Nggak Mau Pacaran! (Cerbung #11) Finale

Disclaimer:
Cerita ini ialah cerita fiksi yang dibuat bersambung sehingga untuk membacanya disarankan dari Cerbung #1.
Cerbung ini tidak menentu kapan rutin dilanjutkan, yang menantikan, 'Terima kasih!'.
Cerbung #11 adalah akhir dari keseluruhan cerita ini. Finale. Tamat.

Kau ingin menghentikanku sendirian? | Aku tidak takut padamu. | Ya, kau takut. Sepanjang hidupmu kau takut, selalu berlari, selalu bersembunyi. | Kau tidak perlu takut. Aku sangat bangga kepadamu. Keluarga kita membutuhkanmu.

Potongan dialog shang-Chi and the legend of the ten rings

•••

SEBELAS | 11

Sendirian itu nggak mudah. Saat kamu bertanya-tanya mengapa situasi dan kondisi yang sulit membuat semua orang pergi menjauh dan kamu menjadi sendiri. Semua itu tersimpan kasih sayang dan berkah untukmu. Kamu membutuhkan kondisi seperti itu untuk lebih mengenal dirimu. Selama kamu nggak pernah betul-betul mengenal dirimu, selama itu pula kamu nggak akan pernah bisa percaya kepada dirimu sendiri. Kamu akan bisa menaruh kepercayaan kepada seseorang ketika kamu merasa yakin bahwa kamu betul-betul mengenalnya, bukankah begitu? Bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu percaya bahwa kamu bisa menaklukan dunia? Kau rasakan dirimu bergetar, merasa gentar. Kau takut. Betapa hal yang sangat sulit dipercaya. Dunia menertawakanmu, bukan? Kamu bilang kamu percaya bahwa kamu bisa, kamu mampu. Tapi, kamu bohong. Sekali lagi, kamu takut. Saat semua pergi meninggalkanmu dan yang tersisa hanyalah kamu sendiri. Seketika itu pula keadaan saat itu menghentikanmu. Mengapa kamu tidak bisa mengandalkan dirimu sendiri? Mengapa kamu berhenti? Apa yang membuatmu berhenti? Kamu takut? Apa yang kamu takutkan? Kamu meyakinkan diri bahwa kamu tidak takut. Ya, kamu takut.

•••

“Woh…” Gue mulai membuka suara.

Nggih, Mbak.” Siwoh Nah menatap gue, menunggu gue melanjutkan kata-kata yang masih mengambang di udara.

“Rasa takut Renata yang membuat Renata lama kembali, Woh.”

Nuwun sewu, Mbak?”

“Aku denger, Woh. Banyak orang kampung selalu tanya, setiap aku di jalan berpapasan dengan mereka, selalu pertanyaan yang sama, ‘Kenapa lama sekali baru pulang, Mbak Renata?’. Dan itu tadi jawabanku, Woh.”

“Takut opo tho, Mbak?” Gue menangkap rasa bingung dari nada pertanyaan Siwoh Nah, yang tiba-tiba berbelok ke arah obrolan ini.

“Mbah Uti itu sosok yang luar biasa ya, Woh. Bahkan setelah bertahun-tahun Mbah Uti nggak ada, Mbah Uti berhasil memastikan aku kembali.”

•••

“Cah ayu, tolong bantu Mbah Uti pilihkan mantu yo?” Di suasana pagi saat itu yang sungguh cerah, gue seakan mendengar suara petir menggelegar dan seolah silaunya kilatan sambaran petir itu tetap membuat mata gue bisa melotot.

“Renata nggak salah denger, Mbah Uti? Mantu buat siapa?????? Tanda tanya udah nggak kehitung lagi di kepala gue.

“Lah ini Mbah Uti lagi ngomong sama siapa?”

“Ya, aku Mbah Uti,” jawab gue lempeng.

“Lah iyaudah tho, kok malah tanya siapa.” Jawaban Mbah Uti nggak kalah lempeng sambil menatap lurus ke mata gue.

Hah????????

Gue mulai sok sibuk berusaha abai, berharap obrolan itu cepat teralihkan.

Opo sing salah dari ucapan Mbah Uti?” Gue menangkap nada suara datar Mbah Uti tapi berasa horor buat gue.

Gue masih berlagak repot entah beberes entah apa pun. Gue nggak berani natap dan bersuara.

“Cah ayu, coba kamu lihat pohon gaharu itu baik-baik.” Mata gue refleks mengikuti arah telunjuk Mbah Uti ke halaman depan rumah.

“Perhatikan mulai dari akar pohon yang ndak tampak. Akar pohon ndak tampak, yang tertanam menancap kuat dan kokoh di dalam tanah ibarat keyakinan. Keyakinan itu ndak tampak, cah ayu. Kalau mau kuat dan semakin kokoh, harus rajin disirami air. Air itu sumber kehidupan. Dan kebaikan adalah sumber kehidupan. Selama ada kebaikan, maka di sanalah tersedia kehidupan. Keyakinan yang kuat dan kokoh hadir dari kebaikan yang rajin kamu lakukan. Awal mula kehidupan dari semenjak kita bayi yo pasti semua orangtua yang bener selalu berusaha menanam kebaikan, ‘Nak, ayo cuci tangan dulu sebelum makan. Ayo, hormat kepada orang yang lebih tua. Ayo, berikan kasih dan sayang kepada yang lebih muda’. Nah itu, cah ayu. Kebaikan-kebaikan yang ditanam itu sebagai bekal keyakinanmu kelak. Karena itu, penting sekali peran keluarga dalam kehidupan terutama nanti kalau kamu diberikan rezeki pendamping dan kemudian menjadi sosok orangtua untuk anak-anakmu.”

Mbah Uti sesaat terdiam, tangannya bergerak mengambil cangkir berisi teh di atas meja di sisi sebelah kanan. Gue udah daritadi mendekat dan duduk di sebelah kiri Mbah Uti, menyimak penuh perhatian.

“Kebaikan-kebaikan itu terus tumbuh menjulang tinggi seperti batang pohon yang lurus. Agar pohon dapat bermanfaat, ia menunas. Tumbuh dahan-dahan bercabang. Sampailah kamu di sana, cah ayu. Saat orangtua berhasil membekalimu, mendampingimu, mengajarimu, menuntunmu pada jalan kehidupan penuh kebaikan seperti batang pohon yang lurus, kamu pada waktunya harus siap memasuki gerbang kedewasaanmu, kemandirianmu. Apakah tandanya? Tandanya ialah kamu sadar bahwa kamu bertanggung jawab atas kehidupanmu sendiri yang dimulai dengan berani mengambil keputusan. Memutuskan artinya siap memilih. Kamu harus siap memilih dahan-dahan bercabang itu. Kalau kita mau maju memulai perjalanan untuk terus bertumbuh, kamu harus berani memilih satu dahan dari sekian dahan-dahan bercabang itu untuk kamu lalui, jalani, dan tekuni. Apa pun jalan yang kamu pilih pasti akan sampai ke tujuan. Pastikan kamu memilih dahan yang tepat.”

“Cara memilih dahan yang tepat bagaimana Mbah Uti?” Gue langsung nyeletuk. Mbah Uti tersenyum tanpa menoleh ke gue, pandangan matanya makin lekat ke arah atas ujung pohon gaharu.

“Jangan takut.” Mbah Uti menjawab tegas.

Ndalem?” (maksud ndalem di sini diartikan ‘Apa? Tolong diulang?’). Gue bingung.

“Cara memilih yang tepat itu kamu jangan takut, cah ayu.” Kali ini Mbah Uti bilang sambil menatap mata gue. Gue ditatap begitu malah mengernyitkan dahi, tanda kalau gue masih super duper bingung tenan.

“Karena rasa takut yang akan menahanmu, cah ayu. Kenapa kamu takut? Keyakinanmu terkikis, jadi lemah. Dan kamu lupa diri kamu sendiri seakan ndak mengenal dirimu. Jangan lupa bertanya ke dirimu sendiri yo. Bagaimana pun yang paling mengenal dirimu yo kamu tho. Lihat atas ujung pohon gaharu itu. Kalau kamu tau dan yakin kamu bahagia berhasil memanjat untuk berada di atas sana padahal kamu belum ke sana tapi sudah bisa kamu bayangkan dan rasakan bahagianya kamu nanti di sana, lalu opo kuwi yang namanya rasa takut? Jangan takut dengan kebahagiaanmu. Yakini dan pilihlah.”

•••

Tamat | Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply