Alasan Bahwa Apa Saja Bisa Kita Raih, Tidak Percaya?

Jangan sekali-kali meremehkan diri kita, kita sudah cukup memiliki modal. Bahkan kalau seluruh komputer ditumpuk di muka bumi ini hingga mencapai bulan pun, tidak akan mampu menandingi manusia ciptaan Allah Swt ini.

Kenapa?

Ditemukan bahwa semua makhluk hidup memiliki alfabet basa DNA yang sama, yaitu A (Adenine), C (Cytosine), G (Guanine), dan T (Thymine). Dalam struktur helix ganda DNA, basa A berpasangan dengan T, sedangkan C dan G. Di dalam tubuh manusia diperkirakan terdapat 100 trilyun sel! Dan di dalam inti setiap sel terdapat 23 pasang kromosom yang disusun oleh tiga milyar huruf alfabet tadi. Jika DNA di dalam setiap tubuh manusia direntangkan, maka panjangnya akan lebih dari 600 kali jarak bumi dan matahari! Cobalah untuk membayangkan sejenak. Betapa dahsyat dan sempurnanya manusia ciptaan Allah Swt ini, yaitu diri kita. Semua ini diciptakan Allah tidak lain karena manusia adalah makhluk kepercayaan-Nya sebagai wakil Allah yang memiliki fungsi “Rahmatin lil ‘Alamin”.

Adalah benar bahwa kita dapat ‘menggenggam’ dunia, bumi ini. Karena materi yang menyusun diri kita ternyata lebih luas daripada bumi yang kita pijak. Semenjak manusia diturunkan di muka bumi menjadi khalifah, yang bertugas untuk memberi kesejahteraan, dapat mengelola isi bumi dengan tidak merusaknya, maka sesungguhnya “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya …” (TQS. Al-Baqarah [2]: 286).

Artinya, apabila Allah menyerahi manusia tugas mengelola bumi keseluruhan, penugasan itu merupakan suatu tugas yang manusia sanggup untuk menjalankannya. Seluruh kehidupan dan alam raya ini berjalan dinamis, berubah-ubah dan selalu berkembang. Mulai dari, misal penemuan pesawat terbang, yang orang dahulu pada mulanya menertawakan tidak mungkin ada suatu kendaraan yang dapat melayang di udara, namun akhirnya terwujud. Hal itu tiada lain karena manusia melihat, mengamati dan memikirkan adanya kebutuhan, yaitu manusia memerlukan moda transportasi untuk berpindah ke suatu daerah dengan cepat. Sebagaimana ketika manusia di zaman itu mengamati burung yang sedang membawa makanan untuk anaknya di sarang di pohon yang tinggi, sehingga manusia berpikir bahwa bisa saja menemukan suatu alat yang dapat mengatasi kesulitan dalam mendistribusikan makanan ke daerah perbukitan atau pegunungan yang tinggi.

Dengan berkembangnya zaman, selama manusia menemukan adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dan perlu menemukan solusi untuk memenuhinya, maka apapun bisa terwujud. Toh, manusia pun sudah berhasil mencapai bulan. Yang tetap apabila dilihat dari materi penyusun manusia bahwa jarak bumi ke bulan belum seberapa dibandingkan dengan rentangan DNA manusia ini. Dengan kata lain, bisa jadi manusia dapat melakukan perjalanan lebih jauh lagi, yang kemudian menjadi suatu hal yang tidak mengherankan kalau orang-orang Amerika berani memiliki misi ke planet Mars, yang didasari kebutuhan untuk menemukan tempat tinggal baru selain di Bumi. Sebab semua itu masih mungkin.

Segala apapun yang manusia hasilkan itu bukanlah disebut ciptaan, melainkan penemuan. Rahasia penemuan-penemuan besar oleh para ilmuwan ternyata didapat dari hasil banyak perenungan dengan melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Bumi dan seisinya memberikan begitu banyak hikmah bagi orang-orang yang dapat mengambil pelajaran.

Tengok bagaimana bentuk penemuan kereta api yang menyerupai ular, tengok mulai dari penemuan-penemuan yang gampang dikenali sebagai representasi alam atau replikasi dari bentuk makhluk hidup lainnya. Sebagian dari hal itu merupakan misteri yang baru sedikit terpecahkan dari usaha dan kesungguhan manusia yang menyakini bahwa memang benar firman Allah dalam (TQS. Ali ‘Imran [3]: 191):

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Jangan membatasi diri kita. Apabila melihat, lihatlah melebihi dari apa yang bisa kita lihat, jangkau semua sisi. Membatasi diri dengan berdalih atas dasar pengetahuan yang tidak seberapa kita miliki merupakan suatu kerugian. Apabila kita jatuh, sadarlah. Hal itu berarti masih banyak ilmu Allah yang belum kita ketahui. Pelajari kesalahan tersebut, cari jawaban mengapa jatuh. Ambil jurus kedua dan bangkit lagi. Allah Yang Maha Agung menunggu kemenangan kita.

Lalu, apabila berpikir, berpikirlah lebih dari satu gagasan. Seringkali kita temui menurut si A gagasan yang ia berikan benar, tetapi bagi si B gagasan tersebut tidak berterima. Menariknya, Albert Einstein menyatakan bahwa ia menjaga kemampuan untuk memiliki dua gagasan secara bersamaan dalam otaknya; kebingungan saat keduanya bertentangan, dan takjub saat ia bisa mencium sebuah kesatuan yang mendasarinya.

Mengapa dua gagasan?

Faktanya, setiap kondisi atau kejadian yang akan dilalui atau sudah terjadi memang hanya ada antara benar atau salah. Pahala atau dosa. Keduanya bertentangan dan sudah jelas pemisah di antara keduanya. Tetapi, dasar dari dua hal yang bertentangan tersebut ternyata memiliki satu kesatuan rujukan. Sebagai contoh, uang yang dibelanjakan. Ada dua orang yang sama-sama sedang membelanjakan uangnya untuk dihabiskan. Kesamaan dalam membelanjakan uang untuk dihabiskan ini kemudian menuju persimpangan yang bertentangan, salah satu dari orang tersebut membelanjakan uangnya untuk beramal (bersedekah) dan satu orang lainnya untuk berjudi.

Manusia itu jika dibiarkan hanya memakai logika dan nalar, tidak ada yang salah dengan tindakan kedua orang tersebut. Keduanya telah menunaikan tugas untuk membelanjakan uang yang mereka miliki untuk dihabiskan. Akan tetapi, sudah hukum alam bahwa segala sesuatu yang terjadi itu harus berjalan seimbang. Tidak bisa dua-duanya benar, atau dua-duanya salah. Ketetapannya ialah harus ada benar dan salah. Oleh karena itu, Allah Swt menurunkan petunjuk, sebuah kitab yang tiada keraguan padanya. Pembeda antara yang haq’ dan batil.

Mengapa lantas dapat dikatakan bahwa membelanjakan uang untuk beramal itu benar, sedangkan untuk berjudi itu salah?

Mari kita peroleh jawaban dari pertanyaan tersebut dengan menggunakan paradigma sebab-akibat.

Manusia itu telah diberi akal untuk berpikir. Akal yang dikaruniakan oleh Allah Swt ini menjadi sebab manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Akal adalah sebab agar manusia mampu menampung begitu banyak ragam pengetahuan yang Allah ajarkan kepada manusia. Ada begitu banyak pengetahuan yang bisa dirasakan akibatnya langsung, misalnya pengetahuan tentang api. Api itu panas dan tidak perlu sampai berpikir lama untuk mengetahui jika kobaran api membesar, maka akibatnya sungguh akan sangat membahayakan.

Di sisi lain, ada pengetahuan yang memiliki misteri dengan proses waktu yang tidak sebentar untuk mengetahui akibatnya bagi manusia. Tentang akibat, kita dapat berpegang pada firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran [3]: 191 di atas bahwasanya segala sesuatu tidak diciptakan sia-sia. Dengan kata lain, semua penciptaan di muka bumi ini berakibat baik dan bermanfaat. Aturan diturunkan dibuat dengan kondisi yang sudah di-set baik, tidak ada yang sia-sia. Awal yang baik akan berujung pada hasil akhir yang baik pula. Akan tetapi, inilah bagaimana indahnya ilmu Allah dalam mengatur keseimbangan. Sebelum suatu akibat dapat terjadi, maka harus didahului dengan adanya sebab.

Dengan diberi akal yang menjadi sebab manusia dapat menjalan tugasnya sebagai khalifah, maka manusia akan menjalani segala sesuatu yang akan berakibat baik dan bermanfaat. Semua itu sudah di-set. Tetapi, karena manusia juga dikaruniai kelebihan lain yakni berupa nafsu, suatu perasaan yang berhubungan dengan emosional yang bukan hanya tentang akal, manusia akan dihadapi oleh pertimbangan dalam menakar kadar atau level/tingkatan akibat baik tersebut. Apakah lebih banyak kadar akibat baiknya daripada mudharatnya atau justru sebaliknya.

Apabila diilustrasikan, itulah mengapa manusia tidak bisa disamakan dengan robot. Robot hanya bertumpukan pada logika dan nalar yang sudah di-set dalam chip yang ter-install dalam ‘otak’. Segala apa-apa yang diambil dengan pendekatan logika dan nalar memang seringkali sulit dibantah karena itu sudah dianggap ajek. Sebagai contoh, pada saat kondisi badan mengirimkan sinyal haus, otak akan berjalan untuk segera minum. Semua sudah di-set otomatis seperti itu. Tetapi, dengan adanya nafsu, suatu perasaan emosional yang menakar kadar akibat baik bagi diri manusia akan mempertimbangkan bahwa tidak setiap jenis air boleh diminum, seperti khamar (alkohol).

Inilah kemudian yang menjadi suatu pembuktian dalam hadist Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai nafsu, perasaan emosional yang terletak di hati (jantung) yang dipentingkan, bukan otak. Segala radar emosi itu dapat terdeteksi dari irama jantung. Ketika kita mencoba berbohong, jantung akan berdetak lebih cepat yang kemudian menimbulkan efek resah dan cemas.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599).

Coba mari kita telaah. Apa fungsi otak itu? Otak yang berupa alat kerja untuk bertindak dan menyimpan memori, manusia dapat menemukan alat pengendali seperti itu untuk dibenamkan pada robot atau komputer. Sebaliknya, apa fungsi jantung itu? Fungsi jantung sederhananya memompa darah ke seluruh tubuh. Ia menjadi denyut kehidupan manusia. Robot, komputer tidak ada jantung. Meski robot, komputer itu hidup tetapi mereka tidak bernyawa.

Ambil telaah lainnya. Kerusakan pada diri manusia yang bersumber karena kinerja otak tidak akan memengaruhi seluruh organ lainnya. Katakanlah, orang dengan keterbelakangan mental, lumpuh tidak dapat menggerakkan tangan atau kaki, masih mampu untuk mencapai kemuliaan bagi dirinya. Tetapi, jika sudah rusak hati, maka hanya akan merusak tangannya untuk menyakiti dan tidak ada kemuliaan bagi dirinya.

Sudah tidak dapat ditampikkan kemampuan manusia tentang akal. Untuk segala aturan yang sudah di-set, manusia mampu menyakini akan menjalaninya dengan akibat yang baik. Apa-apa yang manusia lakukan, sikap dan perbuatan yang mereka menyakini akan berakibat baik. Tapi pertanyaannya seberapa baik? Proses untuk mengukur kadar baik inilah melibatkan nafsu dan setan bertugas mengelabui nafsu manusia yang sebenarnya berakibat dengan kadar baik sedikit ditampakkan seolah banyak. Proses pembuktian untuk menunjukkan ketepatan kadar akibat baik ini sangat makan waktu, yang boleh jadi manusia belum tentu masih hidup untuk mengetahui kebenaran tersebut. Karena itu, jelaslah alasan diturunkannya Al Qur’an dan Allah mengutus Nabi dan Rasul sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira.

Hal ini apabila disadari benar-benar, Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat besar yang memberi suatu kenikmatan tak terhingga bagi manusia untuk selamat hingga akhir hayatnya, yang dengannya manusia memeroleh jawaban-jawaban yang bahkan baru akan diketahui entah beberapa tahun lamanya di masa yang akan datang. Hal ini pun sekaligus juga meneguhkan bahwa adanya Sang Pencipta Yang Maha Mengurus makhluk-Nya dan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ghaib, yang memegang seluruh rahasia di langit dan di bumi.

Allahu Akbar.

Ingatlah baik-baik bagaimana kita sebagai manusia ini merupakan ciptaan yang sempurna dan lawanlah iblis serta tunjukkan bahwa manusia patut menerima sujud dari iblis. Manusia mampu kalahkan segala tipu daya iblis.

Pada akhirnya, setiap langkah yang kita buat di muka bumi ini haruslah suatu langkah kemenangan. ­­­­­­­­­­Tetapkan kemauan kita. Bedakan antara kemauan ‘biasa’ dengan kemauan yang ‘membara’. Rahasia untuk sebuah keberhasilan adalah terus-menerus mengingat bahwa kita lebih baik dari yang kita pikirkan. Orang yang berhasil bukan orang super.

Keberhasilan tidak memerlukan kecerdasan yang luar biasa. Keberhasilan tidak disebabkan oleh keberuntungan. Keberhasilan ditentukan oleh ukuran dari keyakinan kita untuk meraih kemenangan. Kesuksesan juga ditentukan oleh ukuran pemikiran dan cita-cita seseorang. Bercita-citalah besar, berpikirlah maju, kita tidak diciptakan untuk menjadi orang kalah, tetapi kita diciptakan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk memberikan kemajuan dan kesejahteraan. Yakinkan bahwa kita akan mencapainya, sehingga energi dan kreativitas akan mengalir mencari jalan untuk mencapainya.

•••

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

One thought on “Alasan Bahwa Apa Saja Bisa Kita Raih, Tidak Percaya?

Leave a Reply