Disclaimer: Cerita ini ialah cerita fiksi yang dibuat bersambung sehingga untuk membacanya disarankan dari Cerbung #1. Penulis melanjutkan ke Cerbung #4 setelah sekian lama terhenti dari unggahan terakhir Cerbung #3 (6 Desember 2015).
Nanti kalau Allah mencintai kamu, karena kamu mencintai Allah daripada segalanya, mencintai Rasul daripada segalanya dan Allah sudah mencintai kamu, tidak usah takut. Allah pilih hamba-hamba terbaik di antara hamba-hamba yang Dia cintai untuk nanti mencintai kamu.
Insya Allah diwaktu yang tepat, disaat yang paling tepat, di tempat yang paling bagus, dan dengan cara yang paling indah.
•••
EMPAT | 4
Sahabat terbaik gue ada di depan gue dengan begitu berantakan dan jelas kacau secara emosional. Semuanya tergambar dari wajahnya. Gue inget banget bagaimana kita berdua tertawa-tawa dan berpikir bersama bahwa suatu bentuk perasaan nggak akan pernah meruntuhkan dan membuat kita menjadi begitu rapuh.
“Janet…” Gue masih mengulang memanggil.
“Elo dengerin gue kan? Janet, elo mau gue bacain lagi kata-kata dari buku yang buat elo tetep kuat?”
Janet akhirnya menatap ke gue dan gue tau dari matanya dia mulai membayangkan dan mengingat jelas apa yang dia baca.
•••
Tere-Liye (Rembulan Tenggelam di Wajahmu)
Aku ingin menemukan tempat yang bisa benar-benar membuatku bahagia, menemukan sepotong tempat untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan. Beginilah seharusnya hidup. Bisa memilih. Bisa memutuskan apa yang harus dilakukan.
Tidak ada kehidupan di dunia yang sia-sia.
Bagi manusia, hidup ini ialah sebab-akibat. Sebab-akibat itu membentuk peta dengan likuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. Saling memengaruhi, saling berinteraksi. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.
Kau bisa membayangkan betapa hebatnya penjelasan sebab-akibat seharusnya bisa menuntun seseorang untuk selalu berbuat baik. Mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang akan mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik ke orang lain.
Saat kau menyadari ada yang peduli, maka kau selalu akan memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil. Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat.
Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan. Tak akan ada yang bisa mengubahnya, kecuali satu! Yaitu kebaikan. Kebaikan bisa mengubah takdir. Nanti kau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah mengubah siklus sebab-akibat milikmu. Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja. Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa mengubah siklusnya, maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik. Mungkin semua yang dilakukannya terlihat sia-sia, mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain, tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin.
Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langit yang menentukan, kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menentukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia.
Percayalah hidup ini selalu adil. Kehidupan ini selalu adil. Keadilan langit mengambil berbagai bentuk. Sayang, tidak semua bentuk itu kita kenali, tapi apakah dengan tidak mengenalinya kita bisa berani-beraninya bilang Tuhan tidak adil? Hidup tidak adil? Ah, urusan ini telanjur sulit bagimu karena kau selalu keras kepala.
Selalulah berharap sedikit. Berharap sedikit, memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan.
Kejadian buruk itu datang sesuai takdir langit. Hanya ada satu hal yang bisa mencegahnya. Satu hal! Sama seperti siklus sebab-akibat sebelumnya, yaitu: berbagi. Ya, berbagi apa saja dengan orang lain.
Kau tahu, hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu miliknya yang berharga, amat berharga malah. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, cacat, kehilangan pekerjaan, kehilangan anak, orangtua, benda-benda berharga, kekasih, kesempatan, kepercayaan, nama baik, dan sebagainya.
Semua kehilangan itu menyakitkan.
Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan. Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa gelap itu. Bertanya apakah belum cukup penderitaan yang kau alami! Bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang baik dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat. Kau tidak pernah menemukan jawabannya, karena kau dari sisi yang ditinggalkan.
Kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hamba-Nya, apa semua kesedihan ini kurang menyakitkan?
Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, maka dia tidak akan pernah bertanya soal itu. Baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Semua orang bisa mendefinisikan tujuan hidupnya, istri ingin ridha suami, seorang ayah ingin anaknya berhasil, menjadi dokter, insinyur, itu semua tujuan hidup! Tidak peduli sekecil apapun itu, yang penting mereka bersungguh-sungguh melakukannya.
Apakah yang disebut kejadian menyakitkan?
Apakah yang disebut kejadian menyenangkan?
Sejatinya pertanyaan itu tentang perbandingan. Malam ini, saat kita mengenang kembali semua kejadian itu, bukankah semuanya terasa sama saja. Seperti berlalu dalam sekejap. Seperti terjadi baru sedetik yang lalu. Ah, apalah yang disebut kejadian yang menyakitkan? Itu semua hanya perbandingan.
Otak manusia, sejak berabad-abad lalu sudah terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri, menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek. Wajah seperti ini itu cantik, wajah seperti ini itu jelek. Hidup seperti ini itu kaya, hidup seperti ini itu miskin.
Otak manusia yang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah buku besar. Yang disebut perbandingan.
Buku besar itu selalu diserahterimakan kepada generasi penerusnya, selalu diperbaharui sesuai kebutuhan zaman. Yang sayangnya dalam banyak hal, lama-lama perbandingan itu menjadi amat menyedihkan. Mempunyai harta benda itu baik, miskin-papa itu jelek. Benar-benar ukuran yang tidak hakiki. Bagaimana mungkin posisinya tetap lebih baik kalau harta benda itu didapatkan dengan cara-cara yang tidak baik? Bagaimana tetap lebih jelek kalau kemiskinan itu memberikan ketenangan hidup?
Apapun bentuk kejadian, semua pasti terlampaui, diberangus oleh waktu, dimakan oleh detik-detik kehidupan. Menyisakan kenangan. Hanya itu!
Dalam perbandingan-perbandingan seperti itu, ketika buku besar itu semakin lama semakin keliru, ketahuilah ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa cukup dengan semua penderitaan maka kau harus melihat ke atas, pasti ada yang lebih menyakitkan darimu. Ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan yang datang maka kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu.
•••
“Menurut elo, gue pasti bisa melalui ini semua kan, Ren?”
Gue tau pertanyaan itu bukan betul-betul pertanyaan. Pertanyaan Janet nggak gue jawab dengan kata-kata “Iya elo pasti bisa.” Nggak, Janet nggak butuh itu.
“Woy, Ren. Resek emang loe tuh ye. Elo kalo nggak jawab nggak usah natep ke gue dengan muka bloon gitu deh.”
Gue nyengir.
•••
Bersambung | Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.