Terms of Use:
Konten ini milik Karin Sari Saputra Official.
Anda boleh mempublikasikan sebagian atau seluruh konten ini dengan syarat:
Cukup dengan menyertakan link pada tulisan tersebut dan/atau mengutip alamat konten ini.
Copyright © 2026 Karin Sari Saputra. All rights reserved.
Tidak menemukan topik belajar Bahasa Inggris yang Anda cari? Ketikkan yang Anda cari di kolom pencarian untuk mencari konten di karinsarisaputra.com
Dapatkan konten terbaru belajar Bahasa Inggris yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.
“The future of English Studies is not merely about teaching English. It is about understanding people, connecting cultures, and designing meaningful learning experiences through assessment, technology, and innovation.”
Beberapa tahun terakhir, saya sering mendapatkan pertanyaan yang sama.
“Apakah Program Studi Bahasa Inggris masih relevan di era Artificial Intelligence?”
Pertanyaan tersebut muncul karena saat ini teknologi berkembang sangat cepat. Artificial Intelligence mampu menerjemahkan berbagai bahasa, memerbaiki tata bahasa secara otomatis, bahkan membantu menghasilkan tulisan akademik dalam hitungan detik. Di tengah perubahan tersebut, banyak yang mulai mempertanyakan masa depan studi bahasa Inggris.
Bagi saya, justru pertanyaan inilah yang menjadi titik awal transformasi.
Saya percaya bahwa English Studies tidak sedang kehilangan relevansinya. Sebaliknya, bidang ini sedang memasuki babak baru yang menuntut cara pandang yang berbeda. Masa depan studi bahasa tidak lagi hanya berbicara tentang kemampuan menggunakan bahasa Inggris, tetapi juga tentang bagaimana bahasa berinteraksi dengan teknologi, budaya, data, dan pengalaman belajar manusia.
Berangkat dari keyakinan tersebut, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris (ENGLAC – English Language and Culture) Universitas Sugeng Hartono mengembangkan dua konsentrasi baru yang diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan bahasa di era digital sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam ekosistem pendidikan global.
Konsentrasi 1
Multilingual & Intercultural Communication
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan bahasa terbesar di dunia. Lebih dari tujuh ratus bahasa daerah hidup berdampingan bersama bahasa Indonesia dan berbagai bahasa asing yang semakin banyak digunakan dalam dunia pendidikan, bisnis, pariwisata, maupun diplomasi.
Dalam konteks seperti ini, kemampuan berbahasa Inggris saja tidak lagi cukup.
Dunia membutuhkan lulusan yang mampu menjadi global communicators—individu yang memahami bagaimana bahasa bekerja dalam konteks budaya, mampu menjembatani perbedaan, serta memiliki sensitivitas terhadap keberagaman identitas dan perspektif.
Melalui konsentrasi Multilingual & Intercultural Communication, mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan bahasa Inggris secara efektif, tetapi juga mempelajari komunikasi lintas budaya, multilingualisme, diplomasi budaya, komunikasi global, serta berbagai dinamika masyarakat internasional yang semakin kompleks.
Kami percaya bahwa bahasa tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium untuk membangun saling pengertian, kolaborasi, dan perdamaian.
Konsentrasi 2
Language Assessment & Learning Analytics
Selama bertahun-tahun, asesmen sering dipandang sebagai proses pemberian nilai di akhir pembelajaran.
Namun bagi saya, asesmen memiliki makna yang jauh lebih luas.
Asesmen seharusnya menjadi alat untuk memahami proses belajar, mengenali kebutuhan setiap mahasiswa, memberikan balikan yang bermakna, dan membantu mereka berkembang secara optimal.
Di sisi lain, perkembangan teknologi menghadirkan data pembelajaran dalam jumlah yang sangat besar. Aktivitas mahasiswa di Learning Management System, hasil asesmen, tingkat partisipasi, hingga pola belajar kini dapat dianalisis secara sistematis.
Inilah yang dikenal sebagai Learning Analytics.
Ketika Language Assessment dipadukan dengan Learning Analytics, kita tidak lagi hanya mengetahui apa yang dipelajari mahasiswa, tetapi juga bagaimana, mengapa, dan kapan mereka membutuhkan dukungan.
Bagi kami, teknologi bukan digunakan untuk menggantikan dosen, melainkan untuk membantu dosen mengambil keputusan pembelajaran yang lebih tepat, lebih personal, dan lebih manusiawi.
Standardized Monitoring Framework (SMF): Dari Monitoring menuju Humanizing Learning
Perjalanan akademik saya selama beberapa tahun terakhir berfokus pada pengembangan sebuah konsep yang saya sebut Standardized Monitoring Framework (SMF).
SMF lahir dari pertanyaan sederhana.
“Bagaimana dosen dapat memonitor proses belajar mahasiswa secara lebih sistematis tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan?“
Monitoring dalam SMF bukan berarti mengawasi atau mengontrol mahasiswa secara berlebihan.
Monitoring berarti memahami proses belajar mereka.
Monitoring berarti memberikan umpan balik yang tepat waktu.
Monitoring berarti mengenali tantangan yang dihadapi mahasiswa sebelum mereka kehilangan motivasi atau bahkan memutuskan untuk berhenti belajar.
Melalui pendekatan ini, asesmen berubah menjadi proses pendampingan, bukan sekadar pengukuran.
Saya percaya bahwa masa depan pendidikan tidak hanya tentang Artificial Intelligence, tetapi juga tentang Augmented Humanity—bagaimana teknologi memperkuat hubungan antara dosen dan mahasiswa, bukan menggantikannya.

Menuju ENGLAC Language Assessment & Learning Analytics Laboratory
Sebagai bagian dari visi jangka panjang, kami mulai merancang sebuah laboratorium yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang praktik bahasa, tetapi sebagai pusat inovasi pendidikan bahasa.
Laboratorium ini dirancang untuk mengintegrasikan:
- Language Assessment
- Learning Analytics
- Artificial Intelligence in Language Education
- Digital Language Learning
- Multilingual Communication
- Educational Research
- Teacher Professional Development

Kami membayangkan sebuah ruang kolaborasi tempat dosen, mahasiswa, guru, peneliti, pemerintah, dan industri bersama-sama mengembangkan solusi bagi tantangan pendidikan bahasa di masa depan.
Laboratorium ini diharapkan menjadi tempat lahirnya berbagai inovasi, mulai dari pengembangan instrumen asesmen, analisis data pembelajaran, pengembangan kurikulum, hingga penelitian kolaboratif yang berdampak bagi masyarakat.
Mengapa Kolaborasi Menjadi Sangat Penting?
Transformasi pendidikan bahasa tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Oleh karena itu, ENGLAC membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kami percaya bahwa kolaborasi dapat diwujudkan melalui:
- penelitian bersama;
- pengembangan kurikulum;
- pengabdian kepada masyarakat;
- pertukaran dosen dan mahasiswa;
- pelatihan guru;
- pengembangan asesmen bahasa;
- learning analytics;
- artificial intelligence in language education;
- multilingual and intercultural communication;
- inovasi pembelajaran digital.
Kami percaya bahwa setiap kolaborasi akan memperkaya perspektif, memperluas jejaring, dan menghasilkan inovasi yang lebih berdampak daripada bekerja sendiri.
Membangun Masa Depan English Studies
Perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan paradigma lama.
Saya percaya bahwa masa depan English Studies bukanlah memertahankan cara-cara yang telah lama dilakukan, melainkan berani membangun pendekatan baru yang lebih relevan dengan tantangan abad ke-21.
Pendekatan yang memandang bahasa sebagai jembatan antarmanusia.
Pendekatan yang memandang asesmen sebagai sarana pertumbuhan, bukan sekadar evaluasi.
Pendekatan yang memanfaatkan teknologi secara etis untuk memperkuat kualitas pembelajaran.
Melalui ENGLAC Universitas Sugeng Hartono, kami ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Kami tidak hanya ingin menghasilkan lulusan yang mampu berbahasa Inggris dengan baik.
Kami ingin membangun generasi yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi lintas budaya, memanfaatkan data secara bertanggung jawab, dan berkontribusi dalam menciptakan masa depan pendidikan bahasa yang lebih inklusif, inovatif, dan berorientasi pada kemanusiaan.
Let’s Collaborate
We believe that the future of English Studies will be shaped through collaboration rather than competition.
ENGLAC Universitas Sugeng Hartono welcomes partnerships with universities, schools, government institutions, professional associations, industry, and researchers worldwide to co-create innovative initiatives in:
- Language Assessment
- Learning Analytics
- Artificial Intelligence in Language Education
- Multilingual Education
- Intercultural Communication
- Teacher Professional Development
- Curriculum Innovation
- Educational Technology
- Community Engagement
- Collaborative Research
Whether through joint research, visiting lectures, student exchanges, community projects, curriculum development, or international partnerships, we warmly invite colleagues from around the world to join us in shaping the next generation of English Studies.
Because the future of English Studies is not only about learning a language—it is about transforming lives through language, assessment, innovation, and meaningful collaboration.
NANTIKAN KABAR ACADEMIC LEADER SERIES BERIKUTNYA
Temukan Solusi Permasalahan Belajar Bahasa Inggris 24/7
(*) Informasi Kendala Teknis
Silakan tanyakan pada kolom komentar untuk kendala teknis yang mungkin kalian temui.
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

