Sedikit cerita tentangmu: CIREBON (Cerpen)

Sabtu malam adalah agenda kami untuk berkumpul. Terdiri dari lima orang, yakni aku, Sasha, Alya, Fika, dan Rona. Entah sudah berapa puluh malam telah kami lalui bersama. Kami mulai bersahabat semenjak kami memasuki SMA hingga saat ini di penghujung kelas dua. Pertemuan kali ini terasa begitu berbeda. Alya berdehem. Dia siap untuk memulai ceritanya. Kami memang terbiasa satu sama lain untuk berbagi cerita. Cerita tentang apa saja. Terkadang cerita kami mengalir hanya dengan diawali dengan satu-dua kalimat. Mengingat sabtu malam sebelumnya, aku yang memulai obrolan itu. Aku menunjukkan sebuah buku pada mereka. Kubaca judulnya keras-keras. “Hidup itu lucu,” seruku. Kemudian, kulanjutkan, “Kisah Aktor Michael J. Fox (Nggak tamat SMA, jadi aktor beken, lalu tiba-tiba kena penyakit parkinson’s, tapi tetep sukses!)1.”

Keempat temanku secara spontan berebut buku yang ada ditanganku. Aku mengelak seraya berkata, “Tenang, dear. Biarkan aku bercerita dan dengarkan baik-baik, karena kujamin ini akan menjadi semakin menarik.”

•••

“Ve, ceritaku tidak akan kalah dengan ceritamu pada minggu lalu. Di akhir cerita, kalian harus menebak apakah cerita yang kusampaikan nyata atau hanya sekedar karanganku saja. Dan kuakui cerita ini muncul dihadapan kalian karena cerita Vera di pertemuan kita sebelumnya. Kalian semua, siap-siap dengarkan ceritaku ini.” Alya menggeser posisi duduknya dan mulai bercerita.

•••

Siang yang begitu terik, panasnya cuaca saat itu tidak jauh berbeda dengan kondisi cuaca sebelumnya. Semua orang telah terbiasa akan hal ini. Tapi tidak dengan Metha. Selamat datang di Kota Cirebon. Gerbang jalan yang baru saja dilalui Metha menandai bahwa dia telah tiba di tempat tujuannya. Metha seorang wartawan junior yang baru kali pertama mendapat tugas ‘besar’. Dia diperintahkan untuk meliput ke luar kota, setelah sebelumnya dia hanya ditugaskan meliput di daerah sekitar Jakarta, maka kali ini pimpinan mempercayakan dia sebuah tugas ‘besar’. Metha menyebutnya begitu. Sesaat setelah dia check in di Hotel Santika, rasanya tidak sabar bagi dia untuk segera meliput. Tapi, segera dia menyadari bahwa seluruh badannya meminta dia untuk beristirahat. Satu jam telah berlalu. Metha merasa cukup untuk beristirahat. Dia mulai membuka jadwal. Sebelum berangkat dia telah menyusun daftar kegiatan dan tempat-tempat yang harus dia sambangi. Metha diberikan waktu untuk meliput selama empat-lima hari. Oleh karena itu, dia harus bergegas dan tidak boleh membuang waktu. Metha hanya bermodalkan informasi-informasi yang ia kumpulkan dari surfing internet untuk menjelajah keseluruhan Cirebon, yang terbagi atas Kota dan Kabupaten. Merujuk pada peta wilayah yang telah ia lihat di internet rasanya tidak bisa ia menyambangi keseluruhan tempat di Cirebon dengan alokasi waktu empat-lima hari. Akhirnya, Metha memutuskan untuk fokus meliput wilayah Kota Cirebon dahulu dan beberapa wilayah Kabupaten Cirebon terdekat di sekitar Kota Cirebon. Metha mengomentari, sangat menarik melihat letak geografis daerah Cirebon ini. Dari peta, dia melihat bahwa wilayah Kota itu luasnya tidak seberapa tetapi coba tengok wilayah Kabupaten. Wilayah Kabupaten Cirebon luasnya berkali-kali lipat dari Kota. Sebelumnya, Metha tidak pernah berkunjung ke Cirebon. Tapi, bukan sama sekali dia tidak mendengar akan daerah ini. Ketika dia kuliah dan mengikuti mata kuliah Teori Kebudayaan, Cirebon sering disebut-sebut oleh dosen. Menariknya tidak hanya saat perkuliahan saja. Tetapi, ketika dia mengikuti seminar Internasional yang diselenggarakan oleh kampusnya yang bertemakan tentang ‘Mengurai Kembali Peradaban Manusia’, ‘Sejarah Epilogi’ dan lain sebagainya, Cirebon kembali disebut.

Cirebon, tempat seperti apakah gerangan?

Cirebon mempunyai berbagai macam julukan. Cirebon Kota Berintan. Cirebon Kota Udang. Cirebon Kota Wali. Itulah beberapa julukan yang sering dikenal. Metha membuka buku catatan yang berisikan sejumlah daftar informasi mengenai Cirebon yang menarik minatnya. Paling tidak ini menjadi pedoman baginya untuk memulai, sehingga tidak terlalu ‘buta arah’. Berangkat dari beberapa julukan yang menempel pada Kota Cirebon, yakni ‘Berintan’, ‘Udang’ dan ‘Wali’ Metha mulai menelusuri.

‘Berintan’ adalah singkatan dari Bersih, Indah, Nyaman dan Tenteram. Segera, Metha ingin membuktikannya. Hari itu Metha memutuskan menjadi seorang backpacker2. Dia tidak menggunakan mobil dan memilih untuk berjalan kaki. Tantangan pertama muncul. Panas. Cirebon memang sangat terik di siang hari. Panasnya cukup menyengat. Tapi, entah mengapa panas Cirebon semakin membakar semangatnya.

Baru saja Metha keluar gerbang hotel, dia melihat becak. Kendaraan tradisional roda tiga yang dikayuh oleh sang otot-otot kaki. Surut niat Metha untuk berjalan kaki, maka dia memilih untuk naik becak. Ada juga salah satu kendaraan favorit Metha di Jakarta yang sama-sama roda tiga. Bajaj. Metha senyum-senyum sendiri karena dia merasa bahwa becak akan menjadi kendaraan roda tiga favorit kedua setelah bajaj. Bukan kedua, sepertinya pertama. Becak tidak berisik dan tidak bergetar. Naik becak, angin sepoi-sepoi menerpa mukanya. Pelan tapi pasti. Jadi, Metha dapat mengamati sekeliling dengan leluasa dan tidak lupa kamera DSLR3 tergantung di lehernya yang siap untuk mengambil setiap objek menarik yang dilaluinya. Metha menyusuri Jl. Dr. Wahidin ke arah pusat kota. Dia melewati tempat-tempat seperti, panti asuhan, kafe atau restoran, perkantoran, klinik kecantikan, patisserie, hotel, beberapa sekolah, bank, asrama dan banyak lagi. Ruas jalan yang besar, tertib dan bersih.

Kemudian sampailah Metha pada persimpangan jalan. Lurus ke Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo. Belok kiri ke Jl. R.A. Kartini. Belok kanan ke Jl. Tuparev. Abang becak bertanya pada Metha, “nok belok mendi kih?”4

Metha bengong. Dia sama sekali tidak mengerti dengan bahasa yang diucapkan oleh abang becak tersebut. Sebenarnya Metha sudah antisipasi terhadap bahasa daerah yang muncul nantinya. Metha berpikir bahasa yang dipakai adalah bahasa Sunda, karena Cirebon masuk pada wilayah Jawa Barat. Oleh karena itu, Metha sudah sedikit-sedikit mempelajari bahasa Sunda. Masalahnya, abang becak tersebut bukan berbahasa Sunda.

Tapi, sepertinya abang becak barusan bilang kata ‘belok’. Jadi, Metha menebak bahwa abang becak menanyakan arah mau ke mana. Metha berpikir kalau pusat kota mungkin lebih baik ke alun-alun terlebih dahulu.

“Alun-alun, bang.”

“Oh, alun-alun tah5?” Nada si abang becak seakan bertanya. “Hah? Iya alun-alun, bang.” Becak berbelok ke arah Jl. R.A. Kartini. Memasuki jalan tersebut disambut sisi kiri dengan hotel dan sesudahnya sebuah bimbingan belajar. Kemudian sisi kanan, yaitu sisi samping Mall dengan sebelahnya adalah sebuah bank dan berlanjut sesudahnya hotel dari Mall tersebut. Memasuki jalan ini benar-benar disambut dengan jejeran hotel, tempat makan seperti kafe, restoran, KFC, McD, Pizza Hut, kemudian ada beberapa perkantoran, sekolah, tempat karaoke, dan sampai di ujung jalan terdapat Masjid terbesar di Kota Cirebon, Masjid At-Taqwa berikut alun-alun. Alun-alun Kejaksan namanya. Kebetulan sudah memasuki waktu dhuhur, maka Metha shalat di Masjid At-Taqwa dan membayar si abang becak. Selepas shalat, Metha beranjak ke alun-alun, di sana dia melihat banyak yang menjajakan makanan. Beruntung, ada Tahu Gejrot. Menurut informasi yang telah ia dapat, Tahu Gejrot adalah salah satu kuliner khas Cirebon. Tahunya khas bukan sembarang seperti tahu biasa yang dijajakan di pasar-pasar. Penyajian tahu gejrot bukan asal comot langsung dimakan. Jadi, ada langkah-langkahnya. Abang penjualnya mengulek cabe rawit, irisan bawang merah, irisan gula merah, sedikit garam, dan ditambah air gula merah. Kemudian, hasil ulekan itu disiramkan ke potongan tahunya. Ulekan itu diganti bahasanya menjadi gejrotan. Disajikan di tembikar dari tanah liat sebagai wadah tahu gejrotnya dan memakannya memakai tusuk kecil seperti tusuk gigi.

Ketika Metha sedang asik menikmati Tahu Gejrot, datang seorang anak kecil. Dia mengamen rupanya. Masih mengenakan celana seragam merah, dia mengamen. Metha tertarik untuk mengajaknya mengobrol sejenak. Metha mengangsurkan selembar lima ribuan ke gelas plastik yang disodorkan si anak. “Terima kasih, Kak.”

“Eh, tunggu sebentar,” sergah Metha. “Kenapa, Kak?” Langkah si anak terhenti.

“Sini, deh duduk dulu. Kakak mau mengobrol sebentar.” Anak tersebut menurut seraya mendekatduduk di samping Metha.

“Nama kamu siapa?”

“Ezar, Kak.”

“Oh, Ezar. Kalau nama kakak, Metha.”

Metha melanjutkan bertanya. “Zar, kamu masih sekolah, ya. Kelas berapa?”

“Kelas 6, Kak,” jawab Ezar. “Wah, sebentar lagi masuk SMP, ya. Kenapa Ezar mengamen?” tanya Metha penuh perhatian.

“Untuk beli buku, Kak,” Ezar menjawab polos. Seketika Metha merasa sangat terkejut. Sebagian besar pengamen kalau ditanya alasan dia mengamen, umumnya adalah untuk makan atau untuk menambah biaya sekolah yang kurang. Jawaban Ezar sungguh di luar dugaan. Metha semakin tertarik pada Ezar. “Ezar pasti pintar, ya. Jadi, pasti masuk SMP favorit,” ujar Metha sambil tersenyum. Ezar menatap Metha dan sedetik kemudian berkata, “SMP favorit mahal, Kak. Ezar sekolah di mana saja, yang penting Ezar bisa belajar. Intinya kan itu, Kak.” Lagi-lagi sebuah jawaban yang mengejutkan dari Ezar.

•••

“Al, ini seperti menganalogikakan ceritaku sebelumnya, ya?” tanyaku. “Oh, maaf memotong ceritamu,” kataku cepatmenyadari tidak sengaja memotong cerita Alya.

“Tidak apa, Ve. Aku juga sebenarnya ingin membuat jeda pada bagian inibermaksud mengutip Michael J. Fox dari ceritamu minggu lalu, yang mengatakan, ‘Aku merasa cukup beruntung dan tidak beruntung karena telah menerima pendidikan yang luar biasa lengkap, meskipun tidak terstruktur, dan sering tanpa kucari. Aku hanya menjadi murid yang patuh dan rajin dari, kalau bukan SMA Jungkir-Balik, pastilah Universitas Alam Raya. Aku tidak memilih pelajaran-pelajaran itu; merekalah yang memilihku. Dan, karena tidak ada matrikulasi resmi, maka tidak ada wisuda pula. Tetapi, tentu saja, ada banyak ujian’. Aku benar-benar terinspirasi dari kalimat tadi, Ve. Ceritamu minggu lalu berhasil mengena di hati. Teman-teman akan kulanjutkan kembali ceritaku. Mulai dari bagian ini akan semakin membuat kalian terhanyut. Jangan lupa, nanti diakhir aku akan meminta respons kalian. Ceritaku ini fiktif atau non-fiktif.”

•••

Tiba-tiba Metha berkata pada Ezar. “Zar, kamu pasti tahu tempat-tempat menarik di Cirebon kan. Kamu menjadi pemandu kakak, ya. Nanti kakak beri upah. Lumayan untuk menambahi membeli buku. Mau, Zar?”

Mata Ezar membulat dan berseru, “Mau, Kak!”

“Zar, dari info yang kakak dapat, Cirebon itu mempunyai empat keraton, ya? Makanya, Cirebon disebut dengan kota Wali. Ezar bisa menjelaskan lebih jauh ke kakak?”

“Tentu, dong, Kak. Keempat keraton di Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabonan. Ayo, Kak kita jelajahi keempat keratonnya,” ajak Ezar dan langsung mengapit tangan Metha.

•••

Malam harinya, selepas makan malam, Metha segera beranjak masuk ke kamar hotel untuk segera mengetik apa saja yang telah dilaluinya hari itu. Metha mulai menyukai kota ini. Cirebon. Tidak banyak orang mengetahui sisi lain dari kota ini, atau bahkan, dari sisi utama sekali pun banyak orang, terlebih orang asli Cirebon sendiri lupa akan kearifan daerah ini. Semua itu kupetik dari sosok Ezar. Entah bagaimana persepsiku akan Cirebon, jika yang mengawalinya bukan dari sesosok Ezar. Sama kah?

Dari Ezar yang mengajakku berkeliling keempat keraton, membuat Cirebon terasa istimewa. Bayangkan, satu daerah mempunyai empat keratonmempunyai nilai historis yang tinggi. Sejauh pengetahuan Metha, satu daerah hanya mempunyai satu keraton. Dan tidak semua daerah mempunyai keraton. Menarik. Sangat menarik. Hal ini semakin memotivasi Metha untuk terus banyak belajarmencari tahu, bahwa ada banyak hal yang belum kita ketahui. Sambil berkeliling antara satu keraton ke keraton yang lain, kami melewati sudut-sudut kota yang membuat Metha berpikir akan keunikan kota ini. Satu kata membuat Metha tersentak. Ezar mengatakan tentang ‘akulturasi’. Cirebon dan akulturasi budaya. Metha menyimpulkannya begitu. “Ada banyak pencampuran budaya di Cirebon.” Ezar mengawali kalimatnya. Metha semakin takjub pada Ezar, seorang anak kelas 6 SD.

“Lihat, Kak di sini ada Pecinan atau Kampung Cina. Ezar mengatakan begitu ketika kami berada di Jl. Lemahwungkuk. Di sini banyak keturunan etnis Tionghoa. “Kakak tahu mengenai Walisongo6? Salah satu dari kesembilan Wali itu berasal dari Cirebon, yaitu bernama Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Makamnya berada di daerah Gunung Jati, Kabupaten Cirebon,” urai Ezar panjang lebar. “Etnis Tionghoa tidak terpisahkan dari sejarah panjang Cirebon, Kak.”

Ezar kembali melanjutkan kalimatnya. “Kakak, sudah melihat peta di mana letak Cirebon kan. Cirebon sebuah lokasi strategis dekat laut, bahkan Cirebon pun dijuluki kota Pesisir. Cirebon memiliki pelabuhan yang otomatis menjadikannya sebagai lintas tempat perdagangan. Selain pedagang dari Tiongkok, banyak pula pedagang dari Arab.” Metha mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Ezar seakan sebuah keajaiban. Sebenarnya, berapa umur dia? Ezar berkata tidak sesuai usianya. Dia sangat cerdas.

“Nanti kita akan melewati Kampung Arab, Kak.”

“Kak, laut di sekitar Cirebon banyak harta karunnya. Kakak, percaya tidak?”

“Ezar tahu darimana banyak harta karun?” tanya Metha heran.

“Banyak kapal-kapal yang berasal dari Tiongkok karam dan tenggelam di sekitar laut Cirebon, Kak. Kapal-kapal itu memuat banyak barang-barang seperti keramik, guci dan barang-barang antik lainnya. Barang-barang itu dari Putri Ong Tien7, Kak untuk Sunan Gunung Jati. Mereka menikah, Kak.”

“Cerita kamu benar, Ezar? Sumber cerita kamu darimana sampai sedetail itu?”

“Aku menonton pertunjukkan kolosal sendratari kisah Putri Ong Tien di Panggung Budaya Taman Air Gua Sunyaragi beberapa waktu lalu, Kak.”

“Gua? Ada gua di sini?”

“Ada, nanti juga akan Ezar tunjukkan ke Kakak.”

“Nah, ini dia Kampung Arab, Kak.” Kata-kata Ezar sedikit mengagetkan Metha. Komunitas orang Arab yang sebagian besar bermukim di Jl. Panjunan. “Ada penanda yang unik di sini, Kak, yaitu Masjid Merah Panjunan ini.” Ezar menunjuk sebuah Masjid yang seluruhnya terdiri dari bata berwarna merah. Mendengar cerita Ezar, mengikuti ke mana ia pergi, membuat napas Metha seolah tertahan. Luar biasa. Kejutan apa lagi yang akan Ezar berikan, Metha siap untuk terpana.

Seharian tak terasa, sudah Metha habiskan bersama Ezar dan ini akan berlanjut keesokan harinya. Metha mematikan laptopnya dan tidur, menanti esok hari yang mendebarkan.

Keesokan harinya.

“Kak, sudah siap?”

“Tentu siap, Ezar,” jawab Metha dengan memperlihatkan senyum lebarnya.

“Saatnya kita berpetualang di dalam Gua. Ayo!” Ezar berseru menambah semangat.

Kami disambut oleh seorang pemandu yang akan membantu menjelaskan asal-usul Taman Air Gua Sunyaragi. Ketika berada di Gua Sunyaragi, Ezar lebih banyak menghilang, dia sibuk berlarian ke sana ke mari selayaknya anak-anak seusianya. Tak masalah bagi Metha. Dia siap mendengarkan penjelasan sang pemandu. Kenapa dinamakan Taman Air? Karena, dahulu kala, daerah Sunyaragi itu adalah rawa. Kompleks areal ‘Gua Sunyaragi’ itu dikelilingi oleh air. Jadi, untuk mencapaimasuk, menuju ke dalam ‘Gua’ kita harus menggunakan perahu. Metha membayangkan bagaimana keadaan saat itu. Kesimpulannya, cocok sekali dengan fungsi awal sebagai tempat meditasi dan peristirahatan para sultan. Tenang dan damai. Tempat ini pernah dibom oleh Belanda karena diduga dipakai sebagai tempat mengatur siasat pemberontakan. Bukti pengeboman itu ada pada menara yang miring, dan patahannya masih teronggokjatuh di sisi bawahnya.

Di dalam Gua Sunyaragi ada bermacam-macam ‘Gua’. Ada nama-namanya. Seperti, ada yang dinamakan ‘Gua Peteng’. Metha menanyakan ini pada pemandu, “Peteng itu bahasa apa, ya, Pak? Terdengar seperti bahasa Jawa. Penduduk Cirebon itu menggunakan bahasa apa, ya di dalam kesehariannya?”

“Peteng itu bahasa Cirebon, Mbak Metha. Kami di daerah Cirebon ini menggunakan bahasa Cirebon sebagai bahasa pengantar kami. Bahasa Cirebon itu memang dekat sekali dengan bahasa Jawa, tapi berbeda. Jadi, Cirebon mempunyai bahasanya sendiri, yakni Basa Cerbon atau Bahasa Cirebon.”

“Bagaimana, Kak kesan tentang Gua Sunyaragi?”

“Mengagumkan. Ada Gua di tengah kota. Menarik, Zar. Tapi, kawasan wisata kok lingkungan sekitar, dalam hal ini penduduknya kurang hidup dalam memanfaatkan potensi wisata, ya, Zar?”

“Ezar belum bisa komentar dulu sampai ada beberapa tempat lagi yang ingin Ezar tunjukkan ke Kakak. Secara keseluruhan, nanti Ezar mau beri rahasia terbesar Ezar.”

“Wah, kamu benar-benar membuat kakak penasaran loh, Zar.”

“Oh iya, tadi di stan penjual kerajinan, salah satunya ada stan yang menjual batik. Kalau Kak Metha tebak, jangan-jangan Cirebon juga mempunyai batik khas, ya?”

“Ah, Kak Metha itu menebak atau malahan sudah tahu dulu informasi tentang batik Cirebon.”

“Iya, ternyata Cirebon mempunyai batik khas, ya. Perajinnya berasal dari daerah yang bernama Trusmi. Di sanaTrusmi sebagai sentra batik khas Cirebon. Nama batiknya yang terkenal adalah Batik Mega Mendung8.”

“Nah, itu Kak Metha tahu. Pura-pura tidak tahu itu tidak baik loh, Kak.”

“Kak, sekarang aku mau menunjukkan ‘Ancol9-‘nya Cirebon.”

“Di Cirebon ada tempat sebagus Ancol, Zar? Kamu serius?”

“Makanya, ayo kita buktikan sama-sama.”

Beberapa saat kemudian, tibalah kami di depan gerbang yang bertuliskan “Taman Ade Irma”.

“Oh, maksud Ezar taman bermain seperti di Ancol, ya.” Ezar hanya tersenyum.

Ketika benar-benar telah memasuki ke dalam wilayah yang dikatakan taman ini, ternyata kenyataan sungguh berbeda. “Selamat datang di ‘Ancol’-nya Cirebon,” seru Ezar dengan riang.

“Zar, ini jauh dari Ancol. Ini…” Metha tidak dapat meneruskan kalimatnya.

“Kak, coba kakak lihat sekali lagi tempat ini dengan hati lapang. Aku suka heran kenapa orang dewasa sulit sekali melihat hal yang sebenarnya bagus.”

Metha memejamkan mata sebentar, kemudian mencoba melihat sekali lagi tempat ini dengan hati lapang seperti yang dikatakan oleh Ezar. Hembusan angin menyapu wajahnya. Desiran ombak yang terdengar sayup meringankan pikirannya. Akhirnya, Metha mengerti apa yang Ezar maksud sebenarnya.

“Bagaimana, Kak? Kakak sudah dapat melihat pandangan yang jelas dari tempat ini?”

“Ezar, entah bagaimana kamu memberikan inspirasi luar biasa. Tempat ini seharusnya dapat menjadi seperti apa yang kamu pikirkan dan bayangkan. Potensi Cirebon sungguh luar biasa.

“Kak, berhubung sebentar lagi matahari akan tenggelam, yuk kita melihat keindahannya di Pantai Kejawanan. Sekalian Ezar beritahu rahasia terbesar Ezar.”

Mengagumi kebesaran Yang Maha Kuasa dengan menunjukkan keindahan lukisan alam sejauh mata memandang dari hamparan pantai yang luas dapat menghasilkan sebuah simfoni yang indah. Betapa kearifan lokal mengajarkan lebih dari apa yang kita dapatkan.

“Kak, rahasia ini nanti sudah bukan menjadi rahasia lagi ketika Ezar mengatakannya pada Kakak. Memang sudah saatnya Ezar tidak perlu menyimpan rahasia ini lagi. Jadi, Ezar harap Kakak mau menuliskan rahasia ini.” Metha takzim mendengarkan Ezar.

“Rahasia Ezar adalah mimpi-mimpi Ezar. Rahasia adalah suatu hal yang dijaga, disembunyikan karena ia sangat berharga. Begitu juga mimpi-mimpi Ezar. Mimpi-mimpi ini sangat berharga, karena Ezar berharap suatu saat dapat terwujud. Ezar mengatakan rahasia ini karena Ezar tidak mau menyimpan mimpi-mimpi ini terlalu lama. Jika ada orang yang dapat mewujudkannya, itu lebih baik. Itulah yang Ezar harapkan. Dengarkan mimipi-mimpiku, Kak.”

Ezar menarik napas dan mulai membuka suara kembali. “Aku lahir dan tumbuh di kota ini. Kota ini dalam pandanganku akan mempunyai pengaruh yang sangat besar. Berpotensi maju pesat dan dapat memberikan kontribusi-kontribusi yang luar biasa. Tapi, aku tidak mau kota ini kehilangan kearifan lokal. Aku berencana membangun Pusat Pendidikan dan Budaya yang memfasilitasi seluruh anak-anak Cirebon sepertiku dapat belajar. Aku akan membangun sebuah sistem pendidikan yang mengacu pada kearifan lokalmempunyai jati diri dan berkarakter. Pusat Pendidikan dan Budaya yang seperti apa, orang dewasa akan lebih mudah memahaminya asalkan ia dapat melihat dengan hati lapang kota ini dan sekitarnya.” Dalam remang Metha melihat kilatan sorot mata Ezar yang penuh keyakinan. Dan Metha telah mendapat hasil liputan yang luar biasa.

•••

“Baik, teman-teman itulah ceritaku,” tutup Alya mengakhiri cerita. Kami berempat kehilangan kata-kata. Sampai suara Alya menyadarkan kami kembali. “Nah, aku minta komentar kalian masing-masing. Mulai dari Vera.” Alya menatapku.

“Cerita yang luar biasa. Komentarku, aku ingin mengutip beberapa untaian kata yang terukir pada sebuah makam di Westminster Abbey, Inggris, 1100 M, yakni ‘Andaikan yang kali pertama kuubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai teladan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia.’ Dan menurutku isi cerita itu non-fiktif, tapi tokohnya fiktif. Entahlah, Al. Aku bingung.”

“Ok, kusimpan dulu komentarnya. Komentar yang bagus, Ve. Nah, selanjutnya Sasha, Fika dan Rona.”

“Komentar dariku, bermimpi itu halal. Syaratnya kerja keras, kerja keras, dan kerja keras. Cerita itu non-fiktif.” Sasha mengomentari cukup singkat. Beralih dari Sasha ke Fika, ia bersiap melantunkan ayat. Sahabatku yang satu ini selalu mengaitkan segala sesuatu dengan ayat-ayat Al Qur’an. Beberapa saat, sejenak ia melantunkan ayat. Lalu, ia terjemahkan. “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam (bahasa)”10. Komentar terakhir, yaitu Rona. “Komentarku, speechless. Jujur, Al cerita yang luar biasa. Sulit membedakan itu fiktif atau non-fiktif. Satu-satunya alasan jika aku menyebutnya fiktif, karena tokoh Ezar sulit ditemukan di dunia nyata.”

“Komentar yang sangat bagus teman-teman. Langsung saja, cerita tadi itu non-fiktif. Semua detail informasi yang disajikan itu benar, tetapi kuramu dan kubingkai menjadi sebuah cerita. Sekian.”

Kami berempat merasa tidak puas dengan penjelasan Alya. Tapi, dia seakan tidak peduli. Segera, dia menarik selimut dan tertidur. Ya, sudahlah. Cerita yang menghabiskan sisa-sisa energinya. Masih ada pertemuan kami, sabtu malam selanjutnya. Siapkan ceritamu dan tetap bergabung. Ini tidak akan pernah usai. Percayalah.

________________

1      HIDUP ITU LUCU: KISAH AKTOR MICHAEL J. FOX diterjemahkan dari A Funny Thing Happened on the way to the Future: Twistts and Turns and Lessons Learned karya Michael J. Fox. Terbitan Hyperion, New York.

2      Sebutan untuk orang yang menjelajah dengan membawa tas punggung

3      DSLR, jenis kamera digital

4      ‘nok’ sebutan untuk anak perempuan. Jadi, seperti ‘neng, belok ke arah mana nih?

5      ‘tah’ ujaran tambahan seperti ‘kan’ dalam bahasa Indonesia

6      Sebutan untuk kesembilan wali

7      Seorang Putri dari Tiongkok yang dinikahi oleh Sunan Gunung Jati

8      Nama sebuah batik khas Cirebon. ‘mega’ berarti awan.

9      Ancol merupakan sebuah tempat di Jakarta

10   (QS. Al-‘Alaq/96: 3-4).

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply