Baiklah, euforia UAS (Ujian Akhir Semester) telah berlalu. Lega. Nilai pun sudah keluar. Bersyukur. Alhamdulillah. Well, ngomong-ngomong tentang UAS saya membaca artikel menarik yang dimuat oleh HU Pikiran Rakyat edisi Kamis, 10 Januari 2013. Artikel tersebut berjudul “Menghadapi UAS, Ubah Cara Belajarmu Sekarang juga!”—dan isi artikel tersebut intinya adalah mengulas tentang cara belajar.
•••
Dikatakan bahwa mempelajari semua materi kuliah memang sulit, apalagi dihafal. Mengingat nama orang yang kita temui pekan kemarin saja terkadang sulitnya bukan main. Bila seperti ini, sudah saatnya berevolusi.
Erwin Kurnia Wijaya, Direktur Pusat Layanan Pendidikan (Pulpen) Kota Bandung, lembaga yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan melalui serangkaian pelatihan dan konsultasi mencoba memberikan solusinya. Menurut Erwin, bila dilihat, secara umum mahasiswa ingin sukses di kampus dengan cara yang praktis, bahkan sepraktis mungkin, seperti SKS alias sistem kebut semalam atau nyontek teman yang rajin. Paling banter ada dua langkah yang dikerjakan, membaca buku lalu ujian besoknya.
“Mahasiswa kayak gini maksimal dapat D, besok ujian sekarang baca, atau tiga langkah ditambah menghafal, ya paling dapat C,” kata Erwin yang juga menulis buku best seller nasional 3M Magic Memory for Muslim. (Beliau dapat ditemui di Graha Pendidikan, Jln. Pasirwangi Raya, Bandung).
Mahasiswa yang menempuh langkah ini tentunya berbeda dengan mereka yang belajar dangan 7-10 langkah atau strategi yang lebih lengkap. Walaupun langkah yang ditempuh lebih panjang, menurut Erwin, bila sudah mengetahui teknik belajar yang tepat, langkah-langkah tadi ibarat jalan tol yang efektif secara waktu dan hasil tidak terganggu macet.
Dalam proses pembelajaran, seseorang selalu melalui proses input ke otak berupa menyimak, membaca, dan semua yang menggunakan pancaindra lalu hasil yang dikeluarkan (output). Di otak semuanya diproses.
“Nah, di sinilah perlu teknik, baik membaca, menghafal, mencatat, juga output dalam berpikir, tulisan atau berbicara, mengajar, ngomong atau demonstrasikan. Kalau mau sukses, harus mengambil input sebanyak mungkin proses dengan teknik,” ujar Erwin yang menamakan teknik tersebut dengan istilah magic learning technology.
Kuasai teknik belajar efektif
Untuk memulai belajar yang efektif dimulai dengan membaca. Budaya membaca di masyarakat kita dikenal sangat rendah, kenapa? Erwin setidaknya sudah mendapatkan jawaban, hasil bertanya kepada sejumlah peserta pelatihan pendidikan.
“Kata mereka, buku tidak menarik, susah dipahami, bahasanya enggak ngerti. Jadi yang dianggap salah selama ini bukunya. Kadang kita tidak mau menyalahkan diri sendiri, malah yang disalahkan buku. Harusnya bukan buku yang menyesuaikan, tapi kita sendiri,” tutur Erwin. Alasan utama mahasiswa malas membaca sebenarnya karena lambatnya kemampuan membaca teks. Akibatnya malas melanda. “Kalau cepat, buku setebal apa pun jadi semangat karena punya persiapan,” ujarnya.
Untuk yang satu ini, kita harus berlatih membaca cepat alias speed reading. Speed reading berfokus di keterampilan meningkatkan kemampuan gerakan mata dan kecepatan otak dalam memahami teks. Sederhananya, cepat baca, juga mengerti isinya.
Erwin memberi resep empat skills dasar membaca cepat: 1. Skill mempersepsi kata dengan cepat, semakin cepat mempersepsi semakin cepat membaca; 2. Skill membaca kelompok kata, bila kalian mau membaca cepat jangan sekali-kali membaca per kata yang otomatis akan memperlambat waktu, tapi bacalah kata per kelompok; 3. Kemampuan mengatur irama gerak mata atau fiksaasi. Fiksasi merupakan penetapan pandangan ke sebuah kelompok teks, seperti stasiun tempat mata menaruh pandangan. Semakin banyak fiksasi semakin lambat. Sebaliknya semakin sedikit, membaca akan semakin cepat—untuk mengurangi fiksasi kita bisa menetapkan pandangan di tengah sebuah kelompok kata karena otak akan mudaj mempersepsi kata di kanan dan kirinya; 4. Kemampuan mengambil kata kunci. Sebagaimana kita mengambil inti paragraf begitu pula kita mencari kata kunci. Kata kunci bisa berada di depan, tengah, ataupun akhir kalimat dan paragraf.
Nah, bila kalian sudah menguasai membaca cepat, saatnya mempelajari teknik mencatat. Mencatat terbagi menjadi dua: note taking yaitu mencatat apa saja tanpa dikonsep. Yang kedua note making, yaitu mencatat kembali dan menjadikannya sebuah konsep pemahaman. Bentuknya variatif. Intinya yang harus dicatat adalah kumpulan kata kunci dari apa yang dipelajari, karena otak mempunyai kemampuan memencar.
Berikutnya adalah menghafal cepat menggunakan kode-kode memori. Menurut Erwin, salah satu kode informasi yang efektif adalah kita menyambungkan otak dengan informasi melalui bahasa gambar atau imajinasi. Nah, teknik mengubah materi yang dihafalkan menjadi kode-kode informasi otak bisa dibentuk dengan yang disebut Erwin tiga pilar ‘asi’.
Pertama, harus punya imajinasi, kemampuan membayangkan sesuatu di dalam pikiran, wujudnya berupa gambar visual otak. Kedua, assosiasi, menghubungkan dengan sesuatu yang sudah dikenal dalam dirinya. Ketiga, lokasi, otak akan mengingat suatu benda yang mempunyai gambaran dan assosiasi, serta kondisinya berada dalam lokasi khusus sehingga mudah untuk dipanggil kembali manakala diperlukan.
Teknik menghafal sangat luas, tergantung format materi yang akan dihafal. Bila harus menghafal teks-teks panjang seperti pelajaran kuliah, kita bisa menggunakan magic keywords, kata kunci ajaib.
“Otak itu berpikir secara memencar, contoh memikirkan satu kata ‘soleh’, bisa muncul beberapa kata, bagus solatnya, disukai masyarakat, dari satu kata bisa muncul beragam,” katanya.
Begitu juga bila saat kita membaca teks panjang materi kuliah ambillah satu kata kunci yang mewakili teks tersebut. Sisanya kalian sendiri yang merangkaikan kata pendampingnya.
“Intinya keterampilan belajar, bagaimana menyesuaikan otak dengan aktivitas belajar. Bagaimana menyesuaikan diri sesuai cara otak ingin diperlakukan,” ujarnya.
•••
Inspiring, wasn’t it? Ketika membaca ini ada beberapa hal, yakni teknik membaca cepat yang sudah saya ketahui sebelumnya. Apa yang diungkapkan oleh Erwin memang benar—saya mengajar, memberikan pelatihan soal-soal Reading kepada anak-anak kelas 3 SMA, kemudian saya pelajari tipe bacaan tersebut dan berusaha mencari tahu strategi untuk menjawab soal-soal Reading secara efektif, mengingat durasi waktu yang terbatas. Diketahui bahwa tipe soal-soal yang saya berikan adalah soal-soal Reading SNMPTN dengan tingkat kesulitan yang memang di atas standar. Saya memberikan strategi dengan menginstruksikan anak-anak mencari kata kunci dalam bacaan. Membiasakan membaca per kelompok tidak per kata. Membaca cepat dengan menekankan untuk menemukan inti bacaan. Berhasil. Cara ini memang memudahkan untuk memahami bacaan. Akhirnya, strategi membaca, mencatat, dan menghafal yang telah dipaparkan oleh Erwin sangat membantu sebagai follow up untuk cara belajar yang efektif.
Intinya kalau kerja jangan setengah-setengah. Mungkin gak semua orang bisa lihat kerja keras kamu, tapi Tuhan bisa lihat itu semua. dan yakinlah kalau kerja keras kamu akan terbayar dengan sendirinya~ Ario Astungkoro Hendraatmadja
Bismillah ~ Next semester will be well-prepared. Keep my words ~ Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.