Ada seperti permata di antara kita yang dapat mengubah perjalanan dunia karena mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda. Pemikirannya unik dan tidak setiap orang dapat mengerti mereka. Mereka menentang. Namun mereka muncul sebagai pemenang dan dunia mengaguminya.
•••
Apabila ujian merupakan cara agar kita dapat naik tingkat, maka rasanya perlu untuk membiasakan diri melihat ujian atau masalah sebagai suatu opportunity. Pada saat kita mendapat ujian, ada dua pilihan tentang bagaimana kita menyikapi ujian tersebut. Pilihan pertama, apakah kita memalingkan muka kemudian menunduk tersuruk dengan kedua tangan menutupi wajah atau kita memilih menatap ke depan tegar berusaha menopang kepala yang terasa berat agar tidak luruh.
Di atas kertas, tentu kita akan memilih pilihan yang kedua. Akan tetapi, kenyataan di lapangan ketika kita benar-benar berada pada situasi dan kondisi mengalami terpaan ujian, itulah terkadang kita tidak dapat mengambil pilihan yang tepat. Pada saat kita harus memilih dan membuat keputusan ternyata kita hanya perlu berhenti sejenak. Berhenti sejenak untuk mampu mendengarkan diri sendiri sehingga tidak terbawa pada keadaan, suara, dan dorongan dari sekitar kita. Berhenti sejenak memberi kita waktu untuk bisa menatap ke depan. Hal itu lebih baik daripada terus bergerak grasa-grusu, terdorong arus karena lebih banyak menengok ke kanan dan ke kiri dan tidak menyadari bahwa arah pergerakan langkah maju kita bukan didasari atas kemauan sendiri.
Aku ingin membayangkan kita dapat berhasil menegakkan kepala dan menatapkan wajah ke depan yang berarti kita hanya melihat satu fokus, yaitu ujung jalan yang dapat terlihat atau seberkas cahaya yang berkelap.
Sebaliknya, pada saat kita memalingkan muka itu artinya kita cenderung bergeser pada jalan bercabang yang rumit. Atau terlebih lagi malah menunduk tersuruk yang berarti kita membiarkan mata ini tidak mampu melihat betapa luasnya jalan yang terbentang. Dengan kata lain, ujian itu berhasil menghentikan langkah kita sehingga kita gagal.
Itulah mengapa ambillah jalan yang lurus sebagaimana kita selalu berdoa, tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Menapaki jalan lurus dapat diperoleh dari usaha kita untuk mampu menatap ke depan. Kau benar kalau kau berpikir untuk memilih jalan yang lurus perlu ketetapan hati dan kurasa hal itu memang tidak mudah.
Aku pun ingin kita dapat menyakini bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan karena memang sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Kita pasti akan merasakan sendiri sesudah bersusah payah mengayuh pedal sepeda di jalan terjal menanjak hingga tiba ke puncak, kemudian saat itulah kita mendapati turunan. Ternyata ketika kita merasa ujian atau masalah yang kita hadapi benar-benar sudah berada pada puncaknya dan kita dibuat putus asa karenanya, ingat bahwa saat itu justru kita sudah dekat pada jalan keluar, sudah dekat pada kemudahan. Kau akan menemui turunan tepat setelah tanjakan mencapai puncaknya. Yang ingin kukatakan ialah bertahanlah menatap ke depan hingga kau dapat jelas melihat ke puncaknya dan temuilah turunan di sana.
•••
Bagaimana pun ketika mengalami situasi ‘kekalahan’ tetaplah berada pada sikap responsif bukan reaktif. Responsif ialah berhenti sejenak, berpikir dengan kepala dingin; sedangkan reaktif ialah terus bergerak maju secara emosional. Boleh jadi hasil akhir memang tidak memuaskan, tetapi setiap proses yang dijalani, yang tetap pada pendirian diri sendiri itulah yang bernilai. Tidak perlu kecewa sebab yang paling penting ialah berhasil mempertahankan apa yang menjadi ide dari keinginan sendiri dengan tidak terpengaruh pada faktor-faktor keinginan pihak luar. Perasaan ‘kalah’ ini dapat menjadi hikmah dan rasa syukur karena dengannya kita belajar menyikapi ‘kekalahan’.
•••
There is a quote: Life is a test. If Allah answers your prayers, then He is increasing your faith. If He delays, He is increasing your patience. If He does not answer, He has something better for you.
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.