Kita tidak akan pernah merasakan kebahagian sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar diri kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.
Memperoleh hati yang lapang dan dalam itu tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.
Kebahagiaan itu datang dari hati sendiri, bukan dari orang lain, harta benda, ketenaran, apalagi kekuasaan. Tidak peduli seberapa jahat dan merusak sekitar, tidak peduli seberapa banyak parit-parit itu menggelontorkan air keruh, ketika kau memiliki mata air sendiri dalam hati, dengan cepat danau itu akan bening kembali.
Tere-Liye ~ Ayahku (Bukan) Pembohong, 2011: 292-293.
•••
Kalau nantinya ini mau dibilang naif atau terlalu dini menyimpulkan itu sah-sah saja, tetapi hal ini lebih baik dikatakan daripada menjadi api dalam sekam. Saya bukan penakut apalagi pengecut. Setidaknya, saya mencoba jujur mengungkapkannya walau tetap saja ada kegetiran.
Pada suatu masa yang selalu memiliki siklus seperti roda pedati, berputar mengitari sembari menanti perubahan yang nanti akan menyapa dan secara pasti bahwa hal itu tidak bisa kita hindari. Saya sedang takjub sendiri, semoga saya tidak ‘ditangkap’ seperti yang selalu diguraukan oleh sang adik—cukup tersenyum simpul.
Saya menolak adanya pabrik rokok. Saya menolak adanya pengerukan besar-besaran pada fosil-fosil untuk bahan bakar yang merusak alam. Saya menolak kerusakan di muka bumi. Mungkin kami telah terpedaya selama bertahun-tahun, tetapi tidak untuk kali ini, tidak untuk saat ini ketika waktu berpihak pada orang-orang yang sabar. Sudah sepantasnya kalian harus menyadari bahwa kalian sudah melampaui batas. Saya tidak takut padamu wahai perusak berwajah malaikat, saya sedikit banyak telah paham penerang akan hal ini berkat adanya perintah pertama yang diturunkan untuk sekalian umat manusia, “Iqra!” ~ “Bacalah!”
Teramat banyak tanda-tanda kerusakan yang jelas sekali terbaca, tetapi entah mengapa kebanyakan orang menilai itulah perbaikan. Aneh. Mengapa pabrik rokok masih dapat berdiri kokoh? Katanya itu merupakan hal yang dilematis, mereka merusak tetapi mereka menyejahterakan, implikasinya mereka sulit untuk diusik. Lagi-lagi konspirasi yang luar biasa bukan? Dipandang dari sudut mana pun merokok itu sangat merusak, menjadi candu yang merusak masa depan. Kesejahteraan apanya, itu omong kosong. Kesejahteraan semu yang seringkali diiming-imingi modal besar dengan menyumbang banyak ke sektor-sektor lain. Seolah mereka itu berjasa sekali bagi kemajuan dan kita hanya manut saja mengiyakan. Bodoh.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS. Al-Baqarah: 11-12)
Coba panggil ahli hitung, ahli ekonomi atau ahli kalkulasi, bahkan seluruh ahli bidang lain yang terkait dengan masalah rokok ini, tunjukkan kenyataan sebenar-benarnya bahwa kita memang terpedaya, mereka yang menangguk untung besar, kita rugi lahir dan batin. Walaupun sungguh besar sikap dermawan yang mereka tunjukkan tidak sebanding dengan kerugian yang kita terima.
Lahan-lahan tembakau seharusnya dibumihanguskan, tanpa sisa. Jangan sibuk cari alasan, jangan malas. Hey, banyak tanaman jenis lain yang lebih bermanfaat dari tembakau. Tembakau memang diperkenalkan kali pertama oleh bangsa penjajah dahulu. Itulah taktik licik agar kaum pemuda dibuat malas, sibuk mencari candu sebagai kenikmatan sesaat, dibuat bodoh, dibuat menjadi pesakitan. Mengingat romantisme masa lalu ketika Indonesia dikenal sebagai pemasok tebu nomor satu, menjadi lumbung beras, dan berkelimpahan sumber-sumber pokok lainnya, tapi itu masa lalu dan masa kini yang menyedihkan, kita jagonya impor. Miris.
Pikiran kita dijejali dengan kebahagiaan-kebahagian semu. Kita sudah termakan bulat-bulat kalau bahagia itu diukur dari materi saja, menjadikan diri kita egois, mengeruk untung sebanyak-banyaknya tidak peduli dengan akibat buruk yang ditimbulkan.
“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-A’râf: 74)
Terkadang saya merasa kalau pemikiran yang akan saya coba sampaikan ini mungkin aneh. Saya menjadi merasa amat sangat tidak suka sekali terhadap hal-hal ekspolarasi alam yang merusak walaupun itu untuk kemaslahatan umat manusia. Terkesan meragukan bukan? Untuk kemaslahatan tetapi merusak. Islam tidak mengajarkan keragu-raguan, kalau itu putih ya putih dan hitam ya hitam. Kalau ada yang baik tapi merusak, maka itu tidak lebih hanya sekedar kamuflase atau fatamorgana.
Logikanya begini, batu bara, minyak bumi, gas alam mereka itu semua adalah contoh dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, lalu kenapa harus repot-repot mengeksploitasi hingga menjadikan alam yang hijau menjadi tandus dan gersang malah mendesak, mengikiskan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, seperti jumlah mata air yang susah didapat padahal itu merupakan kebutuhan paling vital.
Biarkan saja sumber-sumber daya alam tidak dapat diperbaharui itu, ketika mereka malah habis dipastikan kondisi sengsara luar biasa. Kehidupan sulit berputar karena penopangnya, yakni sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui benar-benar telah habis sedangkan ketika ingin segera beralih pada sumber daya alam yang dapat diperbaharui, yaitu, air, tumbuh-tumbuhan malah rusak parah bahkan punah. Habislah umat manusia.
Saya juga kembali berpikir, kerbau jauh lebih baik daripada traktor, anak cucu kita bisa dipastikan masih bisa melihat kerbau di masa depan. Itu hanya sekedar analogi sederhana.
Saya pun berani menyimpulkan penemuan teknologi-teknologi yang masih bertopang pada sumber daya alam tidak dapat diperbaharui adalah TERPAYAH dan TERBURUK dari yang pernah ada. Penjualan motor yang pesat luar biasa harga minyak dunia yang sewaktu-waktu bisa saja membuat krisis negara, itu mengerikan sekali.
Makanya, suku-suku sederhana yang hidup damai permai mereka itulah berpikiran masa depan. Jangan ragu mendukung teknologi terbarukan berbasis sumber daya alam yang dapat diperbaharui, seperti halnya akhir-akhir ini ditemukan mobil listrik tenaga surya dan lain-lain, itulah penemuan yang sebenar-benarnya, tidak merusak tapi bermanfaat bagi semesta alam. Yang menentang dan tidak ada tindak lanjut untuk mendukung, kalian pasti tahu kan maksud tersembunyi mereka. Mereka menginginkan kita menghamba pada minyak bumi dan terus-menerus mencari sumber ekspolarasi hingga tidak bersisa sedikit pun.
“Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan. Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk.” (QS. Al-Baqarah: 204-206)
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
rumit ini miss masalahnya :). bukan hanya itu miss terjadi kehancurannya. Indonesia telah dikuasai bangsa asing. banyak perusahaan asing berdiri kokoh di indonesia melebihi jumlah perusaahaan asli indo. SDM indo hanya dibuat menjadi pembantu. Sementara bangsa asing menjadi tuan rumah di negara kita.
mungkin semuanya krn “Uang”
memang penggunaan motor menggunakan bahan bakar yg tdk dapat diperbaharui. itu dapat kita ketahui jelas merusak. tapi tetap saja kita masih menggunakannya.
hidup memang membingungkan…