Bukan Pintar, Bukan juga Pandai, tetapi CERDAS

Saya teringat tentang buku-buku cerita petualangan sejenis ‘Tintin’ oleh Herge atau ‘Lima Sekawan’ (The Famous 5) oleh Enid Blyton. Namun, ini dalam versi citra rasa lokalbuku cerita petualangan itu dikarang oleh orang Indonesia. Saya benar-benar nyaris tidak bisa mengingat apa tepatnya judul buku cerita petualangan tersebut. Saya hanya merasakan bahwa saat ini hadir sekelebat rindu akan nikmatnya membaca buku cerita petualangan itu. Sungguh, ketika itu kalau tidak salah ingat, saya masih SMPkali pertama menemukan buku cerita petualangan yang sungguh luar biasa menarik. Entah karena gaya penulisannya yang memang saya tidak pernah membaca buku cerita semacam itu sebelumnya, saya benar-benar terpukau. Ceritanya seolah-olah hidup karena saya seperti ikut merasakannya sendiri dan mungkin sekarang itu dianggap terlalu berlebihan. Tetapi, saya percaya bahwa saya beruntung karena ketika anak-anak memang sudah sewajarnya dapat merasakan dan memiliki daya imajinasi yang tinggi.

Kembali kepada nostalgia buku cerita petualangan itu yang saya ingat betul ada salah satu plot cerita yang menggambarkan ketegangan luar biasa ketika sekelompok anak-anak yang sedang berlibur di suatu desa yang damai permai memergoki sekumpulan orang sedang melakukan kejahatan. Kejahatan yang benar-benar serius. Sayangnya, kawanan penjahat tersebut tahu mereka telah kepergok oleh anak-anak itu dan berusaha untuk memburunya agar tidak membocorkan pada siapa pun. Segera, anak-anak itu menyadari mereka sedang terancam. Sampailah pada temuan menarik oleh saya ketika itu bocah SMP yang mulai mengenal akan kode-kode rahasia atau sandi. Saya sampai mencatat kode-kode rahasia tersebut dan mencoba bermain-main seakan-akan saya harus meninggalkan catatan penting yang tidak boleh sembarang orang tahu. Pada intinya yang ingin mengetahui pesan dari saya, mereka harus memecahkan kode-kode rahasia itu. Luar biasa. Menyenangkan sekali memiliki kenangan itu.

Selanjutnya, buku cerita petualangan yang kedua dari pengarang seorang Indonesia bercerita tentang petualangan tanpa batas dengan kemegahan detail-detail alur serta plot-plot yang bagi pembacanya akan serta-merta menahan napas. Saya benar-benar terkagum-kagum dan berharap saya adalah tokoh di dalam cerita tersebut. Bagaimana tidak, tokoh dalam cerita itu melintasi dimensi waktu dan tempat yang nun jauhnya di belahan bumi lain. Kenangan yang saya ingat itu adalah bahwa si tokoh menemukan sebuah lorong rahasia dan ketika disusuri ia sampai di sebuah tempat bernama Mesir, tepatnya ia menyaksikan piramid dan kemegahannya serta mengalami sendiri ketika saat itu ilmu pengetahuan berkembang pesat di sana. Kerajaan Babylonia yang tersohor dengan taman gantungnya, guratan-guratan tinta berisi ilmu-ilmu pengetahuan dalam papyrus kesemua hal itu merupakan contoh kecil dari serangkaian hal menakjubkan yang dialami sang tokoh. Ketika membaca itu saya iri setengah matisaya ingin menyaksikan hal yang sama saat itu juga. Oh, ada yang terlupa ketika itu saya sudah SMA.

Kedua buku cerita itu membangkitkan kenangan tak terlupakan bagi saya ke dalam dunia imajinasi di masa puber. Saya ingin merasakannya lagi, namun bukan dengan hadirnya satu kisah terkenal yang lain berjudul ‘Harry Potter’ oleh J. K. Rowling melainkan saya benar-benar harus merasakannya sendiri secara langsung. Bukan lagi dalam imajinasi, tetapi mewujudkannya menjadi nyata. Pertanyaannya, bagaimana? Apakah hal itu bisa? Apakah mungkin? Itu semua kan hanyalah sebuah karangan saja.

Wah, ternyata mudah saja menjawabnya.

Jalan-jalan.

Saya harus menjadi seorang traveler dan dengan begitu saya bisa merasakan ketegangan yang sama dalam cerita anak-anak yang diburu sekawanan penjahat ketika saya dihadapkan harus bepergian seorang diri ke antah berantah. Artinya, di tempat itu tidak ada orang-orang yang saya kenal dan oleh karenanya saya harus bisa survive. Lalu, saya bisa tahu seperti apa kemegahan Mesir dengan cara tentu saja langsung mengunjunginya ke sana.

Saya sadar bahwa jiwa petualangan itu hadir kembali dan kadarnya berkali-kali lipat dari ketika masih bocah dulu yang pada saat itu hanya bisa dinikmati sebatas dalam dunia bacaan, namun tidak untuk kali ini. Setiap ada kesempatan melancong akan saya lakukan! Meminjam prinsip dari buku ‘The Naked Traveler’ oleh Trinity, yakni worrying gets you nowhere, maka langsung saja kata ‘Yes!’ untuk bisa bepergian. Saya ingin jadi saksi dari betapa luar biasanya ciptaan Allah SWT.

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

One thought on “Bukan Pintar, Bukan juga Pandai, tetapi CERDAS

  1. Orang bodoh akan dikalahkan oleh orang pintar, orang pintar akan dikalahkan oleh orang pandai, orang pandai akan dikalahkan oleh orang cerdas. Pasti mba blang gni : ‘Ngmng apa si lu za?. so you know bnget’. hehe.

Leave a Reply to riza ramdhoniCancel reply