Disclaimer: Cerita ini ialah cerita fiksi yang dibuat bersambung sehingga untuk membacanya disarankan dari Cerbung #1. Cerbung ini tidak menentu kapan rutin dilanjutkan, yang menantikan, 'Terima kasih!'.
BRAVE
From ‘MULAN’
LOYAL
TRUE
DEVOTION TO FAMILY
•••
TUJUH | 7
“Yah, untuk satu hal, tidak ada jalan pintas untuk meraih keunggulan. Mengembangkan keahlian nyata, memikirkan jalan keluar untuk masalah sulit, ini semua butuh waktu—lebih lama daripada apa yang dibayangkan sebagian besar orang. Lalu, Anda tahu, Anda harus menerapkan keterampilan itu dan menghasilkan barang atau jasa yang berharga bagi orang lain. Roma tidak dibangun dalam sehari.”
“Dan ini hal yang benar-benar penting. Ketabahan adalah tentang mengerjakan hal yang sangat Anda pedulikan sehingga Anda bersedia untuk tetap setia pada hal tersebut.”
“Melakukan apa yang kita cintai? Betul, melakukan apa yang kita cintai, tapi bukan jatuh cinta—tetap mencintai.”
— hlm. 61
•••
“Renata, kamu harus menerima diri kamu seutuhnya.”
“Maksudnya apa, Mah?”
“Mau makan sekarang, sayang?
•••
“Mengetahui leluhur atau menelusuri nasab sangat penting bagimu sekarang untuk lebih mengenalnya. Itu akan membantumu menjawab pertanyaan tentang siapakah kamu dan tujuan apa yang ingin kamu lakukan dalam hidupmu.”
“Apakah kamu mengetahui keindahan pengetahuan tentang DNA, sayang?”
“Ini telah menjadi suatu takdir yang indah ketika Mamah dipertemukan Papahmu.”
“Mamah merasakan akhir-akhir ini kamu sedang merasa gelisah akan suatu hal, ya kan dear?”
Aku mengangguk pelan.
•••
Sudah sampai. Ternyata lebih cepat dari yang gue perkirakan. Gue emang masih bernyali nyetir di kecepatan di atas 80 km per jam.
Gue memarkir mobil di bawah pohon Gaharu, masih kokoh berdiri walau entah berapa tahun lamanya dari terakhir gue ke sini. Sebetulnya gue inget, inget banget malah. Terlalu lelah untuk menghitung dan hanya mengundang isak tangis yang siap pecah.
Gue bukannya nggak suka untuk ke sini, gue hanya sedih. Gue baru sedikit lama mengenal Mbah Uti, tetapi secepat itu Mbah Uti nggak ada. Yang tersisa dari bertahun-tahun lalu berada di sini, tatapan dalam dan menenangkan Mbah Uti melihat gue pulang setelah coba ikut ke sawah saat itu.
Saat itu, suatu hari gue berkata ke Mbah Uti. “Mbah Uti, aku capek banget ikutan kerja di sawah gini.” Selanjutnya, mulut gue nggak henti dengan keluhan terus-menerus. Mbah Uti selalu menyunggingkan senyum memaklumi cucu rewelnya yang satu ini.
Dan lama setelah itu gue inget saat Mamah, Papah, Abang dan Adik gue dateng berkunjung. Kita semua makan bersama, gue ngeliat nasi adik gue si Nayla bersisa, suara gue langsung meninggi. “Nay, jangan buang nasi! Cepet habiskan semua nggak boleh ada nyisa sebiji nasi pun!!”
Nayla langsung manyun. Gue ngeliat Mamah Papah berpandang-pandangan, Abang gue malah minta nambah. Mbah Uti tersenyum dengan senyum khasnya.
“Mbah Uti, Mbah Kung orangnya seperti apa?” tanya gue kemudian masih dalam suasana makan bersama.
“Renata!” suara Mamah terdengar menyentak nyebut nama gue.
Baru setelahnya gue tau dari Mamah kalau itu hal yang sensitif buat Mbah Uti. Mbah Kung udah nggak ada saat Mamah masih berumur 4 tahun. Mamah ialah seorang anak yatim sedari balita dan bahkan Mamah pun nggak mengingat jelas wajah Mbah Kung. Sepeninggal Mbah Kung, Mbah Uti nggak pernah mau untuk menikah lagi. Mbah Uti seorang single parent yang setia, kuat, tabah, gigih. Dengan kondisi ekonomi yang sulit saat itu, Mbah Uti mampu membesarkan anak-anaknya dan menyekolahkan hingga SMA, suatu hal yang membanggakan karena di kampung kebanyakan anak-anak sekolah hanya sampai SD.
Buat gue seorang anak milenial, mendengar cerita Mamah dan membayangkan ikatan hubungan antara Mbah Uti dan Mbah Kung ini lebih dari sekadar ikatan yang manis, terasa begitu menyentuh dan mendalam. Cinta sejati kah?
Dalam hati gue saat itu, gue menginginkan cinta mendalam dengan ikatan yang begitu kuat seperti yang dimiliki Mbah Uti dan Mbah Kung.
Entah yang ke berapa kali gue menghampiri Mbah Uti bersiap untuk mengeluh. “Mbah Uti, kalau aku menyukai sesuatu tapi belum berhasil sesuai harapan, aku pasti bakal coba lagi iya kan? Tapi, anak-anak yang lain bilang kalau belum mencapai hasil memuaskan sesuai harapan tandanya nggak cocok dan mesti cari yang lain. Aku nggak sependapat dan aku dibilang aneh.”
Untuk pertama kalinya Mbah Uti menatap gue dengan sangat serius. Dan setelahnya perkataan Mbah Uti yang nggak akan pernah gue lupa sampai kapan pun.
•••
“Mbah Uti, aku dateng. Maaf Renata nggak pernah mau ikut Mamah untuk ziarah ke makam Mbah Uti. Renata sedih banget Mbah Uti.” Gue udah mulai sesegukan, air mata udah mengalir daritadi gue memasuki halaman makam.
•••
Gue udah mulai menenangkan diri dengan menyusuri jalan setapak dengan rumput teki yang meninggi.
Dalam bahasa Jawa saat itu Mbah Uti menuturkan petatah-petitih yang dalam bahasa Indonesia dimaknai seperti ini:
Banyak orang bermain-main dengan rasa suka. Mudah mengatakan suka dan bosan sesudahnya, berganti dengan rasa suka yang lain. Sebetulnya apa rasa suka itu? Suatu perasaan panggilan seperti kau mendengar suara adzan. Dalam kondisi payah atau sehat, bahagia atau sedih, kena udzur atau tidak, yang dinamakan panggilan apa pun hal yang ada kau akan memenuhinya. Semudah itu? Sangat sulit. Tapi, menjadi mudah dan tidak sulit bagi yang sabar. Sekali kau memutuskan untuk menyukai sesuatu, lakukanlah seumur hidupmu. Karena itu, perlu kebijaksanaan dalam memutuskan suatu hal. Jangan takut membuat keputusan, bersiaplah bersabar. Bersabarlah, Nak kau akan beruntung. Kau punya rasa suka? Bagus sekali. Apakah sampai jatuh cinta? Maka, kau pemberani. Yang luar biasa adalah tetap mencintai, sampai akhir.
Gue mendengar itu, “Mbah Kung beruntung memiliki Mbah Uti.”
•••
Gue memahami bahwa bukan sibuk mencari-cari tapi siapkah gue? Siapkah mengambil dan menjalani keputusan. Sekarang jawabannya sudah sangat jelas. Gue bertekad, gue bakal jadi sosok yang membuat pendamping gue beruntung memiliki gue. Ini nggak hanya tentang pasangan hidup, tetapi juga tentang karir atau pekerjaan. Beranikan diri untuk jatuh cinta (BRAVE), setia untuk tetap mencintai (LOYAL), sesungguhnya benar berkomitmen (TRUE), dan hadirkan kebersamaan dengan orang-orang terkasih (DEVOTION TO FAMILY).
•••
Bersambung | Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
