Kisah si PIKUN menjelajah Malaysia

Many people have ideas on how others should change; few people have ideas on how they themselves should change.
Banyak sekali orang yang memiliki ide bagaimana orang lain harus berubah. Tetapi sedikit sekali orang yang memiliki ide bagaimana dirinya sendiri harus berubah.

~Leo Tolstoy~

We can’t become what we need to be by remaining what we are.
Kita tidak akan bisa memenuhi potensi kita yang sebenarnya, bila kita memilih diam dan tetap tinggal di dalam zona nyaman kita.

~Oprah Winfrey~

•••

Saya kembali hadir dengan perasaan bersalah. Hei, Karin kenapa kamu baru nge-post lagi? Kamu bilang bakal rutin nge-post setiap hari dan tidak akan tiba-tiba menghilang. Wah, saya benar-benar minta maaf, huhuhu. Dasar, katanya mau berubah …

Hahaha …

Kalian pasti pernah berada pada situasi kok bisa ya kita dengan mudahnya memberikan saran kepada orang-orang untuk berubahkamu itu seharusnya begini, kamu itu sebaiknya jangan begitutetapi kalau itu ditujukan untuk kita sendiri, duh, susah ya. Dalihnya pasti macam-macam, “Aku itu lagi berusaha untuk berubah, tapi bagaimana untuk memulainya? Bingung. Biarkan mengalir saja deh.” Ujung-ujungnya tidak ada perubahan.

Nah, sepertinya saya bisa memberikan satu solusi. Satu cara, bagaimana memulai langkah pertama kita untuk berubah. Jawabannya adalah saya, kamu, kamu, kamu, dan kalian semua harus melakukan sebuah perjalanan.

Intinya yuk ah kita jalan-jalan. As simple as that.

“Dengan melakukan perjalanan kita akan menemukan sesuatu. Sesuatu hal yang tidak pernah kita temukan sebelumnya. Bepergianlah, segera atau tidak sama sekali”

~Karin Sari Saputra~

•••

Adakah di antara kalian yang ingin atau akan pergi ke Malaysia? Kalau iya atau ingin tahu seperti apa dan bagaimana perjalanan untuk ke Malaysia, simak kisah saya dan keempat teman saya di Negeri Jiran berikut ini!

•••

Malaysiaaaaaaaa, kita berkoor ramai-ramai. Negara tetangga kita ini yang kemarin-kemarin sempat ramai dengan seruan ‘ganyang Malaysia’ karena telah mengklaim beberapa bentuk kebudyaan milik Indonesia merupakan tujuan perjalanan kami berlima, yakni terdiri dari PIKUN (Putri, Irene, Karin, Ulil, dan Nji). Kami ke Malaysia sebenarnya dalam rangka untuk mengikuti ICELT (International Conference on English Language Teaching) di Hotel Equatorial, Melaka—18-20 November 2013).

Awalnya kita sempat berpikir kalau antara Malaysia dan Indonesia itu tidak jauh berbeda. Entah dari segi kuliner, tata letak dan ruang, bahasa dan karakter orang-orangnya. Apa yang kita bayangkan itu salah semua. Benar-benar berbeda.

Dari segi bahasa kita tidak mengalami kesulitan yang berarti karena bahasa Indonesia juga berakar dari bahasa Melayu, namun tetap saja ada banyak istilah dan ucapan yang membuat kening serta alis berkerut. Contohnya, saya pernah tanya ke penjaga guesthouse sebaiknya naik bus apa untuk keliling kota. Responsnya, “Oh, kalian mau pusing-pusing ya?” Ada hening sejenak sampai akhirnya saya paham kalau ‘pusing-pusing’ itu ‘muter-muter’. Itu salah satu percakapan kami di daerah Melaka, sedangkan di daerah Kuala Lumpur sebagian besar bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Baiklah ini lebih jelasnya.

Kami berangkat pada tanggal 16 November 2013 dengan jadwal pesawat take off pukul 07.30 WIB di bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) terminal 3. Pesawat yang kami tumpangi adalah Tigerair Mandala tujuan Kuala Lumpur International Airport – LCC Terminal (Flight: RI 700 CGKKUL) dengan biaya 620.000 rupiah PP (pulang-pergi/return).

Kami berlima berkumpul di tempat kos saya daerah Margonda, Depok. Kami memesan taksi pukul 04.00 WIB menuju pool bus Damri terdekat, yakni di depan Terminal Pasar Minggu. Selain dengan kendaraan pribadi, ada dua cara untuk ke bandara Soetta, (1) pakai taksi atau (2) bus Damri. Kenapa kami tidak sekalian saja naik taksi sampai bandara? Alasannya, kami berlima memaksakan diri masuk dalam satu taksi padahal kapasitas maksimum hanya untuk 4 (empat) orang membuat kami tidak leluasa, belum lagi kelima koper kami di bagasi yang membuat beban taksi semakin berat. Lagipula, jarak Depok ke bandara cukup jauh. Demi kenyamanan kami, pada akhirnya kami memilih dari taksi berpindah ke bus Damri.

Biaya taksi sampai ke Terminal Pasar Minggu sebesar 60.000 rupiah (pastikan pakai argo, ya). Kami patungan sehingga seorang hanya membayar 12.000 rupiah. Biaya bus Damri ke bandara per orang sebesar 30.000 rupiah. Disarankan kepada calon travelers untuk membawa koper dengan ukuran yang masuk ke dalam kabin pesawat karena kalau terlampau besar, koper tersebut akan ditaruh di bagasi yang artinya akan ada biaya tambahan.

Lalu, untuk isi koper, disarankan juga pakaian-pakaian yang kita bawa terbungkus plastik dan dipisahkan sesuai dengan tipenya. Misalnya, semua kaos-kaos dalam satu plastik, pakaian dalam juga terpisah dalam satu plastik, sehingga memudahkan kita mengambil dan tidak membuat isi koper berantakan. Jangan terlalu banyak (berlebihan) membawa baju, secukupnya saja. Ingat ketika kita pulang nanti barang bawaan kita akan bertambah dengan oleh-oleh. Saran berikutnya juga, selain koper, bawa juga tas terpisah yang berisi keperluan pribadi seperti paspor (ini paling penting, jangan sampai lupa, jangan sampai hilang). Uang ditaruh dalam beberapa tempat dan siapkan dompet kecil berisi uang secukupnya yang mudah dikeluarkan sehingga tidak perlu repot-repot mengaduk-aduk isi tas ketika mencarinya.

Wah, sepertinya saya akan banyak memberi saran-saran terlebih dahulu sebelum kalian (calon travelers) terlanjur berada di bandara Soetta.

Yang perlu kalian perhatikan baik-baik ialah kalian harus sudah berada di counter check-in minimum 1 jam sebelum jadwal take-off. Oleh karena itu, walaupun jadwal take-off kita pukul 07.30 WIB kita sudah berangkat dari pukul 04.00 WIB. Kita harus mengelola waktu dengan baik, mengantisipasi antrian ketika check-in di counter maskapai dan di loket imigrasi.

Sesuai prosedur jika sudah di bandara, barang bawaan dan kita pun akan dilakukan X-Ray. Sebelum itu, kalian harus tahu bahwa sebaiknya untuk tidak membawa air mineral, shampo, sabun, parfum, facial foam, handbody lotion dalam ukuran besar. Barang-barang yang bersifat cairan yang melebihi ukuran 100 ml akan disita oleh petugas, tidak boleh dibawa sehingga kalian siapkan saja shampo dalam bentuk sachet, sabun dan yang lainnya dalam ukuran kecil. Makanan ringan atau snack boleh dibawa, namun tidak untuk dimakan di pesawat karena biasanya tidak diperbolehkan.

Setelah kalian memperhatikan estimasi waktu dan isi barang bawaan di koper maupun di tas terpisah, kalian juga harus menyiapkan dokumen-dokumen seperti ID (KTP, Paspor) untuk di-scan dan disimpan dalam bentuk softcopy. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi dari kemungkinan terburuk paspor hilang. Ketika paspor hilang kita dapat memperlihatkan scanning paspor untuk diklaim ke KBRI setempat (cari tahu alamat dan kontak KBRI). Biasakan untuk menyiapkan memo kecil berisi catatan alamat dan kontak penting.

Baiklah, kami telah berada di Terminal 3 bandara Soetta. Masuk bandara kami langsung mencari counter check-in maskapai Tigerair Mandala. Antri dan kami mengeluarkan 150.000 rupiah untuk International Aiport Tax (kalau penerbangan domestik dikenakan 40.000 rupiah). Oh, tidak lupa kami sudah menyiapkan uang dalam bentuk rupiah dan ringgit (disarankan pula bawa mata uang US dollar). Budget di antara kami berbeda-beda. Saya menyiapkan uang tunai 500.000 rupiah dan 550 ringgit (2.002.000 rupiah nilai tukar kurs 1 ringgit = 3.640 rupiah pada tanggal 15 November 2013). Budget sebesar itu saya siapkan untuk perjalanan dari tanggal 16-21 November 2013.

Ketika di counter check in maskapai Tigerair Mandala, setelah membayar International Airport Tax 150.000 rupiah, kami mendapatkan dua lembar boarding pass. Boarding pass tersebut bertuliskan nomor kursi pesawat kita. Dari sana, kita langsung bergerak ke loket imigrasi, tempatnya berada di lantai 2 dan kita pun menuju international gate. Di sana kita perlihatkan boarding pass dan paspor untuk dicap lalu melewati x-ray dan menaruh koper pada ban berjalan, setelah semua beres kita menunggu panggilan sesuai jadwal maskapai dan waktu keberangkatan kita. Tiba panggilan untuk check-in kita bergegas masuk dengan tetap memperlihatkan paspor dan 1 lembar boarding pass diambil petugas (kertas boarding pass jangan dibuang ya, selipkan saja di dalam paspor). Kami pun berjalan lagi ke gate pesawat yang kami tumpangi (tetap perlihatkan paspor dan boarding pass). Kami menuju lintasan pacu pesawat dengan menggunakan bus khusus bandara yang senantiasa siap mengantar penumpang pesawat.

Saya merasakan bahwa saya dan begitu pun masing-masing dari kami untuk mandiri membawa dan menjaga barang-barang bawaan kami sendiri (jadi, kopernya jangan berat-berat ya, bakal repot hehe).

Masuk pesawat dengan memperlihatkan boarding pass kepada pramugari/pramugara. Duduk sesuai dengan nomor yang tercantum di boarding pass. Taruh koper di kabin dan tas terpisah di depan kaki bawah kursi. Pasang sabuk pengaman, perhatikan instruksi layar lampu pesawat dan arahan pramugari/pramugara/pilot. Berdoa dan nikmati pemandangan langit, tapi tidak lama kami semua tertidur. Kalau telinga terasa sakit kunyah saja permen karet.

Waktu tempuh Jakarta-Kuala Lumpur (KL) +/- 2 jam. Kami tiba pukul 10.30 waktu setempat. Waktu di Malaysia 1 jam lebih cepat dari Indonesia bagian barat, jadi ketika di KL pukul 10.30 maka di Indonesia pukul 09.30 WIB.

•••

Day 1 (16 November 2013) pukul 10.30 @ Kuala Lumpur International Airport – LCC Terminal

Tiba di bandara LCCT kami mengantri panjang di loket imigrasi untuk diberi cap pada paspor. Keluar gate kami menuju loket Aerobus menuju KL Central dengan tiket seharga RM 8. Perjalanan dari LCCT ke KL Central menghabiskan waktu +/- 1.5 – 2 jam. Di bus kami bisa beristirahat kembali, tidur. Tiba di Kl Central tengah hari dan di sana ada beragam alternatif moda transportasi umum. Terdekat dari pemberhentian bus ada transportasi LRT (Long Rapid Train). Tujuan kami adalah ke Bukit Bintang dan kami menggunakan monorail. Ke stasiun monorail jalan sedikit ke tepi jalan dan menyebrang. Dari tepi jalan raya KL Central, Twin Towers Petronas terlihat. Harga tiket monorail RM 2.10 (2 ringgit 10 cent).

Penginapan kami berupa guesthouse di daerah Bukit Bintang atau tepatnya di Number Eight, 8-10 Tengkat Tong Shin, 50200 Kuala Lumpur (www.numbereight.com.my). Perlu diketahui karena berupa guesthouse maka semuanya adalah self-service. Bawa koper sendiri dan ada sarapan, itu pun menyiapkan sendiri di dapur. Kami hanya semalam di KL dan tarif penginapan semalam di Number Eight sebesar RM 180 untuk lima orang dalam satu kamar. Kami beruntung mendapatkan kamar dengan tipe family room tetapi kami meminta dua extra-bed. Jadi, per orang membayar RM 36. Rata-rata tarif penginapan guesthouse di KL kisaran itu.

Bagi muslim untuk beribadah sholat tidak ada masalah karena akan diberitahu arah kiblatnya, lagipula tempat penginapan kami penjaganya orang muslim. Waktu sholat tidak jauh berbeda dengan di Indonesia hanya dimajukan saja 1 jam lebih cepat.

Kami sampai guesthouse check-in dan istirahat sejenak sekaligus membersihkan diri dan segera mulai mencari makan. Beruntungnya lagi, ada tempat makan di seberang guesthousemasakan Indiamakan siang saat itu teman saya Irene dan Nji memesandibungkusuntuk dimakan di kamar. Isi lauk-pauknya seperti nasi campur kita pilih sendiri dengan harga RM 6.50 (sayur-sayuran, ikan, sapo tahu, dan nasinya banyak) dan minum air mineral botol besar (1 liter) RM 0.80.

Sekitar pukul 16.00 atau 17.00 kami keluar guesthouse menuju Twin Towers Petronas dengan berjalan kaki. Saat itu jalanan sehabis hujan, saya akui di Malaysia jalanan itu tertib, lancar tidak macet. Angkutan umum sangat nyaman dan banyak. Bagi pejalan kaki berjalan-jalan keliling juga nyaman. Ternyata warganya disiplin mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Kita saja tidak menyebrang sembarangan. Walaupun sebenarnya ke Twin Tower dirasa cukup lumayan juga jalan kaki, tetapi kita bisa menikmati pemandangan sekitar KL. Gedung-gedung modern menjulang dan banyak turis asing berlalu-lalang.

Setelah puas melihat pemandangan dan tentu saja foto-foto di ikonnya Malaysia tersebut kita kembali jalan pulang. Ternyata kita nyasar memutar jauh sekali. Saya saat itu lupa membawa peta, tertinggal di kamar penginapan. Kaki rasanya lelah luar biasa dan lapar mulai menghadang. FYI, kuliner di Malaysia tidak cocok dengan selera kami. Walaupun kami pikir tidak akan ada masalah, justru ini bermasalah sekali urusan perut.

Kebanyakan ada masakan Cina yang kami ragukan kehalalannya, lalu masakan India, bau rempah-rempahnya sangat kuat dan beda sekali dengan di Indonesia. Intinya, kami tidak makan nikmat di KL. Pada akhirnya, kami makan malam di seberang guesthouse kami. Sekitar penginapan kami sebenarnya ramai dengan jajanan dan kuliner tetapi karena di sana dekat China Town, maka kami malah bingung mau makan apa dan ragu halal tidaknya.

Makan malam itu kami memesan macam-macam sehingga nanti makan barengan dengan bayar patungan kecuali minum hehehe. Kami pesan ada nasi briyani, tomyam, ada martabak dan roti apa saya lupa namanya, lalu minumnya teh tarik. Kami masing-masing bayar RM 5.40 dan teh tarik RM 1.80.

Sampai penginapan cepat-cepat istirahat. Oh, penginapan kami tentu saja free wifi sehingga di antara kami sibuk update status socmed. Di antara kami tidak ada yang beli nomor lokal. Kalau beli di bandara sekitar RM 30. Sayang juga.

Day 2 (17 November 2013) pukul 08.30 @ Number Eight Guesthouse, Kuala Lumpur – Breakfast

Acara kami setelah sarapan adalah siap-siap untuk check-out. Kami sebenarnya check-out pukul 11.00, tetapi kita sudah menurunkan koper dan titip di bawah karena kami akan ke Central Market, Pasar Seni untuk membeli oleh-oleh. Kami menghitung waktu kembali ke penginapan akan melebihi waktu check-out, jadi kami sudah membereskannya terlebih dahulu.

Niat kami pada awalnya ke Central Market, Pasar Seni adalah naik LRT (Long Rapid Train) yang stasiunnya menurut peta tidak jauh dari penginapan kami. Namun, terjadi kesalahpahaman sehingga kami terus jalan menyusuri yang ternyata lokasi Central Market, Pasar Seni tidak jauh juga jika berjalan kaki. Sampai di sana silakan belanja oleh-oleh dengan nyaman karena walaupun namanya pasar tetapi tidak menimbulkan kesan pasar tradisional.

Oleh-oleh khas Malaysia yang populer adalah coklat. Jadi beli saja coklat yang banyak. Saya sendiri beli oleh-oleh coklat total senilai RM 47.85, payung unik KL RM 10, buku agenda dengan nuansa khas Cina (merah menyala dan dihias dengan koin Cina) RM 28, pensil yang bergambar bendera KL/Twin Towers isi 12 batang RM 5, key chain (gantungan kunci) 12 buah RM 5, cermin pocket KL RM 9, magnet ikon Twin Towers 3 buah RM 10.

Kita tidak berlama-lama menghabiskan waktu di Central Market, Pasar Seni karena kita harus segera kembali ke penginapan mengambil koper dan berangkat ke Melaka. Kita kembali ke penginapan dengan menggunakan bus GoKL dan itu free (tidak bayar). Sesampainya di guesthouse kita makan di tempat yang sama. Saya pesan Claypot Ye Mee dan sumpah saya tidak cocok sama sekali, entah bau khas apa bumbunya yang bikin saya mual. Total saya makan saat itu dengan nasi dan teh tarik RM 8.80

Dari penginapan kita naik teksi ke Terminal Puduraya Sentral dengan tarif argo RM 20 tetapi kita beri RM 25, jadi per orang RM 5. Sesampai di sana sebenarnya saya sudah bilang bahwa bus ke Melaka harus naik dari Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) namun itu harus ke KL Sentral dulu. Oleh karena waktu semakin malam dan kita tidak mungkin membuang waktu percuma, mengingat esok harinya, 18 November 2013 kita harus melakukan presentasi paper di Hotel Equatorial, Melaka maka diputuskan kita memakai calo (ada juga calo di Malaysia) yang mengatakan akan ada bus Melaka dari terminal ini. Tiketnya cukup mahal yaitu per orang RM 25 (Bus Suwarna Bumi). Padahal tarif bus dari terminal BTS tidak sebesar itu.

Perjalanan dari terminal Puduraya Sentral ke terminal Melaka Sentral memakan waktu +/- 2 jam. Dari terminal kita naik bus lokal, yakni Bus 17 dengan harga karcis RM 1.50 untuk menuju Jonker Street. Saat itu masih weekend (minggu malam) dan ada pasar malam khusus ada hanya pada waktu weekend di Jonker Street.

Saat itu sudah lewat pukul 21.00 dan kita masih menyusuri Jonker Street dengan koper mencari-cari penginapan seperti guesthouse yang tidak jauh dari Hotel Equatorial. Kami memang meminimalisasi budget. Akhirnya, malam yang melelahkan dan semakin larut kami menginap di Backpacker’s Freak di Jalan Merdeka dengan tarif RM 400 untuk 4 (empat) malam, yakni check-in dari malam Senin hingga check-out pada pagi hari Kamis, 21 November 2013, tapi ditambah tax RM 2.50 dan deposit RM 10 yang akan dikembalikan ketika check out, sehingga per orang RM 80.50. Lebih murah dari penginapan di KL, tentu saja. Lagi-lagi dengan tipe family room (1 king size bed dan 2 single bed) kami cukup berlima tidak memakai extra-bed.

Day 3-4 (18-19 November 2013) pukul 07.00 @ Backpacker’s Freak, Melaka – Breakfast

Sarapan ala guesthouse itu berupa toast dan coffee/tea. Cukup mengenyangkan dan saya terbawa sampai ke Indonesia kalau sarapan inginnya seperti itu saja. Tapi, dengan suasana Indonesia saya berpikir ulang kalau itu tidak cukup kenyang hehe, minimal nasi uduk baru afdol. Mantab.

Pukul 08.00 sesi paralel presentasi di Hotel Equatorial sudah mulai, kami bergegas berangkat sekitar pukul 07.30 dan dengan berjalan kaki. Melaka itu dikenal dengan the heritage city, banyak peninggalan-peninggalan bangunan tua. Guesthouse kami itu strategis sekali dengan tempat-tempat wisata Melaka. Dekat kalau ingin keliling-keliling cukup dengan jalan kaki. Sekitar Hotel Equatorial sepertinya merupakan pusat kota yang ada beberapa mal, tempat kuliner, pusat oleh-oleh dan hotel-hotel besar lainnya.

Selama conference, kami mengikuti jadwal yang padat hingga sore hari, sehingga selesai conference kami pakai untuk beristirahat. Lalu, selama conference pula kami tidak mengeluarkan budget untuk makan siang cukup membuat kami hemat dan makan enak. Kami hanya makan malam saja dan pada Day 3 (18 November 2013) makan malam kami adalah omelette dengan masak sendiri di dapur guesthouse. Jadi, kami beli telur 1 butirnya RM 0.40 dan 1 porsi nasi putih RM 1.50.

Wah, ada yang terlupa. Jangan lupa ya bawa steker berbatang 3, karena plug di sana lubangnya 3 bukan 2.

Selain itu pada Day 4 (19 November 2013) menu makan malamnya kami memutuskan untuk membeli KFC saja karena kuliner di sana tidak cocok dengan perut. Namun, ternyata rasa KFC-nya pun juga tidak enak. Rasanya aneh bagi kita. Sambal/sausnya juga sama anehnya. KFC RM 7 (nasi lemak, ayam dada, salad, cola).

Day 5 (20 November 2013) pukul 13.00 @ Hotel Equatorial Melaka – Lunch

Seharusnya di hari terakhir conference ini acara selesai hingga sore hari juga, tapi kita memutuskan untuk pulang lebih awal karena ingin menikmati tempat-tempat wisata The Heritage City, Melaka ini. Wah, salah fokus kita. Tetapi, sayang kan kalau belum menjelajah padahal sudah jauh-jauh, ini karena esok harinya kita harus pulang ke Indonesia. Setelah makan siang dan dilanjut sesi presentasi lalu coffee break, maka kami pun langsung beranjak pergi meninggalkan conference. Sebelum berkeliling kota Melaka, kami sejenak beristirahat dahulu di penginapan sambil beres-beres barang. Walaupun esok hari pesawat take off pukul 11.30, namun kami subuh harus sudah check-out dan berangkat menuju terminal Melaka Sentral.

Menjelang sore kami memulai perjalanan menuju reruntuhan benteng Portugis, A Formosa di Jalan Kota, lalu kawasan Red Square, dan kawasan bangunan-bangunan tua sekitarnya. Sebenarnya ada banyak destinasi menarik tetapi karena terbatasnya waktu, perjalanan ini juga cukup menyenangkan. Puas berkeliling hingga tiba kita untuk mencari makan dan sejenis food court di Mahkota menjadi pilihan kami. Beruntung menu dengan label halal langsung terlihat oleh saya dan saya pesan ayam bakar biasa disertai minuman teh tarik di tempat terpisah total RM 6.80.

Di Mahkota kami berbelanja lagi, saya tertarik beli mini pouch 2 buah RM 12, mainan lego minion RM 17.50, dan lady green shoe RM 20. Keluar dari Mahkota kami menyusuri jalan menuju Pahlawan Walk dan kembali membeli oleh-oleh. Saya tertarik membeli 2 bungkus gula merah khas Melaka ditambah 1 buah dodol durian Melaka RM 10 dan terakhir saya beli 2 kaos bergambar ikon Melaka seharga RM 30.

Day 6 (21 November 2013) pukul 06.00 @ terminal Melaka Sentral

Subuh, kami sudah berangkat naik teksi ke terminal Melaka Sentral RM 30 (per orang RM 6). Sesampainya di terminal kami bergegas ke loket untuk membeli tiket bus yang langsung dari terminal Melaka Sentral ke Kuala Lumpur International Airport – LCCT. Bus transnasional dengan jadwal keberangkatan pukul 06.30 RM 24.30 dengan waktu tempuh +/- 2.5 – 3 jam. Alhamdulillah, kami tiba di bandara LCCT langsung antri pada counter check-in maskapai dan tidak ada biaya international airport tax setelah itu berpindah menuju loket imigrasi cek dengan x-ray dan barang bawaan pada ban berjalan. Selesai dengan prosedur tersebut langsung menuju gate T2 sesuai yang tertulis pada boarding pass dan menunggu panggilan dengan nomor penerbangan RI 701 KULCGK. Pukul 11.20 kami take-off dan tiba di Jakarta pukul 12.20, alhamdulillah. Sesampai di bandara Soetta, kami pergi makan ke Terminal 1. Sehingga, dari Terminal 3 kami menunggu bus bandara berpindah ke Terminal 1. Setelah semua selesai makan kami pun menunggu bus Damri jurusan ke Pasar Minggu.

Selesai sudah perjalanan kami, namun ada beberapa bagian perjalanan yang belum diungkapkan, itulah sebuah perjalanan, ada cerita tersendiri di antara kami, pecinta perjalanan. (Behind the scene sebaiknya diceritakan terpisah, hihi).

Selamat jalan-jalan. Saya pun menantikan perjalanan berikutnya. Aamiin.

Karin Sari Saputra

Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply