‘Behind the scene’: Kisah si PIKUN menjelajah Malaysia

Kisah ini seharusnya benar-benar terekam dan tidak boleh ada yang terlewat sedikit pun. Ini masih bercerita tentang perjalanan si PIKUN (Putri, Irene, Karin, Uli, dan Nji) menjelajah Malaysia, namun cerita ini akan berkisah pada behind the scene (warna-warni) kejadian yang dialami oleh kami berlima.

Dalam setiap perjalanan yang dilakukan oleh sekelompok orang, apalagi dalam kelompok tersebut merupakan teman dekat, maka perjalanan kami sungguh diwarnai oleh banyak kejutan.

Katanya, kita akan mengenal satu sama lain secara lebih mendalam jika kita dalam kurun waktu yang cukup intens melakukan aktivitas bersama-sama. Jelas sekali ini terjadi pada perjalanan kami berlima, mulai dari berangkat hingga kembali pulang pun kita ini bagaikan girlband.

Satu hal yang pasti sebelum saya memulai untuk mengingat kembali peristiwa kami saat itu, maka ini adalah merupakan momen yang akan selalu kami kenang sehingga saya berupaya menuliskannya agar dapat terpatri dalam memori sampai jauh ke depan.

•••

Sebelum sebuah perjalanan dimulai pasti bermula dari satu kegiatan penting. Kegiatan itu adalah packing alias berkemas. Bisa kalian bayangkan dan ikut merasakan bagaimana excited-nya kami dalam menentukan dan menyusun barang-barang yang akan kami bawa. Terkadang rasanya semua barang ingin dibawa semua, serasa orang mau pindahan. Tapi, kami cepat tersadar bahwa tempat penyimpanan bernama koper ini memiliki daya muat terbatas. Baiklah, cepat pilih dan tentukan. Segampang itukah?

Bagi kami, kaum perempuan, memang pada dasarnya memilki sifat bawaan yang menurut istilah kaum laki-laki sering dibilang ‘ribet’. Mau memilih untuk membawa baju yang mana, misalnya, perlu dipikirkan secara mendalam karena tentu ada banyak pilihannya, banyak modelnya, banyak warnanya dan sederetan banyak yang lain. Baju yang dipilih harus sesuai dengan konteks. Apakah nanti konteksnya formal atau informal, artinya, tempat yang akan dikunjungi akan menentukan jenis baju yang akan dibawa. Begitulah, hm.. apakah itu yang namanya ‘ribet’?

•••

Kalau menyinggung perihal barang bawaan, tengok saja isi koper milik Putri. Di antara kami berlima, Putri membawa barang bawaan terbanyak. Wow, melihatnya saya cukup mesem dan geleng-geleng kepala. Tidak heran, karena dia tipe orang yang harus senantiasa terlihat keren dan catchy. Apalagi judulnya saja kita ini mau jalan-jalan, jadi otomatis akan banyak berfoto-foto ria, lalu kalau hasil fotonya kurang keren? No way! Nah, kalau untuk barang bawaan teringkas, maka saya menobatkan Nji. Selain memang koper dia paling kecil, namun masih tetap menyisakan ruang kosong untuk oleh-oleh nanti. Prok, prok, prok. Istimewa.

Malam hari sebelum keberangkatan, Ulil dan Irene menginap di kamar kos saya. Seharusnya satu hari sebelum berangkat kita sudah bersantai-santai tidak perlu lagi menyiapkan apa pun, paling hanya untuk mengecek saja. Namun, masih ada masalah dan ini sangat serius, kita berkali-kali menghela napas karena susahnya mencari tempat penukaran uang (money changer) yang memiliki banyak stok ringgit. Pada akhirnya, teman-teman yang paling berjasa dengan berhasil membawa uang ringgit untuk kami berlima adalah Ulil, Putri, dan Irene. Mereka bertiga yang menukar uang hingga ke Mangga Dua dan tentu saja itu cukup jauh dari Depok. Terima kasih, angels!

Masih tentang malam hari sebelum berangkat, saya, Ulil, dan Irene belum bisa tidur padahal kami harus sudah siap pada pukul 04.00 WIB. Saya ketika itu membuat itinerary selama di sana dan Ulil bertanya memungkinkan tidak kalau kita juga sekalian pergi ke Singapura. Saya sibuk mencari jadwal transportasi menuju Singapura dan itu bukan pilihan yang bijaksana kalau sampai memaksakan untuk ke sana. Tujuan kami ke Malaysia itu sebenarnya memang untuk mengikuti ICELT (International Conference on English Language Teaching) bukan murni untuk jalan-jalan. Ya, kami benar-benar memanfaatkan juga untuk bisa sekalian menjelajah selama di sana.

•••

Baik, destinasi utama kami itu adalah ke Melaka dan untuk sampai ke Melaka kami memang harus transit dahulu di Kuala Lumpur. Jelas saja, jadwal penerbangan pesawat dari Jakarta tidak ada yang langsung sampai ke Melaka. Seperti yang sudah saya ceritakan di ‘Kisah si PIKUN menjelajah Malaysia’ sebelumnya, kami berangkat hari Sabtu, 16 November 2013 dengan niat eksplorasi di Kuala Lumpur sebelum menuju Melaka.

Dari awal berangkat saja banyak peristiwa menarik dan itu bermula ketika berada di bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Peristiwa ini cukup menjengkelkan bagi kami, khususnya bagi Ulil dan Putri. Sesuai prosedur kalau barang bawaan kami semua akan dilakukan x-ray pada ban berjalan, tetiba petugas imigrasi menyahut ada botol cairan terlihat yang melebihi jumlah ukuran yang diperbolehkan. Ulil dan Putri diperintah untuk membuka koper, tanpa basa-basi shampo dan sabun cair yang memang berukuran besar langsung disita oleh petugas. Ugh, perasaan gondok tidak hanya di Ulil saja tetapi juga bagi kami berempat. Shampo dan sabun itu sengaja kami beli secara patungan. Sebenarnya, salah kami juga karena memang tidak mengetahui secara pasti perihal aturan untuk tidak membawa barang yang bersifat cairan melebihi 100 ml dan kami pikir barang-barang ini keperluan pribadi yang wajar untuk bisa saja diloloskan. Tanpa dinyana, tidak ada kompromi memang seperti itulah peraturannya.

Well, tetapi lebih nelangsa lagi melihat Putri karena barang pribadi dia sendiri pun, seperti handbody lotion ukuran besar yang masih baru dan parfum kalau saya tidak salah ingat, kesemua itu pun disita tidak boleh dibawa. Yang bisa kami lakukan hanya menatap nanar dan say goodbye. Para petugas imigrasi banyak mendapat barang-barang sitaan, hm.. dikemanakan ya itu? Untuk mereka kah?

•••

Ngomong-ngomong, ini adalah pengalaman pertama saya berada di bandara Soetta sekaligus terbang dengan pesawat, ke luar negeri pula. Luar biasa. Tapi, saya merasa kalem-kalem saja seperti bukan sesuatu hal yang harus dikhawatirkan atau senang berlebihan. Mungkin ini dinamakan semacam tanda bahwa perjalanan melanglang buana baru saja dimulai dan ini memang sudah saatnya. Aamiin.

Tidak ada yang aneh-aneh selama berada di dalam pesawat baik ketika take off atau saat pesawat mengudara pada ketinggian sekitar 4000 kaki di atas permukaan air laut maupun ketika landing. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.

Sesampainya di bandara LCCT, Kuala Lumpur pun tidak ada kesulitan yang berarti. Kami seolah-olah bukan berada di negeri orang padahal ini kali pertama ke Malaysia. Kami sudah melakukan persiapan dan berpikir bahwa kami dapat survive bukan selayaknya orang bertamu, namun lebih kepada harus memiliki perasaan kalau ini adalah sebuah ‘rumah’ baru. Hal ini yang membuat kami mengambil pelajaran bahwa tidak perlu takut menjelajah ke tempat asing. Kita jangan berpikir seperti orang asing di sana, tetapi kita berpikir bahwa kita pun juga bagian dari mereka sehingga kita akan mudah menyatu dengan sendirinya.

Pentingnya melakukan perjalanan ke tempat yang belum sama sekali kita kunjungi adalah lakukan riset akan tempat tersebut sebaik mungkin. Jangan menggampangkan bahwa nanti juga bisa bertanya kalau perlu sesuatu. Yang perlu diingat, mungkin persepsi tersebut berlaku dalam budaya kita, sebaliknya belum tentu hal yang sama terjadi pada budaya mereka. Back-up plan sangatlah penting. Orang yang pergi ke medan perang tanpa melakukan persiapan apapun sama saja dengan harakiri.

Sepertinya saya cukup berhasil dengan itinerary yang saya buat. Sampai pada satu kejadian, saya terkecoh dengan penginapan yang saya pilih dari hasil googling sebelumnya. Saran saya kepada kalian yang ingin booking penginapan jauh-jauh hari adalah pastikan itu benar-benar ada dan recommended. Sebaiknya tidak perlu booking secara online jika kita ragu akan benar atau tidaknya penginapan tersebut. Lebih baik memiliki patokan jalan yang berisikan info bahwa terdapat banyak penginapan di sekitarnya daripada kecele seperti yang dialami oleh kami.

Saya menulis dalam itinerary bahwa selama di KL kami akan menginap di guesthouse yang bernama Red Palm. Klaim penginapan tersebut, tempatnya sangat strategis jika ingin berkeliling di pusat KL dan didukung oleh peta yang ada. Saya pun sepakat untuk memilih Red Palm. Akses ke sana sama sekali tidak susah karena sudah dijelaskan secara lengkap pada situsnya. Kami pun mengikuti petunjuk dengan baik. Dari tempat pemberhentian monorail di Stasiun Bukit Bintang, lumayan juga perjalanan ke sana dengan berjalan kaki. Ketika sampai di jalan yang dimaksud, walaupun sudah berjalan hingga ke ujung, sama sekali tidak ditemukan papan nama bertuliskan Red Palm.

Kami juga bertanya ke sana kemari, namun tetap saja orang-orang yang kami tanyai mengerutkan kening. Wah, jangan-jangan Red Palm ini fiktif. Saya baca kembali print out keterangan Red Palm berada. Akhirnya, saya tahu kalau ternyata memang tertulis Red Palm ini tidak memiliki papan nama dan yang membuat semakin terkejutnya kami adalah ketika berhasil menemukan alamat persis yang tertulis di Red Palm, namun pada kenyataannya merupakan sebuah rumah tua tidak terurus dan bisa dibilang menyeramkan.

Saya merutuk dalam hati. Duh, menyebalkan sekali. Tidak ingin memperpanjang kekecewaan dan memperkeruh suasana yang mana kondisi kami semua sudah lelah, maka kami segera mencari penginapan di sekitar jalan tersebut yang ternyata cukup banyak tersebar. Penginapan pertama yang kami tunjuk ternyata bukan pilihan yang tepat. Penginapan tersebut menurut Nji dan Irene yang mengecek kondisi kamarnya terlebih dahulu bilang kalau suasananya terkesan remang-remang dan penginapan tersebut seperti tempat yang cocok untuk ditujukan bagi para pasangan. Kami tanpa pikir panjang beralih ke penginapan yang lain. Beruntung, pada pilihan kedua ini akhirnya menjadi tempat kami menginap. Pada kali pertama, kami langsung menyukainya. Penginapan ini berupa guesthouse bernama NumberEight dan tempatnya tepat berada di seberang rumah makan masakan India yang sebelahnya adalah rumah yang diklaim sebagai Red Palm. Ironis kah?

•••

Penjaga NumberEight seorang pria dan sepertinya keturunan Turki karena wajahnya khas Timur Tengah. Tentu saja dia sangat good looking. Kami semua bersepakat akan hal tersebut. Yeah, trust us! Sayangnya, kami tidak sempat menanyakan namanya. Oh, guesthouse ini memiliki fasilitas wifi dan kami diberi password swera888, hm.. apakah ‘swera’ itu namanya?

Pada hari itu juga, menjelang sore kami keluar guesthouse menyusuri jalan menuju Twin Towers Petronas. Ketika sudah berada di ujung jalan penginapan, saya baru teringat akan peta yang tertinggal di kamar. Duh, bagaimana ya? Ya, sudahlah tanpa peta pun tidak apa-apa, pada awalnya kami berpikir begitu. Kami menanyakan patokan jalan agar bisa sampai di ikonnya Malaysia tersebut.

Perjalanan ketika berangkat sungguh menyenangkan, berfoto sana-sini. Terlebih lagi ketika sudah sampai di Twin Towers Petronas, kamera digital maupun kamera cellphone dipastikan sibuk mengambil gambar. Setelah dirasa cukup puas dan waktunya ingin kembali menuju guesthouse, maka yang timbul adalah permainan tebak arah jalan. Kami mencoba untuk mengambil jalur jalan yang berbeda dari ketika kami berangkat. Keputusan yang luar biasa tidak bertanggung jawab. Kami tersasar jauh sekali. Kami berjalan berlawanan arah dari yang semestinya. Jangan ditanya kondisi fisik, terutama kaki. Pegal sepegal-pegalnya. Kalau dihitung skala dari 1 sampai dengan 10, maka tingkat kepegalan kaki kami adalah 10. Sempurna.

Antara lelah dan lapar yang semakin menjadi-jadi, persoalan kuliner di KL malah menimbulkan masalah baru. Bukannya kami rewel dan pilih-pilih makanan. Sebenarnya, kami semua ini adalah tipe pemakan segala. Tapi, sungguh makanan di sana tidak membuat enak perut apalagi nikmat. Entah cara masaknya, bumbunya atau malah jenis makanannya yang sangat tidak cocok dengan selera kami. Tidak perlu heran walaupun katanya Malaysia dan Indonesia merupakan negara serumpun, soal selera ternyata berbeda (menurut lidah kami tentu saja). Satu hal yang membuat kami tidak bisa sembarang mencicip kuliner adalah kehalalan makanan di sana ternyata tidak mudah untuk dideteksi. Ragam masyarakat yang mendiami daerah sekitar penginapan kami adalah dekat dengan ChinaTown, sehingga makanan yang tersedia pun banyak menyajikan seafood dan olahan daging. Kami khawatir, karena masakan olahan daging babi dijual bebas. Oleh karena kami muslim (saya, Putri, Ulil dan Nji), urusan makan pun tidak bisa main-main.

•••

Tempat kuliner kami selama di KL hanya satu tempat saja, yakni tempat makan yang berada di seberang guesthouse. Tidak ada petualangan kuliner yang aneh-aneh. Oh, ada di antara kami yang sempat membeli minuman bernama air mata kucing. Secara pribadi saya lagi-lagi tidak menyukainya. Rasanya, entahlah tidak bisa saya deskripsikan.

Kuliner yang paling memiliki kenangan buruk adalah makanan bernama Claypot Ye Mee. Sungguh, sekedar mengingatnya lagi saja langsung membuat perut mual. Dari baunya saja, aduh, teman saya, Nji sampai trauma. Yang memesan Claypot Ye Mee hanya saya dan Nji, kami berdua ditertawakan ketiga teman yang lain. Sungguh malang nasib kami. Nji hanya kuat beberapa sendok saja, saya masih berusaha tahan karena tidak mau buang-buang makanan. Namun, pada akhirnya saya tidak kuat juga (kibar bendera putih). Kerennya, Irene mau menghabiskan dua porsi Claypot Ye Mee yang dipesan oleh saya dan Nji. Luar biasa, Irene!

Setelah drama kuliner, mari kita tinggalkan KL. Setelah dari Central Market, Pasar Seni kita beralih menuju Melaka. Sebelumnya saya infokan, saat berbelanja di Pasar Seni tersebut banyak juga ditemui orang jualan batik dan pernak-pernik etnik seperti khas Toraja atau Kalimantan atau malah Papua. Pernak-pernik etnik semacam patung lalu aksesoris gelang dan kalung etnik. Jadi, saya paham juga kalau oleh-oleh khas Malaysia itu yang populer adalah coklat.

•••

Berkat adanya kesalahan terminal yang seharusnya untuk ke terminal Melaka Sentral kita harus berangkat dari terminal BTS (Bandar Tasik Selatan), namun kita malah terdampar di terminal Puduraya Sentral dan membuat kami bertemu dengan calo.

Memang ya, tidak hanya terminal di Indonesia saja yang banyak terdapat calo. Di Malaysia toh sama saja ada. Kita menunggu harap-harap cemas bus yang kata si calo akan segera datang itu, bus dengan nama Suwarna Bumi. Ternyata banyak juga orang yang memakai jasa calo agar bisa berangkat ke Melaka melalui terminal Puduraya Sentral ini. Sesampainya di terminal Melaka Sentral hari sudah beranjak semakin malam dan yang saya tahu menurut itinerary, kami harus berkeliling Jonker Street untuk mencari penginapan. Menurut perkiraan saya sendiri, Jonker Street tidak begitu jauh dengan Hotel Equatorial, tempat ICELT yang mulai terselenggara dari tanggal 18-20 November 2013.

Malam-malam kami berlima dengan menarik koper berjalan menyusuri wilayah Jonker Street mencari penginapan. Hal ini merupakan contoh yang sangat tidak disarankan. Seharusnya, kalau sudah secara pasti memiliki daftar alamat penginapan, kita tidak perlu berkeliling mencari tempat menginap. Kesalahan yang ke depannya tidak akan saya ulangi lagi. Terlalu beresiko dan semakin memperburuk kondisi badan yang sudah sangat kelelahan. Sekitar pukul 22.00 waktu setempat kami akhirnya mendapat penginapan semacam guesthouse juga dengan nama Backpacker’s Freak. Istimewanya malam itu adalah semakin lengkap ketabahan kaki kami untuk diuji. Bayangkan saja, lobby penginapan ini berada di lantai paling atas, yakni lantai 4 dan akses yang tersedia hanya tangga.

Komplit, bukan? Badan lelah, koper berat, dan harus berusaha naik dengan terseok-seok menuju lobby. Kamar kami pun berada di lantai yang sama dengan lobby. Ya, sudahlah.

•••

Ada satu kebodohan dan tidak adanya rasa tanggung jawab pada diri saya. Kalian tahu apakah itu? Saya yang harus menjadi penyaji pada keesokan harinya, tetapi belum menyiapkan slides (ppt-PowerPoint) sama sekali. Parah.

Sekitar pukul 23.00 saya mau tidak mau dengan kondisi badan babak belur, luar biasa lelah harus begadang menyelesaikan slides presentasi. Belum lagi mengingat jadwal paralel presentasi sudah dimulai pada pukul 08.00, my goodness! Belum reda kecemasan saya mengejar waktu, muncullah masalah yang fatal. Netbook saya habis baterai dan ketika ingin diisi ulang adaptor netbook ini berbatang dua tapi plug yang tersedia dengan lubang tiga. Asli panik. Saya kalut dan saya berpikir cepat untuk segera mengambil netbook Irene yang masih full baterai. Untung saja. Sebenarnya semua permasalahan ini tidak perlu terjadi kalau saja saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya jauh hari sebelum berangkat. Ini merupakan sifat terburuk yang harus saya buang dengan tidak menunda-nunda pekerjaan dan menggampangkannya.

Dini hari itu saya tidur hanya sekitar tiga jam. Kalau saya mengharapkan performance yang baik, rasa-rasanya naif karena persiapan yang saya lakukan saja amburadul begini. Bismillah saja. Duh, ketegangan saya masih terus berlanjut. Saya tidak menyangka bahwa ruang presentasi yang dipakai pada sesi saya ini di ballroom. Allahu Akbar, saya terhenyak karena saya mulai khawatir. Dari ruangannya saja terasa intimidating bagi saya. Yang bisa saya lakukan adalah berdoa dalam hati berkali-kali untuk diberi ketenangan dan kelancaran. Dari kejadian ICELT tersebut saya benar-benar kapok jika sampai tidak ada persiapan maksimal.

Tapi, setiap kejadian memang memberikan hikmah. Hikmahnya saya mendapat inspirasi untuk topik penelitian tesis. Semoga ini akan berlanjut hingga benar-benar menjadi tesis. Aamiin.

•••

Di antara kami berlima yang kali pertama mendapat giliran untuk menjadi penyaji adalah Irene. Kami berempat menyemangati dan ada dua orang yang bertugas sebagai seksi dokumentasi, yakni Nji dan Putri. Yang satu mengambil gambar, satunya lagi merekam. Secara keseluruhan penampilan Irene sudah bagus dan lancar, audiensnya juga menyimak dengan baik dan banyak memenuhi ruangan.

Setelah Irene, yang tampil selanjutnya adalah saya. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya kalau performa saya itu tidak bagus, jauh dari memuaskan. Saya cukup tahu apa saja yang harus diperbaiki, terlebih lagi ketika melihat hasil rekaman saya sendiri dengan segera saya berinstropeksi.

Hari senin di hari pertama conference, Irene dan saya telah bertugas sebagai penyaji. Keesokan harinya giliran Ulil dan Putri yang akan menjadi penyaji. Namun sayangnya jadwal sesi mereka berbarengan di jam yang sama hanya beda ruangan. Oleh karena itu, saya, Irene dan Nji yang seharusnya bersama-sama mendokumentasikan harus dibagi menjadi dua. Saya mendapat tugas merekam penampilan Putri, sedangkan Irene dan Nji bertugas di sesi presentasi Ulil.

Seperti biasa, Putri benar-benar berbeda dengan tampilannya pada hari Selasa itu. Dia telah menyiapkan kostum spesial, yakni semacam jubah tenun dan itu keren sekali. Sama seperti Irene, Putri pun menyampaikan presentasinya dengan sangat baik. Bu Sisil (dosen kami yang juga menjadi penyaji) menyempatkan untuk melihat Putri. Beliau pun berkomentar hal yang sama, kalau penampilan Putri sudah baik. Ada satu audiens yang bertanya dan menurut Putri sendiri dia kurang dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada si penanya. Pada intinya, semuanya berjalan lancar.

Nah, untuk penampilan Ulil ini yang karena saya tidak hadir menyaksikan saya tidak bisa berkomentar bagaimana penampilannya saat itu. Namun, menurut Nji dan Irene, penampilan Ulil pun juga sudah baik dan lancar. Alhamdulillah.

•••

Masih di hari yang sama pula ada kejadian yang kurang mengenakkan bagi saya. Untuk beberapa saat saya merasa kesal dengan keempat teman saya ini. Mereka tetiba menghilang, meninggalkan saya sendiri padahal tadinya kami sama-sama sedang menikmati coffee break. Karena cellphone tidak berfungsi, saya jadi sulit untuk mencari tahu keberadaan masing-masing. Ketika itu saya benar-benar kesal karena itu bukan kali pertama seperti itu. Pada saat saya meminta izin ke toilet dan menitipkan tas saya pada mereka, keluar toilet mereka sudah tidak ada. Duh, saya menulis ini jadi malah teringat dan kesal sendiri juga. Tas saya ada pada mereka dan mereka tidak bilang ingin ke mana, ke ruangan mana. Bagaimanakah perasaan saya ketika itu? That’s not funny!

Ya, sudahlah. Semoga jika ada perjalanan untuk kami bersama-sama lagi selanjutnya, mudah-mudahan tidak terulang lagi adanya kejadian tidak mengenakkan seperti ini. Saya sempat berdiam diri, saya memang yang paling muda di antara mereka namun saya juga mencoba dewasa untuk tidak membiarkan ini berlarut-larut. Inilah persahabatan, bukan hanya berisi hal-hal manis, kalau kesal ya kesal saja, yang paling penting kesudahannya kami kembali baik-baik saja dan semakin memahami satu sama lain.

•••

Lalu, sampailah kami di hari terakhir conference (Rabu, 20 November 2013). Pada hari itu saya mendapat kenalan baru, yaitu Renugah dan Parvish. Mereka menghampiri saya untuk bisa mendiskusikan tentang topik paper yang saya presentasikan pada hari pertama conference. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

Oh, ibu Sisil dan Nji di hari ini juga ada jadwal tampil sebagai penyaji. Ini adalah kali pertama kami berlima menyaksikan bagaimana ibu Sisil melakukan presentasi mengingat kalau di kelas hanya kami saja yang mendominasi dalam melakukan presentasi di kelas ketika kuliah. Lalu, mengomentari penampilan Nji ketika melakukan presentasi, dia telah bertugas dengan sangat baik. Semua prosesnya bagus dan rapi serta terkontrol, hanya sayang saja karena ditempatkan di hari terakhir conference animo audiensnya tidak sebesar ketika hari pertama. Penampilan Nji benar-benar bagus dan sayang untuk dilewatkan.

•••

Wah, sepertinya ada kejadian yang terlewat. Ada momen ketika kami memasak untuk makan malam di dapur Backpacker’s Freak, saya kaget ketika Irene memakai frying pan yang tergantung di tembok. Saya berseru dan segera membuat yang lain heran. “Kenapa sih Rin?” Mereka serentak bertanya. Saya menjawab dengan tidak tahu berekspresi bagaimana. “Jangan pakai penggorengan itu. Itu penggorengan yang biasa dipakai untuk mengolah masakan babi. Kemarin kakaknya (penjaga guesthouse) bilang gitu ke gue.”

Hebohlah kami.

Sejak saat itu kami sebisa mungkin untuk tidak masak-memasak dan menggunakan peralatan dapur. Kalau ada alat masak bekas babi, lalu cucian sponsnya tercemar babi dan sama-sama dipakai untuk kesemua peralatan dapur. Ya ampun! Lagi-lagi kami mendapat pelajaran berharga.

Malam hari ketika kembali berkemas untuk persiapan check-out esok pagi, kegemparan terjadi. Sepatu crocs Putri hilang ketika tidak dipakai dan ditaruh di sisi tangga lantai 4. Wah, bete lah si Putri. Ribut-ribut deh para penjaga penginapan. Lalu ketika dicek hasil rekaman CCTV ternyata sudut tempat hilangnya sepatu Putri tidak terjangkau. Putri menahan diri dan mencoba menerima pada akhirnya. Mau bagaimana lagi, esok pagi harus sudah check-out untuk persiapan pulang lagi ke Indonesia, tidak mungkin untuk diurus kan, hm.. kok kebetulan begini ya?

•••

Akhirnya setelah petualangan kami selama 5 hari penuh dan di hari ke-6 kami harus pulang kembali menuju Indonesia. Selama bepergian, maka kata pulang menjadi begitu berarti dan dirindukan. Namun, ketika sudah kembali pulang, kita pun menantikan lagi momen untuk bepergian agar selalu dapat merasakan kembali kerinduan untuk pulang.

Akankah kisah si PIKUN kembali berlanjut? Semoga!

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply