Poin-Poin Penting Menulis: Catatan dari King [Bagian 1]

Tanya dong. Menulis itu mudah atau susah ya? Kalau sekadar menulis siapa pun bisa kok. Coba cari kata apa saja yang dapat ditempatkan menjadi subyek, kemudian cari kata lain untuk ditempatkan menjadi predikat dan jadilah satu kalimat. Misalnya, ‘batu-batuan meledak’. ‘Batu-batuan’ ialah sebentuk subyek dan ‘meledak’ ialah predikat. ‘Batu-batuan meledak’ merupakan satu bentuk kalimat yang dicontohkan oleh King dalam bukunya Stephen King: On Writing. Yang ingin King ungkapkan dari pengambilan contoh ‘batu-batuan meledak’ ialah ambil sembarang kata apa pun sebagai subyek dan predikat untuk digabungkan dan kau berhasil membuat kalimat. Perkara apakah ‘batu-batuan meledak’ merupakan kalimat yang berterima atau tidak karena mungkin saja kalimat tersebut terasa ganjil bagi sebagian pembaca, tetapi selama kau mencoba untuk melanjutkan kalimat tersebut secara ‘nyambung’ hingga menjadi paragraf, maka itulah sebenar-benar hasil tulisanmu.

Menilai tulisan yang baik dilihat dari paragraf per paragraf bukan kalimat. Dalam membuat satu paragraf, kita akan dituntut untuk merangkai kalimat agar menjadi padu atau ‘nyambung’. Dari sini kemudian diartikan bahwa menulis memang perlu tahu ilmunya, bukan lagi sekadar menulis. Tulisan yang baik merupakan hasil dari proses berlatih menulis secara kontinyu yang seharusnya disertai bimbingan dari seorang ahli. Karena itu, beruntung apabila kita pernah mendapat pengalaman melewati serangkaian revisi tulisan berkali-kali. Dari revisi tersebut kita akan banyak belajar bagaimana menulis yang mudah dipahami pembaca. Bagaimana pun pembaca ialah pihak terpenting dari sebuah tulisan yang dibuat.

Menurutku, ilmu menulis terbaik didapatkan antara lain dari bimbingan langsung seorang ahli yang membantu memberi balikan (feedback) agar kita kemudian dapat merevisi tulisan tersebut. Namun, menemukan seorang ahli untuk bisa dibimbing langsung secara face-to-face menjadi suatu kendala tersendiri. Alternatifnya, kita bisa mengambil pelajaran dari buku-buku tentang menulis dari seorang ahli yang sudah banyak diterbitkan. Salah satu buku mengenai menulis yang ingin kuberikan ringkasannya kepada kalian ialah buku Stephen King: On Writing. Berikut ini merupakan poin-poin penting dari ilmu menulis menurut King.

Stephen King: On Writing
King says:

  1. Tugasmu bukanlah menemukan gagasan-gagasan, melainkan mengenalinya saat mereka muncul.
  2. “Jangan menjepret naskah.” Halaman-halaman lepas plus klip kertas adalah cara yang benar untuk menyerahkan naskah.
  3. Singkirkan bagian-bagian yang jelek (yang tak perlu dan tak penting).
  4. “Jika kau menulis cerita, kau sendiri yang bercerita. Jika kau menulis ulang, tugas utamamu adalah menyinkirkan hal-hal yang bukan termasuk cerita.”
  5. Hasil karyamu memang mula-mula hanya untukmu, tetapi kemudian keluar. Begitu kau tahu apa cerita itu dan memahaminya dengan benarsebenar yang kau bisaia menjadi milik siapa saja yang ingin membaca atau mengkritiknya.
  6. Menulis itu pekerjaan orang yang kesepian. Punya seseorang yang memercayaimu dapat membuat perbedaan besar. Mereka tidak harus menyusun pidato. Hanya percaya saja sudah cukup.
  7. Yang terpenting adalah bahwa persepsi asli penulis atas seorang tokoh atau beberapa tokoh mungkin sama kelirunya dengan persepsi pembaca.
  8. Dan bahwa menghentikan suatu karya hanya karena itu sulit, entah secara emosional atau imajinatif adalah ide buruk.
  9. Kadang-kadang kau harus melakukannya (menulis) padahal kau tidak ingin, dan kadang-kadang engkau justru menghasilkan karya yang bagus padahal kau merasa yang kau lakukan hanyalah mencoba menyekop ‘sampah’ sambil duduk.
  10. Ini adalah menulis. Jika kau bisa menanggapinya dengan serius, kita bisa meneruskan ini.
  11. Aku ingin menyarankan bahwa untuk menghasilkan tulisan terbaik sesuai dengan kemampuan, kau harus menyediakan kotak perkakasmu sendiri dan kemudian mengerahkan seluruh tenagamu agar kau bisa mengangkat kotak perkakas itu. Selanjutnya, bukannya melihat betapa sulitnya pekerjaan yang harus kaulakukan dan menjadi tidak bersemangat, sebaiknya kau segera mengambil peralatan yang tepat dan langsung mulai bekerja.
  12. Peralatan umum ditaruh di bagian paling atas. Yang paling umum, yang terpenting untuk menulis adalah kosakata. Bukan berapa banyak yang kau punya, tetapi bagaimana kau menggunakannya.
  13. Ingatlah bahwa aturan dasar kosakata adalah menggunakan kata pertama yang terlintas dalam pikiranmu, jika kata itu tepat dan penuh warna.
  14. Tata bahasa, Subjek + Predikat. Jika mulai merasa ganjil begitu sampai di wilayah yang tidak ada di dalam peta (tidak ada di dalam petamu, paling tidak), ingatkan saja dirimu dengan ‘batu-batuan meledak’. Tata bahasa bukanlah hal yang menyebalkan, itu adalah galah yang kau gunakan untuk berpegangan dan membawa pikiranmu berdiri dan berjalan.
  15. Kau harus menghindari kalimat pasif.
  16. Kau juga mungkin memerhatikan betapa jauh lebih sederhananya sebuah gagasan untuk dipahami jika dipecah menjadi dua pikiran. Ini membuat masalah lebih mudah bagi pembaca, dan pembaca harus selalu menjadi perhatian utamamu. Tanpa pembaca setia, kau cuma suara yang menguak-nguak di tengah kekosongan. Dan sungguh tidak enak jadi orang yang harus menelan mentah-mentah apa saja yang disajikan padanya. Merasa pembaca berada dalam kesulitan serius hampir sepanjang waktuperumpamaan seorang pria yang bergerak dengan susah payah di rawa, dan itu menjadi tugas setiap penulis untuk mengeringkan rawa itu secepatnya dan dia menarik pria itu ke atas tanah kering, atau setidak-tidaknya melemparkan seutas tali kepadanya.
  17. Kata keterangan bukan temanmu.
  18. Aku ingin menyatakan bahwa paragraf, bukan kalimat, adalah unit dasar dalam menulis. Kau harus belajar memanfaatkan paragraf dengan baik jika ingin menulis dengan baik. Ini berarti banyak berlatih; kau harus memelajari iramanya.
  19. Tulisan yang bagus berisi penguasaan atas hal-hal mendasar (kosakata, tata bahasa, unsur-unsur gaya tulisan), kemudian mengisi bagian ketiga kotak perkakas tulisanmu dengan alat yang tepat.
  20. Meskipun tidak mungkin mengubah penulis yang buruk menjadi penulis yang kompeten dan sama tidak mungkinnya mengubah penulis yang baik menjadi penulis yang hebat, sangat mungkin untuk menjadi penulis yang baik daripada sekadar penulis yang kompeten. Dan ini dapat dilakukan dengan banyak kerja keras, dedikasi dan bantuan yang tepat.
  21. Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kaulakukan. Banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini, dan tidak ada jalan pintas.
  22. Jadi, kita membaca agar mengenali tulisan yang agak buruk dan sangat buruk; pengalaman seperti itu membantu kita mengenali hal-hal buruk tersebut saat mereka pelan-pelan masuk ke dalam karya kita sendiri; dan dengan mengenali, kita dapat menghalau mereka sampai bersih. Kita juga membaca untuk mengukur kemampuan diri kita sendiri dalam menghadapi hal-hal yang bagus dan hebat, untuk mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang dapat dilakukan. Dan kita membaca untuk mengenali gaya tulisan yang berbeda-beda.
  23. Kau harus banyak membaca, terus-menerus memperbaiki (dan merumuskan) karyamu sendiri selama berkarya.
  24. Membaca adalah pusat kreatif kehidupan seorang penulis. Aku membawa buku kemana pun aku pergi. Membaca memang memakan waktu, dan layar televisi telah mengambil sebagian besar waktu kita. Jika kita sudah berhenti dari kebutuhan sesaat akan televisi, banyak orang akan memeroleh kesenangan dengan menghabiskan waktunya untuk membaca. Aku ingin mengatakan bahwa dengan mematikan kotak yang terus-menerus berbunyi itu, maka kemungkinan kualitas hidupmu akan meningkat, demikian pula kualitas tulisanmu.
  25. Program berlatih keras membaca dan menulis yang kusarankan—empat hingga enam jam sehari, setiap haritidak akan terasa berat jika kau benar-benar menikmatinya dan punya bakat untuk itu.
  26. Hal yang paling penting dari kegiatan membaca adalah kegiatan itu menciptakan kemudahan dan keakraban dalam proses menulis; kita dapat masuk dalam dunia penulis dengan kertas kita dan kemampuan identifikasi yang kita miliki.
  27. Banyak membaca akan mendorongmu masuk ke suatu tempat (sebuah pola pikir) yang dengannya kau dapat menulis dengan penuh semangat hingga terlena.
  28. Membaca juga memberimu pengetahuan yang terus bertambah mengenai apa yang telah dilakukan dan yang belum, apa yang diulang-ulang dan apa yang benar-benar baru, apa yang dapat terlaksana dan apa yang teronggok sekerat di sana (atau mati), di suatu lembar tulisanmu. Makin banyak engkau membaca, makin kecil kemungkinan kau membodohi dirimu sendiri melalui pena atau program pengolah kata di komputermu.
  29. Membutuhkan keteraturan dan mengalokasikan waktu menulis yang konsisten setiap hari.
  30. Begitu mulai bekerja pada satu proyek baru, aku tidak berhenti dan tidak berlambat-lambat kecuali jika aku memang harus berhenti. Jika aku tidak menulis setiap hari gambaran tokoh-tokoh yang ada di dalam kepalaku akan segera menghilang.
  31. Rancangan pertama sebuah bukubahkan rancangan panjang sekalipunseharusnya memakan tidak lebih dari 3 bulan, rentang waktu 1 musim. Jika lebih lama daripada 3 bulan—paling tidak buatku—ceritanya akan mulai terasa seperti perasaan ganjil.
  32. Aku ingin menulis 10 halaman sehari, +/- 2000 kata. Kadang-kadang, kalau ada kesulitan mengeluarkan kata-kata, aku berkutat hingga saat waktu minum teh.
  33. Bantuan terbesar bagi produktivitas yang teratur adalah bekerja dalam suasana tenang.
  34. Engkau bisa membaca di mana saja, tetapi kalau bicara tentang menulis, ruang baca kecil di perpustakaan, bangku-bangku di taman dan apartemen sewaan dapat menjadi pilihan terakhir. Sebagian besar dari kita melakukan kerja terbaik di tempat kita sendiri. Sebelum punya satu tempat sendiri, kau akan menyadari bahwa sulit sekali mencanangkan tekad baru untuk menulis dengan sungguh-sungguh.
  35. Pada saat engkau masuk ke dalam proyek tulisan yang baru dan menutup pintu, kau harusnya sudap mantap dengan tujuan menulis setiap hari. Seperti pada kegiatan berolahraga, hal terbaik adalah menetapkan target yang rendah terlebih dahulu agar tidak dihinggapi kekecewaan. Kusarankan kau menulis ribuan kata per hari, dan karena aku merasa sedang merasa murah hati, maka kusarankan kau mengambil satu hari libur dalam seminggu, paling tidak untuk mulai menulis. Jangan lebih dari sehari karena itu akan membuat kau kehilangan kesegaran dan kesiapan ceritamu. Dengan tujuan yang telah ditetapkan, engkau dapat menetapkan bahwa pintumu akan tetap tertutup hingga tujuan tercapai.
  36. Bagaimana aku menulis? Sekata demi kata. Akan tetapi engkau butuh ruangan, engkau butuh pintu, dan engkau butuh tekad untuk menutup pintu. Kau juga memerlukan tujuan yang konkret. Makin lama kau memegang teguh dasar-dasar ini, maka kegiatan menulis ini akan menjadi semakin mudah.
  37. Sekarang pertanyaan besarnya adalah: Apa yang kautulis? Dan jawaban yang sama besarnya adalah: Apa saja yang kauinginkan. Apa saja … sepanjang kau bicara jujur.
  38. Tulislah apa yang kau sukai, lalu tambahkan aspek kehidupan dan buatlah menjadi karya unik dengan cara mencampurnya dengan pengetahuan pribadimu sendiri mengenai kehidupan, persahabatan, hubungan antarmanusia, dan pekerjaan. Terutama masalah pekerjaan.
  39. Kau perlu ingat bahwa ada perbedaan antara menjelaskan apa yang kau ketahui dan menggunakan pengetahuan itu untuk memperkaya cerita. Pengetahuan yang digunakan untuk memperkaya cerita inilah yang bagus. Sedangkan mengurus orang tentang apa yang kau ketahui, jelas tidak bagus.
  40. Cobalah untuk berani. Pergi dan petakan posisi para musuh, lalu kembali dan ceritakan kepada kami apa yang kau ketahui.
  41. Menurutku, ada 3 bagian dalam suatu cerita dan novel: narasi yang menggerakkan cerita dari titik A ke titik B dan akhirnya sampai ke titik Z; deskripsi, yang menimbulkan realitas kesadaran bagi pembaca; dan dialog, yang buat tokoh-tokohnya hidup melalui ucapan-ucapannya.
  42. Sedapat mungkin aku tidak melakukan: membuat alur cerita dan berbohong. Tugas penulis adalah memberi mereka tempat untuk berkembang (dan tentu saja menuliskannya). Aku lebih banyak bersandar pada intuisi, berdasarkan pada situasi dan bukan cerita. Tugasku bukan membantu mereka bekerja sendiri atau memanipulasi mereka, melainkan memerhatikan apa yang terjadi dan menuliskannya. Cerita itu sesuatu yang perlu dihargai dan dapat dipercaya.
  43. Deskripsi adalah apa yang membuat pembaca bertindak sebagai partisipan dalam suatu cerita melalui media indrawinya. Deskripsi yang bagus adalah keterampilan yang dipelajari dan merupakan salah satu alasan utama mengapa kau tidak berhasil. Jika tidak banyak membaca dan menulis.
  44. Deskripsi itu bukan hanya sekadar pertanyaan mengenai bagaimana, tetapi juga mengenai berapa banyak. Dengan banyak membaca, kau akan terbantu menjawab berapa banyak, dan hanya dengan menulis kau akan terbantu menjawab pertanyaan bagaimana. Kau dapat belajar hanya dengan melakukannya.
  45. Deskripsi dimulai dengan visualisasi apa yang engkau inginkan dialami oleh pembaca, dan diakhiri dengan saat kau menerjemahkan apa yang kau lihat dalam benak ke dalam bentuk kata-kata dalam satu halaman. Memang sulit sekali.
  46. Kalau kau ingin jadi penulis sukses, kau harus mampu menggambarkannya, dan dengan cara yang membuat pembaca tulisanmu tergetar karena mengenalinya.
  47. Deskripsi yang sedikit membuat pembaca merasa kabur dan bingung. Deskripsi yang berlebihan membuat pembaca terkubur dalam detail dan bayangan. Oleh karena itu, yang terbaik adalah mencari jalan tengah. Penting juga diketahui apa yang akan digambarkan atau dideskripsikan dan apa yang dapat dibiarkan saja tanpa deskripsi sambil kau meneruskan pekerjaan utama, yaitu menyampaikan cerita.
  48. Deskripsi bermula dari imajinasi penulis, tetapi harus berakhir di benak pembaca.
  49. Kupikir tempat kejadian dan bagaimana kejadian itu berlangsung lebih penting bagi indra pembaca untuk dapat benar-benar berada di dalam cerita daripada deskripsi atau gambaran fisik para tokoh.
  50. Penting untuk diingat bahwa semua itu bukan masalah latar belakang tempat, melainkan lebih ke masalah cerita dan selalu tentang cerita.
  51. Kelemahan paling umumdan sekali lagi, masuk dalam jebakan ini dapat disebabkan oleh tidak cukup banyak membacaadalah penggunaan tamsil, metafora, dan khayalan yang klise.
  52. Kunci untuk deskripsi yang bagus dimulai dengan melihat secara jelas dan diakhiri dengan menulis secara jelas, jenis penulisan yang menggunakan imajinasi segar dan kosakata sederhana.
  53. Seperti pada aspek-aspek lain dari seni narasi, keterampilanmu akan meningkat dengan berlatih, tetapi latihan tidak akan pernah membuatmu menjadi sempurna. Mengapa kau harus sempurna? Apa kesenangan yang diperoleh? Makin keras kau berusaha untuk membuat narasi dengan jelas dan sederhana, makin banyak kau belajar mengenai kompleksitas dialek. Dialek yang penuh jebakan makna, yang berharga; yang sangat penuh jebakan. Latihlah seninya, ingatkan selalu dirimu bahwa tugasmu adalah mengatakan apa yang kau lihat, dan lanjutkan ceritamu.

Berlanjut di Bagian 2 ya :)

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply