“Tukang Pipa Ledeng di Luar Angkasa”

Judul itu ide Stephen King. Aku tidak bohong. Belum selesai kubaca buku ‘Stephen King On Writing’, entah kenapa serasa menggelikan padahal ia penulis cerita horor, bukan? Kenapa ia jadi konyol dan kocak sekali bertutur di buku ini? Oh, tunggu apakah ini berarti aku suka kau, King? Berapa umurmu sekarang?

•••

Aku benar-benar serius kalau judul “tukang pipa ledeng di luar angkasa” adalah secara harfiah berasal dari King. Aku tergelitik untuk memunculkan sisi humorku ke dalam cerita. Aku sedang mencoba menuangkannya, jadi kalau kubilang cerita yang ingin kubagi ke kalian ini lucu (menurutku tentu saja), dengan rendah hati aku tak ingin memaksa kalian untuk tertawa. Tapi, semoga saja ini mampu menggerakkan sedikit ujung bibirmu ke atas. Tidak perlu sungkan, oke?

Hei, tapi tunggu dulu. Sebelum terjadi kesalahpahaman di antara kita, cerita yang ingin kubagi ini bukan tentang ada kebocoran pipa ledeng di luar angkasa (memangnya ada?); dan sekonyong-konyong datanglah tukang pipa ledeng dengan lengan kekarnya (kurasa para tukang seharusnya berlengan kekar, bukan?) mampu menghalau kemungkinan kebocoran air yang berpotensi membanjiri bumi. Aku tahu itu sepertinya menarik, tapi mungkin bukan aku yang seharusnya bercerita. Setidaknya belum. King pun kukira setuju karena judul itu bukan ke arah komedi tapi horor. Bisa kau bayangkan?

Nah, ini adalah cerita di dalam cerita dan masih sepotong-sepotong. Jadi … mungkin aku benar-benar ‘ngawur’ malam ini. Tapi, kita harus sepakat. Tolong jangan berprasangka kalau cerita ini tentang aku. Ini bukan aku. Seharusnya bukan. Jadi, bayangkan saja orang lain.

•••

Aku tidak tahu apakah stereotip anak kos (baca: indekos) memang berkisar pada kata ‘kelaparan’? Kau tahu kan fakir makanan. Ayolah, apa itu benar? Katakan saja itu benar karena sepertinya aku kelaparan. Saat seperti ini, seketika aku membayangkan diriku dengan sedikit dramatis seolah-olah tanganku mulai menggapai-gapai pertanda mau pingsan; dan sudah keburu pingsan sebelum sempat meminta pertolongan. Konyol sekali, kan? Ini bukan lantaran aku sibuk sehingga aku lupa makan tapi memang bisa jadi benar. Hei, mahasiswa itu mungkin bisa lebih sibuk daripada presiden. Malangnya, aku tidak sibuk dan tidak makan karena benar-benar sedang mengalami krisis materi (no moneyugh, sungguh klasik). Ini suatu pengumuman yang memalukan dan aku tidak bangga dengan ini.

Karena kelaparan imajinasiku semakin ‘ngawur’ dan meluber laksana bah. Tanggul jebol ini mesti kutampung. Mungkin aku bisa bergaya dengan mengangkat kaki sebelah kananku yang kutaruh pada ujung meja sambil bersedekap. Kini, aku bisa melihat sekelilingku dengan optimis. Latar kamarku berganti dengan aku berdiri di anjungan kapal siap menerjang ombak. Tak cukup berpose, maka tanganku kemudian menggebrak meja seraya berkata, “Oke, aku harus lakukan sesuatu. Karena modal yang kupunya adalah imajinasi, kuputuskan aku akan jadi penulis.” Setelah mengatakan itu aku pun tertawa, “HAHAHA.” Menggelikan. Oh, apa harus begitu? Jadi penulis sepertinya mudah saja bukan. Aku hanya menyusun kata bla-bla-bla dan tulis ‘TAMAT’. Gampang, kan? Kemudian, aku bergerilya mencari seorang baik hati yang berkenan membeli ceritaku dan masalah kelaparan pun beres. Wah, indahnya solusi itu. Aku suka ini. Terdengar seperti sebuah proyek besar.

Baiklah, aku ingin mencoba membuat cerita sepanjang 30.000 kata atau sebut saja novel. Ya, kau tahu untuk alasan terdesak begini aku berkhayal ceritaku bakal sukses dan menjadi suatu lompatan besar dari segi materi. Tentu aku tidak akan terlalu kelaparan.

Aku sebenarnya penggemar cerita petualangan. Sungguh, aku benar-benar terpesona sewaktu aku kecil dahulu membaca cerita petualangan yang sangat memikat daya imajinasiku. Aku jarang menemukan cerita-cerita semacam itu sekarang. Entahlah, mungkin karena aku juga tidak terlalu serius mencari di toko-toko buku. Mungkin ada, mungkin juga tidak; atau kalau ada tapi malah tak memenuhi hasrat dan harapanku. Jadi, kenapa tidak kalau aku buat saja sendiri. Cerita yang nanti bisa kubaca berulang-ulang sendiri di masa depan dan bisa kuwariskan. Warisan dariku ialah cerita. Cukup bernilai bukan.

Minat terbesarku, atau dengan kata lain, aku tergila-gila pada segala sesuatu tentang perpustakaan (ada banyak buku di sini!), petualangan dalam bentuk jalan-jalan, dan alam tentu saja. Ya ampun! Aku benar-benar jatuh cinta pada hal itu! Tapi, mungkin sewaktu aku kecil dahulu kalau bisa kubayangkan saat melihat pulpen atau pensil dan kertas dan semacam itulah aku merasa mataku berbinar-binar. Padahal kalau dingat-ingat aku ini dyslexia. Aku telat membaca. Aku tidak suka belajar karena aku tidak bisa menuliskan jawaban dengan benar. Tapi coba lisankan pertanyaan itu kepadaku, maka aku bisa menjawabnya dengan  benar. Aku tahu itu dari ibuku. Ibuku bercerita tentang itu kepadaku. Selain itu, aku tidak bisa mengikat tali sepatuku. Aku kesulitan dengan ini karena itu aku sering telat. Menyebalkan bukan. Aku juga membenci olahraga kasti. Aku benar-benar tidak bisa mengira kapan saatnya bola itu datang dan siap untuk kupukul. Saat itu merupakan masa-masa cukup sulit bagiku. Aku lebih sering berbuat onar. Aku ingat hal itu, tapi ayolah seharusnya kau percaya kalau aku ini sebetulnya anak baik. Aku merasa kalau saat itu pun aku menjadi sasaran bullying. Hanya karena mungkin aku berpikir ‘aneh’, itu adalah hakku. Ya, sudahlah. Kabar baiknya, benda-benda tulis-menulis ini tetap menakjubkan buatku. Aku benar-benar tergugah bahwa benda-benda seperti itu bisa memberi suatu perbedaan. Ada coretan, ada sesuatu yang bisa kuhasilkan dari benda itu. Aku menyukainya. Aku tersenyum padanya. Aku benar-benar menyukainya.

Jadi, apakah proyek besarku ini bisa berjalan? Aku pernah menulis (mengetik) tentang suatu cerita yang sudah lama sekali kubiarkan sehingga sekarang menjadi fosil yang semakin sulit kugali. Tapi aku menyukai gagasan cerita ini. Aku tampak sangat sibuk serasa tidak ada waktu untuk melanjutkan ceritanya. Kalau aku bilang sangat sibuk, aku benar-benar terdengar menyebalkan ya? Kau benar, ternyata kesibukanku malah berkutat pada banyaknya cucian dan setrikaan (kau pasti bertanya-tanya apa aku ini benar-benar mahasiswa atau tukang laundry). Sebetulnya, itu berarti aku tidak memiliki komitmen yang cukup kuat untuk konsisten menulis.

Pada intinya, aku ingin mengangkat cerita dengan latar perpustakaan. Inspirasiku bermula dari perpustakaan. Maafkan aku Saudara-Saudara, aku benar-benar suka perpustakaan. Adakah istilah untuk pencinta perpustakaan? Kau boleh sematkan istilah itu kepadaku!

Cerita ini bernarasi petualangan dengan melibatkan konteks perpustakaan dan sepertinya tokoh utama ceritaku nanti adalah seorang laki-laki. Aku masih menimbang-nimbang apakah tokoh laki-laki ini seorang bocah atau remaja tanggung. Lalu, ada suatu rahasia, teka-teki, intrik di sana. Wah, aku merasa deg-degan dan ini konyol sekali. Aku benar-benar berhasrat kalau cerita ini andai saja terjadi padaku karena kau tahu aku membayangkan sebuah penemuan yang berujung pada suatu terowongan atau jalan rahasia (imajinasiku sewaktu kecil) dan itu mungkin menuju ke Alexandria atau Tacoma? Omong-omong, kau tahu tentang Tacoma? Aku mendapatkan nama Tacoma dari mimpi. Singkat cerita, di mimpi itu aku ngobrol dengan bule (lagi-lagi aku terdengar menyebalkan ya. Tapi memang begitu mimpinya). Kurasa bulenya ada dua dan pas kutanya asal mereka, yang satu menjawab dari Frankfurt, Germany (ini jelas aku tahu) dan satunya lagi menjawab dari Tacoma. Keningku berkerut mendengar Tacoma, aku berpikir mungkin maksud si bule itu Tahoma. Tapi apa Tahoma nama daerah? Hei, tunggu dulu itu kan mimpi. Ya sudah aku abaikan saja. Lucunya, tiba-tiba aku iseng ingin cari Tacoma di Google. Sumpah, Tacoma itu ada! Tacoma itu nama kota di Washington! Padahal asli deh aku sama sekali belum pernah baca tentang Tacoma.

Menarik, kan? Mungkin bakal tambah menarik kalau aku campur-adukkan saja nanti ceritanya dengan menyeret tokoh utama terdampar di Tacoma. Suka-suka penulis kan. HAHAHA.

Oh, sungguh sangat menyakinkan proyekku ini. Bagaimanapun juga sebelum kumulai, aku harus makan dulu. Lemas. Lemas. Nah, baik-baiklah sama anak kos ya!

•••

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply