Kita pasti memiliki orang-orang kepercayaan, bukan? Hal apa yang membuat kita bisa memercayai seseorang? Lamanya waktu kita bersama? Seberapa dekat hubungan kita? Atau apa? Bertahanlah bagi yang saling percaya.
[7] Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.
Kebersaman kita bisa saja menimbulkan tanda tanya. Kita diawasi dan orang-orang melihat kita. Apakah semua akan mendukung kita? Saat kita bersama, kita membuat sekitar menjadi berbeda. Mengapa?
[8] Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.
Dunia dengan kebersamaan kita secara perlahan mendukung kita untuk bisa menghasilkan sesuatu karena tujuan kita yang sama. Tapi, di saat yang sama apa yang kita senangi tidak serta merta membuat yang lain juga menyenanginya.
[9] Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.”
Siapakah yang kita percaya saat situasi bahkan semua mendominasi untuk bersepakat pada hal yang berbeda di hati kita? Dominasi itu pastilah kuat sehingga tidak mengapa untuk mengusik kepercayaan kita satu sama lain.
[10] Seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.”
Ada suatu rencana untuk berbuat pada kebersamaan kita. Bagaimana salah satunya harus ditinggalkan dengan alasan untuk kebaikan bersama. Siapakah yang kita percaya atas penilaian itu?
[11] Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya.
Rasa saling percaya itu terusik justru hadir di lingkaran pertama kita. Yang dekat sekali dengan kita. Siapakah yang kita percaya atas penilaian itu? Apa yang disampaikan memenuhi logika kita. Semuanya tampak benar, tapi bagaimana dengan hati itu? Adakah muncul suatu perasaan yang membuatnya menjadi gamang? Adakah kita mempunyai intuisi lain?
[12] Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya.”
[13] Dia (Yakub) berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.”
[14] Sesungguhnya mereka berkata, “Jika dia dimakan serigala, padahal kami golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi.”
Tidaklah mengapa hal ini kemudian terjadi dan kita dapat memahami serta mampu menjawab, “siapakah yang kita percaya?” Karena suatu saat kita pasti akan mengerti tentang siapakah yang kita percaya.
[15] Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”
Dan semua kisah ini berlanjut dengan datangnya suatu penyampaian yang akan sangat mengusik rasa percaya itu. Lalu, siapakah yang kita percaya?
[16] Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis.
Beratlah situasi itu bagi kita. Terutama saat kita benar-benar tidak mengetahui bagaimana menilai rasa percaya itu. Jadi, hal apa yang membuat kita bisa memercayai seseorang? Lamanya waktu kita bersama? Seberapa dekat hubungan kita? Atau apa?
[17] Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”
Kita akan merasakannya bahwa sungguhlah berat situasi itu. Siapakah yang kita percaya? Semua berhak bilang inilah pandangan yang benar. Tapi ingatkah sebelum ini bahwa kita bisa bersabar?
[18] Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
Setelah itu, kita bisa dapati bersama bahwa kesanggupan bersabar untuk membuat kita bersama selamanya, ternyata membantu kita menjawab siapakah yang kita percaya dengan memohon pertolongan kepada-Nya.
Tahukah kamu bahwa ini ialah tahapan berikutnya dari kesanggupan bersabar yang akan diuji dari rasa saling percaya. Semoga ini memperjelas situasi kita untuk sanggup bersabar dahulu dan pertanyaan siapakah yang kita percaya takkan sulit untuk kita jawab.
Jadi, bertahanlah bagi yang saling percaya.
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.