Bahasa Inggris memang sudah dikenal sebagai bahasa internasional. Tapi tidak hanya itu. Bahasa Inggris juga memiliki julukan lain, yaitu bahasa Inggris sebagai lingua franca dan bahasa Inggris sebagai bahasa dunia (lihat Erling, 2005; Jenkins, 2006; McArthur, 2004). Selain itu, ada julukan lain lagi yang menurutku mengarah pada definisi serupa dengan ‘internasional’ dan ‘dunia’, yakni bahasa Inggris sebagai bahasa global (lihat Crystal, 2003; Graddol, 2006). Mungkin di antara julukan bahasa Inggris tersebut, kalian bertanya-tanya mengenai apa itu arti dari bahasa Inggris sebagai lingua franca.
Sebetulnya, untuk membahas bahasa Inggris sebagai lingua franca (English as a lingua franca/ELF) bisa menjadi topik makalah tersendiri. Tapi tenang saja, aku menulis ini berniat menyenangkan pembaca. Aku ingin menyajikan suatu konten ilmiah secara ‘nge-pop’. Lagipula ini blog kan, jadi mari kita bersenang-senang. Urusan penulisan bergaya makalah kita bertemu di jurnal saja, oke?
Nah, jadi apa yang kita bahas? Oh, darimana sebaiknya kumulai menjelaskan lingua franca ini. Mari kita buat secara sederhana saja. Kau sudah tahu kan kalau bahasa Inggris ini digunakan oleh lebih dari 1 milyar orang di seluruh dunia. Coba sekarang kutanya padamu, mereka yang bertutur bahasa Inggris ini lebih banyak antar sesama penutur jati (native speaker/NS) dan NS, atau NS dan non-penutur jati (NNS), atau malah sesama non-penutur jati (NNS dan NNS)? Kau paham singkatan ini kan?
•••
Kalau kau masih ingat tulisanku di Bagian 1 (kalau tidak, cepatlah kau cek lagi), menurut Vu (2012) dari 1,4 milyar orang yang menggunakan bahasa Inggris hanya sekitar 350 juta orang yang menggunakan bahasa Inggris ini sebagai bahasa ibu mereka. Simpulannya, “Bahasa Inggris kini digunakan oleh lebih banyak non-penutur jati (NNS) daripada penutur jati (NS)” (Kachru, 1995b; Brown, 1993; Norton, 1998; Scollon, 1997) sebagaimana dikutip Hamp-Lyons & Zhang (2001: 102). Dari sini kau bisa lihat, jauh sebelum data perkembangan bahasa Inggris Vu (2012) rilis, para sarjana tersebut memang sudah menyatakan fenomena NNS-lah yang mendominasi penggunaan bahasa Inggris.
Artinya, ketika bahasa Inggris digunakan antar sesama NNS, maka ayolah, mereka tidak perlu harus mahir berbicara terstruktur terlebih dahulu seperti dalam film The King’s Speech. Dikatakan bahasa Inggris sebagai lingua franca sebab tujuan memelajari bahasa Inggris bagi NNS, terutama NNS di negara-negara di Lingkaran Berkembang (kau harus ingat istilah tentang Lingkaran Berkembang ini, aku sebutkan itu di Bagian 1), bukan penguasaan seperti penutur jati (NS) melainkan kemampuan menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi yang nyata yang dapat dipahami (intelligible).
Bayangkan, kau ini jadi turis (dari Indonesia) yang pergi ke Bangkok dan kau berada di katakanlah Khao San Road tempat segala souvenir dan penginapan murah bagi backpacker. Lalu bagaimana kau memulai buka omongan untuk pesan kamar misalnya? Kurasa kau tidak menggunakan bahasa tarzan bukan. Kau akan gunakan bahasa Inggris yang lawan bicaramu juga ialah NNS sama sepertimu. Omong-omong, kau pernah dengar orang Thailand berbicara bahasa Inggris? Tentu akan bagus sekali kalau kau sudah membekali dirimu dengan kemampuan bahasa Inggris yang fasih. Tetapi ingat perhatikan si interlocutor (lawan bicara), sehingga gunakan bahasa Inggris ini sebagai lingua franca. Saling memahami satu sama lain, biar kalian nyambung (ini penting). Nah karena itu, Canagarajah (2006) menyatakan bahwa:
Untuk benar-benar mahir dalam bahasa Inggris saat ini, kalian harus multidialektal. Hal itu tidak berarti bahwa kalian perlu memiliki kemahiran produksi di semua jenis bahasa Inggris. Salah satu kebutuhannya ialah kapasitas dapat bernegosiasi variasi yang beragam untuk memfasilitasi komunikasi. Memiliki kompetensi pasif, yakni mampu untuk memahami variasi baru ini merupakan bagian dari multidialektal … Kemahiran (saat ini) berarti kemampuan untuk berpindah di antara varietas bahasa Inggris dan masyarakat tutur yang berbeda (hlm. 223).
Wah, apa kata Canagarajah? Harus multidialektal? Tunggu dulu, kebanyakan kita-kita kan masih berupaya untuk mahir sesuai model standar bahasa Inggris (AmE/BrE). Nah, ditambah ini pula. Justru ini menarik bukan? Kalau menurutmu ini menjadi suatu masalah, sini kuberitahu: ‘Look on the bright side, problem is indeed an apportunity. So please, do not make yourself as a problem itself.’ Kubilang menarik karena bukankah ini malah jadi nambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan? Makanya, aku berbagi beberapa info yang bisa kubagi ke kalian seputar ini. Coba mari kita tengok contoh variasi aksen dan dialek bahasa Inggris orang India (Indian English) dibandingkan dengan AmE dan BrE (lihat Gramley & Pӓtzold, 2004).
Tabel 1 Contoh identifikasi bentuk variasi aksen bahasa Inggris India atau Indian English (IndE)

Keterangan.
AmE : American English
BrE : British English
RP : Received Pronunciation
IndE : Indian English
Tabel 2 Contoh identifikasi bentuk variasi dialek IndE (perhatikan khususnya pada kata yang dicetak tebal)
Dilihat dari tabel di atas, kita cenderung menilai kalau variasi aksen dan dialek bahasa Inggris orang India itu merupakan bahasa Inggris rusak (broken English). Mungkin kalian berpikir apakah sebetulnya yang namanya variasi bahasa Inggris itu berupa broken English? Kalian tahu kan bahwa penggunaan bahasa itu sebetulnya merupakan bentuk konvensi di antara penutur dan petutur dalam suatu wilayah. Jadi, kasus Indian English ini bukan lagi mengacu pada konvensi AmE/BrE, melainkan bahasa Inggris yang digunakan ini sudah ‘milik atau kepunyaan’ konvensi orang India. Bentuk konvensi bahasa Inggris seperti itulah yang dipakai di sana. Adanya beberapa klaim kepemilikan bahasa Inggris sesuai dengan konvensi di beberapa negara berbeda menimbulkan istilah World Englishes (disingkat WEs).
Sejauh ini, negara-negara yang dapat mengklaim kepemilikan bahasa Inggris ialah negara-negara di Lingkaran Luar. Perkara apakah negara-negara di Lingkaran Berkembang dapat mengklaim kepemilikan bahasa Inggris, atau dengan kata lain dapat diterima bentuk variasi bahasa Inggrisnya, masih diperdebatkan. Akan tetapi, Ren (2014) menjawab pertanyaan: “Dapatkah varietas bahasa Inggris lokal (non-penutur jati) muncul di negara di Lingkaran Berkembang?” sebagai berikut:
Ketika orang menggunakan bahasa Inggris, tidak peduli sebagai varietas lokal atau sebagai lingua franca, mereka tidak hanya menggunakannya sebagai alat komunikasi tetapi juga melalui penggunaan bahasa Inggris tersebut dapat mengekspresikan identitas mereka. Ketika orang-orang di Lingkaran Berkembang berkomunikasi dalam bahasa Inggris, mereka tidak hanya sesuai dengan varietas asli bahasa Inggris tetapi bahasa Inggris mereka beradaptasi dengan perubahan agar sesuai kepentingan mereka sendiri. Bahasa Inggris, bagi pengguna di Lingkaran Berkembang, bukan perkara milik yang disewa dari penutur jati. Mereka pun memiliki bahasa Inggris (Widdowson, 2003). Kepemilikan bahasa Inggris terletak pada orang-orang yang menggunakannya, yang memiliki kekuatan untuk beradaptasi dan mengubahnya (Brumfit, 2001), tidak terbatas pada orang-orang di Lingkaran Dalam dan Lingkaran Luar (hlm. 209).
Wah, jadi bahasa Inggris orang Indonesia bagaimana nih? Bisa mengklaim kah? Tidak mudah dijawab juga, perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi, bisa saja berpotensi memunculkan variasi karena menurut Kirkpatrick (2010), “Perlu mengingat bahwa Indonesia adalah masyarakat kaya multikultural dan multibahasa dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang yang, bersama-sama, mewakili lebih dari 400 kelompok etnis dan berbicara lebih dari 200 bahasa” (hlm. 2).
Okelah ya, kalau bicara bahasa Inggris di luar NS memang berpotensi adanya variasi. Lalu bagaimana dengan AmE dan BrE itu sendiri? Ada variasinya kah? Nah, ada nih contoh dari bentuk variasi dialek AmE dan BrE yang pada Bagian 1 belum kujabarkan. Tapi … berhubung itu cukup panjang, maka kulanjutkan saja di Bagian 3, oke? :D
See ya!
Karin Sari Saputra
•••
Referensi
Canagarajah, S. (2006). Changing communicative needs, revised assessment objectives: Testing English as an international language. Language Assessment Quarterly, 3(3): 229-242.
Crystal, D. (2003). English as a global language, second edition. Cambridge: CUP.
Erling, E.J. (2005). The many names of English: A discussion of the variety of labels given to the language in its worldwide role. English Today 81, 21(1): 40-44.
Graddol, D. (2006). English next: Why global English may mean the end of ‘English as a foreign language’. UK: British Council.
Gramley, S. & Pӓtzold, K-M. (2004). A survey of modern English, second edition. London: Routledge.
Hamp-Lyons, L. & Zhang, B. W. (2001). World Englishes: Issues in and from academic writing assesment. Dalam John Flowerdew & Matthew Peacock (eds.). Research perspective on English for academic purposes, pp. 101-116. Cambridge: Cambridge University Press.
Jenkins, J. (2006). Current perspectives on teaching world Englishes and English as a lingua franca. TESOL Quarterly, 40(1): 157-181.
Kirkpatrick, A. (2010). English as an Asian lingua franca and the multilingual model of ELT. Language Teaching, pp. 1-13. CUP.
McArthur, T. (2004). Is it world or international or global English, and does it matter? English Today 79, 20(3): 3-15.
Ren, W. (2014). Can the expanding circle own English? Comments on Yoo’s ‘Nonnative teachers in the expanding circle and the ownership of English’. Applied Linguistics 2014, 35(2): 208–212. OUP.
Vu, P. T. (2012). English in southeast asian countries. Thesis. Année universitaire.
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
