Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mukminun: 114)
Saya mengernyitkan dahi, ketika di mobil dalam perjalanan ke suatu tempat saya melewati banner yang bertuliskan Bazaar Ramadhan dan Live Music, hm.. kira-kira terasa ada yang anehkah atau janggalkah? Bulan puasa semakin ke sini kok identik dengan hidup boros ya. Masyarakat sangat konsumtif sekali. Mau bukti?
Saya merasa sedikit kehilangan dengan momentum ketika memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan puasa, bulan penuh ampunan dan rahmat dari-Nya. Sungguh, padahal barang siapa yang berbahagia menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, maka pintu surga terbuka baginya. Tetapi, saya merasakan sesuatu yang lain, rasanya ada yang salah.
Jika dirunut, maka ini adalah bulan yang ditunggu-tunggu, bulan istimewa, yang bahkan terdapat satu malam di bulan ini yang merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada bulan puasa pula Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup manusia, pembeda antara yang salah dan benar. Mukjizat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT karena tetap terjaga kemurniannya hingga akhir zaman. Subhanallah. Allahu Akbar. Alhamdulillah.
Awalnya saya menyenangi beragam cara yang dilakukan oleh orang-orang dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini. Ada banyak sekali rencana yang telah disusun dan semuanya itu disiapkan dengan detail. Luar biasa. Kita bahkan sampai geleng-geleng kepala. Coba saja kita amati, mulai dari sibuk memikirkan menu berbuka dan sahur sampai segala rupa kegiatan yang muncul ketika bulan Ramadhan. Tidak salah menilai jikalau umat Islam benar-benar berbahagia menyambut datangnya bulan yang penuh berkah.
Tunggu dulu, apakah benar harus seperti itu? Kita berbahagia dengan bersikap tidak seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sejatinya, bulan puasa adalah bulan yang tidak hanya harus dapat menahan haus dan lapar, tetapi juga hawa nafsu keduniawian. Kita dituntut agar dapat ikut merasakan kondisi kaum papa yang sehari-harinya hidup serba terbatas, jauh dari bermewah-mewahan.
Faktanya, yang terlihat di lapangan sungguh berbeda karena dapat dipastikan ketika menjelang waktu berbuka, menunggu adzan maghrib berkumandang, sekonyong-konyong setiap ruas jalan penuh sesak oleh laju pelbagai kendaraan, entah sekedar jalan-jalan belaka atau berbelanja. Orang-orang yang menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sore didominasi oleh kaum muda, yang terkadang tanpa risih memperlihatkan kedekatan di luar batas.
Lalu, sifat konsumtif yang semakin meningkat dari bulan-bulan sebelumnya seakan kenaikan BBM beberapa waktu lalu tidak berdampak apa pun bagi mereka. Aneh. Perilaku dan perkataan tidak sinkron. Kenaikan BBM telah membuat hidup semakin susah, lah kok ya tambah boros. Harga-harga kebutuhan semakin membubung tinggi tak terkendali, kran impor terpaksa harus dibuka untuk memenuhi permintaan yang membeludak. Apa-apaan ini, sadarkah mereka bahwa sesungguhnya kitalah yang membuat kondisi ini semakin sulit. Kalau saja mereka paham hukum ekonomi, maka tidak ada ceritanya harga-harga barang kelewat menggila dan stok barang sampai habis dan harus impor. Hukum ekonomi sederhana sudah jelas menyatakan bahwa kalau permintaan naik, otomatis harga jual juga naik.
Dari tahun ke tahun kalau diamati selalu begini, bulan puasa malah boros, bertolak belakang sekali dengan hakikat berpuasa itu sendiri. Puasa itu jadinya hanya ibarat memindahkan jam makan saja karena yang dipikirkan hanya urusan perut. Nah, ini semakin menambah nelangsa, saya tidak habis pikir, acara bulan puasa malah diramaikan dengan bazaar dan live music. Ini pikirannya bagaimana?
Manusia adalah makhluk yang paling unggul di antara makhluk-makhluk lainnya karena dilengkapi oleh akal pikiran, tapi kok ya tidak dipakai. Apa hubungannya bulan Ramadhan, bulan suci penuh berkah, bulan teristimewa, dan kita diberi kesempatan dapat bertemu di bulan ini lalu hanya dihiasi oleh serangkaian hal-hal yang berbau ‘sampah’.
Rasanya ingin teriak, sejak kapan acara bakti sosial, berbagi kepada sesama dikalahkan dengan gegap gempita acara bazaar yang memboroskan, mengumbar nafsu berbelanja. Boros. Dengung bazaar sepertinya lebih menarik daripada menyelenggarakan bakti sosial.
Dan ini sungguh yang tidak bisa diterima, bisa-bisanya live music terdengar menderu-deru disesaki oleh khalayak ramai daripada lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dalam acara pengajian. Hebat sekali konspirasi dalam mengganggu terciptanya kemurnian bulan suci Ramadhan. Seolah-olah semuanya itu dibungkus secara wajar dan sah-sah saja. Sungguh, kita terpedaya habis-habisan.
Cobalah sejenak kita melihat pada dunia nyata, kalau ternyata kita ini bodohnya kebangetan. Kalian tahu, perekonomian Indonesia sungguh mengkhawatirkan, kita bisa saja bangkrut dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan dikarenakan hutang yang terus menumpuk. Sektor-sektor strategis sebagian besar telah beralih kepada pihak swasta. Kita bukan tuan di negeri sendiri. Bayangkan saja, kita terlalu banyak diintervensi oleh pihak asing. Siapa tuan dan siapa pembantu. Dengan demikian, tidak bosan-bosannya untuk mengingatkan kalau perubahan itu datangnya dari diri sendiri, masalah yang timbul juga datang dari diri sendiri, sama-sama kita berpikir, kita gunakan akal pikiran, tidak perlu tengok kanan-kiri, membuat banyak alasan ini-itu, telah jelas penerang terhadap langkah kita menuju jalan yang diridhoi oleh-Nya, yakni bersandar pada Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan bacaan yang paling sempurna. Padanya terkandung mukjizat ilahi, keindahan sastrawi, dan sekaligus menghimpun makna yang akan mengantarkan pembacanya kepada lautan ilmu dan dan samudera cahaya petunjuk dari Allah SWT. Dengan membaca Al-Qur’an, manusia akan diarahkan agar memfungsikan dua unsur sekaligus; akal dan hati; pikir dan dzikir, serta ilmu dan keimanan. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila Al-Qur’an sendiri menyatakan: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra: 9)
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
Reblogged this on Green Space and commented:
Al-Qur’an merupakan bacaan yang paling sempurna. Padanya terkandung mukjizat ilahi, keindahan sastrawi, dan sekaligus menghimpun makna yang akan mengantarkan pembacanya kepada lautan ilmu dan dan samudera cahaya petunjuk dari Allah SWT. Dengan membaca Al-Qur’an, manusia akan diarahkan agar memfungsikan dua unsur sekaligus; akal dan hati; pikir dan dzikir, serta ilmu dan keimanan. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila Al-Qur’an sendiri menyatakan: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra: 9)