Girl Talk: @irene_eirene

Hello, there! This is a little that I wanna fetch out for you, Irene.

Meminjam istilah salah seorang teman, dia biasa dipanggil Tyasgue inget banget waktu dia bilang ‘masih kaku aja loe kayak kanebo kering’ngakak asli. Loe gokil, Yas! Nah, istilah itu gue analogiin ke diri gue. Gue itu sebenernya orang yang susah mengakrabkan diri. Gue mikir, kok rasanya gue itu ‘dingin’ hehehe. Jadi, ada yang mau gue perjelas. Yeah!

Irene itu temen sekelas gue di kampus. Dia juga temen sebelah kamer gue di kost. Walaupun sebelahan bukan berarti sering bersapa dan bersua. Paling kita bareng untuk makan, berangkat ke kampus, kadang ngebolang, atau mikirin tentang tugas, selebihnya gue lebih seneng sendiri. Gue ini temen macam apa, HAHAHA. Filosofi berteman itu mungkin seharusnya bisa saling berbagi, membantu dan saling mengisi satu sama lain.

Nah, Irene gue bukan orang yang pandai berkata-kata dan gue itu orang yang menyebalkan. Gue tahu itu. Gue emosian, mood gue naik-turun dan gue bukan pendengar yang baik. Satu lagi, gue itu penasehat yang buruk. Gue bingung kalo harus ngasih saran. Suer. Payah sekali, HAHAHA.

Dari sekian hal-hal yang enggak banget dari diri gue itu, gue mau memperbaiki diri. Irene, ternyata belajar itu lebih menyenangkan dan cepat memahami kalo kita sering berdiskusi dan bertukar pikiran. Padahal seharusnya kita bisa ngelakuin itu secara, pertama kita sekelas dan kedua kamer kita sebelahan. My goodness! Kita itu harusnya bisa memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat pemahaman mata kuliah, tapi kita malah enggak gitu. Penyesalan terdalam. Guenya lebih suka sendiri, mungkin elo juga gitu dan elo juga sibuk kerja, jadi manfaat itu tidak berjalan dengan baik, hehehe.

Ada yang mau gue bagi, dan ini dari novel “Negeri 5 Menara” (A. Fuadi) yang gue baca.

“… ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang menyerah di detik ke 10, dia tidak akan menyerah sampai detik 20. Selalu berusaha meningkatkan diri lebih dari orang biasa.”

“Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur di luar diri kalian. Oleh siapa pun, apa pun, dan suasana bagaimana pun. Artinya, jangan mau sedih, marah, kecewa dan takut karena ada faktor luar. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kalian punya pilihan, untuk takut atau tetap tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar,” (Fuadi: 107).

“Jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai oleh pemiliknya, adalah hati orang sukses,” (Fuadi: 108).

“Kerahkan semua kemampuan kalian belajar! Berikan yang terbaik! Baru setelah segala usaha disempurnakan berdoalah dan bertawakkal lah. Tugas kita hanya sampai usaha dan doa, serahkan kepada Tuhan selebihnya, ikhlaskan keputusan kepadaNya, sehingga kita tidak akan pernah stres dalam hidup ini. stres hanya bagi orang yang belum berusaha dan tawakal. Ma’annajah, good luck,” (Ibid).

“… kalau ingin sukses dan berprestasi dalam bidang apa pun, maka lakukanlah dengan prinsip saajtahidu fauqa mustawa al-akhar. Bahwa aku akan berjuang dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan orang lain,” (Fuadi: 383).

“Apa sih yang membedakan sukses dan tidak? Belum tentu faktor pembeda itu otak yang lebih cemerlang, hapalan yang lebih kuat, badan yang lebih besar, dan orang tua yang lebih kaya.”

“Tapi yang membedakan adalah usaha kita. Selama kita berusaha dan bekerja keras di atas orang kebanyakan, maka otomatis kita akan menjadi juara!”

“Lihatlah, berapa perbedaan antara juara lari 100 meter dunia? Hanya 0,00 sekian detik dibanding saingannya. Berapa beda jarak juara renang dengan saingannya? Mungkin hanya satu ruas jari! Untuk juara hanya butuh sedikit lebih baik dari orang kebanyakan!”

“Maksudku, kalau kita berusaha sedikiiiiiiiiiiit saja lebih baik dari orang kebanyakan, maka kita jadi juara. Ingat, filosofinya: sedikit saja lebih baik dari orang lain. Itu artinya, perbedaan sepersekian detik, satu ruas jari tadi. Kita bisa dan kita mampu jadi juara kalau mau!”

Dan Irene untuk semester depan, ayo kita berusaha lebih baik dan keras lagi. Kita balas kekurangan yang kemarin-kemarin secara kontan esok hari. Nah, ini pernyataan penutup dari sesi Girl Talk kita, HAHAHA.

Biarkan dirimu ditarik secara diam-diam oleh tarikan yang lebih kuat dari apa yang benar-benar engkau cintai. (Jalaluddin Rumi).

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply