Aku Tidak Lebih Banyak Tahu dan Tidak Lebih Baik

Selalu terngiang dengan penekanan berkali-kali yang mengatakan “Tidakkah kamu mengambil pelajaran?”, “Tidakkah kamu memerhatikan?” dan “Tidakkah kamu memikirkan?”

Aku sedang memikirkan kenapa kita harus belajar dari kisah orang-orang terdahulu, belajar dari situasi dan kondisi terdahulu, belajar dengan melibatkan semua indera yang kita punya, menghayati makna atau bahkan hikmah dari semua kejadian yang terjadi baik yang dialami oleh kita maupun orang-orang di sekitar kita.

Aku nyatanya sudah mendapatkan kesempatan menjejaki pendidikan yang bertambah-tambah. Tetapi, aku menyadari bahwa pendidikan yang memang notabene menghasilkan kaum intelektual tidak semestinya kemudian menganggap diri ini menjadi lebih baik dari yang lain. Bagaimana bisa menjadi lebih baik kalau tidak mampu memberi solusi terhadap permasalahan sekitar. Coba saja bayangkan, bagaimana mungkin adanya institusi pendidikan ternama dapat tegak berdiri berdampingan dengan realitas sosial yang timpang? Apa sebetulnya yang dihasilkan oleh institusi pendidikan?

Aku pun tidak menutupi banyaknya kekurangan-kekurangan yang kumiliki ketika harus melakukan pembicaraan dengan topik di luar keilmuan yang kugeluti. Semakin mengenaskan kalau aku pun tidak menguasai keilmuan yang selalu kupelajari sekian tahun lamanya. Apakah aku masih lebih baik dari yang lain hanya karena ada embel-embel istilah asing di belakang nama?

Ketika semua disiplin keilmuan menekankan pembelajaran dan pemelajaran yang bermakna (meaningful), yang paling patut untuk mendapat pemahaman ‘makna’ ini ialah dimulai dari diri sendiri. Karena itu, benar sekali kalau segala sesuatu itu tergantung niatnya. Kita hanya mendapatkan apa yang kita niatkan. Mari terus terang saja, kita terlalu bergelut dengan semua limpahan materi ajar yang kita terima tanpa mengetahui maknanya itu semua buat apa, kecuali untuk mengejar nilai semata.

Padahal pendidikan adalah bidang yang paling diharapkan untuk memberi pencerahan bagi permasalahan sosial, budaya, hingga politik. Berbicara pendidikan di Indonesia, kadang merasa heran karena pendidikan yang terselenggara tidak mengena dengan konteks Indonesia. Akibatnya, tidak bisa mendidik masyarakat untuk ikut memberi solusi sehingga timbul masalah-masalah baru. Sebagai contoh, ketika kebutuhan akan pasokan tepung terigu meningkat yang bisa dilakukan hanya semakin tergantung untuk memperbesar volume impor. Tepung terigu yang sejatinya dihasilkan dari tanaman gandum itu tidak mudah dipasok di Indonesia. Indonesia bukanlah negara penghasil gandum.

Pendidikan seharusnya bisa mendidik kita, masyarakat Indonesia, untuk menyelenggarakan pendidikan dengan konteks Indonesia. Yang terjadi sekarang ini justru pendidikan Indonesia yang bercita rasa asing sehingga terlalu menonjolkan seperti pemikiran, gaya hidup pihak asing. Gaya hidup pihak asing dari makanan seperti roti, pizza menjadi contoh paparan buku-buku ajar Indonesia daripada misalnya singkong. Hal ini kemudian berakibat bahwa pendidikan kita justru mendidik masyarakatnya untuk mengkonsumsi roti, pizza sehingga menjadi sebab timbulnya masalah baru. Ketika semua lapisan masyarakat di Indonesia lebih menyukai roti, pizza dibanding apapun makanan khas sendiri, kebutuhan tepung terigu sebagai bahan dasar makanan khas asing tersebut menjadi sumber masalah.

Seperti yang sudah disinggung bahwa Indonesia bukanlah penghasil gandum (memang bisa dihasilkan tetapi tidak mudah) dan ini menjadikan kita menjadi konsumen setia terus-menerus. Bagi pihak asing yang makanan asalnya berbahan dasar tepung terigu tidak menjadi soal karena mereka memang penghasil gandum. Lalu Indonesia? Inilah pendidikan yang seharusnya lebih berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun kemandirian bangsa. Pendidikan dengan konteks Indonesia mampu menekan masalah jika dapat mendidik masyarakatnya bahwa potensi makanan asli yang kita miliki antara lain singkong, sagu, ketela sehingga dapat dikembangkan dan diinovasikan dengan membuat makanan yang dihasilkan dari tepung olahan singkong, sagu atau ketela.

Kabar baiknya, ada anak bangsa yang mulai berinovasi untuk mempromosikan makanan bebas gluten, yakni berbahan dasar yang bebas dari tepung terigu. Tetapi, tetap saja masalah baru timbul, kita malah dihadapi tantangan untuk perlu mempromosikan makanan khas kita sendiri karena sudah akutnya ketergantungan mengikuti pola asing yang tidak sesuai dengan konteks di Indonesia. Berapa harga roti, pizza? Mahal bukan? Berapa harga singkong? Juga mahal? Singkong mahal karena jarang yang konsumsi. Ini namanya sudah kena jebakan, terperangkap. Indonesia sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ujung-ujungnya hal itu karena menginginkan masyarakat kita kelaparan. Masyarakat miskin tetap tidak mampu membeli makanan, sedangkan harga-harga akan selalu naik.

Mungkin tidak berlebihan kalau kita menduga-duga bahwa justru pendidikan saat ini menjerumuskan masyarakatnya. Pendidikan yang kita miliki tidak bisa menjadi solusi sebab didasari dengan melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia terkungkung konsumerisme budaya. Kita orang Indonesia lebih suka membeli dan memasukkan barang-barang mewah atau tidak mewah asal merek luar negeri. Karena suka dan lebih mudah membeli, maka orang Indonesia menjadi tidak suka membikin sendiri.

Kaum intelektual kita juga bangga seperti kaum konsumerisme material. Bangga kalau sarapan Sartre di samping kopi paginya. Bangga menghiasi Bergson, Jakobson, Nietsze untuk setiap karangannya. Menjadi up to date kalau mereka lancar isi buku-buku terbaru karangan intelektual Barat, seperti orang bangga mengendarai BMW. Dan mereka kadang kurang adil terhadap produk dalam negeri sendiri. Kritik dan teori yang mereka hargai tentu saja yang merek luar negeri, kalau sudah bikinan “Cirebon” langsung saja curiga mutunya.

Dalam salah satu sajak Rendra, yakni “Sajak Sebatang Lisong”, ia mengakhiri sajak itu dengan kata-kata: “Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti ke luar ke jalan raya, ke luar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata. Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.”

Rumus-rumus pendidikan Barat adalah hasil akhir dari penelitian mereka tentang kondisi masyarakat Barat (apa pun isinya istilah itu). Dan rumus itu kita pakai untuk memecahkan persoalan kita sekarang di sini. Barangkali rumus memecahkan persoalan besi masih bisa dipakai, sebab besi keluaran tambang Manchester masih sama unsur-unsurnya dengan besi tambang Cilegon. Rumus begitu bolehlah dipakai. Namun rumus untuk manusia dan karya manusia New York mana bisa diterapkan untuk masyarakat Ciwidey.

Apakah pendidikan kita akan cenderung mendidik untuk tetap hidup sebagai konsumen belaka? Bagaimana pun rendahnya, tidak enaknya makanan kita, asal ia hasil usaha merumuskan keadaan sendiri, itulah start kita. Sikap untuk terlalu enak mencerna makanan-makanan rohani luar negeri dapat menumbuhkan sikap meremehkan karya-karya otentik buatan sendiri. Membandingkan bikinan Cirebon dengan Chicago bisa membuat orang patah selera.

Ya, aku tidak lebih banyak tahu dan tidak lebih baik, tetapi setidaknya aku bisa mencoba sesuatu.

•••

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply