Ada dua istilah yang akan saya perkenalkan kepada kalian terlebih dahulu, dengan maksud agar tidak terjadi salah persepsi diantara kedua istilah ini. Istilah tersebut yakni pembelajaran dan pemelajaran. Sekilas terdengar serupa dan penulisan yang hampir sama pula. Dalam bahasa Inggris kedua istilah ini mudah untuk dibedakan. Pembelajaran atau teaching — dan pemelajaran atau learning.
Teacher atau guru dengan kata lain merupakan seorang pembelajar. Daripada diistilahkan sebagai pengajar, istilah pembelajar dirasa sangat tepat. Hal ini berdasarkan atas konsepsi mengenai pendidikan dan pengembangan profesionalisme guru. Jelas bahwa menjadi guru yang profesional merupakan suatu keharusan. Definisi profesional menurut Gale dan Densmore (2003) ialah seseorang yang belajar secara terus-menerus (hal. 77).
Terdapat tiga aspek sehubungan dengan definisi profesional: keahlian, otonomi dan refleksi; jadi, ketiga hal tersebut memerlukan a life-long learning. Singkatnya, guru profesional akan terus belajar—memeroleh pengetahuan dan dapat menguasai beragam keahlian. Tidak berpuas diri dengan hanya cukup menguasai mata pelajaran yang diampunya. Dengan menjadikannya profesional, maka diharapkan bahwa guru tersebut dapat disebut guru yang efektif. Santrock (2004) mengemukakan guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal ini membutuhkan dua hal utama: (1) pengetahuan dan keahlian profesional, dan (2) komitmen dan motivasi.
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Guru yang efektif memiliki strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran, dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-murid dari beragam latar belakang kultural. Mereka juga memahami cara menggunakan teknologi yang tepat guna di dalam kelas.
Jika ada asumsi yang menyatakan bahwa masa depan sebuah bangsa berada di tangan guru dalam hal ini yakni memiliki sistem pendidikan yang sangat baik, sehingga menghasilkan generasi penerus yang unggul—adalah benar adanya. Tidak mengherankan ketika Jepang setelah peristiwa pemboman Nagasaki dan Hiroshima, Kaisar pada saat itu menanyakan kali pertama yakni berapa jumlah guru yang tersisa, jelas menyiratkan betapa pentingnya profesi tersebut demi menggerakkan sektor pendidikan sebagai langkah untuk bangkit kembali dari keterpurukan.
Semua profesi apa pun itu harus siap untuk menjadi profesioanl. Terlebih lagi bagi guru, profesi ini menuntut perkembangan dan peningkatan dari waktu ke waktu. Penting diingat guru adalah pembelajar. Mereka harus terus menambah pengetahuan yang dimilikinya. Freeman & Johnson (2005: 78-79) melakukan penelitian terkait hubungan antara pengetahuan guru dan pemelajaran siswa, dan berkesimpulan bahwa pengetahuan guru mempengaruhi pemelajaran siswa. Seberapa banyak siswa yang akan mencapai pengetahuan baru lebih kurang ditentukan oleh pengetahuan guru.
Guru-guru di Indonesia harus mampu bangkit kembali. Dengan sedikit terpaksa, mari refleksi diri dari negara tetangga kita, Malaysia. Jika dahulu, para guru di Malaysia belajar ke Indonesia, maka tren ini justru berbalik. Meningkatkan profesionalisme merupakan kuncinya dan hal itu telah dipraktekkan jauh-jauh hari oleh Malaysia. Tidak ada kata terlambat. Sekali lagi, ingat bahwa menjadi profesional adalah terus belajar, terus menambah pengetahuan. Budayakan membaca pelbagai buku, jurnal, berdiskusi dengan kolega dan tetap terhubung dengan asosiasi persatuan guru. Semangat untuk maju wahai guru!
Daftar Acuan
Freeman, D., & K.E. Johnson. (2005). Toward linking teacher knowledge and student learning in D.J. Tedick (ed.). Second language teacher education: International perspectives. London: Lawrence Erlbaum Associates. Publishers.
Gale, T. & K. Densmore. (2003). Engaging teachers: Towards a radical democratic agenda for schooling. Philadelphia: Open University Press.
Santrock, John W. (2004). Educational psychology, 2nd Edition. USA: McGraw-Hill Company, Inc.
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.