Ilmu tanpa agama adalah pincang.
Hei, katanya kalau setiap orang berlomba-lomba menjadi kaya itu adalah suatu keniscayaan. Ada bantahan? Retorika klasik menyebutkan bahwa kekayaan merupakan salah satu penyebab kemusnahan umat manusia. Habis sudah kehidupan di dunia. Kiamat besar.
Menariknya, kita adalah variabel pemusnah itu.
Kalau punya dua mata pergunakanlah keduanya, jangan hanya sebatas bisa memandang dengan sebelah mata. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Kau tahu, ekonomi menjadi satu bidang pembuka pencerahan kali ini.
Uraian berikut diadaptasi dari “Negeri Para Bedebah” karya Tere-Liye.
•••
Praktisi keuangan dunia seperti pialang, petinggi sekuritas, direktur perusahaan raksasa, CFO, CEO, dan berbagai strata manajerial kunci. Mereka adalah pemain di bidang ekonomi.
Krisis ekonomi global, subprime mortgage. Familiar dengan istilah ini?
Sejak zaman Firaun, zaman Xerses dari Persia, rekayasa, rekayasa, dan rekayasa merupakan solusi menghadapi krisis ekonomi besar. Termasuk bagaimana menyelamatkan uang yang telanjur terbenam di perusahaan terancam bangkrut.
Yang perlu dicemaskan ternyata bukan perkara kemiskinan, hal itu memang penting tapi yang lebih mengerikan adalah justru sebaliknya, kekayaan, ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma dua persen, orang-orang yang terlalu kaya.
Ya, kau bayangkan, ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi, tinggal digertak, beres.
Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar apa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apa pun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka.
Baiklah. Coba kita misalkan dunia ini hanya sebesar kota. Ada seribu penduduk di dalamnya. Sebagian menjadi petani, perajin, peternak, tukang, sebagian lainnya menjadi pedagang, tentara, serta semua profesi dan mata pencaharian hidup yang kita kenal. Katakanlah berabad-abad mereka hanya mengenal barter, ikan ditukar gandum, jasa cukur rambut ditukar perbaikan atap rumah, atau seporsi makanan lezat dibarter dengan jahitan baju. Hingga salah seorang jenius—kita sebut saja Mister Smith—menemukan uang. Kehidupan primitif mereka dengan segera berubah drastis, perekonomian kota kecil itu bergerak maju. Transaksi lebih mudah dilakukan, itu fase pertama muasal kegilaan ini.
Sejak uang ditemukan, berbagai teknologi juga ditemukan. Era industri datang. Sumber minyak, emas, batubara, timah, dan besi dekat kota mulai ditambang. Tenaga kerja semakin produktif, perhitungan efisiensi produksi dikenal, dan tuntutan atas kemudahan transaksi keuangan meningkat. Mister Smith kembali datang dengan ide mendirikan bank, membuat seluruh penduduk kota terpesona, benar sekali, mereka butuh modal untuk membuat perekonomian melesat lebih hebat. Tetapi mereka ragu-ragu, siapa yang akan percaya selembar kertas? Mister Smith melambaikan tangan. Tenang saja, bank akan mencetak setiap lembar uang dengan jaminan cadangan emas. Seratus dolar dijamin satu gram emas. Jadi, uang tersebut dijamin aman. Ada nilai perlindungannya di bank, dan semua orang harus menerima transaksi dengan uang. Penduduk kota semakin kagum. Luar biasa, itu ide yang brilian.
Maka, bank mulai mencetak uang dengan jaminan cadangan emas. Sebagai pemanis, Mister Smith menjanjikan bunga untuk setiap orang yang bersedia menyimpan uang di bank. Mulailah, orang kaya berbondong-bondong meletakkan uang, sedangkan yang membutuhkan uang untuk modal usaha juga datang ke bank dengan janji membayar cicilan ditambah bunga. Kau tahu, salah satu penemuan klasik Mister Smith yang menjadi dasar ilmu ekonomi modern adalah bunga.
Nah, dengan adanya uang dan bank, akumulasi kekayaan mulai terjadi. Pada tahun kesepuluh, total uang beredar di kota melesat menjadi satu miliar dolar. Bagaimana bisa? Karena begitulah sistem perekonomian baru bekerja, begitu canggih melipatgandakan kekayaan. Kau letakkan uang seratus dolar di bank yang dijamin dengan setara satu gram emas, lantas uang itu dipinjam orang kedua, si tukang jahit. Orang kedua ini menggunakannya untuk membeli mesin jahit terbaru pada orang ketiga, si pembuat mesin. Si pembuat mesin punya uang seratus dolar sekarang, hasil menjual mesin. Dia bawa uang itu ke bank lagi, ditabung. Jadi berapa uang dalam catatan bank? Dua ratus dolar.
Bank lantas meminjamkan uang itu kepada orang keempat, si nelayan. Si nelayan membelanjakannya untuk membeli kapal terbaru pada orang kelima, si pembuat kapal. Orang kelima membawa uang seratus dolar itu ke bank, menabungkannya. Begitu terus siklus perbankan yang canggih.
Jadi, berapa uang seratus dolar itu sekarang dalam catatan bank? Tiga ratus dolar? Kau keliru. Uang itu tumbuh menjadi tidak terhingga, karena semakin banyak yang terlibat dalam mekanisme simpan-pinjam itu. Tanpa regulasi bank harus menyisihkan sekian persen sebagai cadangan, efek pengalinya berjuta-juta tidak terhingga. Padahal, come on, berapa sejatinya nilai yang dijamin dengan cadangan emas? Ya, hanya seratus dolar, lantas bagaimana ribuan dolar lainnya? Itu hanya ada di kertas. Benar-benar ada di kertas, dalam catatan bank, dalam catatan kekayaan masing-masing.
Perekonomian kota tumbuh tidak terbilang. Semua sektor produktif berlomba-lomba melaporkan keuntungan transaksi. Situasi berjalan aman-aman saja hingga puluhan tahun. Pada tahun kesepuluh, uang beredar di seluruh kota menjadi satu miliar dolar, dan situasinya mulai rumit, hanya segelintir orang yang menguasai uang-uang. Mereka adalah penduduk superkaya, yang terus rakus menambah nominal angka kekayaan mereka. Tidak pernah puas.
Katakanlah, pada tahun itu ada seribu penduduk kota yang meminjam uang untuk membeli rumah, kita sebut saja ‘kredit rumah’. Uang pinjaman dari bank dibayarkan kepada tukang-tukang untuk membuat rumah, dan tukang-tukang ternyata tidak menabung uang itu ke bank, melainkan dibelanjakan keperluan sehari-hari. Bank yang dikuasai segelintir orang kaya berpikir keras, kalau begini caranya, lambat sekali mereka bisa menambah kekayaan, uang itu tidak segera balik ke pundi-pundi bank, tidak ada uang yang bisa diputar lagi, lagi, dan lagi. Tanpa uang, sistem bunga tidak bekerja, kekayaan mereka melambat. Mister Smith datang dengan ide lebih cemerlang. Dia ciptakan binatang yang disebut securitization. Bagaimana caranya? Seluruh kredit rumah itu, jumlahnya ada seribu lembar surat perjanjian kredit, dikumpulkan saja jadi satu, lantas dianggap sebagai seperti produk, macam seribu potong tempe atau seribu ekor kambing, lantas dijual ke pemilik uang, penduduk superkaya lainnya, dengan imbalan bunga sekian persen yang dibayarkan setiap bulan plus cicilan. Tidak ada yang tertarik? Gampang, tinggal naikkan bunganya, tambahkan bumbu-bumbu janji semua aman, semua dijamin. Kalau ada masalah, rumah-rumah itu bisa menjadi jaminan.
Ide cerdas! Tentu saja itu brilian. Bank yang tadinya kekurangan uang, dengan cepat kembali punya uang. Banyak malah. Mereka tidak hanya sebagai pemberi pinjaman, tetapi sekarang sekaligus sebagai ‘nasabah’ bagi pembeli aset securitization tadi. Ide itu berhasil tidak terkira. Dengan uang hasil menjual seribu surat perjanjian kredit, bank leluasa mengucurkan kredit berikutnya ke penduduk kota. Bank menerima pembayaran dari nasabah setiap bulan. Semua terkontrol, semua baik-baik saja, hingga tanpa disadari aset yang pada dasarnya hanyalah selembar kertas itu menggelembung tidak terkira.
Harga properti melesat naik, harga komoditas tidak terkendali. Karena juga bermunculan derivatif transaksi keuangan lainnya, Mister Smith menciptakan transaksi future: minyak bumi atau gandum yang dibutuhkan enam bulan lagi bisa dibeli sekarang, lantas uangnya bisa diputar ke mana-mana, menjadi berkali lipat. Dan boom! Ribuan kredit perumahan tiba-tiba macet total, orang mulai berpikir harga-harga sudah tidak rasional. Harga komoditas jatuh bagai roller coaster, dan mulailah kekacauan merambat ke mana-mana.
Bank tidak bisa menagih kredit ke penduduk kota, sedangkan pemilik aset securitization sudah mulai menagih. Panik, penduduk kota panik, si pembuat perahu, si pembuat mesin bergegas ingin mengambil uang di bank, padahal uang itu sudah dipinjamkan ke tukang jahit dan nelayan. Tidak ada uang di bank, hanya catatan pinjam-meminjam. Jaminan emas? Orang lupa itu hanya untuk seratus dolar pertama. Posisi bank terjepit, atas-bawah. Tidak perlu seorang genius untuk menyimpulkan hanya soal waktu surat berharga terjun bebas, tidak ada lagi harganya. Krisis aset securitization ini merambat ke mana-mana.
Itulah yang terjadi di kota kecil tadi. Nah, itulah yang terjadi di dunia saat ini. Sama persis. Krisis dunia akibat kredit perumahan. Masalahnya, di dunia yang sebenarnya, nilai akumulasi uang ratusan tahun sejak ditemukan, jumlahnya triliunan dolar, tidak terbayangkan. Kau tahu, berapa total utang negara kita? Hanya seratus dua puluh miliar dolar, kecil sekali dibandingkan dengan akumulasi uang dunia yang berjuta kali lipat, hanya nol koma nol nol. Uang itu hanya dimiliki nol koa dua persen penduduk bumi, yang terus rakus menelan sumber daya. Uang itu butuh tempat bernaung. Mereka sudah punya mobil, rumah, berlian, pesawat pribadi, dan pulau pribadi. Mereka juga sudah membeli hutan jutaan hektar di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Karena itu, mereka ciptakanlah berbagai produk keuangan untuk menampungnya. Tidak puas mendapatkan lima persen bunga bank, mereka menyerbu ke komoditas dan transaksi derivatif yang semakin rumit. Uang itu seperti ratu lebah yang beranak setiap hari, terus tumbuh, serakah. Uang itu butuh tempat untuk berkembang biak, persis seperti mutasi genetik tidak terkendali.
Padahal kita lupa, semua hanya kertas, bukan? Secara riil, kekayaan dunia tidak berubah sejak uang pertama kali ditemukan. Jumlah cadangan emas yang menjamin uang hanya itu-itu saja. Kau tadi bertanya apa? Sesungguhnya tidak peduli pada kemiskinan, peduli setan, karena daya rusaknya itu-itu saja, busung lapar, kurang gizi. Tetapi kekayaan, daya rusaknya mengerikan. Bahkan uang yang berlimpah itu membuat orang tidak peduli wabah, kelaparan, kerusakan alam, dan tragedi kemanusiaan lainnya.
Andaikata dunia ini tetap menggunakan barter, andaikata dunia ini tidak pernah mengenal uang dan bunga, dunia boleh jadi akan jauh lebih adil dan makmur.
Bagi pialang, pengelola danareksa, eksekutif puncak, orang-orang pintar, bagi mahasiswa sekolah bisnis terbaik dunia, pasti akan lebih bersyukur karena uang dan bunga pernah ditemukan.
Kau lupa petuah bijak bapak ekonomi modern, pasar memiliki “tangan tuhan”. Dia akan selalu membuat keseimbangan, bahkan meski harus meledakkan keseimbangan sebelumnya.
Dalam teori ekonomi modern, tingkat suku bunga bank sentral (sering dikenal dengan istilah suku bunga SBI, Sertifikat Bank Indonesia) memegang peranan penting sebagai instrumen pengendali. SBI adalah bunga bebas resiko. Simpanan dalam bentuk SBI tidak mungkin akan gagal bayar—berbeda dengan tabungan atau deposito bank umum, yang bisa default kapan saja dengan beragam alasan.
Jika bank sentral menetapkan suku bunga SBI, misalnya 8 persen, suku bunga itu menjadi patokan seluruh bank umum dalam menetapkan berapa besar bunga kredit yang akan mereka berikan, juga termasuk patokan bagi leasing, asuransi, dan berbagai perusahaan keuangan lainnya.
Coba cek berapa bunga tabungan kalian saat ini? Paling tinggi hanya 4 persen per tahun. Nah, coba pikirkan logika sederhana ini, simpanan uang kalian di bank hanya diberikan bunga 4 persen, tapi bank bisa menggunakan uang kalian untuk membeli SBI (menyimpan uang itu di pemerintah) dengan bunga 8 persen. Jika bank memiliki dana tabungan nasabah 100 triliun kalikan saja dengan selisih bunga 4 persen. Sambil ongkang-ongkang kaki, mereka bisa untung 4 triliun setiap tahun. Jangan pernah merasa aneh dengan berita rasio penyaluran kredit perbankan rendah, fungsi intermediasi perbankan memble, jumlah simpanan SBI terus meroket, come on, kenapa pula kalian harus repot menyalurkan kredit (yang bisa saja macet, menjadi non performing loan), kalau ada cara mudah mendapatkan untung selisih bunga? Bahkan jika anak SD dijadikan direktur utama bank, bank tetap akan untung. Siapa yang membayar 4 triliun itu? Pemerintah. Dari mana uangnya? Dari pajak rakyat.
Tetapi ada yang lebih ajaib lagi. Pertanyaannya, bagaimana bank sentral tiba-tiba memutuskan SBI 8 persen? Padahal mereka tahu selisih dengan bunga tabungan umum begiru lebar?
Karena mereka diamanahkan oleh undang-undang untuk menjaga stabilitas perekonomian. Stabilitas itu salah satunya tercermin dari angka inflasi. Misalnya, ketika harga-harga diperkirakan naik, perekonomian tumbuh terlalu cepat, overheating, bank sentral mengantisipasinya dengan ikut menaikkan suku bunga SBI. Naiknya suku bunga, secara teoretis akan membuat orang yang punya banyak uang memilih menabung dibandingkan belanja. Akibatnya, uang beredar berkurang, aktivitas jual-beli menurun, harga-harga jadi turun, perekonomian melambat, bank sentral akan mengantisipasinya dengan menurunkan SBI. Turunnya suku bunga SBI otomatis akan membuat suku bunga pinjaman turun, dana murah, orang-orang berbondong pinjam uang, aktivitas jual-beli naik, perekonomian kembali bergairah.
Dari penjelasan satu paragraf di atas, catat kata pentingnya: perkiraan.
Inilah ajaibnya ilmu ekonomi, inflasi adalah fungsi dari ekspektasi (perkiraan, persepsi). Berapa tingkat inflasi tahun depan? 8 persen? 10 persen? Semua hasil dari perkiraan, antisipasi. Berapa inflasi bulan depan? 0,5 persen? 1 persen? Semua keluar dari kalkulasi perkiraan, ekspektasi.
Ajaib bukan? Kita ternyata selama ini memercayakan nasib perekonomian dunia, nasib periuk nasi banyak orang kepada orang-orang yang di kelas diajarkan tentang ekspektasi. Bukankan itu tidak beda dengan penyihir, dukun, juru ramal, atau profesi dunia gaib lain? Sialnya, jika kalian bisa menimpuk tukang ramal yang ramalannya salah (atau memilih tidak percaya sama sekali), kalian tidak bisa menimpuk menteri ekonomi atau petinggi bank sentral jika mereka salah mengambil kebijakan.
“Ternyata variabelnya lebih banyak dari dugaan kami. Ini bukan salah kami. Siapa pun pengambil keputusannya, pasti keliru memprediksi turbulensi ekonomi yang ada.” Omong kosong.
Kita sedang membicarakan sesuatu yang mengerikan, bahaya dampak sistemis. European Central Bank (ECB) mendefinisikannya sebagai wide systemic shocks which by themselves adversely affect many institutions or markets at the same time. In this sense, systemic risk goes much beyond the vulnerability of single banks to turns in a fractional reserve system. Aku menyederhanakannya dengan definisi, satu kejadian yang sekali pukul membuat runtuh semua keseimbangan, bahkan bisa membuat hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasioanl.
Coba lihat pasar SUN, Surat Utang Negara kita. Yield SUN naik tajam beberapa bulan terakhir, naik hampir 7 persen, padahal setiap kenaikan 1 persen itu berarti beban biaya bunga tambahan sebesar 1,4 triliun dalam APBN. CDS, credit defisit swap negara kita juga melonjak tinggi, itu berarti pasar dunia menilai country risk Indonesia tinggi. Belum lagi cadangan devisa turun dua digit persentase dan rupiah menyentuh level 12.000.
Indeks saham kita menukik tajam sebulan terakhir, tinggal separuhnya, memangkas nilai pasar puluhan triliun rupiah. Pinjaman antarbank terhenti, kecemasan melanda investor besar hingga retail, dana pensiun, dan perusahaan asuransi kehilangan banyak uang, dan jangan lupakan kemungkinan capital flight besar-besaran.
•••
“Gila, gue kerja capek banget, libur cuman sebentar padahal lagi hari Raya gini. Ah, emang kita budak kapitalis, mereka itu neo liberalis? Melulu soal duit. Gak habis-habis. Gak ada hari libur lagi. Senin sampai minggu, full, loe bisa bebas nentuin hari kapan mau ke bank.”
Wah, obrolan dengan salah satu teman yang bekerja di bank itu, saya mendapat fakta yang luar biasa. Sebatas itu tapi … ini bakal berlanjut. Nantikan, ya.
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.