Disclaimer: Cerita ini ialah cerita fiksi yang dibuat bersambung sehingga untuk membacanya disarankan dari Cerbung #1. Cerbung ini tidak menentu kapan rutin dilanjutkan, yang menantikan, 'Terima kasih!'.
Ya Allah hanya kepada-Mu aku berharap. Aku serahkan urusan ini kepada-Mu. Jangan biarkan aku menanggungnya sendiri, walau sekejap mata. Aku lemah. Tak akan mampu jika sendiri aku yang mengurusnya. Jangan pula Engkau serahkan urusan ini kepada orang lain. Sebab menaruh harap kepada makhluk-Mu hanya akan membawakanku rasa kecewa.
Halaqah Cinta: Follow your Prophet, Find Your True Love (hlm. 176)
•••
SEMBILAN| 9
“Ujian dari Allah,” kata Buya Hamka, “tak ubahnya anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal pikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong dan menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi.”
•••
“Mbah Slamet, mau dibuatkan minum apa?” Pagi-pagi gue udah harus disibukkan dengan rutinitas baru bersih-bersih rumah Mbah Uti. Kalau di kampung sebelum subuh udah ramai orang-orang bersiap dengan kesibukannya. Jadi, gue agak kaget Mbah Slamet udah dateng tepat beres sholat subuh. Maksud gue kan kalau mau tebang pohon kelapa di sisi barat rumah sesuai permintaan Mamah tempo hari, di jam segitu masih gelap nggak sih?
“Teh anget saja. Gulane satu sendok nggih Mbak.”
Tak lama gue keluar lagi, bawa dua cangkir teh. Yang satu cangkir tehnya untuk gue sendiri, yang agak manis. Gue suka manis, tapi nggak boleh berlebihan juga.
“Monggo Mbah Slamet.”
“Nggih, matur nuwun Mbak.”
“Ini nggak langsung tebang pohonnya kan Mbah. Di luar masih gelap.”
“Ndak, tapi sebentar lagi juga terang Mbak. Sekitar 15 menit lagi, sambil habiskan tehnya. Mbah mau sambil merokok dulu rapopo Mbak?”
“Nuwun sewu Mbah Slamet. Aku nggak tahan sama asap rokok. Tapi, monggo. Aku tinggal ke dalam.”
•••
“Mbak, nuwun sewu.” Siwoh Nah berjalan mendekat masuk ke kamar gue.
“Kenapa, Woh?”
“Lali ora (lupa nggak) sama Umar, Mbak? Umar juga lagi pulang, tau ada mobil Mbak di depan, nanti mau mampir ketemu Mbak.”
“Umar?”
“Nganu Mbak, nuwun sewu. Umar masih sendiri loh Mbak. Serasi e sama Mbak.”
“Nah kan Woh. Ini lagi jodoh-jodohin aku ya. Aku sebel ah.”
“Nuwun sewu, Mbak Renata. Nanti Siwoh bilang ke Umar ora usah mampir.”
“Oalah, Woh. Aku mau ketawa nih. Nggak apa-apa. Cuma ketemu menyapa kan. Aku nanti mau ke sawah, kalau pas dia dateng aku nggak ada, minta dia ke sawah aja ya Woh.”
“Nggih Mbak. Woh seneng…”
“Seneng apanya?” Gue langsung nyamber ucapan Siwoh Nah yang belum selesai.
“Rapopo Mbak. Ini loh Woh mau masak makanan kesukaan Mbak Renata. Nuwun sewu nggih Mbak.”
Gue langsung terdiam lama setelah Siwoh Nah keluar kamar. Anyway, Umar yang mana ya?
•••
Kalau kita melewati ladang sawah misalnya dalam perjalanan ke suatu tempat, apa yang biasanya kalian pikirkan? Sekadar melamun, sambil memandangnya berlalu terlewati begitu saja kah?
Buat gue, sawah memiliki makna yang mendalam. Alasan utamanya karena gue banyak belajar dari sosok Mbah Uti, yang membuat gue menjadi begitu berbeda ketika memandang sawah.
Berada di sawah gue merasakan betul apa artinya suatu kerja keras. Proses yang panjang, kesabaran yang luar biasa hingga akhirnya mengerti apa itu rasa syukur.
Kalian tau, jam berapa para petani bangun? Apa saja barang bawaan yang mereka pikul di pundaknya? Berat atau ringan kah yang mereka pikul? Seperti apakah sosok mereka? Bagaimanakah karakter mereka? Keterampilan apakah yang mereka miliki? Seberapa kuat kah mereka?
Gue merasa tertampar, nggak sekali, sungguh berkali-kali. Itu baru dari sosok mereka.
Kalian tau, padi? Atau beras? Atau nasi.
Ketika Mbah Uti tanya, “Cah ayu, kamu ngerti ilmu padi?” Gue jawab penuh percaya diri dan lantang, “Tau banget Mbah, semakin berisi semakin merunduk? Populer itu Mbah. Banyak orang tau.”
“Bagus, berarti kamu tau, kowe ngerti. Tapi ora cukup. Sekadar tau dan ngerti buat apa? Kowe nduwe ilmu, sekolah sing dhuwur, apa cuma untuk tau saja? Nyatane piye? Lah sekarang katanya itu populer banyak orang tau, tapi orang-orang yang punya ilmu, contohnya kamu yang sekolah, kamu sudah punya ilmu padi? Bener nduwe?”
“Mbah pusing itu kalau dengar berita, mereka nduwe ilmu, jelas mereka sekolah, tapi yo bagaimana.”
Saat itu gue cuma bengong, muka blo’on. Otak gue berasa berat aja gitu dapet diskusi model tingkat tinggi. Bergaul sama orang tua memang wawasannya beda sama gue yang biasa diskusi receh.
Tapi, serius gue merasakan hidup itu jadi berkesan aja di gue. Maksud gue, hidup itu nggak bisa cuma ngalir aja. Kalau elo coba bersinggungan dengan realita kehidupan yang sesungguhnya, hidup buat elo akan jadi semenarik itu. Gue sotoy aja nih buat perumpamaan, elo nyetir di jalan tol sama nyetir jalan ke puncak, gimana berasanya? Aduh, sepertinya logika perumpamaan gue nggak sesuai deh.
Lama-lama gue terbiasa dan mulai bisa mengimbangi obrolan Mbah Uti. Gue berasa tuir banget deh. Hahahaha. Pas gue nggak sengaja nyebut kata tuir dan Mbah Uti denger, Mbah Uti bilang begini, “Tuir itu bahasa opo tho? Artine?”
Gue mau jawab asal nanti dosa sama orang tua. Kalau gue jawab yang artinya bener nanti bakal jadi panjang kali lebar deh sama dengan rumus luas (ya Allah gue garing banget). Pasti Mbah Uti bakal nanya-nanya dan jadi panjang urusannya, gitu.
“Tuir itu artinya tua, Mbah Uti.” Akhirnya gue jawab yang sesungguhnya.
“Tua? Maksudnya Mbah Uti itu tua? Memangnya kalau sudah tua kenapa tho? Lah kamu, umurmu itu berapa sekarang? Sudah tua juga belum?”
Tuh kan kata gue juga apa, Mbah Uti nih jago aja gitu nanya-nanya yang panjang, dan bakal bahas kemana-mana.
“Kok diem. Hayo jawab Mbah Uti.”
Aduh tolong gue kenapa.
“Nggak kenapa-kenapa Mbah Uti. Aku bingung mesti jawabnya bagaimana.”
“Ya sudah, Mbah Uti ganti pertanyaannya. Mana calonmu sudah ada belum?”
“Aduh Mbah Uti, pertanyaannya jauh banget, nggak nyambung loh Mbah Uti.”
“Lah ya nyambung tho. Tadi lagi bahas tuir kok.”
Aduh, gue bener-bener tepuk jidat.
“Kok diem lagi. Hayo jawab Mbah Uti.”
Ampun beneran sama Mbah Uti. Tolong gue kenapa sih. Help!
“Mbah Uti, aku itu…” Belum selesai gue ngomong langsung dipotong Mbah Uti, “Nah iya Mbah Uti inget itu si Umar.”
•••
“Assalamu’alaikum, Mbak Renata.”
Gue sontak kaget, tersadar dari lamunan keinget Mbah Uti selagi di sawah.
“Eh, oh iya wa’alaikumsalam. Aduh, maaf aku kaget. Eh, tapi aduh maaf siapa ya?” Omongan gue agak gelagepan karena masih kebawa kaget.
“Maaf ya Mbak bukan bermaksud mengagetkan tadi. Saya minta maaf Mbak.”
“Aduh, nggak apa-apa. Nggak apa-apa beneran. Tadi aku juga yang agak melamun. Tunggu, Mas ini…”
“Saya Umar, Mbak Renata.”
Wait, lamunan gue tadi juga ada disebut nama Umar kan ya. Berarti, oh iya Mbah Uti yang sebut nama Umar!
“Oh, Mas Umar, oh iya Mas.” Aduh, jawaban macam apa itu kelihatan sekali gue canggung. Tapi, memangnya gue harus merespons seperti apa sih? Pusing gue berada di situasi awkward begitu.
•••
Bersambung | Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.