man jadda wajada man shabara zhafira (siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses dan siapa yang sabar akan beruntung)

Pada prinsipnya

Menulis itu

Mengungkapkan kekurangan pribadi

Makanya tidak usah heran lagi

Banyak insan

Tidak mau menulis

Tidak berani menulis

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran itu mudah, dan semua akan menjadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.”

“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kau begitu Tuan Jenderal?”

“Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?”

~Pramoedya Ananta Toer

Saya tidak pernah tahu kalau ternyata saya bisa menyukai dunia tulis-menulis. Benar sekali bahwa menulis itu sangat membutuhkan niat. Saya baru saja belajar menulis dan kebenaran selanjutnya perihal menulis ialah bahwa menulis itu membutuhkan keberanian. Berani. Ya, berani mengungkapkan isi hati, berani menuangkan semua yang ada di kepala. Menumpahkan semua untaian kata-kata yang kemudian dirangkai menjadi kalimat demi kalimat.

Kalau menulis dipandang dari segi level atau tingkatan, mungkin saya belum mencapai master atau advanced. Tapi bukan berarti saya tidak bisa. Hal yang saya lakukan sekarang adalah melatih untuk terbiasa menulis, karena saya percaya suatu saat nanti tulisan saya dapat bermanfaat untuk orang lain. Saya ingin tetap abadi. Caranya, yaitu dengan menulis.

There are no accidents. You just need to believe. Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but today is a gift. That is why it is called the present. Saya menyakini betul hal ini. Selalu dan selalu terpatri dalam benak saya.

Saya tidak peduli jika belum menghasilkan suatu tulisan yang ‘wow’, yang terpenting adalah saya sudah memulai. Semua memerlukan proses. Latihan. Dan saya sedang melakukannya sekarang. Tidak ada yang instan untuk sesuatu hal yang saya harapkan akan tetap abadi. Toh, setiap manusia wajib untuk belajar sepanjang hayat.

Teringat ketika saya membaca ulasan yang menampilkan seorang tokoh, beliau seorang penulis. Karya pertama beliau adalah novel “Negeri 5 Menara”, karya yang disebut-sebut sangat menginspirasi. Karya tersebut ditulis oleh Ahmad Fuadi. Katanya, kita seharusnya bertanya pada diri sendiri, ketika kamu mulai menulis, kenapa? Apa alasan kamu menulis?

Pertanyaan yang sangat baik. Karena saya bertanya-tanya saat ini.

Jawaban beliau sendiri perihal pertanyaannya tersebut, yakni karena mengingat pesan dari Baginda Rasulullah SAW berikut. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Begitu banyak pencapaian yang telah berhasil beliau lakukan, tapi beliau menyadari baru sebatas untuk dirinya atau pun keluarganya, maka beliau menginginkan untuk area yang lebih luas lagi. Tidak hanya dirinya, keluarganya, tetapi juga masyarakat luas.

Dan beliau melakukannya dengan menulis.

Jika pertanyaan tersebut di atas dilempar pada saya, jawaban pasti adalah saya ingin didengar. Saya ingin mengenal diri saya sendiri melalui tulisan-tulisan ini. Itu adalah langkah pertama. Selanjutnya adalah bagaimana saya dapat berusaha menghasilkan tulisan-tulisan yang menginspirasi orang. Membuat tulisan yang dapat mengubah keadaan. Memberikan kontribusi terhadap suatu hal yang ingin saya ubah. Saya ingin menjadi seorang agent of change. Tidak serta merta melonjak ingin mengubah dunia. Alih-alih, pijakan dasarnya adalah saya ingin mengubah diri saya sendiri. apakah saya sudah menjadi ‘manusia’?

Sekali waktu saya merenung. Banyak sekali pikiran random yang bermunculan. Tapi ada satu titik di mana saya berpikir akan satu hal yang penting sekali. Bukan satu hal yang baru. Sangat tdak asing lagi. Dari kecil dapat saya pastikan bahwa saya pasti mendengar hal ini berulang kali.

“Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi. Hidup di dunia hanya sementara.”

Pernyataan yang sangat tidak asing. Kata-kata yang sering sekali terpajan. Manusia itu berpikir. Pikirkanlah pernyataan tersebut kalau kamu bisa memahaminya. Terkadang manusia itu pintar mengelak. Kalau abjad dari A hingga Z dan memungkinkan adanya abjad-abjad baru pastilah manusia menyebutkan itu semua untuk menguraikan berbagai alasan, bahwa dia memahami sekali makna pernyataan tersebut, tapi implikasi dan implementasinya hanya hening. Termasuk saya.

Saya berusaha sangat, sangat, sangat berusaha untuk ‘bergerak’. Masuklah ke dalam Islam secara kaffah atau sempurna. Kita diberi waktu yang bahkan kita sendiri tidak tahu sampai kapan. Kita masih bisa hitung dalam angka, dua-tiga-empat tahun atau berpuluh-puluh tahun ke depan mungkin kita masih diberi kesempatan. Lalu setelah itu tiba waktunya kita akan dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan. Kesempatan yang diberikan sebagai sebuah modal untuk kehidupan selanjutnya yang abadi tidak dipergunakan dengan baik.

Berulang kali saya mencoba bilang kalimat ini lagi dan lagi pada diri saya sendiri, “Tahan dong. Apa sih susahnya bertahan dengan alokasi waktu yang bisa kita hitung. Anggaplah 10 tahun. 10 tahun aja masa’ gak bisa tahan.” Bertahanlah menjadi laskar Islam. Berusahalah menjadi seorang hamba yang selalu berada di jalan-Nya. Kita hanya dituntut selama hitungan waktu yang dapat dihitung, tapi kita akan dibalas dengan hitungan waktu yang tak terhingga.

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Surah Ar-Rahman. Ciri khas surah ini adalah kalimat tersebut berulang 31 kali.

Jelas. Sangat teramat jelas. Terang-benderang. Tetap saya hanya manusia biasa dan saya tidak sedang membuat alasan pengelakan sekarang. Saya pastikan bahwa ada usaha untuk berubah. Semoga apa yang saya lakukan dapat bermanfaat untuk orang lain. Fokus dan konsentrasi. Tahan godaan. Jadi, nikmat di akhirat atau dunia? Dua-duanya? Bagus. Sukses di dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabb.

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply