Hai kalian yang lagi belajar bahasa Inggris, semangat ya! Belajarnya sudah sampai mana? Belajarnya jangan sendirian ya karena teman-temanmu yang lagi belajar bahasa Inggris juga banyak :)
Memang seberapa banyak?
•••
Nah, menurut Ostler (2005) sebagaimana dikutip Graddol (2006: 62) ternyata perolehan angka statistik mengenai perkiraan pengguna bahasa Inggris sebagai bahasa pertama dan bahasa kedua di seluruh dunia, yaitu sebanyak 508 juta orang dan ini menempati peringkat kedua setelah Mandarin. Sementara itu, menurut Vu (2012) jumlah pengguna bahasa Inggris diperkirakan sekitar 1,4 miliar orang, yang hanya sekitar 350 juta berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa ibu (hlm. 13).
Wah, kalian bisa lihat ya terjadi peningkatan pengguna bahasa Inggris yang cukup signifikan dari tahun 2005 ke 2012. Karena itu, tidak heran kalau bahasa Inggris menjadi bahasa yang paling populer untuk dipelajari sebagai bahasa kedua dan/atau sebagai bahasa asing (Flowerdew & Peacock, 2001: 9).
Di Indonesia, bahasa Inggris merupakan bahasa asing, yaitu bahasa yang tidak banyak digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Penggunaan bahasa Inggris dalam interaksi sehari-hari pun terbatas. Meskipun begitu, dalam tingkatan masyarakat tertentu bahasa Inggris merupakan bahasa yang kerap kali digunakan sebagai alat tutur mereka. Bagi sebagian orang dengan profesi yang bergerak di bidang, misalnya, perdagangan dan jasa, pariwisata, hiburan, dan sebagainya, bahasa Inggris sudah menjadi bahasa yang wajib mereka kuasai. Akan tetapi, pada praktik penggunaannya, bahasa Inggris orang Indonesia tampaknya tidak selalu cenderung pada model American English dan British English sebagaimana yang mereka pelajari di sekolah atau pun di tempat kursus.
Sebelum itu, kalian pasti sudah familier atau malah sering mendengar tentang istilah American English (AmE) dan British English (BrE). Kira-kira kalian cenderung menggunakan model yang mana?
Nah, walau kemungkinan besar kalian tahu istilah AmE dan BrE, tetapi menurutku kalian tidak terlalu memusingkan harus cenderung menggunakan model yang mana. Lagipula apa bedanya?
•••
FYI, bahasa Inggris standar adalah bentuk modern bukan dari sastra Inggris kuno, tetapi dari dialek lokal London kuno, yang telah menjadi bahasa standar mula-mula daerah dan kemudian nasional, yang menyerap banyak sekali bentuk dari dialek-dialek lokal dan daerah lain. Penelitian menunjukkan bahwa tiap-tiap bahasa telah mengalami perpindahan struktur pada banyak bentuk-bentuknya, yang disebabkan oleh pencampuran bentuk dari dialek-dialek lain[1].
Sementara itu, bahasa Inggris yang dibawa ke Amerika oleh para penetap yang pertama rupanya berupa tipe-tipe standar dan substandar yang bercorak daerah, dan bukan dari dialek-dialek lokal. Ciri-ciri khas bahasa Inggris Amerika substandar agaknya ciri-ciri yang umum pada bahasa Inggris British dialektal dan substandar, dan bukan yang dimasukkan dari dialek-dialek lokal British yang khusus[2].
Tunggu sebentar deh. Memang perlu ya mengetahui model bahasa Inggris?
•••
Jadi, AmE dan BrE itu merupakan dua model bahasa Inggris standar yang seharusnya kita tahu kedua-duanya. Tapi, seperti yang disebutkan di awal bahwa bahasa Inggris itu digunakan oleh 1 milyar orang lebih di seluruh dunia. Makanya, kebayang dong kalau ternyata bahasa Inggris setiap orang itu tidak selalu mudah untuk dimengerti. Misal, bahasa Inggris orang India, Singapura atau Australia atau bahkan China, nah bagaimana menurut kalian?
Sebetulnya, penyebab bahasa Inggris dari berbeda negara tidak selalu mudah dimengerti karena timbulnya variasi aksen dan dialek. Istilah aksen (terkadang disebut aksen dialektal) merujuk hanya pada sistem pengucapan yang digunakan oleh penutur; sedangkan dialek merujuk pada tata bahasa/gramatika dan kosakata si penutur (Freeborn, French & Langford, 1993: 59). Sebagai contoh, kalau kalian mau tahu aksen BrE, coba deh tonton film Harry Potter atau Tintin. Pasti bakal berasa bedanya dengan pengucapan atau aksen AmE seperti di film Transformer. Anyway, kalian punya software kamus Oxford atau Cambridge? Dari kedua kamus itu, kalian bisa belajar mencermati aksen AmE dan BrE. Coba, deh! Berikutnya, kalau mau tahu tentang perbedaan dialek AmE dan BrE bisa dilihat dalam korespondensi (email) atau surat kabar, juga ketika berada dalam konteks bisnis. Tentang perbedaan dialek AmE dan BrE akan aku jelaskan contohnya kemudian.
Selain itu, kalian mesti tahu ini juga nih, kalau bahasa Inggris itu dapat dilihat berdasarkan tingkatan ‘lingkaran’. Menurut Kachru (1982) sebagaimana dikutip Hamp-Lyons & Zhang (2001: 102), “Bahasa Inggris diucapkan dan/atau digunakan terutama oleh tiga jenis atau ‘lingkaran’ masyarakat, yaitu: (1) Lingkaran Dalam, misalnya Inggris, Amerika Serikat yang memiliki bahasa Inggris sebagai bahasa pertama; (2) Lingkaran Luar, misalnya Singapura, Hong Kong yang memiliki bahasa Inggris bukan sebagai bahasa pertama, namun merupakan bahasa resmi negara/wilayah; dan (3) Lingkaran Berkembang, misalnya Jepang, Tiongkok (atau China) yaitu bahasa Inggris yang kian menjadi semakin banyak digunakan.” Untuk lebih jelasnya, berikut ini ketiga tabel dari ketiga kelompok negara-negara yang berbicara dalam bahasa Inggris (Axtell, 1995: 78-80).
Tabel 1 Kelompok negara-negara dengan bahasa Inggris sebagai bahasa asli mereka
| Australia | Ireland |
| Bahamas | Jamaica |
| Barbados | New Zealand |
| Canada (kecuali Quebec) | Trinidad and Tobago |
| Grenada | United Kingdom |
| Guyana | United States |
Tabel 2 Kelompok negara-negara dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar atau bahasa resmi/tidak resmi
| Bahrain | Mauritius |
| Bangladesh | Nauru |
| Bostwana | Nicaragua |
| Burma (Myanmar) | Nigeria |
| Cameroon (west) | Pakistan |
| Cyprus | Panama |
| Dominican Republic | Papua New Guinea |
| Egypt | Philippines |
| Ethiopia | Rhodesia |
| Fiji | Senegal |
| Gambia | Seychelles |
| Ghana | Sierra Leone |
| India | Singapore |
| Israel | Somalia |
| Kenya | Surinam |
| Kuwait | Swaziland |
| Lesotho | Tanzania |
| Liberia | Tonga |
| Libya | Uganda |
| Malawi | United Arab Emirates |
| Malta | Yemen (southern) |
| Malaysia | Zambia |
Tabel 3 Kelompok negara-negara dengan bahasa Inggris yang secara luas dipelajari oleh masyarakatnya
| Afghanistan | Ivory Coast |
| Algeria | Japan |
| Angola | Jordan |
| Austria | Libya |
| Brazil | Luxembourg |
| Burkina Faso | Madagascar |
| Burundi | Mexico |
| Central African Republic | Morocco |
| Chad | Nepal |
| China | Netherlands |
| Colombia | Niger |
| Costa Rica | Norway |
| Cuba | Portugal |
| Denmark | Romania |
| Finland | Russia |
| France | Saudi Arabia |
| Gabon | South Korea |
| Germany | Sweden |
| Greece | Switzerland |
| Guinea | Syria |
| Honduras | Thailand |
| Hong Kong | Togo |
| Iceland | Turkey |
| Indonesia | Venezuela |
| Italy | Zaire |
Sebagai ilustrasi, berikut ini satu kasus dari kemunculan variasi bahasa Inggris orang Singapura atau mungkin populer dengan SingLish.
Buyer : How much?
Seller: Twenty dollar-lah.
Buyer : Too expensive. Fifteen-lah. Can?
Seller: Can, can, can! (Yes, you may take it for fifteen dollars.)
Lalu, ada lagi variasi bahasa Inggris orang Malaysia yang acap kali menyelipkan bahasa Melayu ke dalam tuturan bahasa Inggris mereka. Dengan kata lain, menurut Lowenberg (1991: 367) sebagaimana dikutip Kirkpatrick (2007: 123-24), Malaysian English dalam beberapa frasanya kerap meminjam dari bahasa lokal merupakan sesuatu hal yang wajar. Sebagai contoh:
‘The residents will repair the roofs on a gotong-royong basis.’ (gotong royong means some from of communal co-operation)
Contoh lainnya, Hashim (2002: 83) (ibid.):
‘The corruption case as highlighted under the Road Transport Department’s lesen terbang is one … (lesen terbang literarally means ‘flying licence’ and refers to illegal licences)
Menariknya, variasi aksen dari dua standar bahasa Inggris (AmE dan BrE) bisa juga berpotensi salah pengertian seperti tampak pada ilustrasi berikut.
American (to an Englishman): Say, what’s your job?
Englishman: I’m a clerk.
American (astonished): You mean you go ‘tick-tock, tick-tock’?
[RP /klɑ:k/ ‘clerk’ = GenAm /klɑ:k/ ‘clock’]
(Strevens 1972: 68) dalam Gramley & Pӓtzold (2004: 273)
Nah, itu baru variasi dari bahasa Inggris yang katakanlah formal atau casual. Kira-kira kalau bahasa Inggris slang bagaimana ya? Wah, lebih berpotensi lagi bikin salah pengertian. Pernah kan menemui bahasa Inggris dalam bentuk idiom, slang, jargon, buzz words, akronim, dan istilah di bidang olahraga dan militer. Misalnya, ada nih situasi dalam konteks AmE ketika pelayan restoran bertanya, “Watchawananonnit?” (Terjemahan: “What do you want on your sandwich?”) dan berlanjut dengan mengatakan, “Hereyago.” (“Here you go.”) ketika menghantarkan menu pesanan (Axtell, 1995: xiv); waduh, aku sih kalau ada di situasi seperti itu bakal bengong mungkin ya :D
FYI, dalam istilah linguistik, tuturan kata “Watchawananonnit?” dan “Hereyago” merupakan suatu bentuk yang dinamakan asimilasi dan elisi pada sistem bunyi tuturan huruf vokal dan konsonan.
Lalu, penasaran juga nih bagaimana dengan bahasa Inggris orang Indonesia? Ibarat kata (no offense) kalau orang China (Tiongkok) berbahasa Inggris dengan rasa chop suey, orang India dengan rasa kari, dan orang Indonesia dengan rasa nasi goreng?
Faktanya, bagi sebagian besar orang Indonesia ada yang merasa kesulitan untuk mengucapkan kata ‘very’. ‘very’ ini bisa menimbulkan variasi aksen yang bikin salah pengertian, ‘very’ diucapkan ‘ferry’ atau ‘peri’? Jadi, kalian yang lagi berlatih pronunciation mesti sabar dan untuk pengajar juga mesti peka.
Kenapa ya kok ada dari kita yang tidak mudah untuk bisa langsung mengucapkan ‘very’ dengan fasih?
Jawabannya, karena bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris AmE/BrE memiliki klasifikasi bunyi konsonan dan vokal yang cukup berbeda. Coba deh perhatikan perbandingan keduanya dalam tabel berikut (lihat pada Dardjowidjojo, 2009). Oh iya, info ini bakal menambah pengetahuan kamu, kalau agak pusing sabar ya :D
Tabel 4 Klasifikasi Bunyi Huruf Vokal dan Konsonan antara AmE/BrE dan Bahasa Indonesia
| Simbol IPA AmE & BrE (Vokal+Diftong) | Simbol IPA AmE & BrE (Konsonan) | Simbol IPA Bahasa INA (Vokal+Diftong) | Simbol IPA Bahasa INA (Konsonan) |
| Vokal | b | Vokal | b |
| ɑ | d | i | d |
| æ | f | ɛ | f |
| ɛ | g | a | g |
| e | h | ə | h |
| ə | k | o | k |
| i | l | u | l |
| ɪ | m | ɪ | m |
| o | n | ɔ | n |
| ɔ | ŋ | Diftong | ŋ |
| u | p | aɪ | ñ |
| ʊ | r | aʊ | p |
| Diftong | s | ɔɪ | r |
| aɪ | ʃ | s | |
| aʊ | t | ʃ | |
| eɪ | tʃ | t | |
| əʊ | θ | tʃ | |
| ɔɪ | ð | w | |
| eə | v | x | |
| ɪə | w | y | |
| ʊə | z | z | |
| ʒ | dʒ | ||
| dʒ | |||
| ʔ |
Dilihat dari tabel di atas, bunyi huruf vokal Bahasa Indonesia dibanding bunyi huruf vokal dan diftong AmE/BrE berjumlah lebih sedikit, yakni hanya 8 (delapan) sedangkan pada diftong hanya memiliki 3 (tiga). Akibatnya, untuk mengucapkan kata-kata seperti, seat, heat, dan beat akan sama seperti sit, hit, dan bit.
•••
Nah, aku harap penjelasan di atas bisa menambah wawasan kalian seputar bahasa Inggris dan masih ada lagi yang lain sih. Jadi, nanti bakal berlanjut deh di Bagian 2 :D
See ya!
Karin Sari Saputra
•••
Referensi
Axtell, R. E. (1995). Do’s and taboos of using English around the world. Canada: John Wiley & Sons, Inc.
Dardjowidjojo, S. (2009). English phonetics and phonology: For Indonesians. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Flowerdew, J. & Peacock, M. (2001). Issues in EAP: A preliminary perspective. Dalam John Flowerdew & Matthew Peacock (eds.). Research perspective on English for academic purposes, pp. 8-24. Cambridge: Cambridge University Press.
Freeborn, D., French, P., Langford, D. (1993). Varieties of English: An introduction to the study of language, second edition. London: The MacMillan Press Ltd.
Graddol, D. (2006). English next: Why global English may mean the end of ‘English as a foreign language’. UK: British Council.
Gramley, S. & Pӓtzold, K-M. (2004). A survey of modern English, second edition. London: Routledge.
Hamp-Lyons, L. & Zhang, B. W. (2001). World Englishes: Issues in and from academic writing assesment. Dalam John Flowerdew & Matthew Peacock (eds.). Research perspective on English for academic purposes, pp. 101-116. Cambridge: Cambridge University Press.
Kirkpatrick, A. (2007). World Englishes: Implications for international communication and English language teaching. Cambridge: CUP.
Vu, P. T. (2012). English in southeast asian countries. Thesis. Année universitaire.
•••
Catatan kaki
[1] Penjabaran tersebut merupakan ekstraksi dan bersumber pada Bloomfield, L. (1995). Language. Diterjemahkan oleh I. Sutikno. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. (hlm. 311)
[2] hlm. 468
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.