Disclaimer: Tulisan ini seperti Q & A (Question & Answer) dan akan dijawab sejujur-jujurnya, selugas-lugasnya, se-apa adanya, sesantun-santunnya, se-elegan mungkin. No Offense. Oh, SNAP! Really?

Siapa percaya Elingway? Apakah kamu percaya? Tunggu dulu. Yang terpenting adalah “Apakah saya sendiri percaya Elingway?”
— Karin Sari Saputra
Pertanyaan ‘Siapa percaya Elingway?’ membuat saya menangis.
Coba dibayangkan seperti ini: Saya sedang berdiri di tengah-tengah lapangan basket. Saya seorang diri di lapangan basket itu. Para pemain dan orang-orang lapangan berada di sekeliling mengitari lapangan berdiri di sana, semua menatap saya. Begitu juga kerumunan penonton di tribun, mereka semua menatap seorang yang berdiri sendirian di tengah lapangan. Satu tangan saya memegang mikrofon, dan satu tangan lainnya saya gunakan untuk memegang sesuatu. Benda yang ada di tangan saya ini, tentunya yang bukan mikrofon, perlahan saya ulurkan ke depan, saya perlihatkan benda itu ke semua orang, sambil badan saya bergerak memutar supaya semua orang yang di stadion basket dapat melihat benda yang ada di tangan saya ini lebih jelas. Saya mulai arahkan mikrofon ke mulut saya dan berkata, “Mana bolanya?” Nada suara saya dibuat mengayun panjang di akhir kalimatnya jadi seolah dibaca tulisannya seperti ini: “Mana bolanyaaaaaaaaa?” dengan ‘a’ yang panjang. Dan terdengar nyaring sekali di mikrofon. Pertanyaan saya itu pertanyaan bodoh, bertanya di mana bola padahal jelas sekali ada dipegang oleh saya sendiri. Ya, betul benda yang ada di tangan saya yang saya ulurkan ke semua orang di stadion itu ialah bola basket. Walau pertanyaan itu pertanyaan bodoh tapi itu adalah pertanyaan berguna untuk mendapatkan atensi. Semua orang makin lekat menatap saya terutama bola basket yang saya pegang ini. Saya sedikit berdeham, ancang-ancang untuk bersuara kembali. “Siapa percaya bola basket ini bisa masuk ke sana?” Sambil bertanya, saya arahkan uluran tangan saya yang memegang bola basket ini ke arah ring basket sisi barat lapangan. Semua orang di stadion tampak bergeming (tidak bergerak, tetap diam). Tatapan mereka seperti menunjukkan ketidakpercayaan. Saya seolah dapat membaca pikiran sebagian besar orang di stadion itu, “Masukkan bola basket dari tengah lapangan ke ring, memangnya semudah itu? Kecil kemungkinan masuk lah, kecuali pemain pro. Dia pemain bola basket juga bukan. Nggak usah dari tengah lapangan yang jaraknya ke ring bisa mencapai sekitar 12,5 meter, dari jarak 3 meter ke ring atau malahan kurang dari itu, saya juga nggak yakin. Siapa percaya?” Saya kemudian bersiap untuk bersuara lebih kencang daripada sebelumnya. “Ayo, siapa percaya bola basket ini masuk ke ring itu?” Suara teriakan saya benar-benar meninggi dan sekarang bola basket yang saya pegang ini, saya arahkan ke atas. Saya acungkan bola basketnya dan saya bergerak memutarkan posisi badan ke segala arah biar semakin dramatis, semakin menuntut atensi semua orang di dalam stadion.
Suara tinggi saya malah membuat orang-orang semakin ragu atau takut? Dari tengah lapangan saya mendekati ke pinggir mengulurkan bola basket dari tangan saya ke orang-orang yang berdiri dekat pinggir lapangan. Mereka bergerak mundur, menolak untuk meraih uluran bola basket di tangan saya ini. Saya kembali ke tengah lapangan dan berkata dengan sama sekali tidak mengecilkan suara saya, “Saya percaya bola basket ini bisa masuk ke ring yang di sana! Siapa percaya? SAYA PERCAYA!” Saya berteriak tanpa sedikit pun suara saya bergetar, suara saya penuh dengan keyakinan kuat. Percikan api keyakinan di mata saya menular ke semua orang di dalam stadion, tapi percikan api mereka berbeda dengan saya. Mereka menuntut bukti atas perkataan saya itu, dan saya yakin kalau bola basket itu gagal masuk ke ring di sana, gelombang kemarahan siap melalap saya. Saya masih sendirian di sana. Saya tidak takut untuk buktikan, saya tidak bohong kalau saya benar-benar percaya. Ketika saya mulai bersiap mengarahkan bola basket di tangan saya ini, seseorang tak terduga itu datang, berlari cepat ke arah saya, langsung mengambil bola basket di tangan saya. Saya merasakan energi yang sama, keyakinan penuh yang dia miliki dan dengan penuh percaya diri dia mengambil posisi ancang-ancang, sedetik kemudian tembakan bola basket itu sudah mulai melambung menjangkau ring, dan … MASUK! Dia langsung mengepalkan kedua tangannya disusul gemuruh teriakan semua orang di dalam stadion. Kemudian, dia menatap saya. Mikrofon di tangan saya langsung berpindah ke tangannya, mengarahkan tatapannya ke semua orang dan berkata, “Saya percaya bola basket itu bisa masuk ke ring. SAYA PERCAYA. Karena saya percaya, maka bola itu masuk. Kalau kalian tidak percaya, maka bola basket itu tidak akan pernah masuk ring di sana. Dan, saya percaya kepadanya.” Dia diam sebentar sambil menoleh ke saya. Setelah itu dia melanjutkan bicara dan berkata, “Dia bertanya ‘Siapa percaya bola basket yang dipegangnya masuk ke ring di sana?’, saya percaya kepadanya karena bola basket itu akan masuk dengan caranya. Saya percaya bola basket itu masuk ke ring dengan cara saya, cara yang umum yang kalian semua ketahui seperti yang tadi saya lakukan. Dan bola basket itu bisa masuk ke ring di sana dengan cara dia, cara yang berbeda. Syaratnya, mulai dengan percaya kepadanya dan perhatikan bagaimana dia akan berhasil melakukannya.” Saat itu juga, saya sungguh menangis.

Elingway: Learning Any Language Differently
Berbeda-Mendukung-Memberi Lebih (tetap ada-tidak meninggalkan-tetap mendukung-yang selalu dapat diandalkan.)
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.