Tere-Liye: Negeri di Ujung Tanduk (Sebuah Catatan)

Setiap orang bisa mengerjakan hal kecil untuk menggerakkan gelombang perubahan besar di negeri ini. motor penggerak perubahan itu adalah keberanian dan kesucian seperti yang tersirat dalam warna bendera kita. (Tajuk Rencana, HU Pikiran Rakyat 19/8).

•••

Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak,

Bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk

Para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan,

Bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negari di Ujung Tanduk

Setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci,

Meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

•••

Sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal: suhu dan tekanan tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya. Jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras kokoh. Mahal harganya.

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.

Kau tahu, jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu hal yang kecil saja, yaitu kepedulian.

Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang.

Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung.

•••

Politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia.

Sebagaimana sebuah bisnis omong kosong dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih. Anda boleh saja tidak sependapat. Silakan. Tetapi saya dibayar mahal untuk memoles omong kosong tersebut, menjualnya, dan simsalabim, menjadi king maker, mendudukkan orang-orang di kursi kekuasaan.

Apakah politik membutuhkan moralitas? Hei, berapa tahun Nelson Mandela dipenjara oleh rezim kulit putih karena isu moralitas yang dibawanya? Menentang apartheid? Puluhan tahun lamanya. Apa kurangnya isu moralitas yang dibangun Nelson Mandela? Kesamaan derajat. Itu perintah kitab suci, perintah Tuhan, dikirim langsung dari surga. Lantas kenapa Nelson Mandela harus begitu lama dipenjara? Apa orang-orang di sekitarnya tidak paham betapa pentingnya isu moralitas yang dibawanya? Apa orang-orang di sekitarnya lupa? Bodoh? Tidak beragama? Kenyataannya, orang-orang di sekitarnya, bahkan termasuk yang paling keras menentang Nelson Mandela, berangkat ke rumah ibadahnya lebih sering dibanding siapa pun, membaca kitab sucinya paling banyak. Maka jawaban sesungguhnya: Karena orang-orang berhitung dengan kepentingan masing-masing, mengukur kekuatan masing-masing.

Jika politik hanya membutuhkan moralitas, hanya perlu semalam menyakinkan orang-orang untuk mendukung Nelson Mandela. Malam ini dia bicara tentang kesamaan derajat, dan besok pagi-pagi sekali, saat matahari terbit, kita semua siap berperang, mengorbankan nyawa demi kebenaran dan keadilan tersebut, tidak peduli latar belakang, kepentingan, apalagi ukuran lainnya. Nyatanya tidak. Butuh bertahun-tahun, butuh proses panjang hingga sebuah isu moralitas dibeli orang banyak.

Mari kita lihat kasus kedua, Mahatma Gandhi di India, berapa tahun dia memenangkan ide politiknya? Berapa banyak yang harus dibayar demi ide politik Mahatma Gandhi? Apa orang-orang begitu bodohnya hingga tidak bisa segera mendukung cita-cita mulia Gandhi? Bukankah itu demi kebaikan mereka sendiri? Mari mengorbankan harta dan jiwa demi isu moralitas yang tidak membeli ide Gandhi hingga hari ini, bahkan balas menyerang dengan senjata, membunuh Gandhi, tokoh politik yang begitu mulia dalam catatan sejarah.

Saya tidak akan bilang moralitas adalah fatamorgana indah, tidak, tapi izinkan saya bilang: moralitas sejatinya hanyalah salah satu omong kosong yang bisa dijual dalam bisnis politik. Temukan rumusnya dengan tepat, temukan resepnya dengan pas, maka itu bisa jadi senjata yang efektif memenangi sebuah kompetisi politik.

Saya tidak akan bilang Nelson Mandela dan Gandhi berjualan moralitas dalam politiknya. Boleh jadi mereka sedikit di antara politikus yang memang memiliki niat kokoh. Tapi hei, apakah mereka manusia sempurna? Bebas dari skandal? Pasti masuk surga? Tidak. Sehebat apa pun ide moralitas yang mereka bawa, entah itu perdamaian dunia, kesejahteraan manusia, itu tetap sebuah politik. Dijual ke masyarakat luas, untuk dibeli, didengarkan, didukung. Tanpa pengikut, tanpa mesin yang melaksankannya, ide itu kosong. Hanya kalimat-kalimat mengambang, tulisan-tulisan tergeletak. Ide politik selalu bersifat netral. Kita selalu bisa memolesnya menjadi barang dagangan yang menarik dan memiliki kepentingan.

Lagi pula, kita semua tahu, dalam banyak kasus pemilihan pada zaman demokrasi modern, pemilih lebih sering tidak peduli dengan moralitas jika ada isu yang lebih penting. Di sebuah negara maju, lagi-lagi saya tidak perlu bilang namanya, isu moralitas seperti kepemilikan senjata, pernikahan sesama jenis, hak seorang ibu untuk menggugurkan kandungan menjadi isu moralitas yang jangan coba-coba disinggung atau kalian akan kehilangan pemilih yang signifikan. Moralitas menjadi urusan masing-masing saja, dan bisa kontraproduktif, tidak populer jika memaksakan diri. Pemilih lebih mementingkan angka-angka, ukuran kuantatif dunia. Tingkat pengangguran misalnya, tingkat inflasi, dan angka-angka lain seperti harga kebutuhan pokok, BBM, listrik, kenaikan upah minimum dan sebagainya. Siapa yang akan bicara tentang pendidikan anak-anak telantar jika perut sendiri kosong?

Saran saya pendek saja. Temukan hal paling menarik di negara kalian dalam bisnis omong kosong ini, sisi yang paling penting bagi pemilih kaliantermasuk jika itu memang isu moralitas, seperti pemerintahan yang bersih, gerakan antikorupsi, maka kalian akan menemukan amunisi pamungkas untuk memenangi pemilihan.

•••

Tidak ada demokrasi untuk orang-orang bodoh.

Bagaimana mungkin kita akan memercayakan keputusan pada orang yang tidak mengerti apa yang sedang mereka pilih atau putuskan? Atau yang lebih ekstrem lagi, mereka berkepentingan atas keputusan tersebut.

Frankly speaking, demokrasi jelas cara terbaik untuk mencari uang. Misalnya, kau seorang konsultan politik. Atau kau pemilik bisnis, perusahaan raksasa, konsesi pertambangan, perkebunan, dan sebagainya. Karena jelas lebih mudah menyumpal, membeli, eh maksudku dalam bahasa halusnya: menanamkan investasi pada pemerintahan yang dipilih rakyat dibanding memelihara rezim diktator dengan preferensi terbatas.

Lantas di mana relevansinya antara bodoh dan demokrasi? Bukankah Anda tahu kalau suara rakyat adalah suara Tuhan, di mana letak bodohnya?

Nah, kita bayangkan saja ada sebuah perkampungan. Kampung itu dikelilingi sungai besar. Satu-satunya akses keluar adalah jembatan beton yang dibangun berpuluh-puluh tahun lalu oleh pemerintah pusat. Pada suatu hari, salah satu penduduk yang sedang mencari ikan di sungai melihat ada yang ganjil dengan jembatan itu. Fondasinya yang terbenam di air terlihat retak. Karena dia adalah sedikit di antara penduduk kampung yang memiliki pengetahuan tentang konstruksi, dia bergegas mengusulkan pada kepala kampung agar jembatan itu direnovasi. Mendesak, segera mungkin.

Masalahnya, tidak murah memperbaiki sebuah jembatan. Seluruh warga dikumpulkan di balai kampung. Semua diminta pendapatnya. Demokrasi. Pertanyaannya adalah apakah mereka segera memperbaiki jembatan itu dengan menggunakan iuran warga atau menunggu pemerintah pusat yang entah kapan baru bisa memperbaikinya. Itu pendekatan mengambil keputusan yang fatal sekali, bukan? Meskipun seluruh dunia bilang itu cara terbaik: demokrasi.

Karena mereka tidak paham konstruksi sipil, mereka tidak mengerti tentang standar keselamatan, maka mereka berdebat hanya setahu dan menurut perasaan saja. Dan lebih dari itu, tidak banyak warga yang bersedia memberikan iuran perbaikan jembatan. Mereka berkepentingan atas implikasi keputusan tersebut, lebih baik uangnya untuk keperluan lain. Berdebat hingga malam, ketua kampung memutuskan mengambil keputusan dengan suara terbanyak. Bisa ditebak hasilnya, suara menolak menang mutlak. Palu diketukkan di meja. Perbaikan ditunda. Selesai.

Tiga minggu berlalu, di suatu pagi yang cerah, saat warga sedang banyak-banyaknya melintas di jembatan itu, anak-anak berangkat sekolah ke kampung lain, jembatan itu tiba-tiba runtuh. Tiga mobil angkutan pedesaan langsung meluncur deras bersama kepingan beton. Lima belas anak meninggal ditelan sungai, tertimpa batu, terjepit. Lima anak lainnya meninggal saat dibawa ke rumah sakit terdekat. Benar-benar harga mahal yang harus dibayar dengan suara terbanyak, bukan?

Apakah demokrasi sistem terbaik yang diberikan Tuhan? Difirmankan Tuhan dalam kitab suci? Jelas tidak. Demokrasi adalah ciptaan manusia. Dalam catatan sejarah, sistem otoriter absolut juga bisa memberikan kesejahteraan lebih baik. Tuhan hanya memerintahkan kita memberikan sebuah urusan kepada ahlinya. Silakan cek banyak kitab suci. Hanya itu. Tidak ada model pemerintahan apalagi demokrasi dalam ajaran kitab suci.

Apakah suara terbanyak adalah suara Tuhan? Omong kosong. Berani sekali manusia mengklaim sepihak, fait accompli suara Tuhan. Coba kau bayangkan sebuah kota yang dipenuhi pemabuk, pemadat, mereka mayoritas, maka saat undang-undang tentang peredaran minuman keras dan ganja disahkan melalui referendum warga kota, otomatis menang sudah mereka. Bebas menjual minuman keras di mana-mana, mabuk-mabukan di mana pun. Juga masalah lain seperti pernikahan sesama jenis, kebebasan melakukan aborsi bayi. Bahkan dalam kasus ekstrem jika mayoritas penduduk kota sepakat pembunuhan adalah tindakan legal, maka di mana suara Tuhan?

Tapi poin yang ingin aku tekankan jelas sekali, tidak ada demokrasi bagi orang-orang bodoh. Lebih jelas lagi, tidak ada demokrasi bagi orang-orang yang berkepentingan. Dia menjadi kontra argumen atas sistem itu sendiri.

Kau pasti tahu cerita Brutus menusuk Julius Caesar dalam sebuah konspirasi politik besar. Sejarah kelam itu akan selalu diingat siapa pun yang memasuki gelanggang politik. Karena hingga hari ini, kita tetap hidup di alam yang sama atas kejadian tersebut: kerakusan politik. Bedanya, pemain politik hari ini tidak membawa pisau ke mana-mana. Mereka membawa amunisi lain yang boleh jadi lebih kejam dan mengerikan untuk menjatuhkan pesaingnya. Mereka memiliki banyak wajah, memasang wajah manis di depan, tapi di belakang siapa tahu, tidak ada teman abadi dalam bisnis ini.

Apakah ada di dunia ini seorang politikus dengan hati mulia dan niat lurus? Apakah masih ada seorang Gandhi? Seorang Nelson Mandela? Yang berteriak tentang moralitas di depan banyak orang, lantas semua orang berdiri rapat di belakangnya, rela mati mendukung semua prinsip itu terwujud? Apakah masih ada?

Maka jawabannya: selalu ada.

Masalah terbesar bangsa kita adalah: penegakan hukum. Hanya itu. Sesederhana itu.

Kita tidak hanya bicara soal hukum dalam artian sempit, seperti menangkap orang-orang jahat. Melainkan hukum secara luas, yang mengunci sistem agar berjalan lebih baik, membuat semua orang merasa nyaman dan aman. Jika hukum benar-benar ditegakkan di muka bumi negeri ini, banyak masalah bisa selesai dengan sendirinya.

Korupsi misalnya, ketika hukum ditegakkan tanpa tawar-menawar, pelaku korupsi dengan sendirinya akan tumbang berjatuhan. Pisau hukum menebas mereka dengan hukuman berat dan serius. penegak hukum juga akan mengejar hingga ke akar-akarnya, tidak peduli siapa pun yang mencuri uang rakyat. Pembuktian terbalik dipakai, orang-orang yang tidak bisa membuktikan dari mana semua kekayaannya berasal akan dihukum.

Saat masyarakat menerima pesan yang kuat bahwa pemerintah tidak main-main dalam menegakkan hukum, hingga level paling rendah, orang-orang akan takut melakukannya. Pungutan liar di kantor kelurahan, pungli di Kantor Urusan Agama saat kau hendak mengurus pernikahan, polisi lalu lintas di perempatan jalan, bahkan tukang parkir ilegal, pemalak, apa pun yang menyakiti rakyat. Mereka akan gentar, takut, karena mereka tahu, pemerintah akan memburu mereka demi penegakan hukum.

Penegakan hukum yang sungguh-sungguh ini juga akan menyentuh banyak sisi yang kita abaikan selama ini. tidak akan ada perusahaan atau orang-orang kaya berani mengemplang pajak, karena mereka tahu pemerintah akan merampas kekayaan mereka. Tidak akan ada sekolah, guru-guru yang berani memeras murid dengan dalih karya wisata, uang seragam, buku wajib, LKS, karena penegak hukum terarah ke semua bidang. Tidak akan ada penjarahan hutan, illegal logging, apalagi konsesi tambang yang main-main dengan konservasi alam, karena pemerintah akan mengambil tindakan serius atas pelanggaran hukum tersebut.

Kau bayangkan apa yang akan terjadi jika hukum ditegakkan kokoh di negeri ini. menjulang tinggi tanpa tawar-menawar, tanpa pandang bulu, tanpa tunggu nanti, besok, esok lusa. Tegak demi kebenaran dan keadilan, berapa pun harganya. Maka seluruh sistem yang ada di negeri ini dengan sendirinya akan sembuh. Ajaib membayangkannya, apalagi jika kita menyaksikannya langsung. Penegakan hukum adalah obat paling mujarab mendidik masyarakat yang rusak, apatis, dan tidak peduli lagi. Kau bisa membayangkannya, bukan?

Penegakan hukum, demi Tuhan, penegakan hukum adalah kunci dari semua masalah. Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau sumber daya. Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk.

•••

Kata Papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti peduli.

Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati, jangan pernah berhenti berbuat baik.

Anak-anakku, jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, membela kebenaran dan keadilan.

Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang-orang lemah dan dilemahkan.

Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, dukung mereka sekuat tenaga.

Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan.

Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang yang bahu-membahu menolong dalam kebaikan.

Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan.

Percayalah,

Dan jangan pernah berhenti percaya, meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu yang tetap percaya.

•••

Mungkin jika kau memilih percaya dengan sekuat tenaga dan ternyata ketika kau melihat ke sekelilingmu kau sendiri, timbul rasa takutmu. Takut akan kesepian. Tetapi ketahuilah sungguh, tidak ada seorang pun yang kesepian, tidak ada. Karena kau perlu tahu bahwa kau akan selalu bersama pelindungmu.

Dia-lah Sang Pencipta.

Dia lebih dekat dari urat nadimu.

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehermu.” (QS. Qaaf: 16).

“… Cukuplah Allah menjadi Penolong bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. … Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. (QS. Ali ‘Imran [3]: 173 dan Al-Anfal [8]: 40).

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply