Disclaimer: No offense, enjoy the reading. Okay?
Ini adalah sebuah kisah bernama pegawai. Kenal kah? Pernah bertemu dengannya? Atau memilikinya? Bagaimana kah perlakuanmu kepadanya? Mampu kah saling percaya?
Resource management atau manajemen sumber daya adalah mulai dari pengaturan kepegawaian, alokasi rantai suplai, logistik, efisiensi aset, analisis dampak lingkungan, dan hal lain yang berkaitan.
Ketidakpuasan pegawai beberapa faktornya:
Gaji kami tidak sesuai dengan risiko yang harus kami tanggung setiap harinya. Risiko hukum yang kadang-kadang juga bukan murni kesalahan Si Pegawai. Jam kerja yang tidak manusiawi. Lalu, tuntutan pencapaian pekerjaan yang membuat gila. Perusahaan tidak membuat pegawai bekerja dengan nyaman dulu, tetapi sudah dirancang kompetisi yang tidak masuk akal. Apa yang terjadi kemudian mirip keadaan di penjara. Komunitasnya dibangun dengan ketakutan. Ketakutan dipecat. Ketakutan tidak makan. Ketakutan dianggap orang yang tidak mensyukuri nikmat apabila sedikit saja kita memprotes perlakuan-perlakuan ini.
“Saya memilih jalan saya sendiri. Saya juga ingin kondisinya membaik. Saya juga menghendaki perubahan. Namun, perubahan itu akan saya hasilkan dalam jalur yang fair. Dengan begini, saya nanti pelan-pelan akan mendapat kewenangan untuk bisa berbuat banyak. Pada saatnya nanti, kalau saya berjuang keras dan bersabar, tidak terasa saya akan sampai pada posisi yang memungkinkan saya bisa melakukan perubahan itu semudah membalikkan telapak tangan. Itulah jalan yang benar. Itulah jalan yang saya pilih.”
Manajemen mempunyai inisiatif membentuk program rekrutmen baru. Program ini benar-benar yang khusus dari yang khusus. Program ini dirancang berbeda, tidak seperti sebelumnya saat peserta program dipilih melalui rekrutmen terbuka dan seleksi, lalu dilakukan pelatihan di kelas dan magang. Kali ini, peserta dipilih langsung melalui metode observasi di lapangan. Yang melakukan observasi adalah pegawai kami yang terpilih juga, yang kami sebut dengan istilah scout. Seorang scout diberi kewenangan penuh untuk memilih apprentice atau anak didiknya.
Fungsi scout tidak hanya sebagai orang yang memilih siapa saja yang masuk program ini, tapi dia juga yang menjadi mentor. Bahkan, kami mengambil kebijakan cukup radikal, bahwa scout bertanggung jawab penuh terhadap anak didiknya. Seorang anak didik tidak bisa dipecat, kecuali disetujui oleh scout-nya. Tapi, jika satu saja anak didiknya yang kinerjanya di bawah rata-rata selama dua tahun berturut-turut, Si Scout yang akan dipecat.
Mengapa harus melawan manajemen? Mengapa tidak mengubah sistem dari dalam? Mengapa tidak ikuti dulu aturan main, lalu memperbaiki pelan-pelan? Mengapa tidak mengikuti teman seangkatanmu yang bekerja baik dan berprestasi? Lalu, ketika sudah berada pada posisi yang memiliki kewenangan, kita ubah sistem yang tidak betul menjadi betul. Mengapa tidak seperti itu?
Kepada orang-orang yang menanyakan itu, sampaikan kepada mereka begini: Sistem ini sudah terlalu rusaknya sehingga tidak bisa disetel dari dalam. Banyak orang yang sudah mencobanya dan berakhir menjadi penyambung sistem saja. Menjadi rongsokan. Mengubah pelan-pelan bagaimana? Itu hanyalah trik manajemen agar energi kita habis, kemudian kita dihantamnya. Bagaimana pun, kita ini adalah pihak yang kecil, yang lemah bila dibandingkan lawan kita yang raksasa. Energi yang sudah kita miliki harus kita manfaatkan dengan efektif dan efisien.
Dalam sejarahnya, setiap kelompok yang hendak memperjuangkan kebenaran selalu dikucilkan oleh masyarakat dan ditindas oleh yang berkuasa. Saya berbicara tentang Plato, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Bung Karno, bahkan Rasul kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.
Selama ini saya dihantui oleh satu pertanyaan yaitu bagaimana seharusnya hubungan yang ideal antara pegawai dan perusahaan? Dari kecil, sebenarnya kita sudah dididik oleh orangtua kita tentang nilai-nilai luhur dalam bekerja, seperti bekerja keras, jujur, bertanggung jawab. Tapi, ketika beranjak dewasa dan betul-betul memasuki dunia kerja, ada hal-hal lain yang kita pelajari.
Muncullah yang disebut aktualisasi diri, politik, pandangan akan kesuksesan cepat, keberuntungan, bakat, passion, yang semuanya cenderung menempatkan faktor-faktor penentu hidup kita pada sesuatu yang bukan kekuasaan kita.
Kita kemudian ragu dengan nilai-nilai yang sudah kita dapat sebelumnya. Kebaikan menjadi ambigu, bahkan diputarbalikkan. Menuruti aturan dikatakan lembek. Optimisme dibilang menipu diri. Tidak ada kepercayaan untuk memperbaiki, malah meyakini hal-hal yang belum pasti.
Jika seseorang tidak patuh pada peraturan, mengambil jalan-jalan pintas, mengaku untuk kepentingan kita, bagaimana orang itu bisa dipercaya tidak mengkhianati kita di lain kesempatan? Bagaimana pun, integritas adalah yang nomor satu.
Saya di sini mewakili orang-orang yang bekerja dengan percaya bahwa kebaikan selalu bersama mereka yang sabar menapaki jalan yang benar. Ada kesabaran, ada hasil.
Seorang mentor tahu benar, anak didiknya punya potensi hebat, tapi jika Sang Mentor berlaku manis kepada Anak Didiknya, itu tidak akan bisa membuatnya sadar akan potensi itu.
Kita tidak bisa mempertahankan orang untuk bisa berpikir revolusioner terus-menerus, betapa pun kau pandai berpidato.
Teorinya, orang akan mau gerak karena ada iming-iming sesuatu yang baik. Nyatanya tidak begitu, orang lebih sering memilih bertindak atau tidak bertindak karena tidak mau kena hukum.
Intinya, kita harus memaksa orang-orang untuk berpikir di luar kotak. Mustahil membuat semua orang bisa seperti itu, kecuali karena satu hal. Yaitu bila memang kotaknya sudah tidak ada. Dengan cara …. kita bakar kotaknya.
Ada hari ketika kesabaran menjadi penawar luka di masa-masa sulit.
Ada hari ketika belas kasihan menyelamatkan mereka yang menderita.
Ada hari ketika kesantunan meredam sakitnya diperlakukan sewenang-wenang.
Tapi, hari ini bukanlah hari-hari itu. Hari ini adalah hari ketika keadilan itu akan kita rebut dari mereka yang tidak mampu menjalankannya. Hari ini adalah hari ketika kita bertindak menyelamatkan institusi dari mereka yang sebenar-benarnya menggerogoti perusahaan ini dari kursi mereka yang nyaman.
Perusahaan dan Pengusaha
Seorang pengusaha yang menjalankan perusahaan, kemudian memiliki pegawai. Dari yang semula perusahaan berskala kecil, perlahan semakin besar, maju dengan ribuan pegawai. Bagaimanakah seorang pengusaha menganggap sosok bernama pegawai di dalam sebuah perusahaan? Ingatlah bahwa tulisan ini adalah sejatinya tentang bersikap. Sikap yang benar? Burn the Box!
Mulai kenali kami, ELING Way: Learning Any Language Differently. Learn more
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.