Sebagai muslim, saya berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang kita miliki akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt; dan sesuatu yang ingin saya bahas di sini ialah ilmu. Amanat berupa ilmu merupakan suatu berkah luar biasa apabila diniatkan beramal untuk mendapatkan akhirat. Beramal untuk mendapatkan akhirat tentu bukan dalam konteks mengejar uang dan kemasyhuran yang bersifat keduniaan. Pasalnya, kita tahu pasti bahwa hidup ini begitu singkat dan dunia bukanlah tempat untuk kita beristirahat dan bersantai, sehingga yang perlu kita lakukan ialah memanfaatkan umur. Umur yang boleh jadi singkat. Karena itu, kita harus berusaha agar diri ini mampu berkontribusi untuk kemaslahatan umat, membawa kebaikan bagi manusia lainnya.
Pertanyaannya, bagaimanakah bentuk langkah konkretnya? Apakah langkah yang kita ambil sudah yakin benar?
Epilog
Tak jarang kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang tidak beres dialami umat Islam ini? Padahal umat memiliki materi dan sumber alam yang melimpah. Al-Faruqi menyebut muslim kontemporer sedang menderita kekurang-percayaan diri dan keimanan dalam diri mereka tak mampu menghadapi tantangan-tantangan dunia modern. Pada saat Islam pertama kali muncul di Arab, para pengikutnya dihadapkan pada dua super power saat itu: Persia dan Roma. Namun umat saat itu malah bangga dengan keberimanan mereka, percaya diri dengan masa depannya, kemudian mampu mencapai kemajuan. Saat ini kita dihadapkan pada tantangan yang sama lagi. Kita dihadapkan pada dua kubu super power: Barat (yakni Rusia, Eropa dan Amerika Utara), yang selalu mengontrol sumber-sumber alam dunia, dan Timur, yang dipimpin Cina dan Jepang, keduanya mencapai kemajuan fantastik dalam menguasai bidang iptek. Ibaratnya dunia muslim berada di pinggir lapangan dan tak mampu menentukan bagaimana seharusnya memasuki arena pertandingan. Karena terkejut dan tergoncang, sehingga kita tak percaya diri kita sendiri.
Inilah yang membedakan kita dengan generasi pendahulu kita. Kita sekarang berada di bawah kaki para ahli Barat untuk belajar dari mereka, lantas kita hanya berhenti di sini. Sedangkan pendahulu-pendahulu kita belajar dari orang-orang Persia dan Byzantium dan dalam waktu yang sangat cepat mampu menguasai pengetahuan mereka dan kemudian melampaui guru-guru Persia mereka, kita kehilangan hal ini yang seharusnya kita kaji. Pendahulu-pendahulu kita belajar mengkaji peradaban-peradaban non-muslim dan berbekal keimanan, sedangkan kita mengkaji Barat tanpa berbekal keimanan sama sekali. Kita pergi ke Barat ibarat para pengemis lapar yang hendak memakan sisa-sisa sampah yang jatuh dari meja-meja mereka dan kita terus-menerus dijejali oleh kemurahan hati mereka.
•••
FYI, saya membaca buku yang sangat menarik berjudul ‘Islamisasi Sains dan Kampus’ ditulis oleh Prof. Dr. Ir. AM Saefuddin. Ada beberapa pernyataan, kutipan, dan fakta yang disajikan di dalam buku ini akan bermanfaat untuk dibagi. Selengkapnya sebagai berikut.
- Apakah negeri-negeri Muslim sebagai negara berkembang merasa rendah diri ketika dihadapkan dengan peradaban Barat? Kalau ya, apa yang menjadi akar dari persoalan tersebut, sedangkan peradaban Barat pada dekade terakhir ini mengalami masa krisis? Apakah tidak salah, kita sebagai bagian dari umat Islam dunia menggambarkan Barat sebagai patron yang ideal dalam tata kehidupan di saat mereka sendiri sedang “sakit”?
- Berbicara mengenai krisis peradaban, artinya berbicara mengenai krisis sains modern (Barat) dan penerapannya (teknologi). Karena sekalipun mungkin agak berlebihan, sains dan teknologi merupakan komponen dari sebuah peradaban.
- Teknologi yang secara sederhana merupakan penerapan sains adalah contoh aktual betapa masyarakat Muslim di Dunia Ketiga amat bergantung pada masyarakat Barat. Padahal teknologi yang diterapkan itu sendiri bukanlah merupakan kebutuhan utama dari masyarakat muslim.
- Sebagaimana halnya sains, teknologi yang diimpor pun tidaklah bebas nilai (netral). Hal ini sangat bertentangan dengan asumsi yang populer diterima masyarakat bahwa teknologi bersifat netral.
- Dalam kasus alih teknologi misalnya tidak hanya menyebabkan negeri-negeri Muslim semakin bergantung pada negeri-negeri industri tetapi juga menimbulkan pengaruh yang merusak terhadap kebudayaan dan lingkungan Muslim. Dengan demikian tidak ada sesuatu pun yang bebas nilai (netral) dalam sains dan teknologi.
- Sains dan teknologi modern adalah produk sejarah dan kebudayaan yang khas Barat, dan senantiasa membawa nilai-nilai asli kebudayaannya kemanapun ia disebarkan. Bila kita mencoba merunut kembali sejarah keilmuan, maka akan didapatkan bahwa krisis yang terjadi hari ini di Barat pada hakikatnya bermuara pada pandangan dunia mengenai relasi antara Tuhan, manusia dan alam, Humanisme Barat misalnya yang berakar dari filsafat Yunani Kuno menganggap bahwa alam adalah entitas yang mesti dikuasai.
- Filsafat Yunani Kuno menampilkan konsep tarik-menarik antara manusia dan dewa. Dewa yang dipersonifikasikan dengan fenomena alam, seperti: banjir, petir, hujan dan sebagainya mengalami kekalahan. Manusia bisa mengatasi segala rintangan alam (dewa). Dari sinilah keilmuan Barat diarahkan pada upaya penaklukan alam, lebih ekstrim lagi karena merasa mampu menaklukan alam, akhirnya tidak percaya kepada Tuhan dan lahirlah konsep keunggulan ras, dalam hal ini ras kulit putih.
- Berdasarkan kerangka pikir tersebut, sangat wajar ketika banyak pemikir Muslim sejak dekade 1970-an yang mencoba menggagas islamisasi sains. Dalam perspektif mereka, sains dan teknologi yang ada hari ini sudah terkontaminasi oleh peradaban Barat yang sekular.
- Istilah islamisasi sains dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengaitkan kembali sains dengan agama, yang berarti mengaitkan kembali hukum alam (sunatullah) dengan Al Qur’an yang keduanya pada hakikatnya merupakan ayat-ayat keagungan Tuhan. (Bastaman, Ulumul Quran, 1991 N0. 8 Vo. II).
- Agama yang pada dasarnya bertolak dari iman dan wahyu serta bercorak metafisis tidak bisa secara tergesa-gesa disatukan dengan sains yang bertolak dari akal manusia serta coraknya yang empiris. Untuk itu, perlu “sesuatu” yang mampu memperantarai sains dan agama sehingga missing link ini dapat ditiadakan, paling tidak dapat dieliminasi.
- Mengingat sains dan agama memiliki karakter yang khas, maka sesuatu yang diperlukan itu berupa pandangan filosofis atau metafisis. Bila itu dimasukkan dalam figura islamisasi sains, maka pandangan filosofis tersebut bermakna islamisasi terhadap ilmuwannya sendiri. Jadi bukan ilmunya sendiri yang di-Islamkan tetapi lebih utamanya “meng-Islamkan” dulu pandangan dunia (world-view) dari ilmuwannya.
- Islamisasi membendung dampak peradaban Barat. Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud, seorang pakar pemikiran dan pendidikan Islam dari Malaysia, juga Prof Dr Syamsul Anwar, MA (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhamadiyah), keduanya mengungkap secara gamblang berbagai krisis yang dialami dunia, termasuk umat Islam, yang diakibatkan oleh peradaban Barat dengan sains-sains dan produk ciptaannya yang sekularis dan materialistis.
- Dalam makalahnya yang bertajuk Dewesternization and Islamization: Their Epistemic Framework and Final Purpose, Prof Wan Mohd Nor menguraikan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin saat ini adalah problem ilmu. Sebabnya, peradaban Barat yang kini mendominasi peradaban dunia telah menjadikan ilmu sebagai hal yang problematis. Selain telah mengosongkan ilmu dari agama, konsep ilmu dalam peradaban Barat juga telah melenyapkan wahyu sebagai sumber ilmu, menghilangkan nilai-nilai kesucian dari segala sesuatu yang wujud, mereduksi intelek kepada rasio dan menjadikan rasio sebagai basis keilmuan.
- Barat juga telah menyalah-pahami konsep ilmu, mengaburkan maksud dan tujuan ilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan dugaan sebagai metodologi ilmiah.
- Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, agnostisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme. Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius dalam sejumlah hal.
- Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisika, mengosongkan manusia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia.
- Kedua, melahirkan dualisme. Manusia dibuat terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, seperti dikotomi dunia-akhirat, agama-sains, tekstual-kontekstual, akal-wahyu, objektif-subjektif, induktif-deduktif dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluk yang terbelah jiwanya (split personality).
- Implikasi dari sifat ilmu Barat yang dikembangkan di dunia modern dewasa ini menyebabkan krisis kemanusiaan yang memilukan, yaitu rusaknya akhlak manusia dan hilangnya adab dari kehidupan manusia yang pada akhirnya meruntuhkan peradaban manusia itu sendiri. Di antara fenomena yang menunjukkan hal ini adalah munculnya apa yang disebut sebagai fenomena “bangsa-bangsa yang gagal”.
- Pada tahun 1981, penebit Pustaka-Salman ITB telah menerbitkan buku Islam dan Sekularisme karya Prof Naquib Al-Attas. Pada bab berjudul “Dewesternisasi Pengetahuan” dari buku terbitan Pustaka-Salman ITB tahun 1981 itu, dikutip kata-kata Prof Naquib Al-Attas tentang karakter keilmuan Barat:
- “Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa tantangan terbesar yang secara diam-diam telah timbul dalam zaman kita adalah tantangan pengetahuan, memang, tidak sebagai tantangan terhadap kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Pengetahuan Barat itu sifatnya telah menjadi penuh permasalahan karena ia telah kehilangan maksud yang sebenarnya sebagai akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ia juga telah menyebabkan kekacauan dalam kehidupan manusia, dan bukannya perdamaian dan keadilan. Pengetahuan Barat tersebut berdalih betul, namun hanya memberi hasil kebingungan dan skeptisisme. Barat telah mengangkat peraguan dan pendugaan ke derajat ‘ilmiah’ dalam hal metodologi. Peradaban Barat juga memandang keragu-raguan sebagai suatu sarana epistemologis yang cukup baik dan istimewa untuk mengejar kebenaran”. (Al-Attas: 1981, 195-196).
- Prof Wan menjelaskan bahwa problem paling mendasar umat Islam adalah problem kekeliruan dalam keilmuan (confusion of knowledge), bukan problem kebodohan.
- Saat ini begitu banyak para cerdik pandai yang dimiliki umat Islam, tetapi memiliki ilmu yang keliru. Akibat pemahaman yang keliru ini, konsep adil dan adab sebagaimana dikehendaki oleh Islam tidak bisa diterapkan. Mereka pun mengambil begitu saja konsep demokrasi yang menempatkan semua manusia pada derajat yang sama dalam pengambilan keputusan. Dalam konsep demokrasi Barat, orang yang saleh disamakan kedudukan suaranya dengan orang jahat; orang pandai disamakan derajatnya dengan orang yang bodoh. Jika masuk UI ada seleksi, apakah tidak perlu dipikirkan, untuk memberikan suara pun dalam Pemilu nantinya perlu ada seleksi.
- Prof Mulyadhi mempresentasikan aplikasi dari konsep islamisasi sains dalam bidang psikologi. Dia memulainya dari kritik terhadap psikologi modern yang, menurutnya, justru telah menafikan “jiwa” manusia. Aneh, katanya, ilmu jiwa justru tidak membahas “jiwa” itu sendiri. Guru besar UIN Jakarta ini memang tengah serius dengan proyek terjemahan berbagai kitab-kitab klasik dalam berbagai bidang keilmuan, karya para ilmuwan Muslim terdahulu. Dengan itu, dia berharap, kaum Muslim memahami apa yang pernah dicapai oleh para ilmuwan Muslim terdahulu, yang sangat luar biasa.
- Dr Khalif Mu’ammar memaparkan lebih lanjut implikasi dari hegemoni sekularisasi pada bidang politik dalam makalahnya yang berjudul “Dewesternisasi Politik Kontemporer: Islam dan Konstitusionalisme”. Menurutnya, demokrasi tak dapat dipisahkan dari sekularisme dan liberalisme karena memang eksistensinya tergantung pada kedua filsafat tersebut. Karenanya penilaian terhadap demokrasi tidak dapat dipisahkan pula dari penilaian terhadap sekularisme dan liberalisme. Sejak kemunculan sekularisme, bidang yang pertama mendapat serangan ialah bidang politik. Karena tujuan sekularisme adalah agar supaya agama dan gereja tidak campur tangan dalam urusan dunia yang murni diserahkan kepada penguasa politik.
- Pemikiran sekular telah memisahkan antara wahyu dan akal, agama dan sains dan seterusnya. Sekularisme berasumsi bahwa kedua perkara tersebut dilihat saling bertentangan dan tak dapat dipadukan, keduanya dilihat secara dikotomik. Dengan dualisme ini sekularisme telah menempatkan manusia dan Tuhan sebagai enittas yang berlawanan dan terpisah. Inilah yang dimaksud dengan desakralisasi politik.
- Desakralisasi politik memutuskan kuasa dunia dari kuasa transenden. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa pemerintahan agama akan menghalangi perubahan dan kemajuan. Manusia mengatur kehidupannya tanpa melibatkan bimbingan Allah SWT.
- Akhirnya keberhasilan sekularisasi politik berimplikasi pada terkikisnya tatanan akhlak, etika dan moral. Dengan demikian jadilah para politisi terjun bebas ke jurang nalar Machiavelis “al-ghayatu tubarriru al-wasilah” (tujuan menghalalkan segala cara). Kita saksikan permainan money politics sudah begitu lumrah dilakukan di negeri ini. Saling sikut dan sabotase di sana-sini. Politik bukan didasarkan pada nilai-nilai kebenaran agama dan akhlak yang mulia, tetapi dipandang sebagai faktor keduniaan semata-mata, sebagai cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, dengan cara apa pun.
- Bila menyaksikan adegan-adegan politik yang memuakkan itu, Islam sepertinya tak punya masa depan yang cerah dalam tataran pembangunan peradaban di Tanah Air. Namun, kita dapat memberi kontribusi dalam upaya membangun optimisme para cendekiawan Muslim di Indonesia dalam membangun peradaban Islam.
- Kita harus terus menanamkan rasa percaya diri dan kebanggan akan peradaban Islam. Sikap mental ‘minder’ pada Barat dan silau pada godaan-godaan duniawi baik harta, jabatan, maupun popularitas adalah penyakit yang harus dihindari oleh para ilmuwan Muslim.
- Kita percaya, sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis-sekular yang anti Tuhan ini, diperlukan desekularisasi, dewesternisasi dan islamisasi sains kontemporer. Karena telah begitu dominannya paradigma keilmuan Barat saat ini, maka salah satu aspek penting dalam islamisasi sains adalah melakukan “desekularisasi” dan “dewesternisasi”.
- Proses ini bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannnya. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worlview (pandangan hidup) Barat yang bertentangan dengan worldview Islam yang “tauhidi” dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad.
- Kelemahan intelektual umat. Tak jarang kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang tidak beres dialami umat Islam ini? Padahal umat memiliki materi dan sumber alam yang melimpah. Al-Faruqi menyebut muslim kontemporer sedang menderita kekurang-percayaan diri dan keimanan dalam diri mereka tak mampu menghadapi tantangan-tantangan dunia modern.
- Padahal, sebenarnya konfrontasi umat dengan dunia yang antagonistik dalam sains dan teknologi, kekuasaan ekonomi dan militer, bukanlah hal baru. Pada saat Islam pertama kali muncul di Arab, para pengikutnya dihadapkan pada dua super power saat itu: Persia dan Roma. Namun umat saat itu malah bangga dengan keberimanan mereka, percaya diri dengan masa depannya, kemudian mampu mencapai kemajuan.
- Saat ini kita dihadapkan pada tantangan yang sama lagi. Kita dihadapkan pada dua kubu super power: Barat (yakni Rusia, Eropa dan Amerika Utara), yang selalu mengontrol sumber-sumber alam dunia, dan Timur, yang dipimpin Cina dan Jepang, keduanya mencapai kemajuan fantastik dalam menguasai bidang iptek. Ibaratnya dunia muslim berada di pinggir lapangan dan tak mampu menentukan bagaimana seharusnya memasuki arena pertandingan. Karena terkejut dan tergoncang, sehingga kita tak percaya diri kita sendiri.
- Inilah yang membedakan kita dengan generasi pendahulu kita. Kita sekarang berada di bawah kaki para ahli Barat untuk belajar dari mereka, lantas kita hanya berhenti di sini. Sedangkan pendahulu-pendahulu kita belajar dari orang-orang Persia dan Byzantium dan dalam waktu yang sangat cepat mampu menguasai pengetahuan mereka dan kemudian melampaui guru-guru Persia mereka, kita kehilangan hal ini yang seharusnya kita kaji.
- Pendahulu-pendahulu kita belajar mengkaji peradaban-peradaban non-muslim dan berbekal keimanan, sedangkan kita mengkaji Barat tanpa berbekal keimanan sama sekali.
- Kita pergi ke Barat ibarat para pengemis lapar yang hendak memakan sisa-sisa sampah yang jatuh dari meja-meja mereka dan kita terus-menerus dijejali oleh kemurahan hati mereka.
- Saat ini umat Islam berpikir dan bertindak tanpa berlandaskan pengetahuan. Mereka taat pada praktik-praktik dari Abad Pertengahan: mencari kepuasaan material dan moral melalui cara-cara di luar iptek.
- Semangat kecendekiawanan umat Islam turun di abad ke-19 dalam bidang filsafat ilmu pengetahuan, terlalu malas menguasai iptek Barat kontemporer, dan pada waktu yang sama perlahan-lahan mulai mengabaikan warisan Islam yang sebenarnya akan tetap bermanfaat dan selalu berkaitan dengan perkembangan kontemporer.
- Padahal, kita tidak dapat menyangkal pentingnya ilmu pemgetahuan dan peranannya dalam perkembangan masyarakat modern. Dalam masalah ini dunia muslim inferior karena keterbelakangannya dalam science, teknologi, ekonomi dan militer.
- Menurut al-Faruqi, intelektualitas di dunia Muslim mengalami guncangan mulai sejak abad ke-12-13 M, ketika dunia Muslim diserang dan dihancurkan oleh invansi Mongol dari arah Timur dan Perang Salib dari arah Barat.
- Secara politis kaum Muslimin mengalami depersi dan tak bersemangat. Para sarjana Muslim kehilangan kepercayaan diri untuk bisa berhasil dengan apa yang disuguhkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mereka menjadi over-conservative.
- Secara berangsur-angsur akhirnya mereka pun melaksanakan ketaatan penuh terhadap teks hukum (Syariah). Ketaatan-ketaatan pada salah satu lima madzhab terkenal (Hanafi, Syafi’i, Maliki, Hambali dan Ja’fari) dalam pemikiran hukum menjadi sesuatu yang esensial.
- Sumber utama pemikiran Islam dan kreativitas ijtihad dinyatakan tertutup, Syari’ah dianggap telah sempurna, dan banyak langkah pembaharuan disalahkan. Masyarakat luas berlari dari tantangan-tantangan modernitas, berduyun-duyun menuju tariqah sufi atau mistisme Islam (Al-Faruqi, Islamization of Knowledge: General Principle and Workplan, Herndon, VA, IIT, 1402/1982, hlm 16).
- Sementara itu, selama abad-abad campur tangannya, Barat membuat perkembangan berarti dan cepat dalam penggalian science, penelitian teknologi dan pengembangan teori-teori.
- Negara-negara Barat melihat bahwa dunia Muslim tak akan mampu mengejar, malah secara faktual, semakin terbelakang. Untuk menjadi superior dalam segala bidang pun tidak perlu sulit-sulit, bagi Barat mudah menaklukan dan kemudian menjajah sebagian besar dunia Muslim.
- Sebagai respons atas kemalangan ini, pemimpin-pemimpin politik Muslim mencoba melakukan westernisasi terhadap ummah dengan harapan akan lebih memberi semangat secara politis, ekonomi dan militer. Namun beberapa kali percobaan ternyata gagal, oleh karenanya, ummah berakhir dengan semakin tergantung pada Barat.
- Tetapi setidaknya gagasan restrukturisasi ummah, menurut pemikiran dan kultur Islam, menyisakan kemungkinan untuk memperluas jumlah orang-orang Islam. Saat ini, dunia Islam lemah dan miskin dalam segala bidang, warganya diserang dari segala penjuru, dianiaya, dan sumber alamnya dikeruk secara tidak adil.
- Pada paruh kedua abad ke-20, berbagai usaha dicoba untuk memulihkan kreativitas ilmu pengetahuan. Namun hasilnya tak pernah terlihat nyata. Telah diakui oleh kalangan elite di hampir semua negara Muslim bahwa sistem pendidikan yang ada sekarang tanpa pedoman, tanpa tujuan dan tidak produktif.
- Dalam analisis lebih lanjut, kita mendapatkan beberapa masalah mendasar yang menghambat usaha kreativitas kembali pada ilmu pengetahuan kita. Tak satu pun usaha diperbuat, sehingga kelemahan akan terus berlanjut. Masalah-masalah mendasar tersebut adalah:
- Tulisan dilanjutkan pada Bagian 2.
•••
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.