Poin-Poin Penting Menulis: Catatan dari King [Bagian 2]

Dalam satu buku Stephen King: On writing, total ada 97 poin yang menurut saya penting untuk dicatat. Pada tulisan Bagian 1 sudah tertulis 53 poin dan Bagian 2 ini akan dituliskan 44 poin terakhir. Sebetulnya memang bermanfaat untuk membiasakan diri membuat laporan bacaan dari buku yang sudah selesai kita baca. Tidak hanya dapat mengambil hal-hal penting yang bisa kita jadikan pelajaran, tetapi juga kita dapat mulai berlatih untuk berpikir kritis, menelaah apa pun informasi yang didapat dari bacaan tersebut.

Poin-poin Bagian 2 ini dimulai dengan penulisan dialog. Pada poin mengenai dialog ini, salah satunya King menyatakan bahwa dalam membaca penulisan dialog, pembaca dapat mengenali ciri karakter tokoh. Ucapan-ucapan dari dialog si tokoh dapat menunjukkan siapa dirinya, bagaimana karakternya. Saya lantas teringat pada penyampaian dialog-dialog di dalam Al Qur’an. Perhatikan firman Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Harun AS berikut.

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (TQS. Thaha[20]: 43-44)

Kedua ayat Surah Thaha di atas merupakan salah satu contoh bagaimana kita dapat mengenali Allah SWT. Allah SWT mengajari kita suatu sifat, sikap atau perilaku yang sepatutnya kita miliki bahkan ketika menghadapi seorang seperti Fir’aun. Fir’aun telah disebutkan bahwa ia ialah seorang yang telah melampaui batas, namun Allah SWT perintahkan untuk tetap berkata lemah lembut, memperingatkan Fir’aun dengan perkataan yang lemah lembut. Subhanallah. Allah SWT, Dia-lah Dzat Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Kira-kira bagaimana ya respons King ketika pada suatu waktu berkesempatan membaca terjemahan Al Qur’an. Kalau kau merasakan satu pikiran denganku, yaitu mencermati pernyataan seorang penulis ternama seperti King memberitahu seperti apa bacaan dan penulisan yang bagus, bahkan ia berkata bahwa penulisan dialog yang bagus merupakan hasil dari kejujuran: “Engkau harus berkata jujur jika kau ingin dialogmu punya gema dan realistis”, mungkin penulisan Al Qur’an akan membuatnya bergetar?

Baiklah, berikut ini ke-44 poin penting terakhir yang saya catat dari buku Stephen King: On writing.

  1. Sekarang mari kita bahas sedikit tentang dialog, porsi audio dari program kita. Dialog memberi suara pada tokoh ceritamu, dan dialog ini penting sebagai ciri karakter tokohapa yang dilakukan orang itulah yang menunjukkan kepada kita seperti apa dirinya; dan ucapan-ucapannya itu dapat menipu; apa yang sering diucapkan oleh seseorang sering menunjukkan karakternya kepada orang lain dengan cara yang benar-benar tidak disadari oleh merekaorang yang berbicara.
  2. Jika dialognya benar, kita dapat mengetahui maksudnya. Kalau salah, kita juga tahumembuat telinga terasa gatal, seperti nada buruk dari alat musik yang keliru disetem.
  3. Menulis dialog yang bagus adalah suatu seni sekaligus kerajinan.
  4. Banyak penulis dialog yang bagus tampaknya lahir dengan telinga yang bisa mendengar dengan baik, sama seperti musisi dan penyanyi yang memiliki nada suara sempurna atau hampir sempurna.
  5. Kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah dialog semacam itu benar-benar ada dalam kehidupan atau hanya gagasan tertentu tentang kehidupan, suatu cerita streotip mengenai film Hollywood, makan siang di Hollywood, kesepakatan ala Hollywood.
  6. Keterampilan yang diperlukan untuk menulis dialog semacam itu berasal dari latihan bertahun-tahun, seni datang dari imajinasi kreatif yang bekerja keras sambil bergembira.
  7. Sebagaimana dari aspek-aspek lain dari sebuah fiksi, kunci utama menulis dialog yang bagus adalah kejujuran.
  8. Berkata jujur itu penting; ada banyak hal yang bergantung pada kejujuran. Engkau harus berkata jujur jika kau ingin dialogmu punya gema dan realistis.
  9. Dialog, entah itu dialog konyol atau bagus, adalah indeks karakter; selain itu juga menjadi udara penyejuk, penyegar di ruangan tempat sebagian orang lebih suka tutup mulut.
  10. Satu-satunya pertanyaan adalah bagaimana dialog itu bisa bergema di lembar halaman buku dan di telinga. Jika kau ingin dialognya menimbulkan gema kebenaran, kau harus berbicara dengan diri sendiri. Lebih penting lagi, kau perlu menutup mulutmu dan mendengarkan orang lain berbicara.
  11. Beberapa aspek dasar penyampaian cerita yang baik, semuanya bermula dari gagasan inti yang sama: berlatih menulis adalah hal berharga, dan bahwa kejujuran adalah hal yang mutlak tidak dapat diabaikan.
  12. Keterampilan dalam membuat gambaran atau deskripsi, dialog, dan pengembangan karakter tokoh cerita semuanya berpangkal dari melihat atau mendengar dengan jelas dan kemudian mengolah apa yang kau lihat atau kau dengar dengan kejelasan yang sama, dalam bentuk tulisan (dan tanpa menggunakan banyak kata keterangan yang melelahkan dan tidak perlu).
  13. Penting: kecuali kau merasa yakin ceritamu cukup dipahami pembaca, kau tidak dapat selalu menyenangkan semua pembaca; bahkan kau juga tidak dapat menyenangkan sebagian dari pembaca terus-menerus.
  14. Simbolisme (dan hiasan atau ornamen lain dalam cerita) memiliki tujuan yang berguna—lebih daripada sekadar sepuhan kromium pada teralis. Ia berfungsi sebagai sarana untuk memusatkan perhatianmu dan pembacamu, membantu menciptakan karya yang lebih menyenangkan dan mempersatukan penulis dengan pembaca.
  15. Bagiku setiap bukupaling tidak setiap buku yang layak dibacaberisi tentang sesuatu. Tugasmu selama atau tepat setelah membuat draft pertama adalah memutuskan sesuatu itu. Tugasmu selama membuat draft keduasalah satunyaadalah memperjelas sesuatu itu. Untuk memperjelas itu diperlukan beberpaa perubahan besar dan perbaikan. Manfaatnya, bagimu dan bagi pembaca, adalah fokus cerita yang lebih jelas dan cerita yang menyatu. Kalau demikian jarang sekali cerita itu gagal.
  16. Aku terkejut menyadari betapa bergunanya apa yang disebut “pemikiran tematis”, karena itu bukan sekadar gagasan kosong yang diperintahkan oleh dosen bahasa Inggris untuk kau tulis dalam ujian esai tengah semester (misalnya, ‘Jelaskan tema cerita Wise Blood dalam tiga paragraf yang bagus – 30 poin), melainkan sebuah alat mekanis baru yang praktis yang perlu disimpan dalam kotak peralatan, dan yang ini menyerupai kaca pembesar.
  17. Aku tidak pernah ragu-ragu bertanya pada diri sendiriapa yang sebenarnya kutulis, mengapa aku menghabiskan waktu yang dapat digunakan untuk bermain gitar atau mengendarai sepeda motor, apa yang membuatku bekerja keras sejak awalbaik sebelum mulai menulis draft kedua novel itu maupun saat mengalami kemacetan gagasan dalam penulisan draft pertama.
  18. Jika cerita dasar yang kau miliki sudah tersusun di atas kertas, engkau perlu memikirkan apa maknanya dan tambahi draft ceritanya dengan kesimpulan-kesimpulanmu.
  19. Mari kita bicarakan tentang revisi tulisan. Draft pertamadraft seluruh ceritaharus ditulis tanpa bantuan (atau gangguan) orang lain. Akan ada saat ketika engkau ingin menunjukkan kepada teman dekatmu apa yang tengah kau lakukan, entah karena kau bangga atau karena kau merasa ragu-ragu akan hal itu. Saranku yang terbaik adalah menahan dorongan ini.
  20. Yang hebat dari menulis dengan pintu tertutup adalah bahwa engkau mendapati dirimu sendiri terdorong untuk berkonsentrasi pada ceritanya hingga praktis mengabaikan segala sesuatu yang lain.
  21. Apa pun yang kaulakukan, draft pertama adalah tempat kesalahan yang perlu dipikirkan lagi. Sekarang anggap saja engkau sudah selesai dengan draft pertamamu. Selamat! Kerja bagus!
  22. Mungkin ini terdengar sedikit sombong, tetapi sebenarnya tidak. Kau sudah melakukan banyak kerja dan perlu waktu (berapa banyak/berapa sedikit bergantung pada masing-masing penulis) untuk istirahat. Pikiran dan imajinasimudua hal yang berbeda, tetapi saling terkaitharus merotasi dirinya sendiri, paling tidak dalam hal kegiatan menulis ini. Saranku kau perlu libur beberapa hari, lalu menciptakan karya yang lain. Sesuatu yang lebih singkat.
  23. Berapa lama engkau perlu mendiamkan buku ituseperti adonan roti yang didiamkan setelah diuleniitu terserah kepadamu, tetapi kupikir seharusnya minimal enam minggu. Selama masa itu, naskahmu akan tersimpan di dalam laci meja kerja, meragi dan (orang berharap) akan menjadi matang.
  24. Duduklah di mejamu dengan pintu ruangan tertutup (kau akan membukanya pada dunia segera), ambil pensil dan letakkan buku catatan kecil di samping. Lalu bacalah naskahmu.
  25. Jika mungkin, selesaikan semuanya dalam satu kali kesempatan duduk memperbaiki. Buatlah catatan-catatan yang perlu, tetapi pusatkan perhatianmu pada tugas-tugas seperti membetulkan kesalahan ejaan dan memerhatikan hal-hal yang tidak konsisten.
  26. Dengan waktu enam minggu yang berharga untuk memulihkan kembali naskahmu, engkau juga akan dapat melihat lubang-lubang dalam plot cerita atau pengembangan karakter tokoh cerita. Aku berbicara tentang lubang-lubang yang cukup besar hingga truk pun melewatinya.
  27. Selama membaca, pikiranku betul-betul terpusat pada ceritanya dan kotak peralatan yang berkaitan dengan itu: mengeluarkan kata-kata ganti yang tidak jelas antesedennya (aku benci dan tidak percaya kata ganti), menambahkan kalimat yang memberi penjelasan di bagian yang diperlukan dan, tentu saja, menghapus semua kata keterangan yang bisa kubuang (tidak pernah semua; tidak pernah).
  28. Aku mengajukan kepada diriku sendiri pertanyaan besar itu. Pertanyaan yang terbesar: apakah cerita ini sudah menyatu? Jika ya, apa yang akan mengubahnya menjadi seperti lagu? Apa saja unsur yang akan muncul lagi? Apa ini, dan apa yang dapat kulakukan untuk membuat hal-hal mendasar itu menjadi lebih jelas.
  29. Satu hal yang paling kuinginkan adalah gema, sesuatu yang akan terus terngiang sementara waktu di dalam pikiran (dan di hati) pembaca. Aku ingin ada gema atau gaung cerita. Aku mencari apa yang kumaksudkan karena pada draft kedua dan suatu cerita, aku ingin menambah adegan dan kejadian yang menguatkan makna adegan dan kejadian itu. Aku juga ingin menghapus semua hal yang berjalan pada arah berlawanan. Mungkin ada banyak hal yang berjalan berlawanan, terutama mendekati awal cerita, ketika aku punya kecenderungan untuk berganti-ganti arah cerita. Semua yang tidak jelas arahnya harus pergi jika aku ingin mencapai sesuatu seperti efek yang menyatu. Ketika aku sudah selesai membaca dan memperbaiki, maka itulah waktunya membuka pintu dan memamerkan apa yang sudah kutulis.
  30. Jika tiap orang yang membaca bukumu menyatakan engkau punya masalah, itu artinya kau memang punya masalah dan lebih baik melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Dan jika pendapat yang kau dengar masuk akal, lakukan perubahan. Kau tidak bisa membiarkan semua orang memengaruhi ceritamu, tetapi kau dapat melibatkan mereka yang paling berpengaruh. Dan seharusnya memang demikian.
  31. Pembaca ideal juga merupakan salah satu terbaik untuk melihat apakah ceritamu berjalan konsisten dan kecepatan stabil atau tidak, dan apakah kau telah menangani cerita pendukungnya dengan gaya memuaskan atau belum. Apakah pembaca idela merasa ada terlalu banyak pembicaraan yang tidak bertujuan di bagian ini/itu? Apakah kau kurang banyak menjelaskan situasi tertentu … atau justru terlalu banyak penjelasan, yang semua itu adalah penyakit kronisku dalam menulis. Apakah kau lupa mengatasi beberapa hal penting dalam alur cerita?
  32. Aku mendapat coretan komentar yang mengubah caraku saat itu dan untuk selamanya, dalam menuliskan kembali fiksiku. Komentar cerdas: “Tidak jelak, tetapi DIBESAR-BESARKAN. Kau perlu memperbaikinya demi mempersingkat cerita. Rumusnya: draft ke-2 = draft pertama – 10%. Semoga berhasil.” Rumus itu mengajariku tiap cerita dan novel pada derajat tertentu akan mengalami penurunan. Jika kau tidak dapat mengeluarkan sekira 10% kata dari cerita tersebut sambil tetap mempertahankan cerita dasar dan tambahannnya, itu artinya kau tidak berusaha keras.
  33. Dampak dari pemotongan kata-kata secara cermat dan hati-hati dapat timbul segera dan sering mengagumkam. Kau dapat merasakannya segera, dan demikian pula pembaca idealmu.
  34. Cerita pendukung adalah semua hal yang terjadi sebelum ceritamu dimulai, tetapi berdampak pada cerita di latar depan. Cerita pendukung membantu merumuskan tokoh dan menetapkan motivasi. Kupikir, cerita pendukung penting untuk segera disusun secepat mungkin, tetapi penting juga untuk menyusunnya dengan hati-hati.
  35. Sebagai pembaca, aku jauh lebih tertarik pada apa yang akan terjadi daripada pada apa yang telah terjadi. Kau jiga harus memerhatikan dengan cermat, hal-hal yang terdapat dalam cerita pendukung yang dapat membuat pembaca idealmu bosan.
  36. Hal-hal terpenting yang harus diingat mengenai cerita pendukung adalah bahwa (1) setiap orang punya sejarah; dan (2) sebagian besar sejarah itu tidak terlalu menarik. Jadi, tetaplah fokus pada bagian-bagian tersebut dan jangan sampai bertele-tele.
  37. Bagi setiap penulis sukses yang berorientasi pada fakta, ada ratusan (bahkan mungkin ribuan) keinginan untuk menuliskan fakta, sebagian ada yang terbitkan dan sebagian besar mungkin tidak.
  38. Riset itu cerita pendukung dan kata kunci dari cerita pendukung adalah “pendukung”. Jangan sampai hal-hal tidak penting mendominasi ceritamu.
  39. Kritik-kritik yang tidak spesifik tidak membantu apa-apa saat engkau duduk untuk membuat draft kedua dan mungkin kritik-kritik itu malah menyakitkan. Tentu saja tidak ada dari komentar-komentar tersebut yang menyentuh aspek bahasa yang kau gunakan atau aspek narasinya, komentar-komentar itu seperti angin, sama sekali tidak memberi masukan nyata apa pun.
  40. Kau mendapat pelajaran terbaik dengan banyak membaca dan menulis, dan pelajaran paling berharga dari semua itu adalah apa yang kau ajarkan pada dirimu sendiri. Pelajaran itu hampir selalu berlangsung di ruang menulismu dengan pintu tertutup.
  41. Pada akhrinya, menulis adalah untuk memperkaya hidup orang-orang yang akan membaca karyamu dan memperkaya hidupmu sendiri pula. Tujuannya adalah bangkit, sembuh, dan mengatasi keadaan. Menjadi bahagia, oke? Menjadi bahagia.
  42. Hampir semua perubahan itu berupa pemotongan, yang dimaksudkan untuk membuat cerita jadi lebih lancar. “Hilangkan kata-kata yang tidak perlu”dan juga untuk memenuhi formula yang dikemukakan sebelumnya: Draft ke-2 = Draft ke-1 – 10%.
  43. Kalimat-kalimat yang menjelaskan hal-hal yang sudah jelas, melainkan juga mengulang-ngulangnya, jadi dibuang saja.
  44. Terakhir, simpulannya ialah menulis banyak dan membaca banyak: “Apa yang kaubaca?”

•••

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply