[Linguistics Series] #3 Indonesian English?

Terms of Use:
Konten ini milik Elingway: Learning Any Language Differently.
Anda boleh mempublikasikan sebagian atau seluruh konten ini dengan syarat:
Cukup dengan menyertakan link pada tulisan tersebut dan/atau mengutip alamat konten ini.
Copyright © 2022 Karin Sari Saputra. All rights reserved. 

Tidak menemukan topik belajar Bahasa Inggris yang Anda cari? Ketikkan yang Anda cari di kolom pencarian untuk mencari konten di karinsarisaputra.com

Dapatkan konten terbaru belajar Bahasa Inggris yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.

#3 Indonesian English? Apakah artinya bahasa Inggris rasa Indonesia?

Terkait dengan Indonesian English dalam perspektif World Englishes (WEs), yaitu hal yang lebih dahulu untuk disoroti adalah bahwa Indonesia merupakan negara yang multikultural dan mulitlingual. Sesuai dengan pernyataan Kirkpatrick (2010) “Perlu mengingat bahwa Indonesia adalah masyarakat kaya multikultural dan multibahasa dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang yang, bersama-sama, mewakili lebih dari 400 kelompok etnis dan berbicara lebih dari 200 bahasa” (hlm. 2).

Belajar bahasa Inggris bagi orang Indonesia dengan latar belakang multikultural dan mulilingual, tentu akan mempengaruhi produksi ujaran yang dihasilkan oleh siswa. Perspektif WEs adalah yang dapat mengakomodasi bagi varietas bahasa Inggris seperti Indonesian English (InaE) agar peka terhadap isu-isu berikut, di antaranya: (1) aspek pengucapan. Semakin pengajar atau pun pendengar memiliki skema yang kaya terhadap ragam variasi bahasa Inggris yang dihasilkan, maka keberhasilan komunikasi akan lebih tercipta; (2) aspek kosakata. WEs ditandai dengan penggunaan unsur leksikal budaya-spesifik. Hal itu wajar, karena orang harus mampu berbicara dan menulis tentang fenomena lokal dan perlu kata-kata untuk menggambarkan hal tersebut. Kata-kata dengan unsur leksikal budaya-spesifik dapat berasal dari pelbagai sumber dan meminjam dari bahasa lokal sangat umum, seperti yang dicontohkan oleh kata-kata dari Australian English seperti kangaroo, koala dan boomerang, yang semuanya berasal dari bahasa Aborigin Australia yang berbeda. Selain itu, ang mo, yang secara harfiah berarti ‘rambut merah’ dalam bahasa Kanton, adalah kata sehari-hari untuk orang asing di Hong Kong English (Kirkpatrick, 2010).

Selanjutnya, (3) Pencampuran-kode. WEs juga ditandai dengan pencampuran-kode (Li 2002; McLellan & David 2007). Sekali lagi, ini adalah hal yang alami, menurut definisi, sebagian besar orang-orang yang berbicara bahasa Inggris dunia adalah multilingual yang telah belajar bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan. Ketika berbicara kepada orang-orang yang berbagi latar belakang bahasa yang sama, mereka secara alami akan campur-kode. Hal tersebut merupakan cara penting untuk menampilkan identitas bersama.

Agar dapat mengetahui ragam variasi-variasi pada produksi ujaran dilakukan tahap pertama kodifikasi terhadap munculnya bentuk variasi-variasi bahasa Inggris atau WEs, yakni dari fitur linguistik pengucapan (aksen). Selanjutnya, agar dapat mengetahui ragam variasi InaE dari fitur linguistik pengucapan (aksen), diperlukan analisis fonetik melalui IPA (International Phonetic Symbol). Ranah analisis fonetik tersebut terdiri atas kodifikasi bunyi vokal & diftong dan konsonan. Secara teknis, analisis tersebut membandingkan fitur linguistik pengucapan (aksen) pada bunyi vokal & diftong dan konsonan standar asli bahasa Inggris (North American/AmE & British English/BrE) dengan Indonesian English, maka berikut perbedaan di antara keduanya dalam bentuk tabel.

Klasifikasi Bunyi Vokal dan Konsonan antara AmE/BrE dan Bahasa Indonesia

Berdasarkan tabel di atas kita dapat lihat bahwa bunyi vokal dan diftong antara NAmE/BrE dan Bahasa Indonesia, bunyi vokal Bahasa Indonesia berjumlah lebih sedikit, yakni hanya 8 (delapan) sedangkan diftong hanya memiliki 3 (tiga). Akibatnya, untuk mengucapkan leksikon-leksikon seperti, seat, heat, dan beat akan sama seperti sit, hit, dan bit. Oleh karena itu, kodifikasi bentuk ragam variasi-variasi bahasa Inggris terhadap InaE akan memberi perhatian khusus pada leksikon dengan bunyi vokal dan diftong [ɛ], [æ], [e], [o], [ɔ], [ʊ], [u], [i], [ɪ], [eɪ], [oʊ], [eə], [ɪə], [ʊə].

Sebaliknya, untuk bunyi konsonan dilihat dari perbandingan pada data tabel, walaupun ada di antara keduanya yang memiliki bunyi konsonan yang sama, namun berpotensi terjadi perbedaan bunyi ujaran ketika dipraktikkan. Dengan demikian, yang akan menjadi fokus kodifikasi bentuk ragam variasi-variasi bahasa Inggris atau WEs terhadap InaE, yakni tertuju pada leksikon-leksikon dengan bunyi konsonan: [θ], [ð], [v], [tʃ], [dʒ], [ʃ], [ʒ], [b], [d], [p], [t], [g], [f], [z], [r], [w] (lihat Dardjowidjojo, 2009).

Saat ini umpamanya kita tidak mungkin memaksa penutur untuk menyamakan dialek seperti halnya penutur jati karena bagi mereka justru akan menjadi ujaran yang terasa asing dan dipaksakan di lingkungan tersebut.

NANTIKAN LINGUISTICS SERIES BERIKUTNYA

Tersedia Bimbingan dan Referensi Bacaan

(*) Informasi Daftar Acuan

Silakan tanyakan pada kolom komentar untuk sumber acuan yang dipakai pada tulisan ini.

<img alt="<strong>Karin Sari Saputra
Karin Sari Saputra

Founder of Elingway: Learning Any Language Differently
Berbeda – Mendukung – Memberi Lebih


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply