Nggak Mau Pacaran! (Cerbung #3)


Say what you need to say
Say what you need to say
Say what you need to say
Say what you need to say

Ada hal yang seharusnya kau pahami bahwa hidup ini memiliki aturan. Entah itu aturan tertulis atau tidak, bahkan apakah itu aturan dari langit atau pun aturan buatan manusia. Dirimu tidak bisa begitu saja abai dan keras kepala.

Mungkin saja kau menyadari kalau dirimu sepertinya akan mengatakan ini kepada semua orang: ‘Jangan mengatur ini itu kepadaku, itu peraturan nomor satu. Jangan pernah mengguruiku, itu peraturan nomor dua.’ Itulah dirimu. Meskipun begitu, kau pasti mengerti kalau dirimu tidaklah satu. Juga, pada akhirnya, kau akan meyakini kalau dirimu tidak pernah sendiri karena kau memiliki separuh dirimu yang lain, yang mungkin menjadi tugasnya untuk mengatur dan menggurui dirimu.

•••

TIGA | 3

“Janet? Elo Janet?” Sapa seorang cowok kala itu. Di stasiun Manggarai.

“Eh, sorry siapa ya…”

“Elo gak ngenalin gue? Coba elo liat baik-baik.”

Dahi Janet mengernyit. Janet liat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Berdiri di depannya, seorang cowok memakai pakaian seragam bertuliskan PT. KAI. Ada tulisan nama di dada sebelah kanan.

“Raka Fahmi Dimara…” guman Janet.

“Iya gue Raka. Udah inget?”

“Hmm, Raka.. Raka.. ya ampun elo, Raka? Raka temen SD gue dulu? Ahk, gila, udah lama banget, apa kabar Raka? Eh iya kok elo ngenalin gue sih. Asli kaget nih gue.”

Dia tertawa kecil. Cakep. Sedikit terpana Janet ngeliat pesona Raka sekarang. Pertemuan yang gak disangka.

“Gue baik, Pril eh Janet ya.”

Janet tambah kaget. Pril? Dia bilang Pril? Kok bisa dia manggil gue itu ya, cuma keluarga gue yang panggil itu. Pril dari Janetta Aprillia Putri.

“Nanti kapan-kapan kita ketemu ya, kita ngobrol lebih banyak. Gue harus tugas dulu nih.”

“Tugas apa, Ka?”

“Gue masinis commuter line Jakarta-Bogor, Pril eh Janet maksud gue. Ohiya, coba pinjem hape elo sebentar.”

“Nih, buat apa?”

Raka lagi-lagi senyum. Asli emang cakep dia. Geliginya rapi dan putih. Kayak model di iklan pasta gigi.

“Nah, udah nih makasih ya. Tadi gue misscall nomer elo ke hape gue. Nanti gue hubungin ya.”

Sorry, gue duluan ya Janet. Elo ati-ati ya.”

Janet bengong sebengong-bengongnya. Huaahh, apaan tuh tadi. Ya ampun Raka..

Janet pulang ke rumah dengan perasaan gak menentu. Memikirkan Raka. Tentu saja.

Bisa ditebak dong, malam harinya Raka menghubungi Janet.

“Assalamu’alaikum, malam Janet..”

“Wa’alaikumsalam, Raka?”

“Iya, ganggu gak nih, gue telpon malem gini?”

“Ah, engga kok baru juga jam9an Ka..”

“Bagus deh.. hmm, lagi apa Janet?”

“Apa ya, lagi tidur-tiduran aja, elo sih?”

“Gue tadi baru aja selesai makan, trus telpon elo deh. Ohiya, jadi gini kebetulan besok gue free. Niat gue mau ajak elo keluar. Makan mungkin, sambil cerita lebih banyak lagi. Gimana?”

“Gue sih oke oke aja kok. Gue juga gak ada acara besok. Ketemu di mana nih?”

“Gue jemput elo di rumah ya Janet.”

“Eh, emang elo tau rumah gue Ka?”

“Loh, tau dong. Waktu kecil dulu kita kan sempet tetanggaan. Elo belum pindah kan?”

“Oh, iya ya. Ya ampun gue lupa. Banyak yang gue lupa, sorry banget. Masih lah Ka di sini.”

“Wajar lupa juga, kan udah lama banget. Oke deh besok gue jemput jam 9 ya.”

“Sip deh.”

“Kalo gitu sampai ketemu besok ya, met istirahat Janet..”

“Iya makasih Ka. Sama-sama. See you.”

Klik.

Bisa dibilang ini kejutan baru lagi buat Janet. Can’t wait to see him. Gee!

Singkatnya, acara makan pertama kali itu setelah sekian lama gak ketemu berjalan dengan efek candu gak berkesudahan. Selalu ada alasan untuk pertemuan kedua, ketiga, keempat, kelima dan selanjutnya hingga tak terhitung. Finally, mereka jadian. Cocok, serasi, pas, klop dan entah kata apa lagi yang bisa menggambarkan pasangan ini. Intinya, mereka berdua pasangan sehati. Terlihat kokoh dan tak kan bisa terpisahkan.

Well, semua hubungan awalnya memang seperti itu.

“Pril, gue sayang banget sama elo,” ucap Raka lembut. Tak pernah bosan menyatakan dan mendengar kalimat ini.

“Iya, gue juga Ka..” sahut Janet sumringah.

“Pril, gue jadi inget cerita dulu. Kenangan masa kecil. Awal ketemu, saat itu pertama kali gue pindah ke komplek rumah yang sama dengan elo. Dulu gue cengeng ya, hahaha. Gue diajak main ke rumah elo untuk kenalan antar tetangga.”

“Hmm, iya gue inget tuh. Waktu itu mata elo sembab, abis nangis. Kenapa sih?”

“Gue masih gak bisa nerima aja gitu, tiba-tiba harus pindah ke lingkungan baru. Semuanya serba baru. Gue ngerasa takut. Wajar lah ya gue masih kecil.”

“Huuu, apaan elo nya aja anak mamih tuh hehehe.”

“Hahaha, jadi malu gue. Pokoknya gue seneng bisa ketemu, kenal sama elo. Kita jadi sering main. Hampir semua melakukan kegiatan sama-sama. Gue sering maen ke rumah elo. Elo juga sebaliknya sama kayak gitu.”

“Nah, iya tuh. Kan kita sampe dibilangin kayak sendal jepit sama anak-anak yang laen.”

“Hahaha iya. Trus sampai akhirnya, gue harus pindah lagi. Kelas dua SMP. Dan sejak saat itu kita lost contact. Elo kemana aja sih, Pril? Belagu nih.”

“Yee, belagu apaan coba. Harusnya gue tuh yang nanya itu. Elo yang kemana aja Rakaaa…”

“Hmm, ini nih yang gak bisa gue lupain. Sehari waktu kepindahan gue itu, gue ngucapin hal yang memalukan ya sama elo.”

Janet cekikikan. Geli banget. “Iya tuh. Inget omongan sok sok an elo. Elo bilang kalo elo itu…” Janet diem tertahan. Senyum-senyum.

“Janet, entah kenapa, seandainya bisa gue mau elo ikut gue. Gue mau sama-sama elo terus. Hmm, apa ya. Gue, gue.. bagi gue elo orang yang spesial. Bukan sekedar temen. Tolong tunggu gue. Kita pasti ketemu lagi. Gue akan selalu inget elo.” Raka mengucap kata-katanya dulu.

Janet ketawa. “Omongan elo tuh ya bikin gue kaget. Terlebih lagi, setelah elo ngomong gitu, elo malah buru-buru pamit. Kikuk. Salting. Parahnya, elo sampe nabrak pintu. Hahahahahaha, bener-bener deh. Gue malah ketawa gak brenti-brenti.”

“Sekarang kayaknya gue mau marah sama elo, Raka. Bisa-bisanya ya elo ngomong gitu, tapi terus malah gak ada kabar.”

“Gue udah sempet jelasin kan dulu. Karena gue pindah cukup jauh. Ke Kalimantan Timur. Komunikasi kita menjadi kendala. Dulu mana ada koneksi internet segampang sekarang. Telepon ada. Tapi kan mahal. Interlokal. Handphone? Masih jarang. Ada juga gak ada sinyal. Lewat surat, bisa tapi gak memungkinkan. Rumah dinas bokap ada di tengah hutan. Kantor pos jauh banget berpuluh-puluh kilo. Semakin dewasa gue jadi maklum sama kerjaan bokap sebagai kepala perusahaan pertambangan. Harus siap pindah-pindah tugas dinas.”

“Oke oke. Gue ngerti kok. Tau gak, gue sempet jadi pemurung gara-gara elo. Apa ya, kesepian kali. Kepikiran elo mulu. Tapi mulai berkurang, semenjak ada Renata dateng…”

“Ohiya Renata ya. Elo belum cerita banyak tentang dia.”

“Dua bulan setelah elo pindah, gue kedatengan tetangga baru. Keluarga itu pindahan dari Yogyakarta. Ada empat orang. Pak Umar dan istrinya, Bu Asih. Kemudian dua anak perempuan. Salah satunya sebaya sama gue. Dia, Renata. Adeknya, Nayla.”

“Untunglah, dia itu cewek.”

“Emang kenapa gitu, elo cemburu ya kalo cowok.”

“Wah, ge er nih. Bukan dong. Kalo cowok, kasian dianya. Elo kan galaknya minta ampun, suka marah-marah. Nanti dia tertekan kalo main sama elo.”

“Oh jadi gitu. Elo resek ya. Ya udah, emang gue gitu kok. Jadi elo tertekan nih sama gue?”

“Hahahahaha bercanda sayaang. Gue beruntung banget bisa ada di sini sekarang sama elo. Ketemu lagi dan akhirnya elo jadi pacar gue, Pril.”

Janet merasakan kebahagian yang luar biasa bersama Raka. Hubungan yang lancar. Bebas hambatan kayak di jalan tol. Pengecualian untuk jalan tol di Jakarta pastinya.

Kesan gue terhadap Raka saat diperkenalkan pertama kali oleh Janet, dia bener-bener seorang pria deh. Haa.. penilaian gue dangkal banget ya. Jelas aja Raka adalah seorang pria. Hmm, maksud gue gini, gue sebagai temennya juga ngerasa cocok deh Janet sama Raka. Gue rasa dia pria yang bisa ngebahagiain Janet. Tapi benar begitukah?

Hari Selasa, 12 Nopember 2010. Raka mengabarkan akan pindah tugas ke daerah Purwokerto. Semacam ada pelatihan. Ini berarti Janet dan Raka memasuki zona LDR (Long Distance Relationship). Mereka kembali terpisah. Tapi berbeda dengan yang dulu. Sekarang mereka mempunyai komitmen yang jelas, bukan lagi cinta monyet.

“Elo siap LDR nih?” tanya gue kala itu ke Janet.

Well, why not? Emang harus kayak gitu, Ren. Kita yakin akan baik-baik aja. Saling percaya satu sama lain.”

“Sip deh. Gue dukung. Yes, everything’s gonna be OK.”

Dan lebih kurang satu tahun enam bulan kemudian, hari ini Sabtu, 28 Mei 2012 Janet menangis di hadapan gue. Mulailah dia bercerita permasalahan antara mereka.

Awal-awal memang agak berat. Biasalah LDR itu gimana sih. Kalo lagi kangen pengen ketemu, tapi gak bisa. Cuma bisa terobati sama telponan, sms-an, webcam-an, chatting-an. Itu semua belum cukup. Mana kontak fisiknya? Gak bisa kan. Pengen jitak gak bisa, pengen nampol gak bisa, pengen jambak gak bisa, pengen…. yak stop. Kok semuanya hasrat penyiksaan ya. Itu pacar apa sansak tinju. Ckckckckck.

Bener kata orang bijak, peribahasa, pepatah, kata-kata mutiara, berlian, emas, intan, permata. Itu adalah nama-nama batu mulia. Ngawur. Ibarat kata para motivator lah pokoknya. Semua itu butuh waktu. Kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Semua butuh proses dan penyesuaian. Jadi, ini pula lah yang terjadi pada pasangan Janet dan Raka. Mereka sudah mulai terbiasa dan enjoy. Tidak ada masalah. Tapi, muncul kembali kata-kata petuah, tak ada gading yang tak retak. Hadir riak-riak kecil dalam hubungan asrama dua sejoli ini. LDR itu rawan dengan adanya orang ketiga. Affair.

Nah, hal yang samar perlahan-lahan mulai terlihat jelas. Gue percaya banget sama intuisi seorang perempuan. Gak ada yang bisa membantah dong, kalo cewek itu lebih perasa, peka. Perasaannya halus. Sebulan terakhir, Janet merasa Raka agak berbeda gak kayak biasanya. Janet tau Raka itu sibuk. Kalo sedang bertugas dia fokus, karena dia masinis, jadi gak bisa terlalu santai. Gawat dong kalo gak fokus. Walaupun gue tau kereta udah mempunyai jalur sendiri, yaitu rel, dan gak mungkin tiba-tiba pindah jalur ke jalan atau malah sampe nyerobot jalur busway, tetep aja masinis harus berkonsentrasi. Janet memahami hal itu. Jadi, no phone no sms saat dia bertugas. But, somehow biasanya kalo udah selesai bertugas pasti Raka langsung menghubungi Janet, tapi ya itu tadi mulai sebulan terakhir ini, Raka jarang berkomunikasi sama Janet. Sebelum mulai berubah bersikap seperti itu, Raka sempet bilang akan pulang menemui Janet di hari ini.

Dari malam harinya Janet terus menghubungi Raka, tapi gak aktif. Janet ngerasa bingung. Dia sebenernya kenapa. Apa yang salah. Gak jelas. Janet mulai ingat sesuatu. Seminggu yang lalu, Raka meminta password akun efbe Janet. Janet gak masalah sih, gak ada yang aneh-aneh di efbe-nya. Janet heran, nanya ke Raka emang efbe-nya mau diapain. Engga kok, cuma mau diliat aja. Raka singkat menjawab. Sikap Raka itu aneh banget.

Gak lama Raka sms.

| Password-nya aku ganti ya, efbe kamu janetraka. Password efbe aku juga sama diganti jadi rakajanet. |

Janet bales.

| Oh gitu, oke deh :) |

Iseng, Janet lalu online. Kira-kira ada yang berubah gak ya efbe-nya setelah diliat Raka.

Hmm, sama aja, gak ada yang berubah. Mungkin dia cuma penasaran aja ya isi efbe gue gimana, gumam Janet. Setelah itu langsung log out. Log in lagi tapi ke akun efbe Raka.

Baru pertama ini ngeliat isi efbe Raka. Klik, klik. Gak ada yang aneh. Biasa-biasa aja. Janet ngarahin kursor ke message. Klik. Terbuka. Kosong. Loh? Semua pesan di efbe, dihapus semua sama Raka. Pesan-pesan hasil chatting Janet sama Raka juga gak ada, dihapus. Kenapa dihapus? Ini kan bukan handphone, yang inbox-nya gampang penuh, jadi harus dihapus. Hmm, supaya bersih aja kali ya, pikir Janet positif. Gak sengaja pandangan mata Janet tertuju pada submenu di bawah message, di situ terpampang submenu others dan angka 7. Janet langsung klik.

Hmm, kayaknya Raka melewatkan folder ini untuk dihapus. Janet juga baru ngeh sekarang kalo ada folder others di bawah message.

Tunggu dulu, pesan-pesan dari siapa ini. Ketujuh pesan itu dengan nama pengirim yang sama, Andita Maharani. Siapa dia? Janet berusaha tenang. Kemudian di salah satu pesan, Janet klik ingin tau isi pesannya seperti apa.

Seketika Janet terkejut, tiba-tiba merasakan kedua matanya panas. Ada air mata yang siap-siap tertumpah. Janet gak percaya ngebaca pesan ini. Dengan sedikit napas yang memburu, Janet klik, buka semua pesan-pesan Andita Maharani.

Janet tak kuasa untuk gak nangis. Air matanya berlinang.

Isi pesan itu jelas bukan isi pesan untuk seorang teman, rekan kerja, ataupun saudara. Kata-kata yang tertulis dalam isi pesan itu adalah kata-kata yang sama yang selalu Raka ucapkan untuk Janet. Kata sayang, rindu, bahkan cinta.

Apa maksud semua ini? Janet merasa marah. Tapi, segera tersadar untuk tetap berkepala dingin dan mencoba mengkonfirmasikannya ke Raka. Janet butuh penjelasan sekarang juga.

Janet langsung menghubungi Raka, kebetulan dia lagi free 5 jam ke depan. Tanpa basa-basi Janet menanyakan perihal Andita Maharani. Raka terdengar kaget. Agak tergagap, dia malah balik nanya, “Andita Maharani siapa? Aku gak tau. Kamu kok tiba-tiba nanya kayak gini. Kamu dapat nama itu dari mana?”

“Tolong Raka jawab jujur. Siapa dia? Kayaknya dia seseorang yang spesial ya,” ujar Janet sinis. Sepertinya emosi ini udah gak bisa ditahan. Siap meledak, hanya dengan mendengar dua kata dari Raka. Raka menjawab kembali, gak tau. Janet benar-benar emosi. Langsung tutup telpon. Raka telpon balik. Dering telponnya gak diindahkan sama sekali. Saat ini dia tau, bahwa dirinya sedang sangat emosi. Janet butuh penenangan. Mendinginkan kepala. Sikap dewasa dibutuhkan dikondisi sekarang ini.

Perhatian Janet kembali teralih pada efbe. Saat ini dia masih log in pakai efbe Raka. Di toolbar search, Janet mengetikkan Andita Maharani. Namanya gak muncul. Janet coba lagi mengulang. Tetap sama, gak ada. Gak terdeteksi. Dengan segera Janet klik option privacy settings. Klik pada pengaturan block. Semakin jelas sekarang kenapa Andita Maharani gak terdeteksi. Raka mem-block akunnya. Apakah ini menunjukkan bahwa Raka bersalah?

Efbe Raka udah Janet log out. Janet perlu tau Andita Maharani itu seperti apa, jadi Janet log in kembali memakai akun efbenya. Ugh, lagi-lagi nama cewek itu gak terdeteksi juga di akun Janet. Kalo sampai ada nama Andita Maharani di pengaturan block efbe gue, elo udah bener-bener bohongin gue Raka, geram Janet dalam hati. Dan ternyata benar, ada nama cewek itu di pengaturan block efbe Janet. Lemas seketika. Siapa lagi yang memasukkan nama itu kalo bukan Raka. How could you, Raka…

Jawaban kenapa akhir-akhir ini Raka berubah, karena Andita Maharani kah?

Janet membatalkan mem-block Andita Maharani, supaya bisa menjelajah akun dia. Beruntung akun cewek itu tidak terlalu banyak di-private. Jadi, walaupun belum menjadi teman, Janet masih bisa meng-klik sebagian besar info tentang dia. Terpampang profile picture Andita Maharani. Janet mengakui kalo cewek itu cantik. Umur tidak jauh berbeda dengan Janet. Bedanya dia sudah bekerja. Di situ tertulis bahwa dia adalah sekretaris PT. Permata Indah.

Janet gak tahan, melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Membayangkan cewek ini bersama Raka, Raka yang telah mengkhianatinya. Kenapa? Begitu banyak pertanyaan di benak Janet. Mengapa? Bagaimana bisa? Apa Raka gak mikirin perasaan Janet. Kata ini, selingkuh, kata yang tidak pernah ada dan tak terpikirkan sedikitpun. Dan kini hanya airmata yang bisa menenangkan keguncangan hatinya.

“Janet.. elo udah ngebicarain hal ini berdua? Harus ada penjelasan dan kejelasan untuk masalah ini. Elo ada rencana ketemu hari ini kan?”

“Ren.. elo tau kan ini berat banget buat gue. Gue bener-bener percaya sama Raka. Kalo inget dia yang udah ngekhianatin gue. Gue… gue gak bisa, semuanya udah jelas Ren..”

“Gak boleh gitu juga Janet. Oke, dengerin gue. Paling engga toh walaupun semua itu bener, elo harus denger penjelasan yang sebenernya dari mulut Raka sendiri. Biarin dia cerita semuanya.”

“Ren, elo tuh gak ngerti ya. Gue udah terlanjur sakit hati. Apa lagi yang harus diomongin. Ketemu dia, ngendenger semua ceritanya, semakin gue sakit hati Ren. Gue bener-bener terpuruk. Oh, ada yang gue lewatin. Asal elo tau Ren, Raka itu ternyata sempet pacaran sama tuh cewek. Rasa penasaran gue yang memuncak, menuntut gue untuk tau kebenarannya saat itu juga.”

“Gue log in lagi ke efbe Raka, gue batalin block untuk akun Andita Maharani. And guess what, Raka itu player. Di timeline wall, semua kemesraan mereka berdua terpampang. Mereka juga membuat status berpacaran.

“Ren, Raka itu selalu mengelak. Dia tetep keukeuh gak kenal sama cewek itu. Oh, come on. Emangnya gue guoblok banget. Apanya yang gak kenal, itu udah menjelaskan semuanya. Well, nyatanya gue emang guoblok. Bisa-bisanya gue tertipu sama Raka. Udahlah gue benci, gak bakal gue ketemu lagi sama dia.”

“Tapi, elo belum denger penjelasan dia Janet. Kalo ketemu, elo juga bisa salurin semua kemarahan elo, pertanyaan-pertanyaan elo. Semua itu cuma jawaban dari elo sendiri kan. Dugaan elo. Elo harus denger dari dia langsung. Elo gak boleh lari Janet. Supaya elo gak terus-terusan sakit. Hadapi ini Janet. Please…”

Janet menghela napas.

•••

Bersambung | Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

2 thoughts on “Nggak Mau Pacaran! (Cerbung #3)

  1. Mang pacaran itu bukan ikatan yang pasti… siapa c yang patut disalahkan? Btw, saya butuh ebook2 yang ada di situs ini. Gmn ya caranya? Klo berkenan untuk dikirim ebook nya dalam DVD ke alamat saya.ongkir saya transfer deh… tq.

Leave a Reply