Karena Saya dan Kamu itu Ada yang Punya. Jadi, akan kembali kepada Sang Pemilik

Ada yang tahu konsepsi hidup? Hidup itu ternyata tidak sekedar bernapas atau jantung yang tetap berdetak. Tanggal 24 Januari 2013 adalah waktu di mana salah seorang kerabat saya berpulang ke Rahmatullah. Di usia yang masih belia.

Well, tidak ada yang tahu kapan kita akan berpulang. Yang perlu diingat, suatu saat akan tiba waktu di mana kita akan bertemu pada Dzat Yang Menciptakan. Dialah pemilik seluruh makhluk dan alam semesta. Rabb, Allah SWT.

Saya ingin bersyukur atas anugerah hidup yang telah Engkau berikan hingga detik inialhamdulillah. Saya menyadari hidup itu memang sebentar, hanya sementara. Mungkin tidak perlu menunggu hingga berumur tua, pada faktanya, umur kita berpulang tidak memandang tua atau muda.

Kembali teringat pada suatu masa ketika saya kecilmasih berada di Taman Kanak-kanak. Saya selamat dari kecelakaan tertabrak motor ketika menyebrang jalanhanya saja bulek saya harus dirawat di rumah sakit. Bulek ketika itu mengenggam erat tangan saya untuk menyebrang. Kejadiannya begitu cepat. Saya benar-benar merasakan pertolongan Allah SWT. karena merasakan ada yang membuat badan saya tetap tertahan untuk tidak menyebrang, sehingga entah bagaimana tangan saya terlepas dari genggaman bulek. Subhanallah.

Kejadian membahayakan kembali terulang, masih samaketika saya masih kecil. Saya bermain tarzan-tarzanan. Bergantung pada seutas tali rafia, berayun diantara palang jemuran–antara satu sisi ke sisi jemuran. Jemurannya terbuat dari kayu. Saya tidak melihat ada paku. Tangan kanan saya tertancap paku tepat dipergelangan urat nadi. Saya mencabut paku tersebut. Saya melihat sendiri lubang yang menganga pada pergelangan tangan saya. Dan saya tidak memberitahu siapa pun. Segera saya berpikir spontan mencari obat merah atau betadine dan menutupinya dengan kapas. Sungguh, kuasa Allah SWT. Ajaib. Lubang paku di pergelangan tangan tersebut berangsur-angsur tertutup dengan sendirinya. Bekasnya masih ada sampai sekarang. Terkadang saya meraba bekas luka pergelangan tangan, benar-benar tepat pada denyutan nadi dan saya sehat wal afiat hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Alhamdulillah. Allahu Akbar.

Dan hari ini, Jum’at, 25 Januari 2013 saya mengalami kecelakaan. Saya mengendarai motor dan membonceng adik. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mengalami kecelakaan ketika naik motor. Tapi, ini berbeda. Saya mengalami kejadian luar biasa yang bersinggungan tentang hidup dan mati yang hanya memiliki batasan setipis (mungkin) helai rambut. Motor yang saya kendarai tertabrak mobil. Saya sadar dan saya merasakan sekali ketika mobil menghantam saya dan saya terseret beberapa meter. Rabb, Engkau Yang Maha Baik saya tidak apa-apa. Saya masih hiduphanya mengalami lecet dan lebam-lebam. Ada firasat sebelumnya bahwa ada perasaan tidak enak–perasaan akan tertabrak. Dan memang ada firasat juga sebelum mengalami kejadian di jalan tersebut, batin saya menyuruh memutar untuk tidak melewati jalan itu.

Hikmahnya, bahwa saya diingatkan untuk tidak lupa berdoa terlebih dahulu, senantiasa mengingat-Mu dan saya bersyukur masih diberikan petandayang ketajamannya berkurang dikarenakan terlalu banyak khilaf yang telah saya lakukan.

Sebelum saya lupa, ketika kejadian itu, saya dibawa ke pos polisi terdekat dan kali pertama saya memaki polisi. Beliau tidak melayani kami dengan baik malah ongkang-ongkang kaki dan merokok. Beliau lantas berdebat dengan saya, tetapi beliau memang perlu disadarkan–yang saya spontan lakukan adalah dengan memaki beliau. Pelaku penabrak bertanggung  jawab dan membawa kami ke rumah sakit.

Pada akhirnya, ternyata secara tak terduga polisi tersebut mengakui kesalahan dan meminta maaf. Syukurlah. Dan kembali pada pertanyaan, apakah konsepsi hidup? Jawabannya, hidup itu mempersiapkan kematian dengan baik. Semoga selamat dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabb.

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply