Serba Instan dan Cepat Saji, Suka?

Ketika seseorang itu bilang, “buat apa kamu repot-repot untuk membuat hal yang jelas-jelas sudah banyak kok di pasaran yang bagus dan punya nama. Nah, kamu kenapa tidak cari hal lain saja, terlalu ambisius kamu itu. Kelebihan kamu apa dibandingkan dengan produk yang sudah diakui dunia dan apa yang kamu buat hanya akan menyusahkan kamu sendiri.”

Lalu bagaimana dengan B. J. Habibie? Dia adalah orang hebat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kalau saat itu beliau lebih memilih untuk menelan bulat-bulat pernyataan teknokrat lain yang menyatakan, “kalau bisa impor, kenapa kita harus buat sendiri” niscaya sampai sekarang kita tidak pernah bisa membuat pesawat sendiri.

Menyerah tanpa alasan, melepaskan keyakinan demi kenyamanan, hal itu bukanlah jalanku. Biarlah saat ini aku mengalah untuk menang. Kemenanganku saat ini adalah mengasah mentalku sendiri yang semakin hari kian membaja.

Dunia ini tidak bisa ditaklukan dengan rapuhnya pondasi dan jika kita membaca firman Tuhan akan hakikat lahirnya alam semesta, sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tiada kekuatan yang dapat menandingi-Nya. Allah SWT dapat menciptakan apa pun dengan mudah. Kun fayakun. Jadilah, lalu terjadilah. Sekejap semua dapat terjadi, namun penciptaan alam semesta ini sungguh melalui proses agar kita dapat mengambil pelajaran jika kita berpikir.

Ya, sebuah proses.

Alqur’an menggambarkan penciptaan alam semesta dalam enam masa. “Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al A’raaf: 54).

Mengingat perkataan seseorang itu kalau mau dibawa emosi, jelas ada perasaan kesal dan sedikit putus asa. Ketika butuh dukungan atas segenap asa dan mimpi, respons seperti itu langsung mematahkan hati, mengendurkan semangat. Namun, hidup bukan jalan lurus yang bebas hambatan melainkan ada kalanya berliku-liku. Artinya, sekali lagi dapat disimpulkan bahwa selalu ada pelajaran yang dapat diambil. Oleh karenanya kenapa Islam mengajarkan untuk tetap menjauhi diri dari amarah dan segera mengambil wudhu untuk tetap tenang serta berpikiran jernih itu tidak lain agar kita dapat berpikir secara tepat. Allah Maha Berkehendak dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Pada akhirnya saya menyadari, jika tidak adanya peran seseorang tersebut yang ibaratnya berperan antagonis, alhasil pemicu akan luapan motivasi yang berkali-kali lipat tidak akan terjadi. Melalui seseorang itu, diri ini dipacu untuk mencapai peningkatan diri, mengasah pemikiran-pemikiran baru, tahan banting, tidak mudah menyerah, merasakan pahitnya penolakan, mengetahui dan dapat belajar dari segala kekurangan diri, berusaha menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya itu salah dan yang paling penting adalah membuktikan bahwa diri ini bisaberhasil.

Lihatlah, berapa waktu yang dibutuhkan oleh Pak B. J. Habibie demi menunjukkan bahwa anak bangsa pun dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain yang dapat memroduksi pesawat sendiri. Sungguh beliau menginspirasi kepada kita semua, khususnya kaum muda untuk tidak patah semangat. Mari kita bersama-sama bersinergi membuat bangsa Indonesia dapat berdiri di kaki sendiri. Untukmu Indonesiaku.

Rasanya tidak rela bukan jika anak negeri sudah dapat membuat pesawat, mobil dan barang-barang industri lainnya, namun karena adanya entah sebuah permainan atau apa pun itu yang memendamkan potensi, lantas apakah kita akan menyerah?

Pada tulisan berikutnya, saya akan mengulas kenapa visi mulia dari hadirnya produksi pesawat sendiri yang digagas oleh Pak B. J. Habibie harus dilanjutkan kembali. Saya akui pemikiran cerdas beliau tetap lestari, alih-alih dikalahkan oleh usianya yang kian menua, malah tetap berkobar darah muda yang selalu bersemangat dan sepenuh hati mencintai Indonesia.

Terima kasih, Pak. Kami tidak akan kalah dari bapak. Kalau bapak bisa, kami pun pasti BISA!

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply