Rp 2.023 triliun – “ISTIMEWA”

Ketika saya menonton film “GIE” (dirilis pada tahun 2005) ada beberapa pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh sosok bernama Soe Hok Gie ini membuat saya bertanya-tanya. Pada plot terakhir, tepatnya ketika adegan Gie berdiri di pinggir pantai ia melontarkan kata-kata yang sekarang ini pasti sudah sangat populer dan tidak asing lagi di telinga teman-teman.

Gie berkata:

“Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan, tetapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua.”

Saya tersenyum kecut. Orang boleh saja menginterpretasi macam-macam dan memunculkan pelbagai respons menurut pemahamannya masing-masing, akan tetapi, paling tidak saya mengerti maksud kata-kata Gie justru di era sekarang ini.

Kira-kira apa alasan Gie yang melatarbelakangi sehingga ia melontarkan sejurus kalimat frontal “nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan”?

Hal pasti yang dapat diyakini adalah kalimat tersebut bermakna implisit. Dengan konteks yang berbeda, maka akan melahirkan makna yang berbeda pula. Kalimat itu sangat pas sebagai analogi bagi rakyat Indonesia dalam konteks kekinian perekonomian Indonesia yang carut-marut. Fakta berikut ini nantinya yang akan menggambarkan makna kalimat Gie tersebut sejelas-jelasnya dan kalian boleh merutuki itu atau bisa jadi berbalik menjadi anugerah. Terserah. Kalian bebas memilih.

Benar, tidak pernah dilahirkan itulah yang terbaik. Ini bukan hanya sekedar metafora belaka karena ternyata itu benar adanya. Kenapa justru dengan kita tidak dilahirkan kita bernasib yang paling baik? Jawabannya adalah karena kita tidak perlu menanggung utang negara yang berjumlah Rp 2.023 triliun terhitung hingga April 2013.

Koordinator KAU (Koalisi Anti Utang) Dani Setiawan sebagaimana dilansir Rakyat Merdeka (9/7) mengatakan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,2 persen yang selama ini dibangga-banggakan menjadi tak berarti dibandingkan penumpukan utang baru yang membuat bangsa Indonesia tersandera dalam intervensi asing.

“Klaim bahwa utang menurun, faktanya meningkat dalam jumlah signifikan. Hingga April 2013 ini utang pemerintah sudah mencapai Rp 2.023,72 triliun atau rata-rata satu orang warga negara Indonesia menanggung utang Rp 8,5 juta,” paparnya.

Jelasnya, setiap kita yang lahir sebagai warga negara Indonesia, maka secara otomatis kita pun menanggung utang yang besarnya sekitar 8,5 juta itulah yang sedikit banyak dapat menjelaskan maksud “nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.” Miris.

Selama 2004-2013, stok utang pemerintah naik Rp 724,22 triliun. Padahal, sepanjang 2005-2012, total pembayaran cicilan pokok dan bunga utang mencapai Rp1.584,88 triliun.

Dani menyatakan, pasca krisis moneter 1997 utang luar negeri Indonesia sekitar 53,8 miliar dolar AS dan per April 2013 membengkak menjadi 117,7 miliar dolar AS.

Lalu, untuk pernyataan “yang kedua dilahirkan, tetapi mati muda” adalah merujuk pada fenomena idealisme kaum muda. Seorang kaum muda yang gencar menjadi aktivisyang notabene masih murnibelum mengenal banyak konspirasi dan seluk-beluk politik, yang katanya seperti lumpur itu, yakni memliki semangat nasionalis tinggi berjuang atas nama rakyat yang tidak memihak pada golongan mana pun. Buktinya, lihat saja pada peristiwa ’65 dan ’98, mahasiswa, para kaum muda menunjukkan kekuatannya. Itulah kelebihan kaum muda yang nantinya lambat laun akan mulai tergerus jika mulai beranjak tua.

Banyak kisah dan ini bukan dongeng yang menceritakan bagaimana bahwa ia dulunya adalah seorang aktivis, tetapi pada akhirnya ia didakwa menjadi seorang koruptor. Ironis sekali. Ketika kekuasaan disodorkan dan mereka tak kuasa untuk tidak menerimanya, mengikuti arus lingkaran setan tanpa henti, jika tidak manut engkau akan terlempar, begitulah. Semangat muda itu melempem, redup, bahkan padam. Mungkin itulah maksud dari “dan yang tersial adalah berumur tua”.

Semua pernyataan-pernyataan itu bakal tidak berlaku, dengan catatan bahwa kita mengetahui dengan pasti, kita akan kembali pada ketiadaan. Semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Kalau benar katakan benar, kalau salah katakan salah.

“Tidak ada yang lebih puitis daripada bicara kebenaran.”

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah/2: 255).

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply