Bismillahirahmaanirrahiim.
“Aku akan tunjukkan 12 (dua belas) hal yang sangat menarik. Tapi, kamu harus membayar mahal untuk ini. Sanggup?”
•••
Kalau di antara kalian mendengar penyataan seperti kalimat di atas, kira-kira respons yang akan kalian berikan seperti apa? Nah, bagaimana juga responsnya terhadap sepotong cerita berikut.
… Alkisah, hiduplah seorang yang sangat miskin dan ia tak mempunyai apa pun juga. Harta yang ia miliki hanya selembar baju yang melekat pada tubuhnya. Ia hidup sebatang kara dan telah berusia senja. Ia digambarkan sebagai sosok yang lemah tak berdaya. Jika kau melihatnya yang nampak hanyalah kondisinya yang miris serba kekurangan, tak ada satu jua pun kelebihannya. Bah, siapa peduli kelebihan dia? Mendekat padanya pun tak sudi. …
Baiklah, secara aklamasi dugaan saya terhadap respons dua hal tersebut, yakni cukup dengan mengerutkan kening, menaikkan alis dan mengaduh, “Duh, apaan sih gak jelas deh.” Semua orang pasti pernah susah, diterpa pelbagai macam kesulitan, terhimpit oleh masalah yang pelik, seolah dunia ini begitu kejam (persis seperti kalimat di sinetron-sinetron) dan akhirnya merasa putus asa. Fase yang setiap orang pasti pernah mengalaminya, begitu juga dengan saya.
Pernah mengalami masa-masa kebangkrutan? Dari yang tadinya memiliki banyak fasilitas, mau ini-itu mudah saja, semuanya berubah bahkan rumah pun mengontrak. Apakah itu kondisi sulit? Tidak juga karena di belahan benua lain, tepatnya di negara-negara Afrika masih banyak orang-orang yang tidak punya tempat tinggal. Ah, sudahlah jangan mengingkari, kondisi saat itu pasti sulit bukan? Suara dari seberang hati ikut-ikutan menimpali.
Kemudian dari kebangkrutan itu akhirnya menanggung hutang yang begitu besar jumlahnya hingga mendekati angka 1 M. Pernahkah mengalami itu? Karena akhirnya merasa menjadi ‘miskin’ itu lalu ternyata ada saja orang-orang yang menghina dan terlebih lagi dimaki-maki oleh orang (penagih hutang). Punya pengalaman itu? Mencoba bangkit, menggeluti berbagai usaha/bisnis tapi malah terjerumus sebuah jalan pintas, apakah bisnis tersebut terlepas dari uang pelicin atau tidak dan diikuti meminjam modal ke rentenir, sampai pada peristiwa ditipu dan dikhianati rekan bisnis. Adakah pengalaman itu kau punyai? Mendapati anggota keluarga yang terlibat masalah sosial serius dan juga terasing di dalam keluarga besar. Ini pernah kau alami? Atau ambil salah satu contoh yang lebih spesifik, saking untuk menutupi biaya hidup sehari-hari dan tetap melanjutkan sekolah disertai membayar cicilan hutang, mulai dari TV, kulkas, kendaraan bermotor, aset-aset lain seperti tanah pun terjual. Tentu, tidak pernah terbayangkan untuk mengalaminya bukan? Contoh lain, sofa yang dimiliki dari mencicil itu karena sulit untuk membayar, menunggak terus-menerus sampai ditarik kembali oleh agen penjual. Kondisi rumah kontrakan yang lengang. Tak ada TV, kulkas, sofa, kendaraan, tidak ada lagi. Sekali lagi saya tanya, pernah mengalami hal itu?
Lalu yang terakhir ini, ternyata rumah kontrakan tersebut sudah hampir jatuh tempo mendesak harus dibayar segera. Kondisi sedang tidak ada uang dan bersiap menghadapi kenyataan harus angkat kaki. Niat tetap ingin memperpanjang namun tuan rumah telah terlanjur menghina, “Kalau tidak punya uang (tidak mampu bayar) sudah tidur saja sana di kuburan!” Dari cercaan tuan rumah maka bertekad untuk pindah cari kontrakan rumah yang lain. Tercetuslah ide untuk membayar uang kontrakan dari melelang barang-barang yang tersisa di dalam rumah, seperti tempat tidur+kasur, lemari+rak-rak pun dilelang. Bagaimana ketika pindah ke kontrakan yang baru? Tidak membawa banyak barang, yaitu hanya baju-baju, kompor dan gerabah plus lemari piring. Cukup, hanya itu saja. Nah, pertanyaan terakhir pun tetap sama, jadi pernahkah mengalami hal itu?
Kalau jawabannya belum pernah, silakan tanya kepada saya seperti apa rasanya. Alhamdulillah. Say always Alhamdulillah. See?
•••
Kerasnya kehidupan tidak lantas membuat kerasnya hati, saya akan menepati janji untuk memberitahukan 12 (dua belas) amalan yang memang akan kau bayar mahal untuk melaksanakannya karena dibilang mudah kenyataan tidak selalu mudah sebaliknya dibilang sulit faktanya secara teori itu mudah. Kalau merasa pahit toh pare yang rasanya pahit justru menyehatkan. Kalau merasa terasing tertinggal oleh orang-orang sekitar toh nanti juga kita kembali pada-Nya sendirian. Cukup pegang teguh saja keyakinan-keyakinan yang kau yakini baik bahkan saya pun banyak mendapat pencerahan untuk segera berhijrah dari kondisi ini dan untuk meringankan langkah perubahan adalah dengan permintaan maaf. Saya tidak mau mencela, menggunjing, berburuk sangka pada orang-orang lagi. Kali ini dengan memberi doa yang baik-baik saja.
Saya memohon pada-Mu ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, “Ampunilah segala dosa-dosa ibu-bapak, kakak-adik, guru-guru hamba, para pemimpin, teman-teman hamba, keluarga, saudara-saudara, sukseskanlah mereka, lapangkanlah, mudahkan dan lancarkan segala hajatnya, selalu berikanlah jalan kebenaran hingga selamat di dunia dan akhirat, aamiin.”
•••
Kedua belas amalan-amalan tersebut, yakni sebagai berikut.
1. Niat baik
Rasulullah pernah bersabda:
“Setiap amal tergantung pada niatnya. Dan setiap orang mendapatka sesuai dengan apa yang diniatkan. Maka siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang berhijrah karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
2. Memberi
Jangan sungkan untuk memberikan apa pun yang orang minta dari kita, meskipun dia orang kaya. Berilah apa yang ia minta dengan ikhlas. Semakin besar keikhlasan kita maka makin besarlah keberuntungan yang akan kita dapatkan. Rasulullah pernah bersabda:
“Kalau ada orang yang memakai jubah emas sambil menaiki seekor kuda lalu meminta sesuatu padaku, pasti akan kuberikan apa yang ia minta.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
3. Berbakti kepada kedua orang tua
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
4. Zakat, infaq dan sedekah
Bagilah penghasilan kita per bulan ke dalam empat kategori dengan formula 1234.
10% untuk zakat, infaq dan sedekah
20% untuk pengembangan diri
30% untuk bayar utang, saving dan investasi
40% untuk biaya hidup rutin
Kalau mau dan iklhas justru dibalik 40% untuk zakat, infaq dan sedekah.
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di anatara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan apa yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi Rezeki Terbaik.” (QS. As-Saba’: 39)
5. Memperbanyak silaturrahim
“Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.” (HR. Bukhari)
6. Shalat mengundang rezeki
“Dan perintahkan keluargamu melaksanakan shalat dan sabar demi mengerjakannya, Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu, dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132)
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Hajj 22: 77)
7. Bersyukur dan berterima kasih
“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’Raaf 7: 45)
8. Memperbanyak istighfar
“Akan aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
“Orang yang memperbanyak istighfar, maka Allah akan menjadikan kemudahan dalam setiap kesusahannya, dan memberikan jalan keluar dari setiap kesempatan, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad)
9. Banyak bertaubat
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, (jika kamu mengerjakan demikian), niscaya Dia akan memberikan kenikmaran yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.” (QS. Huud 11:3)
“Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An0Nuur 24:31)
10. Banyak bersabar
Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka.
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah dan bersikap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran 3:200)
11. Bertakwa kepada Allah
Takwa adalah kumpulan semua kebaikan. Manusia takwa akan memiliki firasat yang tajam, mata hati yang peka dan sensitif sehingga dengan mudah mampu membedakan mana yang hak dan mana pula yang bathil.
“Dan bertakwalah kamu kepada Allah niscaya kamu beruntung.” (QS. Al-Baqarah 2: 189)
12. Berjihad di jalan Allah
“Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami, kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut: 69)
Musuh utama kita adalah kemiskinan dan kewirausahaan dianggap sebagai jihad fii sabilillah (strong efforts to do good things in the name of Allah).
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maa’idah 5: 35)
•••
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.