dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrin [hormon C I N T A]

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kisah cinta itu klasik. Berumur sama tuanya ketika cinta kali pertama didengungkan oleh para pujangga jika dirunut dari versi William Shakespeare. Cinta itu banyak definisinya. Saya kira, setiap disiplin ilmu memiliki definisi tersendiri tentang cinta. Cinta dipandang dari disiplin ilmu kimia tentu berbeda jika diuraikan dari ranah sastra. Oh, cinta.

Kalau kalian berprasangka saya sedang dilimpahi hormon cinta saat ini karena usut punya usut ternyata ini adalah posting pertama saya tentang cinta! Saya akan beri kategori/tautan ‘cinta’ tersendiri di blog ini.

Siapa yang tidak beruntung jika kita bisa mencintai dan dicintai seseorang bahkan oleh banyak orang. Tetapi, bagaiman sebenarnya menaruh perasaan cinta yang tepat? Layakkah dia kita cintai? Atau layakkah saya dicintai? Saya membahas cinta bukan dari sudut pandang ketika saya awal puber dulu. Bukan. Memangnya awal puber itu kapan ya? :)

Orang yang mengaku jatuh cinta itu banyak kita temukan jejaknya di mana-mana. Kata-kata cinta berserakan. Semua orang yang mengaku jatuh cinta tidak mau kalah untuk unjuk gigi alias membanjiri setiap media dengan kata-kata cinta. Terlebih lagi di media sosial. Ngomong-ngomong tentang media sosial, aduh saya merasa sadar jika sudah tidak remaja lagi. Bayangkan! Coba sebutkan sedikitnya 20 nama-nama media sosial yang berseliweran saat ini. Jika kalian tanpa banyak pikir langsung lancar menyebutkan blablabla, selamat Anda masih remaja! Faktanya, media sosial sekarang ini boro-boro 20 tapi ratusan hingga mungkin ribuan. Luar biasa, wahai anak muda!

Semakin berumur dan semakin banyak merasakan lika-liku kehidupan dunia sebagai pemula seorang dewasa (ehem) serta terutama sekali semakin banyak belajar terlebih lagi belajar tentang ilmu agama, maka cinta itu benar-benar suatu karunia. Oleh karena itu, sekali lagi dikatakan bahwa memang beruntung orang-orang yang dihinggapi hatinya dengan cinta.

Baik, satu pertanyaan mengemuka. Contoh orang-orang yang saling mencinta itu sepasang kekasih ya? Sepasang kekasih? Iya, orang-orang yang berpacaran, mereka saling mencinta bukan?

Wah, kenapa ya pembahasan cinta mengarah ke aktivitas yang bernama pacaran. Kalian semua itu terlalu cepat menebak kalau saya mau membahas bahasa cinta dalam pacaran. Lagi pula, siapa pacar siapa? Saya ini hanyalah seorang yang mengenal kata menikah, kalau belum menikah berarti tiada lain jomblo :) (penting ya diumumkan?)

Serius ini, lebih baik jomblo daripada pacaran dan yang paling baik adalah menikah daripada jomblo apalagi pacaran. Betul atau benar? :)

“OK, sudah saya putuskan. Saya tidak mau menyandang gelar jomblo dan saya juga tidak sudi pacaran. Kalau begitu besok saya menikah!” (salah seorang remaja kelas 2 SMA berkoar). Aduh, Dik. Kok kamu malah ngawur. Sana sekolah dulu, memperbanyak ilmu. Memantaskan diri.

Orang-orang berpacaran melegitimasi perilaku mereka atas nama cinta. Bergandengan tangan, rangkulan, berciuman hingga gerakan praktik anatomi yang tanpa risih diperlihatkan di depan umum, mereka bilang adalah bukti cinta. Apa kabar aktivitas mereka di bulan Ramadhan? Berkurang atau semakin giat?

FYI, saya adalah salah seorang yang pernah khilaf dengan manut saja ikut-ikutan berpacaran. Pacaran itu seperti untung-rugi, seperti aktivitas menguras energi, emosi dan money, seperti bermain sandiwara tanpa henti, seperti melukai hati seorang abi (ayah/bapak/papa/papi/bokap) jika anak perempuannya berpacaran, seperti merasa bakal hidup abadi tak mengenal mati, seperti kisah tak berujung sakit tak terperi, intinya banyak mudharatnya dan ditegaskan dalam firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa [17]: 32).

Tentang pacaran saya sudah pernah menuliskannya dengan judul Girl Talk: “Pacaran itu penting gak sih?”

•••

Saya ingin berkisah tentang cinta seorang pria. Pria yang saya sayangi, sungguh. Seseorang yang layak dicintai.

Bagi seorang perempuan yang belum menikah jangan pernah kehilangan momen merasakan curahan cinta dari pria ini. Saya beruntung mendapatkan cintanya. Pastilah kalian berujar, pria ini adalah figur ayah. Tepat sekali. Saya memanggilnya bapak. Bapak tidak akan pernah disamakan dengan sosok pacar yang pada faktanya menyita habis waktu kebersamaan kalian. Saya mengharapkan akan lebih banyak anak perempuan yang mengenal dekat dengan ayahnya. Sebelum seorang perempuan bersuami, binasakan istilah pacar dan hadirkan momen-momen terindah dengan ayah kalian.

•••

Perasaan saya padanya naik-turun. Mungkin ketika saya bersekolah dulu lebih banyak sebalnya kepada bapak. Saya ingat betul bagaimana julukan bapak yang disematkan oleh teman-teman SMA saya, terutama teman laki-laki. “Jangan main ke rumah Karin. Ada harimaunya.” Julukan tersebut tentu bukanlah tanpa sebab. Yang paling saya ingat ketika itu saya terpaksa dibonceng oleh teman laki-laki naik motor untuk mengambil kaset untuk keperluan drama kelas. Saya sebetulnya sudah was-was karena jalan menuju ke rumah melewati bengkel bapak. Ketika jalan berangkat dari sekolah menuju ke rumah tidak masalah karena jalannya berseberangan dengan bengkel, namun lain cerita ketika dari rumah menuju sekolah. Saya berdoa bapak sedang tidak ada di bengkel. Kenyataannya bapak ada di sana. Saya mencoba menunduk ketika melewatinya berharap tidak terjadi apa-apa. Sungguh di luar dugaan.

Saya betul-betul ingat, dengan mata merah melotot bapak berteriak-teriak di pinggir jalan yang ramai dan mengacung-acungkan jari agar saya turun. Kasihan teman saya itu antara ketakutan dan bingung. Saya bilang jangan berhenti terus saja jalan ke sekolah. Bapak, maafkan saya.

Ketika saya mulai berkata, “Bapak aku tuh udah gede. Jadi, biar aku kalo beli apa-apa sendiri aja. Beli baju sendiri, jangan dibeliin bapak lagi” bahwa itu membuat hati bapak terluka karena mengingat anak perempuannya beranjak besar dan tugas-tugasnya sebagai seorang bapak seperti tidak dibutuhkan. Saya tersenyum sendiri karena bagaimanapun bapak yang paling jago kalau memilihkan barang untukku. Sampai sekarang, hasilnya, saya kalau beli baju sendiri pasti tidak pernah cocok.

Di tahun ini, ketika menginjak umur ke-24 di bulan Februari kemarin, bapak menghadirkan kisah. Di umur yang sudah semakin matang, saya tidak pernah mengharapkan adanya ucapan atau perayaan. Hari ulang tahun merupakan hari yang biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Malam itu seperti biasa saya di kamar kos bersiap tidur. Pagi harinya ketika bangun, saya mendapati hape sudah dalam keadaan off, habis baterai. Kemudian, hape saya charging dan nyalakan kembali. Pesan-pesan mulai masuk. Salah satunya dari bapak mengucapkan selamat ulang tahun tepat pukul 12 tengah malam. Ketika itu saya merasa senang tapi tidak berlebihan ibarat teman-teman saya yang lain yang melakukan hal yang sama. Ternyata hal di luar dugaan kembali terjadi.

Ketika keluar kamar saya bersitatap dengan bapak kos yang sedang menyapu dan membuka pembicaraan. “Tadi malam jam 12-an bapak telepon nanyain Karin ada di kamar apa nggak ditelepon nggak nyambung.” Respons saya, “Oh, iya pak? Itu hape-nya mati, habis batre pak.” Lalu, pak Kos masih melanjutkan, “Iya, saya tanya emang kenapa pak? Mungkin Karinnya udah tidur. Bapak Karin bilang ‘oh engga kok pak saya cuman mau ngucapin selamat ulang tahun. Hari ini anak saya ulang tahun pak’.”

Demi mendengar hal itu, saya mematung. Saya benar-benar tidak menyangka bapak sampai menelopn pak Kos. Toh, hape saya saat itu off dan tidak tersambung dan malah bapak berusaha telepon ke pak Kos. Pak Kos tersenyum, awalnya heran kenapa sampai telepon dikira ada hal yang darurat. Pak Kos jadi tahu juga ulang tahun saya dan ikutan tanya ulang tahun yang ke berapa.

Bapak yang saya sayangi. Perhatian bapak mengalahkan kisah sinetron yang bercerita tentang seorang pria memetik gitar dan benyanyi sambil membawa bunga di bawah jendela kamar si gadis dengan di sinari cahaya bulan.

Sementara itu, puasa tahun ini dari semenjak awal saya lewati di tempat kos jauh dari keluarga dan ada banyak kisah mewarnai perjuangan tesis ini. Saya benar-benar terancam tidak dapat menepati untuk lulus tepat waktu. Bapak, sepertinya saya mengecewakan bapak karena tidak bisa mengikuti wisuda pada bulan Agustus tahun ini.

Bapak yang selalu membesarkan hati dan mendorongku berjuang agar semangatku tidak berada di titik nadir. Namun, saya yang kemudian merasa tertekan, merespons negatif. Air mata tak ingin kutumpahkan untuk kesedihan, meratapi ketidakmampuan. Ibu menengahi dan memadamkan tangis. Ketika berefleksi, apa yang bapak katakan memang benar. Saya sudah zalim. Zalim pada diri sendiri karena meragukan kemampuan diri ini, terkikis kepercayaan terhadap diri ini. Omong kosong perkataan orang. Saya justru abai terhadap suara hati dan dorongan dari orang-orang terkasih.

Tempaan ini harus menghasilkan intan yang sempurna. Sabar dan pupuk kembali kayakinan. Sungguh tak peduli tertolak kembali bahkan apabila dijatuhkan lagi dan lagi. Sungguh Allah adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

•••

Saya kisahkan satu perkara tentang dompetku yang dicuri orang di mushala dan bahkan terjadi di bulan Ramadhan belum lama ini. Peristiwa tersebut benar-benar menjadi sebuah pelajaran berharga bagiku yang dengan hikmah ini saya sekuat tenaga harus bisa bangkit kembali.

Berkat rahmat-Nya, saya sungguh bersyukur hanya dompet yang terambil dan Allah SWT masih menyelamatkan hape dan netbook saya. Selepas peristiwa tersebut saya coba ikhlaskan semua yang terjadi. Bukan perkara uang, tetapi kartu identitas yang penting. Saya ingin bertanya berapa persen kemungkinan dompet tersebut kembali lagi pada saya? Sesuatu yang nyaris mustahil dompet tersebut kembali lagi bukan? Namun, sesuatu yang nyaris mustahil tersebut tetap memilki kemungkinan terjadi walaupun hanya nol koma sekian persen. Tetap ada kemungkinannya dan memang benar kuasa Allah SWT yang telah mewujudkan kemungkinan dari hal yang nyaris mustahil tersebut.

Benar. Dompet saya kembali lagi. Allahu Akbar! Bagaimana bisa?

Dompet saya ditemukan oleh Satpam Gedung Rektorat UI dan sesuai prosedur ketika menemukan dompet tersebut pak satpam memeriksa isi yang memang sudah tidak berisi uang namun kartu-kartu masih ada. Lalu, beliau memeriksa sejumlah keterangan identitas yang mungkin berisi nomor yang dapat dihubungi. Alhamdulillah, di dalam dompet saya tersebut saya masih menyimpan bukti setor ***** yang tertulis nomor hape. Pak satpam kemudian mengirim sms dan hingga pada akhirnya dompet kembali ke tangan saya. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Hikmah dari kejadian tersebut yang hingga kini saya ingin coba patrikan dalam pikiran saya bahwa sekecil apapun kemungkinan yang bisa terjadi jangan abaikan. Berusaha lakukan sesuatu dan ringankan hati dengan tawakal pada-Nya. Saya benar-benar mencoba untuk bangkit kembali. Berilah hamba kemenangan ya Allah.

•••

| Epilog |

Ketahuilah, saya membenci diri saya yang sampai sekarang masih menjadi seorang pengecut, selalu takut dan tak pernah maksimal memperjuangkan dan mendapatkan apa yang diinginkan. Ya Allah, saya tidak mau mengeluh dan saya tidak menginginkan menjadi makhluk yang kufur. Saya sudah cukup tertekan dengan begitu banyak tekanan yang bahkan dengan apa yang membuat saya bahagia melakukannya. Tolong hamba ya Allah. Ini semua seakan menyakitkan ketika hamba bahkan tidak bisa berbuat apapun untuk memperjuangkan diri ini, memercayai diri ini, berpikir bahwa hamba tidak mampu untuk mewujudkan sesuatu, yang bahkan apa yang menjadi mimpi dan keinginan hamba seakan hamba tidak percaya diri dan takut. Apa yang telah hamba lakukan ya Allah. Sesungguhnya hamba menyadari bahwa diri hambalah yang telah menzalimi diri sendiri. Hamba zalim terhadap diri sendiri karena tidak percaya. Tidak percaya terhadap kemampuan diri hamba sendiri. Sungguh, bahkan hamba menyadari bahwa hamba tidak percaya terhadap mimpi-mimpi yang selalu hamba angan-angankan. Hamba meremehkan kemampuan diri sendiri. Hamba berburuk sangka terhadap diri sendiri dan hamba mulai memercikkan permusuhan terhadap diri hamba sendiri. Ya Allah, hamba tidak ingin terlambat bahkan setelah seluruh puing-puing habis tersapu oleh ketidakberdayaan yang mendalam. Mengecewakan bapak dan juga ibu terlebih lagi mengecewakan diri sendiri dengan tidak mampu membanggakan diri sendiri. Jika hamba mengeluh, maafkan hamba ya Allah sesungguhnya hamba membutuhkan pertolongan-Mu. Sungguh ya Allah, tolonglah hamba.

•••

Ditulis pada malam ke-22 Ramadhan 1435 H oleh Karin Sari Saputra yang sangat merindukan kumpul bersama keluarga.

NB. Bapak, engkau adalah seorang pria pertama yang mencintai dan mengasihiku | kekuatan cinta akan menguatkanku di sini


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply