Bismillahirrahmaanirrahiim.
“Saya mencintaimu bahkan jauh sebelum kita saling mengenal dan bahkan walau pun kita belum dipertemukan atas izin-Nya karena sesungguhnya nama kita sudah disandingkan dalam kitab-Nya yang nyata, Lauh Mahfuzh.” Wallahu ‘alam bisshowab.
ooo
Adakah yang bertanya-tanya, kenapa saya lama sekali tidak memperbarui tulisan? Hanya satu kata saja jawabannya. Tesis? Kalau saya sekarang terlihat lebih kurus, maka salah satu indikasi penyebabnya: tesis? Akhir-akhir ini begadang menjadi hal yang biasa, telat makan, badan tidak terurus akibatnya menurunkan imunitas sehingga menjadi mudah sakit, itu semua karena titik-titik.
Tesis?
Oh, bukan. Saya hanya bercanda, tesis tidak sampai menimbulkan hal-hal tersebut. FYI, saya membuat situs laman tersendiri untuk memantau perkembangan tesis ini sekaligus menjadi pengaman data, meminimalisasi adanya kemungkinan terburuk seperti serangan virus pada laptop. Silakan mampir untuk sekadar selayang pandang di http://karinssaputra14-thesis.webs.com.
ooo
Kira-kira mulai dari semenjak dua-tiga pekan yang lalu, saya mendapat banyak kabar bahagia dari teman, sahabat, keluarga yaitu kabar tentang pernikahan mereka. Alhamdulillah, sungguh suatu kabar bahagia dan semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, aamiin ya rabbal alamiin. Hanya saja saya agak geli kalau mendengar kisah teman yang setiap acara seperti itu dan berstatus masih lajang, bisa ditebak bukan pertanyaan apa yang sering ditujukan padanya atau kalau kasus saya sendiri lebih kurangnya berupa pertanyaan berikut.
“Ayo, kapan menyusul (menikah)? Jangan ditunda-tunda. Jangan diam saja. Perempuan jangan terlalu banyak pertimbangan.” Terlebih lagi jika dikaitkan dengan kondisi saya sekarang yang sedang menempuh S2 (kuliah magister). Lantas pertanyaan lainnya, “Sudah ada calon belum?”
Saya pun teringat ketika Tere-Liye dalam satu tulisannya perlukah mempertanyakan pertanyaan semacam itu, “Jadi, kapan (me)-nikah?” Mengapa tidak diganti saja dengan pertanyaan, “Hei, jadi kapan kamu mati?”. Hening. Kalau ada yang berani tanya itu, kemungkinan bakal ditampar. Saya paham maksud dari ilustrasi antara menikah (perkara jodoh) dengan kematian. Bukankah keduanya adalah hal yang merupakan rahasia Allah SWT yang telah ditetapkan-Nya?
Saya percaya terhadap skenario terbaik-Nya dan saya pun percaya urusan jodoh, rezeki, kematian adalah hal-hal yang sudah ditetapkan-Nya. Namun, tidak lantas berdiam diri tanpa berniat menjemputnya. Saya sependapat atas pernyataan tersebut. “… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Jika menginginkan rezeki yang melimpah, kita harus berusaha keras dengan bekerja dan/atau berdagang. Jika diam saja, tentu mana ada uang jatuh dari langit. Lalu, tentang kematian. Coba bandingkan orang yang merokok dan orang yang tidak merokok, walau pun tetap umur adalah rahasia-Nya dan belum tentu siapakah di antara keduanya, apakah perokok yang mati duluan atau justru sebaliknya, yang bukan perokok akan mati duluan, tetap saja perokok itu sedang berusaha memperpendek umurnya. Kita pun perlu berusaha menjemput kematian dan usaha menjemput kematian terbaik adalah menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (semoga kita semua khusnul khotimah, aamiin). Sampailah pada urusan jodoh alias pasangan hidup. Bagi seorang perempuan yang cenderung menunggu identik dengan diam saja dan dinilai tanpa usaha. Saya bertanya-tanya, jadi mengharapkan bentuk usaha yang seperti apa dari seorang perempuan terhadap jodoh?
Apakah misalnya dengan pacaran? Menjemput jodoh atau mencari pasangan dengan sering keluar rumah, berkumpul atau istilahnya kongkow-kongkow dengan tidak ada tujuan jelas selain hanya untuk senda gurau. Apakah itu salah satu bentuk usahanya?
Saya sampaikan ini sesuai dengan kondisi yang terlihat, seperti apakah dengan berpakaian terbuka hingga menjadi pusat perhatian lawan jenis sehingga berpotensi memiliki banyak kenalan, maka terbukalah peluang terhadap jodoh? Jawabannya, tidak dapat dipungkiri sangat berpeluang. Namun, hal penting yang perlu dicamkan baik-baik ialah kita harus menciptakan hubungan pergaulan yang sehat dalam rambu-rambu-Nya karena tentu kita mengharapkan yang terbaik di dunia dan akhirat. Sejenak simak QS. An-Nur ayat 26 yang jika diterjemahkan sebagai berikut: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
Sesuai dalam firman-Nya, saya memercayai janji Allah oleh karena itu, saya bersyukur dan tak lupa selalu berdoa untuk dilimpahi sinar hidayah dari-Nya. Masuk akal bukan, saya berupaya memperbaiki diri untuk mendapatkan yang terbaik. Andai kata, saya saat ini diberi rezeki dengan kuliah S2 dan dikhawatirkan terhadap peluang jodoh, lantas kuasa Allah SWT dikemanakan? Ini sudah dalam skenario terbaik-Nya, terlebih lagi hal ini positif, mencari ilmu lebih baik daripada keluyuran tiada bermanfaat. Insya Allah atas izin-Nya nanti saya adalah calon ibu dan saya dapat memberikan pendidikan terbaik untuk generasi penerus. Ibu adalah sosok utama yang mencetak generasi berkualitas bukan? Lagipula mencari ilmu pun hukumnya wajib bagi muslim/ah hingga akhir hayatnya. Sekali lagi saya tidak pasif atau saya bukannya tidak aktif berinisiatif berusaha untuk merebut banyak peluang terhadap jodoh. Akan tetapi, tidak lupa bukan, matematika manusia dan/atau perhitungan manusia tidak sama dengan perhitungan-Nya.
Sungguh kuuntai doa untuk mendapatkan jodoh terbaikku pada-Nya. Seseorang yang mencintai-Mu. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui dan Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah, Dia yang Maha Perhitungannya tepat. Tidak akan meleset sedikit pun. Sungguh, saya berusaha dan berupaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dan jika ada yang bertanya, “Artinya, tidak ada lagi hubungan dekat dengan lawan jenis yang bukan mahram? Lantas bagaimana bisa peluang jodoh muncul?”
Baik, kalau boleh balik bertanya: Siapakah yang dapat dengan mudahnya membolak-balikkan isi hati? Siapakah yang mampu berkata, “Jadilah, maka jadilah”?
Jika kehidupan kita di dunia ini ibarat pohon yang bercabang-cabang, maka di setiap cabang-cabang tersebut sudah memiliki ketetapan-Nya masing-masing, hanya saja adalah tugas kita, diri sendiri ini yang memilih cabang terbaik untuk ditempuh. Dengan demikian, besar kemungkinan ketetapan jodoh atas setiap masing-masing dari cabang itu berbeda. Allah SWT telah menetapkannya, sekarang giliran manusia yang menentukan pilihannya dengan berusaha mencapai salah satu cabang tersebut. Yakinkan diri kita memilih cabang terbaik.
Atas segala upaya usaha yang istiqomah, tak lupa/luput untuk tawakal. Jika kita telah berkeyakinan pada cabang terbaik, tetapi biarlah ketetapan dari-Nya akan memutuskan dan menilai atas apa-apa yang sudah kita usahakan. Insya Allah itulah yang terbaik.
Wallahu ‘alam bisshowab,
Karin Sari Saputra
Discover more from Karin Sari Saputra
Subscribe to get the latest posts sent to your email.