan latar belakang, kepakaran, dan aspirasi yang sangat beragam.
Universitas tidak bergerak melalui keseragaman, melainkan melalui koherensi di tengah perbedaan. Oleh karena itu, kepemimpinan akademik tidak bertumpu pada kontrol, melainkan pada koordinasi, fasilitasi, dan kejelasan struktur.
Kerapihan Administrasi sebagai Fondasi Kepemimpinan
Dari seluruh refleksi tersebut, saya sampai pada satu kesimpulan yang mungkin terdengar sederhana, namun sangat fundamental:
kepemimpinan di program studi baru dimulai dari kerapihan administrasi.
Sebelum inovasi, harus ada kejelasan.
Sebelum pemberdayaan, harus ada struktur.
Sebelum visi besar, harus ada sistem yang bekerja.
Dalam praktiknya, ini berarti memberi perhatian serius pada:
- SOP akademik,
- dokumen kurikulum,
- alur administrasi,
- mekanisme monitoring dan evaluasi.
Hal-hal ini sering dianggap teknis dan tidak โheroikโ, tetapi justru menjadi infrastruktur tak terlihat yang memungkinkan dosen mengajar dengan tenang, mahasiswa belajar dengan jelas, dan institusi berjalan dengan stabil.
Bagi saya, kepemimpinan bukan tentang berada di depan, melainkan tentang memastikan fondasi di bawah cukup kuat untuk menopang semua orang.
Kepemimpinan sebagai Proses Mendefinisikan Diri
Pada akhirnya, Prof. Torres mengingatkan bahwa kepemimpinan juga merupakan proses self-definition. Cara kita bereaksi terhadap masalah akan membentuk gaya kepemimpinan kita. Dalam momen-momen itulah visi, fleksibilitas, dan strategi kita muncul secara nyata.
Saat saya bersiap memulai peran baru ini, saya menyadari bahwa kepemimpinan saya kelak tidak akan ditentukan oleh pernyataan besar, melainkan oleh praktik sehari-hari: bagaimana saya mengatur sistem, bagaimana saya mendengarkan, bagaimana saya mengambil keputusan, dan bagaimana saya memberi ruang bagi orang lain untuk bekerja dengan baik.
Penutup
Tulisan ini menandai awal dari sebuah seri refleksi berjudul Academic Leadership in Practice, yang akan mendokumentasikan kepemimpinan sebagaimana ia dijalani di dalam konteks universitasโmelalui kerja kurikulum, administrasi akademik, dan dinamika institusional.
Jika ada satu pelajaran utama yang saya bawa dari workshop Prof. Torres, maka itu adalah ini:
kepemimpinan di universitas bukan tentang tampil menonjol, melainkan tentang menjaga agar sistem tetap utuh.
Dan sering kali, kepemimpinan yang paling bermakna justru dimulai dari hal-hal yang paling mendasar.
NANTIKAN KABAR ACADEMIC LEADERSHIP IN PRACTICE BERIKUTNYA
Temukan Solusi Permasalahan Kepemimpinan Akademik
(*) Informasi Kendala Teknis
Silakan tanyakan pada kolom komentar untuk kendala teknis yang mungkin kalian temui.
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
