Nggak Mau Pacaran! (Cerbung #10)

Disclaimer:
Cerita ini ialah cerita fiksi yang dibuat bersambung sehingga untuk membacanya disarankan dari Cerbung #1.
Cerbung ini tidak menentu kapan rutin dilanjutkan, yang menantikan, 'Terima kasih!'.

Ilmu itu, mengangkat derajat orang yang memelajari, memudahkan orang yang mengamalkan, makin bertambah jika dibagikan, dan akan abadi jika dituliskan. Ilmu itu, mencahayai gelapnya peradaban, membalik nasib menuju keberkahan, dan memantik hadirnya kebahagiaan.

The Perfect Muslimah: Indah Akhlaknya-Teduh Parasnya-Brilian Otaknya-Mantap Agamanya-Luas Pergaulannya-Dahsyat Prestasinya-Hebat Kontribusinya (hlm.22)

•••

SEPULUH | 10

“Kalau wanita berakhlak baik dan berpikir positif, maka ia adalah angka 1. Kalau ia juga cantik maka imbuhkan 0, jadi 10. Kalau ia juga punya harta, imbuhkan lagi 0, jadi 100. Kalau ia cerdas, imbuhkan lagi 0, jadi 1000. Jika seorang wanita memiliki semuanya tapi tidak memiliki yang pertama, maka ia hanya ‘000’. Tak bernilai sama sekali.” (Al-Khawarizmi)

•••

“Mbah Uti, bagaimana kita tau kalau orang itu baik atau nggak?” Gue coba buka obrolan di tengah teriknya panas matahari yang memuncak, tepat di mana gue berada di tengah-tengah sawah saat masa tanam tiba. Amat sangat gersang, wahai bosquee (gue jadi alay biar tetep waras dan nggak pingsan). Awal-awal gue ikutan kerja bareng Mbah Uti ke sawah, gue cengeng banget. Apa-apa yang disuruh Mbah Uti, gue komenin semua. Gue ngoceh mulu alias ngeluh. Elo bayangin orang yang lagi ngoceh tanpa henti tapi nggak direspons, didiemin aja gitu, elo bakal gimana coba? Eh, gue malah nangis. Nah, itu gue cengeng banget. Mbah Uti makin happy deh, gue jadi hiburan bagi Mbah Uti.

“Lah yo gampang. Jangan apa-apa yang dinilai orang lain dulu. Lihat awakmu sendiri itu. Kalau kamu baik yo ketemu orang baik.”

“Berarti kalau aku ketemu orang yang nggak baik, aku itu belum cukup baik, Mbah Uti? Aku bingung Mbah Uti.”

“Kamu tau darimana kalau orang yang kamu pikir itu ndak baik, cah ayu? Ganti fokusmu itu loh. Opo yo bahasa kerennya, nah njenengne iku perspektifmu, sudut pandangmu itu loh. Kita itu bakal capek tenan mikiri gimana orang itu supaya begini-begitu. Sudah sini, kamu fokus ke awakmu yo. Kejarlah kebaikan cah ayu, berpikir bagaimana nduwe akhlak sing apik. Rasane nduwe akhlak sing apik itu akan memurnikan hatimu. Makin peka. Hati yang murni, bersih, pasti akan bereaksi untuk hal-hal yang ndak baik. Ndak tentrem, rasane gelisah. Sunatullah. Agama kita sudah sangat jelas soal itu, cah ayu. Nah kamu tau ndak bukan cuma hape saja yang nduwe sinyal. Hati juga mengeluarkan sinyal-sinyal, ibarat magnet. Gini yo, badan kita itu bermagnet tho? Sing asalne apik bakal ketarik persis sama sing apik. Sudah pasti itu. Sebaliknya, ora apik yo persis sama ora apik. Orang itu saling tarik-menarik sesuai dengan yang terpantul dari sinyal yang dikirimnya. Monggo simpulkan sendiri pakai bahasamu.”

Pertanyaan gue ke Janet terjawab, ‘Ada yang sefrekuensi sama gue nggak sih?’ Itulah frekuensi. Nah, sekarang frekuensi macam apa yang gue kirim ke sekitar gue?

“Teruslah berbuat baik, cah ayu.” Mbah Uti selalu mengingatkan. “Tunggu saja, ndak ada hal lain kecuali kebaikan yang akan kamu dapatkan kembali. Yakini itu. Keyakinan yang utama.”

•••

“Mbak Renata tadi sudah bertemu Mas Umar ya?” Siwoh Nah kelihatan sekali nggak bisa menahan keponya semenjak gue pulang dari sawah tadi siang.

“Iya, Woh.” Gue sengaja cuma jawab singkat.

“Bagaimana Mbak? Nuwun sewu, Mbak. Mas Umar bagaimana Mbak?” Siwoh Nah buru-buru bertanya lagi, nggak puas dengan jawaban singkat gue.

Kalau pertanyaan yang Siwoh Nah maksud itu, ‘Apakah gue sefrekuensi dengan Mas Umar?’ Jawabannya adalah … .

•••

Bersambung | Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply