Terms of Use: Konten ini milik Elingway: Learning Any Language Differently. Anda boleh mempublikasikan sebagian atau seluruh konten ini dengan syarat: Cukup dengan menyertakan link pada tulisan tersebut dan/atau mengutip alamat konten ini. Copyright © 2022 Karin Sari Saputra. All rights reserved.
Tidak menemukan topik belajar Bahasa Inggris yang Anda cari? Ketikkan yang Anda cari di kolom pencarian untuk mencari konten di karinsarisaputra.com
Dapatkan konten terbaru belajar Bahasa Inggris yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.
#2 Memahami World Englishes (WEs) bagi Penutur Bahasa Indonesia
Penyebaran bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah mengubah konsepsi pengajar bahasa Inggris (jika dikaitkan dengan konteks pengajaran bahasa), yaitu tentang berbahasa dan bagaimana bahasa harus diajarkan. Para ahli seperti Kachru mengatakan bahasa Inggris telah berkembang dengan esensi plural, yakni dengan variasi yang berbeda sehingga menunjukkan World Englishes (disingkat WEs) yang bermakna menunjukkan keutamaan pluralitas dan inklusivitas dalam menginformasikan konsepsi bahasa Inggris (Bhatt, 2001; Bolton, 2005; Jenkins, 2006; Kachru, 1996).
Kachru (1992) menggagas ‘Three circles model of World Englishes‘, ketiga model lingkaran tersebut di antaranya, (1) lingkaran dalam; (2) lingkaran luar; dan (3) lingkaran berkembang. Untuk membantu menjelaskan ketiga model lingkaran tersebut, Axtell (1995) menjelaskan bahwa terdapat tiga kelompok utama negara-negara yang berbicara dalam bahasa Inggris, yaitu (1) Negara-negara di mana bahasa Inggris adalah bahasa asli mereka; (2) Negara-negara di mana bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar atau bahasa resmi/tidak resmi; dan (3) Negara-negara di mana bahasa Inggris secara luas dipelajari oleh masyarakatnya.
Jenkins (2006: 159) mengutip Bolton (2004, hlm. 367) menunjukkan ada tiga kemungkinan interpretasi dari istilah WEs. Pertama, WEs berfungsi sebagai “label payung” yang mencakup semua jenis bahasa Inggris di seluruh dunia. Kedua, digunakan dalam arti sempit untuk merujuk pada apa yang disebut bahasa Inggris baru di Afrika, Asia, dan Karibia (merujuk pada model lingkaran luar oleh Kachru). Ketiga, digunakan untuk mewakili ancangan yang berkenaan dengan kemajemukan variasi untuk memelajari bahasa Inggris yang berhubungan dengan Kachru dan rekan-rekannya, dan sering disebut sebagai ancangan Kachruvian.
Sehubungan dengan isu globalisasi dan pergeseran kekuatan ekonomi di suatu negara, berdampak terhadap peningkatan interaksi di antara negara-negara dengan latar belakang bahasa pertama yang berbeda-beda. Untuk menjembatani kesenjangan berkomunikasi tersebut, maka bahasa Inggris memainkan perannya sebagai bahasa global, bahasa internasional dan bahasa Inggris sebagai lingua franca. Apa yang terjadi kemudian adalah belajar bahasa Inggris pada setiap negara akan memiliki keluaran yang bervariasi karena terkait dengan aspek sosial dan budaya di negara tersebut. Jika demikian, WEs muncul sebagai perspektif baru yang memandang bahasa Inggris tidak selalu ke arah standar asli, North American English (NAmE) dan British English (BrE).
Implikasi WEs pada konteks pengajaran bahasa Inggris mengindikasikan bagi para pengajar bahasa Inggris profesional perlu dilengkapi dengan pemahaman untuk menggunakan metodologi pengajaran bahasa yang peka budaya sesuai dengan konteks pengajaran seperti pada ancangan yang dikenal sebagai etnografi komunikasi (Bhatt, 2001).
Berpijak dari hal di atas, transformasi konsepsi belajar bahasa untuk mengakomodasi perubahan dalam banyak konsepsi bahasa Inggris memerlukan peningkatan kesadaran pengajar dan siswa terhadap varietas WEs yang saat ini digunakan dan sedang berkembang (Cook, 1999; Jenkins, 2006). Menurut Canagarajah (2006) akan timbul dua pertanyaan, yaitu norma-norma manakah yang harus kita terapkan? Dan bagaimana kita mendefinisikan kemahiran dalam bahasa Inggris? (hlm. 229). Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut ialah akan sangat bergantung dari pilihan perspektif yang diambil, apakah dari perspektif standar asli bahasa Inggris atau perspektif WEs (World Englishes).
Perspektif WEs terhadap suatu kemahiran tidak akan terlepas dari perdebatan istilah ‘correctness’. Selaras dengan yang dikatakan oleh Harding (2012) bahwa ‘correctness’ merupakan satu hal yang problematik. Menariknya, ahli bahasa selama bertahun-tahun telah sengaja menghindari istilah ‘correctness’ dan ‘error’ dalam deskripsi bahasa ilmiah mereka. Salah satu isu yang muncul dari pandangan ‘error’ ini adalah pertanyaan dalam menerapkan istilah ‘correctness’ ketika proses belajar-mengajar bahasa Inggris berlangsung di dalam kelas. Sekiranya muncul masalah, maka terjadi perdebatan terhadap gagasan ‘correctness’ itu sendiri, yaitu apakah perkara salah atau benar itu sama seperti yang diyakini oleh kebanyakan orang pada umumnya. Jika demikian, tampaknya membutuhkan referensi terkait perihal kriteria yang lebih solid dari ekspektasi sederhana tentang bentuk bahasa.
Relevansinya, perspektif WEs menjadi landasan di bidang kajian terhadap munculnya variasi-variasi bahasa Inggris, terutama terkait variasi aksen dan dialek. Artinya, andaikan pada satu kasus ketika pada praktik pengajaran bahasa Inggris, misal, di kelas kemahiran berbicara belajar untuk pengucapan/pelafalan kata tertentu dan menemukan siswa dengan kekhasan tersendiri, yaitu siswa dengan latar belakang budaya Sunda kesulitan melafalkan antara fonem ‘p’ dan ‘f’, alih-alih disalahkan, sebaiknya dapat dipahami dan berterima jika masih berkesesuian dengan makna dan isi konten.
Oleh karena itu, Kachru mengkritik upaya untuk label bahasa Inggris di lingkaran luar (outer circle) menyimpang atau kurang sempurna dan terfosilisasi karena pandangan-pandangan ini tidak mempertimbangkan bahasa Inggris lokal (pengguna dari lingkaran luar) dan konteks sosial budaya. Kachru pun menentang label ‘errors’ karena lagi-lagi ujaran-ujaran yang dianggap sebagai ‘errors’ mungkin tidak berlaku untuk bahasa Inggris lokal karena mungkin saja ujaran-ujaran tersebut berterima.
Sekadar menyimpulkan bagian ini, pertanyaan pamungkas terkait WEs dan korelasinya dengan bahasan berikutnya tentang Indonesian English, yakni bentuk varietas bahasa Inggris di lingkaran berkembang, “Dapatkah varietas bahasa Inggris lokal (non-penutur jati) muncul di negara lingkaran berkembang?”. Perhatikan uraian pernyataan menurut Ren (2014) berikut:
Ketika orang menggunakan bahasa Inggris, tidak peduli sebagai varietas lokal atau sebagai lingua franca, mereka tidak hanya menggunakannya sebagai alat komunikasi tetapi juga untuk dapat mengekspresikan identitas mereka. Ketika orang-orang di lingkaran berkembang berkomunikasi dalam bahasa Inggris, mereka tidak hanya sesuai dengan varietas asli bahasa Inggris tetapi bahasa Inggris mereka beradaptasi dengan perubahan agar sesuai kepentingan mereka sendiri. Bahasa Inggris, bagi pengguna di lingkaran berkembang, bukan perkara milik yang disewa dari penutur asli. Mereka juga memiliki bahasa Inggris (Widdowson 2003). Kepemilikan bahasa Inggris terletak pada orang-orang yang menggunakannya, yang memiliki kekuatan untuk beradaptasi dan mengubahnya (Brumfit 2001), tidak terbatas pada orang-orang di lingkaran dalam dan lingkaran luar.
hlm. 209
NANTIKAN LINGUISTICS SERIES BERIKUTNYA
Tersedia Bimbingan dan Referensi Bacaan
(*) Informasi Daftar Acuan
Silakan tanyakan pada kolom komentar untuk sumber acuan yang dipakai pada tulisan ini.
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.