Jabatan guru amat mulia, mereka yang hanya cari tugas gampang dengan banyak libur harus dikeluarkan dengan cepat. Titik.

Definisi pendidikan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Oleh karena itu, melalui pendidikan diharapkan seseorang mampu bertranformasi. Artinya, bertransformasi baik secara kognitif maupun perilakunya. Relevansi antara pendidikan dan transformasi sebagai implementasi yang diharapkan tersebut, yakni akan sangat terkait pada mutu pendidikan itu sendiri. Konsepsi pendidikan yang dimiliki oleh suatu institusi, khususnya di sekolah berimplikasi pada upaya para stakeholder untuk memikirkan sasaran yang ingin dituju secara tepat guna. Apabila sistem persekolahan kita ingin relevan, menurut Drost (1998), harus diselidiki dulu apa arti pengertian relevan. Arti pertama ialah apa yang dibutuhkan masyarakat. Sebuah institusi pendidikan seyogianya memperhatikan benar-benar apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat. Jadi, ketika muncul pertanyaan perihal apakah kompetensi dan sejumlah program ajaran yang ditawarkan dapat menghasilkan lulusan unggul yang sesuai dengan kondisi lapangan, pihak institusi tersebut mampu menjawab. Singkat kata, masyarakat membutuhkan kader intelektual bukan hanya banyaknya lulusan semata. Drost menambahkan bahwa mutu intelektual institusi pendidikan harus dinaikkan. Namun, usaha itu pasti gagal kalau mereka yang menuntut ilmu tidak bermutu tinggi. Simplifikasinya, saya ingin membuat sejumlah pihak, baik dari kalangan praktisi, penyelenggara maupun pengampu pendidikan sekaligus para orang tua bersama-sama dapat memikirkan isu-isu berikut.

Sekolah: Mengajar atau Mendidik?

Kutipan pertanyaan di atas diambil dari judul artikel yang ditulis oleh Drost (1998)1 dan akan direpresentasikan kembali sejalan dengan beberapa poin yang menjadi sorotan.

Jawaban murahan atas pertanyaan ini berbunyi: kedua-duanya. Saya berani menyebutnya murahan karena jawaban tersebut bukan jawaban. Persoalan yang mendalam dielak. (Drost, 1998)1.

Secara ekplisit Drost1 telah menyatakan adanya persoalan dan bahwa ternyata pertanyaan tersebut bukan pertanyaan asal tetapi sangat mendalam. Jawaban Drost perihal pertanyaan yang mengemuka itu, yakni lebih mengenai pokok persoalan dimulai dengan menekankan bahwa pendidik pertama dan utama adalah orang tua. Namun tugas orang tua untuk mendidik anak membutuhkan bantuan masyarakat karena “masyarakat perlu mengatur kebutuhan hidup di dunia ini”. Tetapi, penting untuk diperhatikan bahwa sekolah bukan pengganti orang tua, melainkan pembantu mereka. Jelasnya adalah mereka semua yang membantu orang tua mendidik anak ikut bertanggung jawab, semua mereka itu sebagai keseluruhan merupakan pembantu bukan pemain utama. Pada saat orang tua menjadi figuran dan para pembantu menjadi pemain utama, proses pendidikan terjungkir balik dengan segala akibat negatif. Pada saat mereka menggeser orang tua dari kedudukan sebagai pendidik utama, mereka tidak lagi membantu orang tua melainkan mengacaukan.

Hal-hal yang perlu digarisbawahi dari sejumlah pernyataan tersebut, yakni masing-masing pihak, baik dari orang tua maupun sekolah harus sudah memahami pembagian perannya itu. Jangan sampai tertukar atau pun salah. Saya juga menyimpulkan bahwa ketika kita berniat menjadi orang tua, kita harus siap. Siap dengan anak-anak yang harus kita didik, bimbing dengan penuh kasih sayang dan rasa tanggung jawab. Oleh karena itu, anak merupakan amanah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Dan sekolah sebagai sebuah institusi yang diserahkan tugas dari orang tua di bidang pengajaran, harus pula memahami untuk peka dan terbuka terhadap keinginan orang tua di dalam situasi tertentu. Sikap menganggap orang tua bodoh dan tidak tahu akan pendidikan anak harus dicela dan harus dihindari oleh setiap sekolah yang tahu akan kedudukannya sebagai pembantu orang tua.

Jadi, orang tua bukan malah lepas tanggung jawab bahwasanya ketika mereka menyerahkan anaknya ke sekolah serta-merta mereka menganggap tugas sebagai pendidik telah diambil alih. Ini jelas salah besar. Lebih parahnya, jangan sampai ada sekolah yang mengatakan mutu pengajaran rendah, tetapi pendidikan watak baik. Pembentukan watak anak justru bagian pendidikan yang tidak boleh diserahkan orang tua kepada orang atau instansi lain. Orang tua berharap kepada sekolah semoga anak diberi pengajaran sehingga siap memasuki dunia sebagai orang dewasa yang berpendidikan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan nyata. Kemudian, poin penting selanjutnya, salahlah sekolah yang mengharuskan anak tinggal disekolah dari pagi sampai sore hari. ini berarti mengambil alih dari orang tua apa yang tidak boleh diserahkan begitu saja, yakni pendidikan dalam keluarga. Usaha ini semua hanya berarti apabila sekolah berorientasi kepada orang tua.

Maka, amat pentinglah pengikutsertaan orang tua ke dalam badan yang menentukan kebijakan bertindak sekolah. Mustahil sekolah membantu orang tua apabila orang tua tidak tahu atau malahan tidak boleh tahu apa yang dilaksanakan oleh sekolah.

Melalui penjelasan-penjelasan tersebut, saya semakin memahami jika dikerucutkan lagi peran orang tua di dalam keluarga, yakni antara ayah sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai figur yang mengurus rumah tangga, termasuk anak, jelas sekali dibutuhkan komitmen dan itu mengapa idealnya seorang ibu seharusnya dapat fokus terhadap tumbuh kembang anak. Kalau pun memilih untuk berkarier, tetapi tugas yang utama tidak boleh bergeser. Harapan saya, orang tua dapat memahami fungsi sekolah sesungguhnya dan untuk sekolah berikut syarat-syarat yang perlu dipenuhi supaya sekolah kita sungguh sekolah yang bermutu dan justru sebagai sekolah bermutu relevan.

  1. Sebuah sekolah harus bersuasana manusiawi. Setiap murid harus diperlakukan sebagai prbadi. Maka, perlu sekali jumlah siswa terbatas.
  2. Sekolah tidak hanya mengajar, melainkan membentuk manusia muda dalam kontak pribadi mencapai kedewasaan.
  3. Jabatan guru amat mulia, mereka yang hanya cari tugas gampang dengan banyak libur harus dikeluarkan dengan cepat.
  4. Yang memilih ragam sekolah bagi anak mereka ialah orang tua. Jadi, perlu ada bermacam-macam sekolah.
  5. Orang tua berhak memilih sekolah swasta yang diperlakukan sama dengan sekolah negeri.
  6. Murid berhak tanya dan menerima jawaban.
  7. Sekolah umum tidak boleh membatasi kemungkinan memilih pekerjaan tertentu di kemudian hari.
  8. Suasana di sekolah harus suasana percaya-mempercayai. Jadi, baik para guru maupun para murid punya hak dan punya kewajiban.
  9. Kematangan memasuki perguruan tinggi yang harus diraih sekolah menengah sebagai persiapan untuk perguruan tinggi terdiri atas pembentukan intelektual dan moral yang memungkinkan mahasiswa berjalan terus dengan kemandirian yang tinggi, bukan pengetahuan dangkal tentang bermacam-macam mata ajaran.

Footnote

1    J.I.G.M. Drost, S.J. (1998). Sekolah: mengajar atau mendidik? Yogyakarta: Kanisius.

Karin Sari Saputra


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply