Disclaimer: Cerita ini ialah cerita fiksi yang dibuat bersambung sehingga untuk membacanya disarankan dari Cerbung #1. Cerbung ini tidak menentu kapan rutin dilanjutkan, yang menantikan, 'Terima kasih!'.
Traveling far and wide, I am just to long to meet the one, someday and somewhere, who could change my whole life in somehow …..
Unknown
•••
ENAM| 6
Terkadang menjadi kuat itu nggak harus dengan menunjukkan kekuatan. Dengan bermodalkan tas ransel, gue berkelana. Ada sesuatu yang harus gue cari tau jawabannya. Satu pertanyaan besar.
Kemarin malam.
“Elo mau kemana, Ren?” Tanya Janet kesekian kalinya yang belum gue jawab. Malam itu gue minta Janet untuk menginap.
“Ren, Ren, Ren, Renataaaaa ……”
Aduh, gue salah nih Janet kalau makin malem, baterainya makin full.
“Ya ampun, gue milih untuk ninggalin laki gue malem ini cuma buat elo kacangin doang?” Elo ngajak gue berantem, Ren?”
Gue nyengir mak lampir. “Nah, kan gue tau sirik loe tuh ye. Semenjak gue berani ngelangkah duluan, elo sensian banget ama gue. The real Renata mulai muncul. Huh.”
“Apaan sih loe lebay. Inget umur woy, elo belagak kayak gadis ABG maen sinetron.”
“Bodo amat yang sensian. Jadi, elo tuh mau kemana sih Renata sayaaangg…?”
“Yak, selesai. Emang nggak perlu bawa banyak-banyak sih ini.” Gue berdehem, gue balik badan ke arah Janet.
“Janet, gue mau ngomong serius. Kayaknya ada yang salah deh sama gue.”
“Nah ini akhirnya datang juga. Elo baru nyadar sekarang? Elo tuh master lelet dan lola di semua hal ya, hahahaha parah emang Renata!”
“Elo kalau mau minta maaf sekarang ke gue tuh basi banget, Ren. Gue sekarang aja sama Armand udah masuk bulan ketiga, dan elo baru bilang elo salah?”
“Astaga, Janet. Elo nggak nyambung dan kepedean amat ya. Elo makin malem batre loe full sih tapi malah jadi jaka sembung gini. Ini bukan tentang elo dan Armand yang kurang ajarnya elo, malah gue jadi orang terakhir yang elo kasih tau kalau elo bakal married saat itu. Dan gue pilih nggak dateng aja sekalian.”
“Sumpah gue sedih banget Ren. Gue udah bilang ini berulang kali ke elo. Pokoknya, hal itu udah lewat ya Ren. Nah, yang elo maksud elo salah itu apa?”
“Ada orang yang se-frekuensi sama gue nggak sih?”
“O-M-G! What a stupid question, darling.”
“Udah deh balik aja loe tuh, nggak usah nginep lagi di sini, telpon si Armand buat jemput elo.”
“Wait, wait. Ya ampun sorry. Maksud gue, pertanyaan apaan sih kagak jelas gitu Ren. Elo kalau mau berfilsafat please banget jangan malem ini. Gue udah bingung sama tas ransel gunung elo sekarang. Isi ransel elo buat minggat berapa lama sih? Dan tolong ulang sekali lagi pertanyaan elo dengan kalimat yang lebih bisa diterima sama otak gue di jam hampir 12 malem ini, okay Ren?”
“Sederhana aja Janet. Elo sama Armand, elo se-frekuensi kan sama dia?”
“You complete him. And vice versa. Got it?”
“Elo nggak mesti minggat untuk tau jawaban dari pertanyaan elo itu Ren. Cukup liat ke diri elo sendiri.”
“Maksud loe? Btw, elo sotoy deh gue sama ransel gue ini bakal pergi untuk cari jawaban itu.”
“OK, gini aja sebelum gue jawab. Coba elo bilang ke gue misi elo dan ransel elo itu bakal ngelangkah kemana?”
“I want to find myself and feel alive again. You must know what I mean, Janet.”
“It’s been almost 8 years. Forgive yourself, Ren. Why are you so hard on yourself? Everyone makes mistakes. You’re no exception. It’s normal to forgive and forget. Please?”
“I did, I truly did. No doubt. I was healed. Trust me.”
“Janet, I want to accept myself and be ready for that person. I don’t know who he is yet. One thing I know is that in divine timing, I will be able to love him and give him the pure love I have gained from this long life journey—the feeling of completeness. He knows, and I know. We should be brave enough to step into the unknown world. I am not much stronger myself, and neither is he. Together, we complement each other to become much stronger by giving the best version of ourselves.”
“Proud of you, then go ahead. No more question. Take care, darl. Dan gue jadi nggak perlu jawab apa-apa hal yang elo paling ngerti. Dengerin gue Ren, apa pun jawaban yang bakal elo dapet, bukan elo yang lega tapi dia entah siapa pun itu adalah the luckiest person to have you for his. Something huge that absolutely positive will happen, I dunno.”
“Waduh, gue mulai agak ngeri kalau bakat spesial loe muncul saat tengah malem gini, hahaha. Thanks my bestie!”
•••
Tanpa membangunkan Janet, gue melangkah pergi. Udara pagi ini makin memantapkan hati. Sebetulnya ini bukan tentang seberapa jauh gue melangkah. Tapi, ini tentang seberapa yakin bahwa langkah demi langkah ini akan mendekatkan gue ke tujuan gue. Tempat itu. Kalau lancar gue bakal sampai dalam 5 jam. Mungkin gue berpikir nggak perlu terlalu terburu-buru. Perjalanan ini gue yakin menjawab semuanya.
•••
Bersambung | Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.