Disclaimer: Tulisan ini seperti Q & A (Question & Answer) dan akan dijawab sejujur-jujurnya, selugas-lugasnya, se-apa adanya, sesantun-santunnya, se-elegan mungkin. No Offense. Oh, SNAP! Really?

My Bestie is My Sister!
There is no better friend than a sister. And there is no better sister than you. A sister is a perfect example of a best friend!
Apa artinya seorang, dua orang atau banyak teman?
Menurut saya mendefinisikan suatu hubungan dengan seseorang itu dengan melihat batasan-batasan yang terbangun di antara para pihak. Melalui batasan-batasan yang terbangun itu apakah tercipta dengan sendirinya atau pun yang disepakati bersama, maka kemudian hubungan tersebut akan memiliki label tertentu didasarkan atas seberapa jauh para pihak diizinkan memasuki wilayah batasan yang dimiliki satu sama lain.
Ada banyak sebutan label yang berkembang seiring dengan bertambahnya kompleksitas hubungan manusia di dalam lingkungan mereka. Sebagai contoh mudahnya ialah label teman. Melabeli seseorang dengan sebutan teman ialah hal yang mudah ditemukan terutama dalam kultur yang terbuka yang memandang kekerabatan, keakraban sebagai nilai penting saat mereka berinteraksi sosial. Negara-negara timur seperti di Indonesia, meskipun tidak semua negara wilayah timur dan juga tidak semua wilayah di Indonesia, memiliki penerimaan positif yang besar terhadap kehadiran seseorang di dalam lingkungan mereka. Misalnya, ada yang baru saja saling mengenal saat itu juga dibilang teman. Dalam literatur Bahasa Inggris, kosakata tentang kedekatan hubungan sesama manusia, mereka membaginya dengan lebih hati-hati. Artinya, di dalam kultur negara Barat mereka tidak mudah melabeli seseorang dengan sebutan teman apalagi yang baru mereka kenal. Mereka memiliki kosakata stranger, acquaintance, colleague, business partner, friend, mate, flatmate, boyfriend (girlfriend), husband (wife), partner (in life), brother, sister, sibling, parents, etc.
Menurut saya kejelasan dalam melabeli hubungan antara para pihak itu sangat bagus. Semakin jelas label hubungan yang dimiliki para pihak, maka akan menciptakan hubungan yang sehat. Hubungan yang sehat adalah masing-masing para pihak menyadari batasan-batasan yang terbangun secara jelas dan sadar, sehingga tercipta saling menghormati dan menghargai. Hal ini akan menghindari konflik atas ketidaksesuaian para pihak, seperti kesalahpahaman yang menilai salah satu pihak dimanfaaatkan dan/atau melanggar batasan terlalu jauh ke wilayah pihak lainnya tanpa disadari. Sebagai contoh, “Ayolah dibantu, kita itu teman bukan? Teman sendiri haruslah dibantu.” Pernyataan tersebut agak tricky karena penyebutan label harus diikuti dengan kejelasan batasan yang dibangun atas kesepatan dan penerimaan para pihak dan ini dapat tercipta dengan menilai konteks hubungan di lingkungan seperti apa yang mereka jalani, apakah lingkungan kerja, keluarga, gim, futsal, klub buku, sekolah/kuliah dan sebagainya. Karena hal itu akan menentukan porsi keseimbangan para pihak untuk berkontribusi dalam hubungan mereka. Artinya, para pihak tidak bisa hanya memberi saja atau hanya mengambil saja, sebaliknya harus seimbang take and give di antara para pihak. Pada akhirnya terciptalah keharmonisan di dalam hubungan tersebut.

Elingway: Learning Any Language Differently
Berbeda-Mendukung-Memberi Lebih (tetap ada-tidak meninggalkan-tetap mendukung-yang selalu dapat diandalkan.)
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.