Senin, 25 Maret 2013 akan aku catat sebagai pelengkap dalam segenap pencarianku akan pelbagai pertanyaan yang terus berkecamuk tanpa henti di benakku ini—seolah menuntut jawaban.
Dan ketika Yang Maha Kuasa menunjukkan jalan, perlahan cahaya itu muncul dari sebuah novel karya Adenita, berjudul “23 Episentrum: Sebuah Perjalanan Mata, Hari, dan Hati” (2012).
epi-sen-trum /épisentrum/ n titik pada permukaan bumi yang terletak tegak lurus di atas pusat gempa yang ada di dalam bumi
Epilog
Fase setelah lulus kuliah seperti menjadi sebuah tonggak sejarah yang penting dalam perjalanan hidup setiap orang, terutama seorang sarjana baru. Mencari pekerjaan yang pas, seperti halnya mencari jodoh. Apalagi mencari pekerjaan atau karier yang berhubungan dengan passion, tujuan, dan mimpi-mimpi hidup yang kadang kala menjadi bahan tertawaan orang lain.
Semua orang di dunia ini butuh uang untuk bertahan hidup. Butuh uang untuk meraih impian mereka. Tapi, uang bukan satu-satunya jalan untuk meraih semua itu. Bagaimana cara mendapatkan uang itu adalah sebuah cerita penting yang akan menjadi sebuah kekuatan bagi hati nurani untuk bisa merasakan dan mencium bahwa jalan menuju impian bisa diraih dengan cara yang terhormat dan menyenangkan. Banyak pilihan dan cara untuk mendapatkan uang, apakah hanya mementingkan diri, memuaskan nafsu yang membubung tinggi untuk memenuhinya? Tapi, dia yang memilih untuk mendapatkan uang dengan cara berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain, adalah dia yang akan membuat hartanya tumbuh eksponensial.
Rasanya hari-hari terlalu berharga jika hanya diisi dengan keluhan atau merutuki nasib tentang pekerjaan. Pekerjaan yang sudah ditukar dengan separuh waktu yang dimiliki setiap orang dalam sehari adalah sesuatu yang harus disyukuri lebih daripada sekadar nilai rupiah atau satuan mata uang yang ada. Ketulusan dalam melakukan pekerjaan bukan hanya memberi efek kilau pada pekerjaan yang sedang dilakukan, tapi juga memberikan ruh agar ia bernyawa dan terlihat oleh dunia.
Setiap orang mengukir perjuangannya sendiri. Dan, selalu ada kisah-kisah yang terserak tentang perjuangan dalam meraih banyak hal. Saat seorang siswa berjuang lulus ujian. Saat seorang mahasiswa berjuang untuk bisa lulus sidang. Ketika seorang lulusan sarjana berjuang mempertahankan pekerjaannya, pekerja lainnya sedang berjuang mengubah nasib untuk mencari peluang yang lebih baik. Di saat seorang pekerja lainnya sedang berusaha mencari makna kenapa ia harus bekerja? Saat seorang pekerja memiliki target untuk mengejar kenaikan pangkat dan jabatan, seorang lainnya sedang berjuang untuk mengejar kepuasan kerja. Setiap orang bebas menentukan arah kariernya. Tapi pada akhirnya, orang-orang yang punya komitmen, merasa cinta dengan apa yang dilakukan, dan selalu berangkat kerja dengan penuh semangat adalah orang-orang yang sedang membuat perubahan. Dengan energi yang dimiliki, mereka berbagi dan mendorong orang lain untuk merasakan hal yang sama, kebahagiaan—dalam bentuk apa pun. Temasuk, meneruskan apa yang pernah didapatkan dalam hidup ini. Meneruskan kesempatan dan kepercayaan.
•••
Sekali lagi aku sangat mempercayai bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Analoginya, ketika seseorang dilahirkan oleh Sang Pencipta ke dunia, apakah tanpa maksud dan tujuan? Hidup itu bermakna. Hidup itu penuh makna.
Kembali kepada ketika aku menemukan novel ini di antara deretan buku-buku yang tersebar pada rak-rak yang memanjang itu, di perpustakan UI, seolah ini adalah sign. Terserah, jika ini terkesan konyol. Tetapi, ada suatu paradigma yang berubah pada diriku disebabkan oleh “23 Episentrum: Sebuah Perjalanan Mata, Hari, dan Hati”.
Jika kamu memilih untuk tetap hidup artinya kamu harus tetap berjuang. Istiqomah. Konsisten. Berkomitmen untuk tetap hidup selagi kesempatan masih diamanahkan oleh Yang Maha Kuasa. Tapi, hidup untuk siapa? Diri sendiri? Apakah kamu bisa hidup sendirian? Tidak. Memang tidak bisa. Ada beberapa orang yang kamu pikirkan, sedang kamu pikirkan, dan akan kamu pikirkan. Ternyata hidup itu untuk memberi. Fokusnya bukan pada diri sendiri, tapi untuk orang lain.
Nabi Muhammad SAW berpesan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain”. Bukan diri kita pribadi.
Setelah sebelumnya aku bilang bahwa hidup itu sebuah perjuangan, maka pasti ada pengorbanan di sana. Mencoba idealis dengan segala upaya, tapi kehidupan tidak mudah untuk ditaklukan. Kalau kamu percaya akan akhir yang indah, walau seberat apa pun kejadian atau ada banyak proses yang harus dilewati, aku rasa, ketika niat sudah terucap, proses-proses tersebut akan berujung pada hasil. Hasilnya seperti apa, hal itu tergantung pada niat yang sudah diutarakan di awal.
Baiklah, di sini saya bukan ingin meresensi novel “23 Episentrum: Sebuah Perjalanan Mata, Hari, dan Hati”, tetapi lebih kepada implikasi dan implementasi setelah membaca novel ini. Sejujurnya, aku begitu tertohok membacanya, sungguh aku benar-benar memikirkan setiap kata demi kata yang teruntai di dalam “23 Episentrum: Sebuah Perjalanan Mata, Hari, dan Hati”.
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Pernahkah kita berada di posisi hidup yang dibuat dalam sebuah target? Dan ketika target-target itu terlewati, tapi sepertinya ada yang salah. Apakah semua pencapaian itu serta-merta membuat diri ini bahagia?
Yang sangat penting untuk diingat adalah ketika kamu mempunyai keyakinan walaupun kecil, jangan diabaikan seakan itu tidak berarti apa-apa. Keyakinan yang kecil itu seperti nyala sebuah lilin dalam gelap. Mungkin memang tidak bisa melihat semua, tetapi setidaknya lilin itu yang akan menuntun kita mencari jalan keluar.
Dalam daripada itu, bukan kerja keras yang harus kita lakukan. Lebih tepatnya adalah kerja cerdas. Kerja cerdas akan membuat kita mencapai tujuan sebanyak mungkin dengan beberapa langkah.
Simplifikasinya, sederhanakan target besarnya, buat ke dalam target-target kecil yang berkala. Tujuan besarnya tetap sama, tapi kontinuitasnya itu yang kita perlukan. Usaha yang terbaik selalu ada ganjarannya—akan ada banyak jalan yang terbuka ketika nanti kita teguh pada niat yang telah kita buat. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, tapi di mata Dia? Ini masalah sepele, semudah kita membuka dan menutup mata. Jadi jangan lupa, berdoa yang sama kerasnya dengan usaha yang akan kita lakukan.
Hati itu perlu selalu sejuk, jangan dibiarkan kering dan tandus. Ketika hati ini siap untuk diisi, tapi bagaimanakah seharusnya komposisi yang harus terkandung di dalam hati ini? Yang tidak boleh untuk dilanggar dalam mengisi kekosongan hati ini, bahwa dia, ya dia itu orang yang bisa diajak diskusi tentang impian, mempunyai visi yang sama tentang hidup, orang yang bisa melembutkan hati ini, orang yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia tidak menertawakan impian-impian yang mungkin terkesan konyol. Karena dia percaya pada hati ini dan dia telah sepenuhnya di sini—memilih untuk ada di hati ini.
Baiklah, sedikit segan sebenarnya membicarakan tentang cinta. Sudah lama sekali. “Hey, cinta itu jorok… Dia ada di mana saja, tidak mengenal tempat. Buka mata, buka hati… Rasakan di sini,” (menaruh telapak kanan di dada). Yang utamanya apakah kau sudah pantas untuk dicintai? Cinta itu memang kebutuhan. Tapi kita juga harus pandai mengukur kebutuhan diri kita. Kalau kamu butuh orang baik, kamu harus jadi baik dulu… Kamu butuh orang pengertian, ya kamu juga harus bisa mengerti orang lain dulu. Kebaikan akan dipertemukan dengan kebaikan. Itulah hukum alam. Kamu akan dicintai kalau kamu sudah bisa mencintai. Silakan resapi bait lagu Depeche Mode. Somebody… Yes, I need somebody to share…
Cinta itu memberi. Mencintai itu membuat kita memberi tanpa ada batasan. Mencintai itu sebuah proses memberi yang panjang dan tidak ada habisnya.
Perlu untuk melihat lebih banyak, mendengar lebih banyak.
•••
Berbicara tentang uang mungkin tidak ada habisnya. Rezeki sudah ada yang mengatur dan kita harus berusaha sebaik mungkin. Tetapi, uang jangan dikejar. Just do something that you love to do, and the money will follow you. Semua orang punya caranya sendiri untuk memenangkan impiannya. Semua orang punya ceritanya sendiri dalam meraih impiannya.
Aku tahu di hidup ini pasti ada senang ada susah. Terasa sulit mungkin ketika target meleset dan semua rencana tidak berjalan baik. Tetapi, kita lupa pada satu kata berikut. syukur. Bersyukur.
Adem dan tenteram itu bukan soal tempat. Apakah kita berada di pedesaan, alam, atau bahkan di kota sekali pun, tidak menentukan bisa atau tidaknya merasakan adem dan tenteram. Kalau yang atas, pikiran sudah ruwet, hati juga akan ikut ruwet. Tempat sebagus apa pun tidak akan membuat tenang.
Harta itu membuat hati seseorang menjadi keras, sementara ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya. Hamka pernah bilang, ilmu itu untuk kesempurnaan akal. Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambahlah rasa bahagia. Ya, rasa bahagia.
Kalau hati diibaratkan panglima. Dia yang harus memimpin dan memberikan banyak komando untuk berjalan. Kalau dia gelap, bagaimana cara dia bisa berjalan menuntun pengikutnya? Cahaya ilmu itu bisa jadi cahaya hati. Makin besar kalau kita mau membaginya. Begitu dia bercahaya… semuanya akan terasa terang dan kita bisa melihat lebih jelas apa yang ada di sekeliling kita.
Setiap ilmu yang sudah kita miliki, nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap manusia yang sudah berilmu dan sejahtera karena ilmunya, sebenarnya ia punya satu tanggung jawab untuk memerdekakan orang dari kebodohan dan membuatnya bergerak untuk lebih sejahtera.
Apakah kamu mau merasa hidupmu lebih bermakna dan berharga? Hidupkan impian orang lain! Seseorang yang merasa sudah melakukan pencapaian dalam hidupnya, biasanya akan terus bersemangat untuk melakukan pencapaian lainnya. Tularkan energimu… energi besar yang kamu miliki. Hidupkan impian orang lain, bangunkan dari mati suri… Jangan biarkan dia mati!
Satu lagi.
Memberi dengan kualitas. Kalau suatu hari kamu bahagia karena mendapat nikmat, keluarkanlah rezekimu yang besarnya kira-kira akan membuat si penerimanya merasa bahagia. Persis seperti rasa bahagia yang kamu rasakan.
Melakukan kebaikan itu perlu kreativitas. Buat aneka model kebaikan yang berbeda, yang belum pernah kamu lakukan. Semua orang di dunia ini berlomba-lomba ingin melakukan kebaikan. Tapi, hanya cara-cara yang unik dan bermodal ketulusan yang akan diingat.
Hidupkan impian orang lain. Tularkan energi. Memberi dengan kualitas.
•••
“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life”. Steve Jobs.
Karier. Perjalanan karier itu sebuah jalan panjang yang akan dilewati setiap orang. Bukan hanya perjalanan dalam menukar waktu menjadi rupiah. Tapi, juga perjalanan kehidupan kita untuk meraih impian-impian hidup lainnya. Perjalanan tentang menguak makna hidup. Jadi, pastikan jalannya menyenangkan.
Waktu yang hanya sekali kita lewati ini jangan sampai jadi sia-sia. Jadi, pada prinsipnya, jangan habiskan waktu hanya untuk mengerjakan sesuatu yang akan kamu rutuki sepanjang hidup, sementara rezeki kita mengalir dari sana. Dosa, itu namanya.
Waktu adalah sesuatu hal yang hebat. Semua orang diberi modal yang rata, 24 jam sehari. Modal itu bisa membantu kita untuk mencapai apa yang kita inginkan dan menjadikan kita orang yang hebat, tapi waktu juga bisa membunuh kita tidak menjadi apa-apa. Jadi, investasikan waktu kita ini dalam melakukan yang terbaik melalui pekerjaan. Rasakan pekerjaan sebagai panggilan jiwa.
Bisa jadi kalau saat ini ada impian atau keinginan kamu yang tersendat, itu karena niat kamu belum lurus dalam bekerja. Bekerja hanya sebagai rutinitas yang membuat tubuh lelah. Jadi, luruskan lagi niat kamu dalam bekerja..sederhana memang, tapi kita bisa memulainya dari yang kecil, dari sini… (meletakkan tangan kanan di dada).
Karena sesuatu yang dilakukan dari hati pasti akan melahirkan prestasi.
•••
Jangan membuat pikiran kita menjadi sempit karena uang. Berbagi itu tidak harus memakai uang. Kesempatan, peluang, semangat, bahkan cerita, hal itu sudah menjadi bagian dari berbagi. Apa pun yang dilakukan dengan hati, akan mempunyai pengaruh besar dalam hidup. Kecil, tapi mampu membuat yang diam jadi bergerak.
Menolong orang di saat kita lagi susah itu susah. That’s the point! Menolong orang ketika kita lagi mampu, itu bagus. Tapi menolong orang ketika kita lagi susah, itu juara! Ketika kita mampu meringankan beban orang lain, maka sebuah jalan kemudahan akan terbuka lebar untuk niat kita. Susah yang kita rasakan bisa menjadi mudah. Jalan terang tiba-tiba bisa muncul.
Kalian boleh percaya boleh tidak, atau mau membuktikan sendiri. yang jelas, kita manusia hanya bisa menghitung rezeki yang kita dapat dengan matematika dasar otak manusia, tapi matematika Dia? Faktor pengalinya tak terhingga. Salah satu faktor pengalinya itu ya tadi, berbagi.
Semuanya bisa menjadi begitu sulit. Tapi, juga bisa menjadi begitu mudah di hadapan-Nya. Ada aksi, ada reaksi. Hari-hari mendatang tentu bisa menjadi berat dijalani. Tapi teguhkan niat, do your best and let God do the rest.
Satu lagi.
Tentang berbagi, lakukan kebaikan dan lupakan.
Hati bisa menjadi kaya dengan banyak memberi. Memberi dengan kualitas. Uang itu jalan terakhir dalam memberi. Memberi hal-hal yang tidak biasa. Memberi orang informasi. Mempertemukan orang lain dengan kesempatan. Membantu dengan meluangkan waktu, atau memberi perhatian. Perhatian, kesempatan, uang. Itu kira-kira urutannya. Yang pasti, uang bukan satu-satunya cara untuk menolong orang.
•••
Orang yang mempunyai ilmu itu dijanjikan naik derajatnya. Teringat keadaan susah, jatuh bangun yang sering kita alami. Intinya semua orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Tapi kalau dijalani dengan sabar, pasti selalu ada jalan. Sabar bukan dengan berdiam diri, tapi terus berusaha. Bergerak, terus bergerak sampai membuat bumi berguncang.
Let the light of your heart show you the direction to go.
If you do nothing, nothing will happen.
You can solve the problem if you can state it.
Fokus melakukan yang terbaik.
Banyak kegagalan terjadi bukan karena strateginya yang salah, melainkan karena kegagalan melakukan eksekusi. Strategi dan eksekusi adalah dua hal penting dan harus dilakukan bersamaan, tidak bisa dipisahkan. Dalam eksekusi, banyak hal yang bisa mengalihkan kita ke hal-hal lain, makanya diperlukan fokus.
Fokus sama tujuan. Hanya itu yang bisa menguji eksekusi dari strategi yang sudah dibuat. Dan, fokus terus untuk melakukan hal-hal yang terbaik yang bisa dilakukan melalui entah pekerjaan atau kegiatan yang sedang dilakukan. Fokus!
Sejarah… sejarah, semua orang saat ini sebenarnya adalah pelaku sejarah. Cara kita berjuang dan jalan mana yang akan dilewati, akan ditulis oleh sejarah.
Berpikirlah lebih jernih untuk masa depan. Ikuti kata hati. Percayalah, orang yang berjuang mempertahankan apa yang dicintainya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Mungkin bukan sekarang, mungkin juga bukan besok, tapi nanti. Akan ada banyak jalan meraih yang kamu butuhkan tanpa perlu meninggalkan apa yang sudah kamu lakukan dan cintai. Melakukan sesuatu yang kita sukai itu mahal harganya.
Untuk menjadi orang yang ahli di bidangnya, diperlukan latihan yang panjang dan lama. Tidak ada yang instan, kita sudah tahu itu. Dalam berbagai penelitian terhadap profesi dan bakat apa pun di dunia ini, programmer, pemain basket, penulis novel, komposer, pianis, engineer, pemain bulutangkis, atau seorang public speaker ternama sekalipun, mereka perlu latihan selama 10.000 jam untuk memperoleh keahlian yang dibutuhkan demi menjadi seorang yang ahli dan bekelas dunia. Orang-orang yang berada dalam tahapan puncak kariernya, itu bukan hanya karena mereka sudah berlatih keras atau lebih keras dari orang lain, tapi jauh lebih keras! Hidup mereka juga bukan tanpa halangan, pasti ada. Tapi bagaimana mereka bertahan untuk ada di jalur yang mereka geluti, itu luar biasa. Otak kita butuh waktu yang panjang untuk menyerap semua yang dibutuhkan dan menjadi seseorang yang ahli di bidangnya.
Masalah itu akan selalu ada, bagaimana kita mengelola masalah itu yang akan menjadikan kita dewasa. Setiap hal dalam kehidupan kita berpotensi menimbulkan stres. Kehadiran masalah justru malah membuat pikiran kita menjadi kreatif.
•••
Mendengar passion, teringat dengan Andrew Mayo, seorang pakar karier dari Inggris. Dia bilang setiap orang akan menapaki 3 tahapan perjalanan karier.
Yang pertama, disebut Discovery Phase. Ini adalah tahap pencarian jalur karier yang sesuai dengan latar belakang dan karakter seseorang. Fresh graduate biasanya masuk ke tahap ini. Ada proses pencarian, pengenalan kemampuan, dan menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Bisa jadi, ditemukan perbedaan realitas yang dibayangkan di masa sekolah dengan dunia kerja yang sesungguhnya. Sering kali penemuan minat baru dan pergeseran idealisme, mengubah arah jalur karier seseorang di masa ini.
Lingkaran kedua ini adalah Consolidation Phase. Ini adalah masa seseorang sudah mampu bersikap realistis. Tahu bahwa untuk mencapai tujuan tertentu, harus melalui jalan berliku untuk mencapainya. Sebagian orang ada yang mengalaminya lebih awal dan juga yang terlambat.
Dan yang terakhir ini adalah Maturity Phase, masa akhir perjalanan karier. Biasanya setelah melalui masa 1 dan 2 tadi maka di masa ini akan terkumpul pengalaman dan pengetahuan di bidang tertentu.
•••
Kegagalan itu terjadi saat cita-citamu berakhir. Ketika hidup sudah tidak lagi memberikan banyak pilihan untukmu. Ketika kamu sudah berhenti begitu sering dan seluruh sumber daya yang kamu miliki, waktu, tenaga, dan hartamu sudah habis.
Orang berilmu dan jujur, modal yang utama sekali untuk kita bisa menjadi besar. Tuhan itu tidak tidur. Tuhan tahu, tapi Dia menunggu.
Sarjana hanya alat. Kalau tidak bisa menggunakan dengan benar, maka rusaklah fungsinya.
Hukum alam. Makin besar pencapaian, makin besar tanggung jawabnya.
Memang bukan hal mudah untuk memantapkan diri selesai kuliah. Begitu banyak keinginan dan tuntutan yang terus-menerus hadir dalam kehidupan. Tuntutan diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan kadang tuntutan yang berasal dari cermin sosial.
Dilema orang yang lulus kuliah adalah menentukan arah hidupnya. Tahun-tahun pertama akan menjadi tahun pembuktian diri. Tahun berikutnya akan diikuti oleh pertanyaan, sudah benarkah jalan yang dipilih ini? Tapi selama masih bernapas, selama itulah pertanyaan demi pertanyaan tentang hidup akan bergulir. Ketika berhenti bertanya, hanya ada dua kemungkinan, orang itu tidak peduli atau mati.
Kuncinya memang dukungan. Kalau ada 5 yang menentang keinginan kita, tapi ada 1 yang mendukung, itu saja sudah merupakan modal besar.
Kerja keras tapi cerdas dan ketekunan mampu meruntuhkan berbagai kesulitan. Dan, ketulusan mampu mempercepatnya.
Yakinlah ada keajaiban yang akan diberikan oleh Sang Pemilik Skenario Hidup yang tiada tandingannya. Ya, Dia hanya ingin menguji kesungguhan seorang anak manusia untuk bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan yang telah diambilnya.
Setiap individu itu akan selalu berpkir tentang keberadaannya, tentang eksistensi yang tidak hanya dilihat dari fisik tetapi juga wujud spiritualnya.
Kesederhanaan itu bukan hanya dari penampilan semata, tapi muncul dari sikap dan hati. Sesuatu yang tidak bisa direkayasa dan muncul dengan natural.
•••
Sesuatu yang gratis itu tidak ada. Semua itu selalu punya nilai tukar. Usaha yang berkesinambungan akan ditukar oleh hasil yang memuaskan.
Bahagia itu bukan hanya soal uang, dan pilihan hidup itu tidak perlu harus sama dengan orang lain.
Mempunyai impian dan merasakannya seolah kita alami dan kita berada di jalan yang tepat dengan impian kita saat itu—membuat diri kita akan semakin tertarik mendekat pada mimpi untuk menjadikannya nyata. Dan itu bukan kebetulan. Hidup selalu punya ruang untuk mengubah apa yang ada dalam benak kita jadi bisa terlihat oleh mata. Kekuatan pikiran. Kekuatan keyakinan.
Akhirnya, apa yang kita pilih dengan hati dapat membuat kita menemukan rasa bahagia.
Aku ingin mengajar menjadi sebuah sumber energi baru. Semangat berbagi membuat hidup jadi lebih berarti. Cinta. Bagian yang paling menarik dalam hidup manusia. Tidak seperti ladang minyak yang bisa habis diekplorasi, cinta akan semakin meluap ketika manusia mengeksplorasinya.
Mencintai dengan sepenuh hati. Pekerjaan, pasangan, dan tentu saja hidupmu.
Terima kasih untuk semua kata-kata inspirasi yang begitu mencerahkan, Adenita.
“23 Episentrum: Sebuah Perjalanan Mata, Hari, dan Hati”
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
apakah anda seorang pengajar ?, cerita anda mirip sekali dengan pandangan saya saat ini, bedanya saya ibu rumah tangga biasa bukan seorang pengajar dan hari ini adalah 100 hari meninggalnya ibu, saya menyesal karena dihari terahir hidupnya ibu sy meminta agar ada slh seorang anaknya yg menjadi guru, dan lbh menyesal lg krn dlu sy ditawari ibu meneruskn sekolah keguruan tp sy tdk mau krn alasan kesehatan ibu yg hrs berjuang mncri biaya. semoga bnyk jln bagi saya untuk bisa menjadi pribadi bermanfaat.aamiin
halo kak ipah :) mohon maaf ya kak baru merespons, iya saat ini saya mengajar kak. menurutku ibu rumah tangga itulah di atasnya para pengajar. seorang ibu ialah pengajar bagi anak2nya kan kak bahkan tidak hanya mengajar tp ibu mulia karena agar bisa mendidik. daripada tugas mengajar di sekolah misalnya, menurutku menjadi pengajar di rumah sebagai perempuan yang sudah enjadi ibu luar biasa sekali kak. semuanya pasti ada hikmahnya ya kak dan kak ipah pasti akan bisa meneladani perjuangan almh. ibu kakak, iya kak semoga bisa menjadi pribadi yang bermanfaat, aamiin yaAllah