Sebuah nama: Lelaki

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

•••

Astvat-ereta – Persia

Maitreya – Tibet

Bar Nasha – Mesir

Malechha – India

Himada – Suriah

•••

Aku berusaha mengenalnya. Sungguh. Dia harus menjadi Lelaki yang paling kucintai bahkan dibanding diriku sendiri dan kedua orang tuaku. Sebentuk cinta yang tak bisa kuterangkan harus seberapa besar. Jika kau berpikir sebesar benda bulat yang tergantung tanpa tali di langit malam, itu artinya kau sama sepertiku. Aku dan kau belum begitu mengenalnya.

Duhai.

Dia begitu mulia.

Ketahuilah, jika cinta mengandungi arti merindu. Ya. Aku mencintainya.

Jika cinta mengandungi arti air mata. Ya. Aku mencintainya.

Jika cinta mengandungi arti pertemuan. Ya. Aku mencintainya.

Jika cinta mengandungi arti tak terganti. Ya. Aku mencintainya.

Perlahan semaian ini akan menunas dan melantas tumbuh. Namun, tak membuncah.

•••

Matamu yang seputih tepung dan hitam mengilat pada bulat di tengahnya. Wajahmu masih lebih cemerlang dibanding cahaya bulan paling cemerlang.

Hidungmu kukuh, teriakanmu lantang, susunan gigimu yang sempurnamutiara yang berjajar dengan proporsi yang benar.

Tinggimu tidak terlalu menjulang, tetapi juga tidak pendek. Bahu lebar, dada terbentuk oleh latihan fisik sepanjang usia. Otot matang oleh latihan panjang, keseharian yang penuh gerak.

Rambut sebahumu yang tidak terlalu ikal tidak pula terlalu lurus.

•••

Wahai yang Lembut Tutur Katanya

Wahai Lelaki yang Tidak Pernah Marah

Wahai Lelaki yang Tajam Ingatannya

Duhai Lelaki yang Lembut Hatinya

Wahai Lelaki yang Berhati Sekukuh Karang

Wahai Lelaki yang Suka Menyendiri

Wahai Lelaki yang Selalu Memaafkan

Wahai Lelaki Pembawa Lentera Ilmu

Duhai Lelaki yang Penuh Cinta

Wahai Lelaki yang Tidurnya Sedikit

Wahai Lelaki yang Senantiasa Berprasangka Baik

Wahai Lelaki yang Selalu Menghormati Perempuan

Wahai Pribadi yang Terjaga dari Kata Sia-Sia

•••

Kumohon, tahukah kau siapa Lelaki ini?

Demi Allah, yang jiwa ini berada dalam genggaman-Nya, tiada yang pantas melisankan kata hinaan kepada dia.

Aku? Kau? Seberapa dekat mengenalnya?

Seberapa dalam menelusuri riwayatnya?

Seberapa sering menuturkan salam kepadanya?

Aku? Kau? Tahu apa tentang dia?

•••

Lelaki yang kata-katanya tidak pernah dusta.

Lelaki yang mengajak manusia memeluk kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Lelaki yang kemudian dibenci oleh kerabat dan teman-temannya sendiri.

Lelaki yang dahulu demikian mereka cintai dan kini mereka ingin dia mati.

Lelaki yang membuat semua orang yang mengikutinya dikucilkan oleh penduduk Makkah.

Ya, sebutlah namanya.

Junjunglah dia.

Lelaki yang begitu mulia.

Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.

•••

Wahai Lelaki Al-Amin

Wahai Lelaki yang Dicintai Langit dan Bumi

Wahai Penghulu Para Nabi

Wahai Kekasih Allah

Wahai Utusan Allah

Wahai Putra ‘Abdullah

Wahai Pembawa Kabar Gembira

Wahai Ayah Fathimah

Wahai Lelaki yang Kata dan Perbuatan Tak Pernah Bertentangan

Wahai Muhammad (shallallqhu ‘alaihi wassalam) Al-Musthafa

Wahai Lelaki yang Panjang Doa Malamnya

Wahai Pemimpin Madinah

Wahai Lelaki yang Terjaga dari Dosa

Wahai Manusia yang Tak Menerima Penyekutuan Tuhan

•••

Bocah itu ternyata seorang penggembala belia yang paling dipercaya di Makkah. Insting pemimpinnya terasah oleh pengalaman, sedangkan mentalnya seperti didiktekan oleh Tuhan. Tidak pernah berbohong, tidak pernah berkata buruk atau melihat hal yang buruk. Dia bermental kuat dan tidak pernah meratapi nasib. Dia merindukan Tuhan Yang Esa dan membenci tuhan-tuhan yang disembah bapak-bapaknya.

Di bagian belakang tubuhnya. Persis di antara dua bahunya. Tanda kenabian dari nubuat yang ada di pundaknya.

“Anak ini adalah pemimpin dunia. Dia utusan Tuhan Semesta Alam.”

•••

“Ia mengajak kami kepada Allah, bersaksi atas keesaan-Nya, menyembah-Nya, meninggalkan berhala-berhala yang kami dan orangtua kami sembah.”

“Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, memenuhi janji, menghormati ikatan kekerabatan dan hak-hak tetangga kami. Karenanya, kami hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, menjauhi apa yang diharamkan-Nya dan melakukan apa yang dibolehkan-Nya.”

•••

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dilahirkan pada tahun Gajah, disaat Abrahah bin Arsyam berusaha menyerang Ka’bah. Menurut riwayat yang paling kuat, jatuh pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal.

Ia dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, meninggal saat beliau masih dalam perut ibunya, Siti Aminah, pada usia kandungan dua bulan. Lalu, ia diasuh oleh kakeknya Abdul Muththalib, dan disusukannya sebagaimana tradisi Arab saat itu kepada seorang wanita Bani Sa’d bin Bakar, bernama Halimah binti Dzu’aib.

Pedalaman Bani Sa’d saat itu tengah dalam kemarau panjang, lahan peternakan dan pertanian kekeringan. Tak lama setelah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam balita tinggal di sana untuk disusui, menghijaulah kembali lahan peternakan, subur kembali tanah-tanahnya, kambing-kambing pulang kandang dengan perut kenyang dan sarat air susu.

Selama di sana juga, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam kecil mengalami peristiwa pembelahan dada sebagaiman diriwayatkan dalam hadist. Kemudian Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dikembalikan lagi pada ibunya saat berumur 5 tahun. Ibunya meninggal saat beliau berumur 6 tahun. Lalu, diasuh oleh kakeknya tersebut dan kakeknya meninggal saat ia 8 tahun. Akhirnya, diasuh oleh pamannya Abu Thalib.

Bukan satu kebetulan Allah mengambil Ayah, Ibu, dan kemudian Kakeknya saat beliau masih kecil. Kehidupan pertamanya jauh dari asuhan bapak dan tak mendapat kasih sayang lebih dari ibunya. Allah telah pilihkan pertumbuhan ini bagi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. agar musuh Islam tak mendapatkan jalan untuk memasukkan keraguan dalam hati dan menuduh, “Ajaran Islam Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam didapat dari keluarganya!”

•••

“Aku bertanya kepadamu tentang nasab lelaki itu di antara kalian, engkau mengatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam memiliki nasab yang mulia, orang terpandang. Memang demikian. Para nabi yang diutus di tengah-tengah kaumnya selalu berasal dari nasab-nasab yang tinggi.”

“Kemudian aku tanyakan kepadamu apakah ada orang-orang sebelumnya yang telah mengklaim bahwa dirinya adalah seorang nabi? Engkau mengatakan tidak pernah ada. Memang demikian seharusnya seorang nabi. Apabila ada sebelumnya di antara keluarganya yang menyatakan perkataan tersebut, bisa saja Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam hanya ikut-ikutan mengklaim dirinya sebagai seorang nabi.”

“Kemudian aku bertanya kepadamu, apakah dia keturunan raja? Engkau menyatakan, ‘tidak.’ Memang seharusnya begitu. Sebab, sekiranya ada bapak atau kakeknya seorang raja, mungkin saja Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam mengucapkan perkataan tersebut hanya ingin mencari kerajaan ataupun kekuasaan nenek moyangnya.”

“Aku kemudian bertanya kepada engkau, apakah sebelum ia mengaku sebagai seorang nabi, kalian menuduhnya berdusta? Engkau menjawab ‘tidak.’ Aku sungguh tahu bahwa seorang nabi itu tidak akan pernah dusta kepada manusia apalagi berdusta atas nama Tuhan.”

“Aku bertanya kepadamu tentang pengikut-pengikutnya. Apakah pengikutnya itu adalah pembesar-pembesar dan pejabat? Engkau menjawab bahwa pengikutnya adalah orang-orang lemah dan miskin. Sejak dahulu, memang begitu pengikut para nabi. Pengikut mereka berasal dari kalangan orang-orang lemah dan miskin.”

“Kemudian aku bertanya apakah pengikut Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam semakin bertambah atau berkurang, dan engkau memastikan pengikutnya semakin bertambah. Memang seperti itu pengikut para nabi. Mereka akan semakin bertambah dan bertambah terus sampai menjadi sempurna.”

“Aku bertanya apakah ada di antara kalian yang keluar dari agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam karena membenci agamanya? Engkau katakan ‘tidak.’ Seperti itulah iman. Kalau sudah bersatu dengan hati, dia tidak akan bisa keluar lagi.”

“Aku tanyakan kepada engkau, apakah dia pernah berkhianat? Engkau menyatakan ‘tidak.’ Demikianlah para Rasul-Rasul Allah. Mereka tidak ada yang pernah berkhianat.”

“Aku menanyakan kepadamu apa yang dia perintahkan kepada kalian? Engkau berkata bahwa dia memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kalian untuk melakukan perbuatan menyekutukan Tuhan. Dia pun mengajak kalian untuk melaksanakan ibadah shalat, bersikap jujur, bersikap penuh kehormatan, dan menyambung silaturahmi.”

“Sesungguhnya aku telah tahu bahwa ia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahwa dia akan lahir di antara kalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah … aku akan berusaha datang menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya, aku akan membasuh kedua telapak kakinya.”

Membasuh kedua kaki Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam! Abu Sufyan benar-benar merasa kehabisan napas. Raja seagung Heraklius memuliakan orang yang begitu ia hina dan rendahkan. Heraklius seorang penguasa besar sedangkan Abu Sufyan tahu diri di mana kedudukan dia saat ini. Apa yang keluar dari lisan Heraklius serasa mencabut semua alasan Abu Sufyan untuk hidup. Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, apakah benar engkau akan menjadi raja dunia?

•••

‘Ulama telah menyepakati nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai berikut:

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Quraisy (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan.

•••

Sudah kubilang aku berusaha mengenalnya. Ini belumlah banyak menjelaskan. Biarkan matahari mulai mencari jalan untuk pulang terlebih dahulu.

Oh, hei, tentu saja. Matahari ini akan beranjak pulang dan untuk kembali pulang berulang membutuhkan satu kali rotasi dengan waktu yang relatif.

Benar sekali.

Waktu itu relatif.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran,” (TQS. Al-‘Asr [103]: 1-3).

Apakah hal ini mengingatkanmu pada teori relativitas umum dan khusus?

Surah Al-‘Asr [103] dengan ketinggian bahasa yang dimiliki dan aku yang tiada berilmu melainkan sangat sedikit merasa bahwa temuan ‘waktu itu relatif’ telah disebutkan gamblang di dalam surah ini.

Selain itu.

Bersabar diri untuk menegaskan bahwa Lelaki yang begitu mulia ini bukanlah orang gila.

“Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan, dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.” (TQS. Al-Qalam [68]: 1-2).

Tahukah tentang peristiwa perjalanan Isra’ Mir’aj? Terutama peristiwa perjalanan Isra’. Yaitu, disaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam melakukan perjalanan dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa hanya semalam.

Begitu menyakitkan perkataan yang terlontar dari lisan mereka yang tak memercayai Lelaki yang begitu mulia ini melintasi jarak sejauh sekitar 1500 km dalam waktu satu malam.

Adakah peristiwa Isra’ ini berkelindan dengan teori relativitas umum dan khusus Einstein?

Karin Sari Saputra | Ahad, 23 Muharram 1436 H


Discover more from Karin Sari Saputra

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply