Wejangan Kiai Rais terasa dekat, “Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. Ingat anak-anakku, Allah SWT berfirman, Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendirilah yang melakukan perubahan. Kalau kalian mau sesuatu dan ingin menjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan berdoa, tapi berbuatlah, berubahlah, lakukan saat ini. Sekarang juga!” (Fuadi, 2009: 158)1.
Sepotong paragraf di atas dengan sengaja saya kutip supaya dijadikan refleksi terhadap topik yang ingin saya ulas kali ini.
Topik ini berkaitan dengan ASEAN Community 2015.
Adakah di antara kalian yang masih asing mendengar istilah ini atau justru sebaliknya, istilah ini sudah lama sekali diketahui? Saya sebenarnya tidak bermaksud ingin secara detail menjelaskan konsepsi perihal ASEAN Community 2015, simplifikasinya saya hanya ingin menyoroti beberapa hal penting yang seharusnya dapat kita perhatikan.
ASEAN Community 2015 (awamnya) diasosiasikan sebagai era perdagangan bebas ASEAN. Memang dapat dikatakan seperti itu. Pada tahun 2015 mendatang negara-negara di ASEAN bersepakat, salah satu di antaranya adalah perihal perdagangan bebas ini. Kesan pertama yang saya peroleh dengan adanya era perdagangan bebas ASEAN adalah kita harus bersiap untuk meningkatkan daya saing.
Menurut bapak Presiden kita, SBY menyebutkan lima masalah yang harus segera dibenahi2. Pertama, peningkatan kapasitas SDM agar bisa bersaing. Kedua, peningkatan industri sumber daya alam. Yakni membuat bahan mentah menjadi bernilai tambah.
Ketiga, mengatasi persoalan logistik nasional yang selama ini menyebabkan harga-harga barang menjadi mahal. Keempat, mengatasi infrastruktur yang masih minim. Dan kelima, memperbaiki iklim investasi.
Menariknya, poin pertama yang disebut yakni perihal SDM (sumber daya manusia). Tidak heran, segala sesuatu hal yang besar, kompleks dan berkelanjutan tetap saja dimulai dari pelakunya. Intinya, berfokus kepada diri kita masing-masing. Peningkatan kompetensi individu sangat penting sekali segera dilakukan.
Masing-masing dari kita sudah seharusnya mulai mengevaluasi diri dan melakukan perubahan. Karena sungguh, saya menyadari akan adanya persaingan yang sangat kompetitif di antara negara-negara ASEAN.
Ketika kran perdagangan bebas ASEAN ini dibuka, sekonyong-konyong negara-negara berikut (Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Filipina, Kamboja, Laos, Singapura dan Indonesia) dapat dengan leluasa melakukan ekspansi antar negara di ASEAN. Semua orang di kesepuluh negara bersaing, entah bersaing untuk bekerja, berdagang dan lain sebagainya. Bayangkan saja, nantinya orang-orang dari negara ASEAN yang lain dapat dengan mudah berdatangan untuk bekerja di Indonesia. Akses bekerja, berdagang, bersekolah antar negara-negara di ASEAN menjadi bebas.
Oleh karena itu, pihak-pihak yang berkepentingan dalam menyongsong era perdagangan bebas sangat mewanti-wanti agar kita dapat meningkatkan kualitas diri. Kita harus semakin peka terhadap isu-isu sosial, budaya, bahasa, ekonomi hingga politik agar memiliki wawasan yang luas. Hal ini penting supaya kita dapat dengan mudah bergaul atau bersosialisasi dengan negara-negara ASEAN yang lain.
Tetap saja, saya sangat memandang positif dengan hadirnya ASEAN Community 2015, kita dapat menunjukkan kebanggaan diri kita sebagai warga negara Indonesia di mata negara-negara ASEAN yang lain. Potensi-potensi dalam negeri diharapkan dapat diberdayakan secara maksimal. Pada akhirnya, langkah pertama untuk melakukan perubahan dengan tindakan nyata adalah MEMBACA. Bacalah! Perluas cakrawala. Tingkatkan wawasan. Reguklah ilmu sebanyak-banyaknya. BACA, kawan!
“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam” (QS. Al-‘Alaq/96: 3-4).
Karin Sari Saputra
Footnote:
1 Novel Negeri 5 Menara oleh A. Fuadi. (2009). Jakarta: PT. Gramedia.
2 HU Rakyat Merdeka edisi Jumat, 19 April 2013
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.