Kalau ditanya kenapa saya kuliah S2, sebenarnya itu pertanyaan yang bagus. Saya bisa menjawabnya panjang lebar.
Sebelumnya tidak pernah terpkir bagi saya untuk langsung mengambil S2. Hanya saja, sebuah kesempatan besar itu datang. Dan semuanya berawal dari kedua orang tua saya.
Saya mengambil S1 program studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Swadaya Gunung Jati, di kota kelahiran saya. Cirebon. Kota yang dijuluki dengan Kota Udang. Kota Wali. Pada tahun 2012, terhitung selama 22 tahun saya telah berada di Cirebon. Lahir, dibesarkan, menempuh studi–bersekolah hingga lulus S1 di Cirebon. Saya ingat saat itu tanggal 16 Januari 2012, saya telah resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Kemudian, timbul pertanyaan, what’s next?
Seringkali saya merasa, hidup saya itu sungguh luar biasa. Pencapaian saya hingga saat ini, apa yang saya dapatkan, atau alasan dari berbagai pertanyaan–hal-hal itu merupakan jawaban dari apa yang saya yakini dan tentu saja dari Dzat yang paling saya cintai, Dia, Yang Maha Memiliki Segalanya. Allah SWT. Rabb yang telah menjawab doa-doa saya. Dan mengabulkannya.
Ketika bersekolah dulu, ada dua mata pelajaran yang saya sukai, yakni bahasa Inggris dan Matematika. Mengenang masa-masa kelas 3 SMA, saat kita harus menentukan pilihan. Apakah melanjutkan kuliah (S1)? Atau berhenti lalu mencari kerja? Menikah? Dan sebagainya. Ada banyak pilihan dan ada banyak jawaban.
Hidup itu seperti roda berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Itu memang benar. Asal tahu saja, saya tidak minat kalau ditanya oleh guru-guru, terutama guru BK, ‘selanjutnya mau meneruskan ke mana?’
Saya tidak peduli.
Pernah mendengar istilah PMDK kan? Bisa masuk ke perguruan tinggi atau universitas yang kita tuju tanpa tes tulis. Saat itu saya menerima PMDK. Di UPI Bandung. Saya senang awalnya. Menurut kamu, orang tua saya senang tidak?
Kalau jawabannya iya, kamu salah besar. Orang tua saya menghela napas. Kenapa ya? Itulah pertanyaan spontan dalam benak saya saat itu. Saya rasa UPI itu salah satu kampus representatif.
Bapak bertanya pada saya, ‘mau kuliah di UPI nok?’
Dalam hati, saya heran. Pertanyaan macam apa ini. Ya, saya mau. Tanpa ikut tes tulis serempak. Tidak perlu capek-capek. Saya hanya mengangguk.
‘Biayanya…–biaya hidup dan lain-lain?’ Ok, mendengar kata ini saya sudah bisa menebak. Saya paham.
‘Bapak, sangat mendukung kamu melanjutkan sekolah. Kuliah. Malah kamu memang harus kuliah. Tapi, di sini saja ya nok?’ Di sini maksudnya di Cirebon.
Kondisi keluarga saya saat itu memang lagi jatuh. Tepatnya semenjak krisis moneter pada tahun 1997. Saya masih SD kala itu.
Makanya, saya bosan ditanya guru, ditanya teman-teman, ‘hey nerusin ke mana nih?’ ‘Unswagati’ saya menjawab singkat. Jawaban saya itu disambut dengan ekspresi heran.
Teman saya melanjutkan bertanya, ‘Unswagati ya, ambil apa?’
‘Engga tau deh. Pendidikan Bahasa Inggris mungkin atau Pendidikan Matematika.’
‘Loh, jadi guru kan berarti kamu nanti.’
‘Iya kali.’ Saya menjawab sekenanya.
Bapak saya yang memilihkan saya untuk menjadi guru. Dan sekarang saya harus berterima kasih pada Bapak. Saya itu suka sekali dengan anak-anak. Semakin ke sini saya sadar bahwa saya menyukai dunia mengajar dan mendidik.
Ketika teman-teman yang lain berbondong-bondong meneruskan di luar kota dan saya tetap di Cirebon, apakah aneh? Pandangan orang-orang ya seperti itu. Kuliah di Cirebon? Saya itu bukan alien. Jadi, tidak usah memandang saya dengan aneh. Ataukah mereka sedang merendahkan saya yang tidak bisa seperti mereka?
Sejujurnya, saya kecewa sekali. Saya menangis. Tapi, saya tahu seharusnya saya bersyukur karena masih bisa meneruskan.
Tapi, Allah SWT itu Maha Baik. Saya juga mendapatkan berbagai pengalaman berharga berkuliah di Cirebon. Semua orang itu mempunyai jalannya masing-masing dan tidak sama.
Hingga saya lulus S1 saya aktif mengajar les private bahasa Inggris. Sampai pada akhirnya, ketika anak-anak didik saya tersebut menginjak kelas 3 SMA ada rencana yang digagas oleh teman saya, dia, guru private matematika. Jadi, dia menggagas untuk diadakan acara Goes to Campus–mengunjungi kampus idaman mereka hingga dapat lebih termotivasi–memberikan suntikan semangat. Saat itulah saya berkenalan dengan Universitas Indonesia. Saya ke UI sebelum saya wisuda, sekitar bulan Januari 2012. Tidak pernah saya membayangkan untuk ke UI. Saya punya angan untuk kuliah di UI, dulunya.
Berkeliling UI, merasakan atmosfirnya, saya senang. Hanya itu dan tidak ada perasaan apa-apa yang lainnya. Lalu, salah satu murid saya bilang, ‘mbak nerusin S2 di sini aja’. Saya terkejut, dalam hati berujar, S2? Di UI? Tak pernah terpikirkan. Saya cukup tersenyum.
Saya lantas berpikir, saya itu belum punya rencana apa pun setelah lulus nanti. Tapi, saya tahu dengan pasti bahwa saya suka mengajar. Intinya, selepas lulus saya mau mengajar. Entah di mana atau di mana.
Singkatnya, orang tua saya menawarkan untuk meneruskan S2 karena menurut beliau tanggung dan dengan begitu saya bisa menjadi dosen. Saya tidak menyangka, sekali lagi saya berterima kasih pada mereka.
Dan saya memilih UI. Ada masukan dari teman untuk kembali mengambil pendidikan–master pendidikan. Jadi, menyarankan mendaftar seperti di UPI, UNJ, UNNES, dan lain-lain. Tapi, hati saya tetap memilih UI. Saya yakin. Saya merasa sudah mempunyai chemistry ketika saya berada di sana dan itu bukan kebetulan. God has shown the way. Bukan karena UI merupakan Universitas terbaik di Indonesia, bukan karena untuk menyombongkan saya memilih UI. Kemuanya itu memang nilai tambah. Sederhana saja, ini seperti panggilan hati. Apa ya, kamu tahu kan seperti ya memang ini loh di sini, saya memilih UI dan UI memilih saya agar saya dapat berada di sini.
Saya hanya mengikuti SIMAK UI saja dan tidak mendaftar tes ke tempat lain, misal UPI. Saya tidak mau membebankan orang tua dengan biaya pendaftaran tes ke sana-sini. Saya sudah mantap dengan UI. Ibaratnya, kalau sudah jodoh tidak ke mana dan prinsip saya ketika saya yakin, maka saya bisa.
Finally, alhamdulillah saya sudah berada di sini, di UI. Tapi, PR besar buat saya adalah biaya. Walaupun orang tua tidak berkeberatan dan mampu membiayai, tapi saya tahu biaya studi S2 tidak sedikit. Allah SWT menunjukkan jalan dan itu mempertegas semua hal yang terjadi pada kita itu pasti mempunyai alasan, bukan terjadi tanpa alasan atau sekedar kebetulan. Saya menemukan pengumuman Beasiswa Unggulan Dalam Negeri DIKTI di homepage UI. Bismillah, saya mengajukan diri. Tiada henti-hentinya bersyukur pada-Nya, Rabb kami yang Maha Baik, I got it! Lega. Saya hanya memikirkan bahwa saya bisa meringankan beban kedua orang tua. Sekali lagi, cukup dengan alasan sederhana. Kesabaran, keyakinan untuk yang terbaik, Dia yang Maha Mengetahui. Hikmahnya, saya mensyukuri semuanya betapa saya harus tetap yakin dan selalu berusaha. Pada akhirnya, bukan hanya kenapa saya memilih UI, tetapi juga UI telah memilih saya. Kami telah saling memilih. Itulah yang terjadi.
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.