Oh, ternyata masih ada penjajah di negeri ini …

Masalah pendidikan di Indonesia merupakan satu hal yang paling menarik minat saya. Poin pentingnya adalah saya tidak akan berhenti untuk mencoba berkontribusi memecahkan kemelut problematika pendidikan di Indonesia.

Indonesia mempunyai sejarah pendidikan yang sudah lama sekali, yakni dimulai dari periode 1848 untuk pertama kalinya pemerintah kolonial Hindia Belanda memberikan sejumlah £ 25.000,- untuk pendirian sekolah bagi anak bumiputera. Ketika itu sekolah-sekolah didirikan demi kepentingan Belanda, yang memerlukan tenaga yang terdidik.

Sistem pendidikan yang kita miliki sekarang adalah hasil perkembangan pendidikan yang tumbuh dalam sejarah pengalaman bangsa kita pada masa yang telah lewat.

Pendidikan tidak berdiri sendiri akan tetapi senantiasa dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik, sosial, ekonomi, kultural. Sering pendidikan bahkan dipandang sebagai alat politik untuk mengatur dan menguasai perkembangan suatu bangsa, walaupun politik sendiri tidak lepas dari pengaruh sosial, ekonomi dan budaya.

Terdapat pernyataan menarik yang saya dapat dari kalimat berikut. “Pendidikan di Indonesia harus juga diarahkan kepada tujuan untuk membebaskan rakyat secara berangsur-angsur dari ketidakmatangan yang dipaksakan agar berdiri di atas kaki sendiri. mereka harus diberikan lebih banyak tanggung jawab dalam administrasi negerinya sendiri. mereka jangan dipandang sebagai alat belaka dalam roda pemerintahan”. Kalimat tersebut diungkapkan oleh Van Deventer, seorang penulis artikel berjudul Hutang Kehormatan dalam majalah De Gids, terbit pada tahun 1899.

Dilanjutkan, Van Deventer menganjurkan program yang ambisius untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Ia ingin memperbaiki irigasi agar meningkatkan produksi pertanian, menganjurkan transmigrasi dari pulau Jawa yang terlampau padat penduduknya. Akan tetapi semua usaha perbaikan akan sia-sia tanpa pendidikan massa.

Saya mengerti untuk dapat mengetahui karakter, identitas, atau jati diri bangsa kita, Indonesiaperlu mengetahui sejarah bagaimana awal mula bangsa Indonesia terbentuk. Setidaknya, kita mengetahui dan belajar bahwa ada begitu banyak hal yang sepertinya kita lupakan, padahal itu penting.

Saya menyimpulkan secara aklamasi, kita tidak akan pernah maju, kalau pendidikan kita amburadul. Lebih dari seabad pernyataan Van Deventer menguap tanpa adanya refleksi. Zaman boleh berubah ditandai dengan tahun yang datang silih berganti. Pertanyaan, apakah kita sudah mampu berdiri sendiri? Berdiri di atas kaki sendiri, di bumi Indonesia, sudah? Sebenarnya sedih merunut kembali bagaimana para pejuang pahlawan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Saya, generasi penerus saat ini menjadi saksi bahwa sekarang bangsa Indonesia masih terjajah.

Entah kenapa ketika menulis ini saya menjadi emosional sekali. Kabut apa yang sebegitu kuatnya menghalau penglihatan Anda sehingga lama sekali tersadar bahwa kita ini terjajah. Dan Anda diam saja.

Baik, saya terjemahkan kembali secara jelas pernyataan Van Deventer. Pendidikan membuat rakyat mandiri dapat berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung kepada bangsa lain. Faktanya, dahulu pemerintah kolonial Belanda bersikeras tidak mau memberikan pendidikan kepada penduduk pribumi, dikarenakan meraka takut. Mereka takut dengan adanya pendidikan membuat penduduk pribumi berilmu dan berani melawan.

Melalui pendidikan dapat memiliki keahlian dan kecakapan sehingga bertanggung jawab dalam administrasi negerinya sendiri. Jadi, apa ini sudah merdeka? Apa kita sudah menguasai seluruh sektor-sektor strategis bangsa ini? Kenyataannya sungguh miris bukan, hampir seluruh sektor-sektor strategis dimiliki asing. Dan karena kebanyakan tidak mengenyam pendidikan yang memadai, kita hanya sekedar alatkita tidak tahu dan tidak sadar telah diekploitasi. Sampai kapan kita “bodoh”. Sampai kapan kita menutup mata dan mengesampingkan pendidikan bangsa Indonesia. Pendidikan wajib untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali, semua harus bersekolah. Apa bedanya dengan sewaktu dijajah terdahulu, kalau yang bisa sekolah hanya kalangan atas dan orang-orang tertentu. Pendidikan mahal, pendidikan untuk jualan.

Pendidikan untuk rakyat, benahi dan perbaiki. Saya yakin kalau Anda berani mengubah kondisi ini, lihat saja, nanti beberapa oknum yang tidak mau kita maju akan ketakutan. Mereka takut bahwa Indonesia akan maju. Akhirnya, saya tahu kenapa pendidikan selalu dikesampingkan, oh, ternyata masih ada penjajah di negeri ini.

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply