Rasanya sulit untuk menentukan satu hal yang akan menjadi fokus kita bersama untuk jangka waktu yang sangat lama. Banyaknya pemikiran yang dimiliki oleh satu sama lain, membuat kita terheran-heran, bagaimana mungkin kita bisa mempunyai visi yang sama?
Kita tak saling mempertanyakan, tapi saat kita memang bisa bersama artinya ada satu alasan dari kebersamaan kita. Mengapa kita bersama?
Itulah mengapa kita bersama. Tidak ada satu alasan yang tepat untuk menjelaskan mengapa kita bersama, kecuali kalau kita memang benar-benar memiliki visi yang sama. Tetapi, alasan ini begitu rapuh.
Visi yang sama tidak serta merta mampu menopang kebersamaan kita dalam jangka waktu yang sangat lama. Visi ialah sebuah tujuan secara umum dalam bentuk gambar besar. Kita, satu sama lain, dengan perbedaan yang kita miliki, pastilah akan berbeda dalam menerjemahkan atau menginterpretasikan bentuk gambar besar itu. Visi ialah yang pertama, namun untuk seterusnya, untuk mengikat hingga jangka waktu yang lama, visi itu begitu rapuh dan itu tidaklah cukup.
Kita sedang berbicara tentang keberhasilan dari suatu kebersamaan. Alasan mengapa kita bersama harus dipertanyakan kembali dengan menambahkan, mengapa kita bersama untuk waktu yang sangat lama?
Tahukah kita jawaban itu?
[24] Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?
Hal yang sudah sangat pasti berlaku ialah kita tidak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Apakah itu keinginan? Keinginan ialah kita tahu jelas apa hal untuk kita capai. Sangat spesifik, begitu jelas. Hanya keinginan itu begitu banyak, semuanya kita inginkan.
Lagi-lagi waktu kita terbatas.
Keinginan itu haruslah sesuatu yang berharga untuk kita capai, sehingga supaya kita berhasil untuk meraih keinginan salah satunya, kita harus fokuskan pada satu hal.
Hanya satu. Benar-benar hanya satu. Dan itulah cita-cita.
Inilah jawaban mengapa kita bersama dan untuk jangka waktu yang sangat lama, bukan lagi terjawab dengan visi yang sama, melainkan cita-cita.
Cita-cita ialah berfokus hanya satu, benar-benar hanya satu dari sekian banyak keinginan, yang kita sangat berhasrat besar untuk kita capai. Kita mengetahui satu fokus itu dengan sangat spesifik, jelas dan bahkan jelas sekali. Yang menjadi kekhawatiran ialah apakah cita-cita ini pasti akan terlaksana? Keinginan memang tidak akan pernah terlaksana semuanya. Tidak akan pernah. Bagaimana dengan satu? Satu ini ialah cita-cita, yang kita amat sangat berhasrat besar untuk kita capai. Mampukan cita-cita ini terlaksana?
[25] (Tidak!) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.
Jawabannya pun tidak.
Untuk itulah mengapa kita bersama, dan untuk jangka waktu yang sangat lama bahkan selamanya. Hal itu karena ada cita-cita untuk kita capai bersama. Kalau kita terpisah dan sendiri, sudah pastilah cita-cita ini menjadi kemungkinan kecil terlaksana. Tetapi, kita bersama dan dengan cita-cita yang sama, kita pasti akan membuatnya terlaksana. Bagaimana bisa?
[26] Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai.
Secara bergantian, kita saling bahu-membahu dalam meluruskan niat kita bersama untuk cita-cita yang kita akan capai. Dinamika kehidupan sebagai manusia biasa tidak luput dari kekhilafan yang tidak memampukan kita untuk selalu memeroleh rida-Nya. Kita yakin, meski salah satu dari kita sedikit tergelincir, tak mungkin semua dari kita akan begitu, asal kita tetap ingat pada cita-cita yang sama bersama.
Untuk itulah kita bersama, salah satunya akan saling berusaha menjaga untuk tetap memeroleh keridaan-Nya.
Sekarang, seterusnya, untuk jangka waktu yang sangat lama dan selamanya, mengapa kita bersama?
Jawablah.
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.